
Keken
Ia begitu terkesiap saat melihat Farah berada di mall. Keken tidak menyangka akan bertemu dengannya setelah dua bulan tidak ada komunikasi. Hatinya sempat bergemuruh saat berjalan kian dekat dengan nya. Dan Farah tidak sendiri saat itu, ternyata dia bersama kedua adiknya. Keken sempat hilang fokus saat pak Evan, salah satu rekanan perusahaan bertanya tentang proyek selanjutnya.Namun dengan cepat Antoni menyenggol seolah memberi kode untuk Keken fokus kembali.
Masih teringat jelas saat pertemuan terakhir dengan Farah, bahwa Keken tidak boleh menemuinya lagi,bahwa dia membenci seorang Keken yang sudah merenggut kesuciannya. Saat itu Farah berteriak dengan keras, penuh amarah. Gadis itu sangat membencinya.
Dan dengan terpaksa Keken pura-pura tidak melihat Farah, yang pertama karena Farah tidak mau berhubungan dengan nya dan yang kedua karena saat ini Keken sedang bersama tamu penting, suksesnya meeting ini akan menjadi jembatan untuk perusahaannya masuk ke dalam proyek besar dalam bisnis infrastruktur. Keken harus profesional dalam bekerja dan meeting ini harus berhasil karena sang mommy sangat mempercayakan proyek ini padanya.
Namun satu yang membuat Keken bertanya - tanya, kenapa Farah bertambah kurus, matanya kian cekung dan seperti tidak terawat. Tidak seperti dua bulan yang lalu, Farah begitu cantik dan memikat.
Antoni
Ia sempat melihat gelagat aneh pada atasan nya. Sekian detik Keken terlihat hilang fokus dan hanya menatap gadis itu. Mau tak mau ia harus menyadarkan atasan nya agar kembali fokus. Berurusan dengan perusahaan Wiko tidak mudah, jika Keken tidak bisa melakukan yang terbaik untuk hari ini maka sudah dipastikan Wiko tidak mau bekerja sama dengan perusahaan DaFe properti. Tidak ada kesempatan kedua. Antoni sempat melirik Farah dan tersenyum, namun gadis itu sepertinya hanya fokus dengan Keken, bahkan setelah pria itu melewatinya, Farah masih saja menatapnya tanpa memutuskan pandangan. Aneh.
Fadil
Ia melihat kakak nya menunggu di gang dekat rumah, ia merasa heran kenapa kakak nya terlihat kuyu dan kelelahan.
"Apa kakak bekerja terlalu keras hingga lupa istirahat." pikirnya, namun saat menuju mall dan masuk ke dalam toko kakak nya terlihat baik-baik saja. Kak Farah selalu mengulas senyum dan ceria. Namun, Ia melihat perubahan wajah kakaknya saat melihat pria itu, entah siapa namanya, Fadil lupa tapi yang pasti saat kak Farah melihat pria itu, kakaknya terdiam dan hanya menatapnya datar. Yang membuat Fadil heran, kak Farah tidak menyapa nya dan pria itu seolah tidak mengenal kakaknya.
"Apa yang terjadi." gumam Fadil dalam hati. Masalah orang dewasa sangat rumit dan ia tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa.
Dan disisi lain,
__ADS_1
Farah menghempaskan tubuhnya di depan karpet depan televisi. Seperti kontrakan pada umumnya, mereka tidak memiliki kursi tamu dan hanya beralasan karpet bulu yang tipis namun nyaman. Tempat yang leluasa untuk menonton tv sambil tiduran.
Dan saat ini Vania masih saja menginap di kontrakan kecil ini. Entah kenapa ia enggan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Vania selalu bilang kalau disini lebih nyaman dan bisa mengobrol sambil tertawa bersama. Tidak seperti di rumah, ia selalu sendiri hanya bersama bibi karena kedua orangtuanya bekerja, sedangkan kakak lelakinya masih dinas di singapore.
"Aku pulang...." seru Vania, tanpa melihatpun Farah tahu dengan suara khas gadis itu.
"Far, aku beli baso dan pecel ayam. Kamu mau makan yang mana?" Ia membuka bungkusan kresek hitam dan terlihat beberapa makanan dan minuman.
