Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 130 ( Dikasih hati minta jantung)


__ADS_3

Keken menggulum senyum saat Farah mengirimkan pesan, bahkan gadis itu meneleponnya beberapa kali namun sengaja tidak diangkat.


"Syukurin emang enak dicuekin!" Tanpa rasa bersalah Keken mengabaikan pesan dari istrinya. Ia masih sibuk dengan beberapa berkas yang harus diselesaikan besok. Tidak ingin menyia - nyiakan waktu karena Fafa selalu menghubunginya dan harus menyelesaikan tugas dengan tepat waktu.


Ia pun beberapa kali menerima pesan dari Dini. Gadis itu berkata bahwa Farah sedang risau memikirkan dirinya apalagi sekarang tidak ada yang mengelus perut Farah, ia merasa kehilangan. Dan hingga malam hari Farah menangis karena Keken tidak memberinya kabar.


"Keken!!" teriak Khaffi yang baru saja pulang dari kantor.


" Lu bener-bener siluman lintah ya!" umpat Khaffi.


"Sudah dikasih hati minta jantung!" sambungnya lagi


"Masih bisa cengengesan?" Khaffi mendekati Keken yang sedang cengar cengir dengannya. Ia memiting leher sahabatnya karena kesal. Keken menggunakan kartu kreditnya secara berlebihan hingga tagihannya membengkak.


" Lu belanja sama si Alif kan, lu traktir dia tapi gue yang tekor!" gerutunya lagi


"Iya, gue telepon Alif buat kesini untuk bersihin luka gue dan kita belanja bersama." Keken terkekeh.


" Lu belanja apa sampe tagihan gue bejibun." Khaffi melihat tumpukan paperbag di sudut ruang tamu. Ia membukanya dan melihat beberapa pakaian bayi, baju wanita, perlengkapan pria dan satu set perhiasan wanita."


" Lu yang berjuang, gue yang keluar modal!" gerutu Khaffi lagi dengan kesal. Dia tahu pasti perhiasan itu untuk Farah dan tentunya untuk menyogok istrinya agar luluh, Keken pria yang pintar dalam mengambil hati wanita dan salah satunya dengan memberi perhiasan karena tidak ada satu wanita pun yang akan menolak jika diberi perhiasan.


"Terus kenapa Alif ikutan beli berlian pakai kartuku, duit dia kan banyak."


" Dokter ketus itu beli berlian untuk si Bengek, pumpung ada kartu kredit gratisan jadi sekalian beli."


" Kalian benar-benar kurang asem, mana ada kartu gratisan lu pikir bayarnya pakai daun! Nyesel gue ngasih lu kartu kredit, kalau tahu kayak gini gue kasih lu duit gocap aja buat beli bubur di depan. "


Keken tergelak tawa.


" Tenang aja, Fi. Gue juga beliin lu dompet kok, gue kan sayang sama lu."Keken mengambil paperbag berwarna orange dan memperlihatkan sebuah dompet warna coklat bermerk Elvi .


" Eh ******! Lu beliin gue dompet tapi bayar pakai kartu kredit gue sama saja bohong, bambang!!" Khaffi menoyor kepala Keken. Dan pria itu hanya terkekeh melihat kemarahan Khaffi.


" Lu baru satu hari nginep sini aja gue udah tekor apalagi seminggu. "gerutu Khaffi lagi.

__ADS_1


" Ya sudah gue seminggu nginep disini. " Dengan menggoda Khaffi membuat Keken senang dan melupakan masalahnya sejenak.


" Gue jual saja ini apartemen agar lu cepetan pulang ke rumah mini itu lagi!" kesalnya.


" Mendingan lu pulang deh ke rumah barbie itu karena si Farah sudah nungguin lu. "


" Setelah pekerjaan dari Fafa kelar, gue pulang. Lu nggak usah ngusir begitu."


"Jangan kelamaan, ini bukan rumah singgah dinas sosial!" Khaffi


Keken tergelak tawa, sahabat yang satu ini memang selalu membuat mood nya membaik dengan candaan nya.


" Nggak usah cemberut gitu atau jangan - jangan lu mau nangis? "Keken masih melirik Khaffi yang menggerutu dengan wajah kesal.