"Aku malah beli baso untukmu dan Dini."
"Kok bawa baso sih, katanya pengen makan sushi. Seharusnya kamu bawain aku sushi bukan baso. Ah, nggak asyik ah, kamu makan sushi sendiri. Aku nggak dibungkusin." Vania mulai pundung, ia berharap mendapatkan sushi gratis dari Farah. Sejak dulu saat Farah maupun dirinya pergi makan di luar pasti mereka akan membawakan bungkusan makanan untuk teman yang berjaga di rumah.
" Tidak jadi makan sushi. "Farah bangkit dan melihat baso, ayam pecel dan es campur. Ia dengan cepat membuka karet yang mengikat bungkusan minuman itu.
" Tadi sempat berdenyut kencang tapi ini udah nggak. "
" Apa kita periksa saja ya Far, aku takut kamu kenapa - napa dan semenjak kamu hamil belum pernah sekalipun memeriksakannya. "
" Tidak perlu! Nanti saja." Farah masih enggan pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungannya. Ia selalu abai dengan kesehatan dirinya dan janin yang sedang dikandung. Ia tidak peduli.
" Tadi aku bertemu pria br*ngsek itu di mall dan sepertinya janin ini sangat senang bertemu dengan ayahnya. Sejak tadi berdenyut kencang dan setelah melihat pria itu dia kembali diam." ucap Farah sembari menyeruput es campur.
" Dia memang benar-benar keturunan pria itu. "Vania mengelus perut Farah.
__ADS_1
" Sejak kamu hamil, nyidam mu makanan western dan Jepang. "
Farah hanya menghembuskan nafas panjangnya, benar juga apa yang dikatakan oleh Vania, semenjak ia hamil. Farah selalu minta diorderkan makanan western dan Jepang. Dari sushi, spaghetti, takoyaki, mie ramen, zuppa soup, lasagna. Farah pun awalnya heran karena merasa asing dengan makanan tersebut, dia lebih suka masakan Indonesia namun entah kenapa ia selalu meminta diorderkan makanan luar.
"Lalu bagaimana, dia sudah tahu kan?" tanya Vania
"Belum tahu, bahkan dia tidak menyapaku sama sekali seolah kami tidak pernah bertemu dan seperti orang asing." Farah lagi - lagi menghembuskan nafas panjangnya.
" What!!! " teriak Vania," Kok bisa! "
" Entahlah, mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya. Dan mungkin saja dia benci denganku karena aku pernah menghardiknya."
"Ini tidak bisa dibiarkan, Farah kamu harus cepat - cepat bicara dengan pria br*ngsek itu.Semakin hari kandunganmu akan semakin besar dan kau harus cepat menikah dengannya."
"Apaan sih! Siapa juga yang mau menikah dengan dia.Aku bisa menjaga anakku sendiri." Farah masih kekeh dengan pendiriannya.
Vania hanya bisa menghela nafas panjangnya, lebih baik dia diam daripada membuat Farah marah dan semakin stress.
"Terserah kamu, yang penting lusa kita harus bertemu dengan pria itu!" ujar Vania sembari membuka bungkusan pecel ayam dan menyuapi Farah. Semenjak Farah hamil ia malas makan, beberapa kali beli makanan online dan hanya dicicipi sedikit hingga akhirnya Vania dan Dini lah yang harus kerepotan menyuapi dan memaksa Farah untuk makan. Gadis itu hanya makan roti dan susu saat pagi, siang hari makan buah dan malam ia baru mau makan nasi, entah kenapa dia sangat benci dengan nasi. Dan beberapa kali mommy Imelda mengirimkan susu, buah dan makanan melalui pengawalnya. Terkadang wanita itu menelepon Farah, menanyakan apa saja yang dibutuhkan. Mommy benar-benar perhatian dengan nya. Dan Farah bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang baik hati.
"Aku takut bertemu dengannya." kali ini suara Farah terdengar lirih,
"Kenapa kamu yang takut, seharusnya pria itu yang takut dengan kita,!" salak Vania
__ADS_1
Farah terdiam, Vania mulai meninggikan suaranya dan itu berarti dia tidak mau dibantah dan harus menuruti keinginan nya.