" Siapa juga yang mau nangis memangnya aku cengeng kayak si Janin. "


" Baguslah kalau kamu tidak nangis, percuma juga soalnya kalau lu nangis bukan keluar airmata tapi keluar air aki. " seloroh Keken sembari tergelak tawa.


"Sial*n!!" Khaffi melempar bantal sofa kearah Keken.


* **


Sebelum sampai rumah, Keken sengaja merubah ekspresi wajahnya. Ia pura-pura marah dan mendiamkan sang istri.


Beberapa kali ia melirik Farah yang selalu menatap kearahnya dan kearah tangan yang masih dibalut perban.


"Maaf." satu kata yang keluar dari mulut istrinya. Namun Keken seolah tidak mendengar. Ia menganti kaos dan celana pendek dan paperbag yang tergeletak di lantai seolah dibiarkan begitu saja. Perhiasan sengaja Keken simpan dalam tas untuk surprise istrinya nanti.


"Sudah makan?" Farah melirik Keken yang kini sibuk dengan laptopnya.


"Sudah." jawabnya singkat


"Kemarin tidur dimana?" Farah menyuguhkan secangkir kopi hitam untuk suaminya.


"Kenapa kamu ingin tahu, bukan nya dulu kamu bilang tidak perlu mencampuri urusan masing-masing. Aku bersama siapa itu bukan urusanmu!" Keken menatap Farah dengan tajam. Dan perkataan itu sedikit membuat Farah sakit hati. Memang benar dirinya yang dulu meminta Keken tidak mencampuri urusannya. Ia merasa Keken berubah, dulu suaminya akan mengatakan tanpa harus ia tanya. Sekarang Keken benar-benar terlihat dingin dan cuek.

__ADS_1


" Aku tidur dulu." Farah merebahkan dirinya di kasur dengan mata berkaca-kaca, awalnya dia senang Keken datang kembali ke rumah dan itu artinya dia bisa tidur pulas karena Keken pasti akan mengelus perutnya seperti biasa namun kali ini sungguh berbeda, Keken mengabaikannya.


Perutnya berdenyut, ia dapat merasakan gerakan janin berkali-kali.


" Ayah sedang sibuk, hari ini dia belum bisa membelaimu. Sabar ya Nak." gumam Farah namun ia lega akhirnya Keken pulang setidaknya sang mertua tidak akan curiga karena Keken sudah di rumah.


"Dia benar-benar anak Keken." Farah merasa terganggu, perutnya berdenyut beberapa kali hingga dia kesulitan untuk tidur. Sang bayi ingin disentuh oleh ayahnya seperti biasa. Mau tak mau ia masuk lagi ke ruang tamu.


Farah melihat kopi itu tidak tersentuh bahkan isinya masih utuh. Sakit, itu yang Farah rasakan saat melihat suaminya tidak mau menyentuh minuman yang ia buat.


Keken tertidur dengan tumpukan kertas disebelahnya. Farah tidak ingin membangunkannya tapi sang calon bayi sepertinya ingin berdekatan dengan sang ayah.


"Ken." panggil nya, " Keken..." ia mengguncangkan tubuh suaminya


"Apa?"


Farah bingung bagaimana ia akan mengatakan kalau bayinya ingin disentuh sang ayah.


"Apa?!" tanyanya lagi, matanya masih melekat seolah enggan terbuka karena saking ngantuknya.


"Anakmu, mmm..."


"Apa?"tanyanya lagi


" Anakmu berdenyut, aku bisa merasakannya. Dia ingin dielus ayahnya. " Farah menundukan kepala karena malu.


" Ini anakku yang mau atau ibunya? "


" Anakmulah masa aku! " Farah mengerucutkan bibirnya karena kesal dituduh bahwa dia yang mau.


"Kemarilah, Keken menepuk sisi yang kosong di sampingnya."


Farah menggelengkan kepala.


"Anak papah kangen ya." Keken mengelus perut Farah dengan lembut namun matanya enggan terbuka. " Papah ngantuk, Nak!" Keken kembali terlelap setelah mengelus perut Farah sebanyak tiga kali.

__ADS_1


" Kok tidur sih!" Farah melihat Keken mendengkur dan itu artinya pria itu benar-benar kelelahan.


"Maaf." ucapnya, Ia menatap tangan Keken yang masih terbalut perban. Hanya helaan nafas panjang terdengar dari diri Farah lalu ia kembali ke tempat tidurnya.


__ADS_2