Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 159


__ADS_3

Kesehatan Farah semakin membaik dan dokter mengijinkannya untuk pulang dengan catatan ia harus beristirahat cukup dan tidak boleh kelelahan. Mommy Imelda yang baru pulang dari Solo segera menjemputnya di rumah sakit.


"Maafkan mommy baru datang, sayang."


Namun mata Farah melihat kearah lainnya, mencari sosok yang dirindukan nya. " Keken datang kan mom?" tanyanya


"Keken sedang sibuk, ia tidak bisa kemari."


Mata Farah berkaca-kaca, bahkan suaminya pun tidak datang disaat dirinya akan keluar dari rumah sakit.


"Keken baik-baik saja, nanti juga ketemu. Dan sekarang kamu harus tinggal di mansion, mommy tidak ingin kecolongan lagi. Kandunganmu sangat lemah, jika hal buruk terjadi lagi pada calon cucuku maka mommy tidak akan memaafkanmu." ucapnya dengan tegas, kali ini raut wajah Imelda benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Dan Farah merasa takut.


" Mom, apa Keken selama ini tinggal di mansion? "


Imelda menganggukkan kepala dan Farah merasa lega, setidaknya Keken tidak keluar malam bersama wanita.


Mereka tiba di mansion sore hari dan pandangan Farah masih sama, ia mencari sosok suaminya di rumah itu.


" Keken belum pulang kerja, ini masih pukul lima." Imelda tahu Farah sedang mencari suaminya.


"Kamu istirahatlah, nanti jika Keken pulang mommy akan bangunkan."


Farah menganggukkan kepala. Saat mereka masuk ke mansion terdengar suara sapaan dari seorang wanita.


" Mommy..."


Farah melihat Inha memeluk mertuanya dengan erat." Kenapa mommy lama sekali, aku jenuh menunggu di rumah." ia menggerucutkan bibirnya.


"Mommy mengurus administrasi Farah makanya lama."


"Iya tapi mommy harus jaga kesehatan, seharusnya pulang dulu ke rumah jangan langsung kesana." Inha begitu khawatir karena selama di Solo, Imelda sakit dan kurang istirahat.


"Iya sayang, kamu tenanglah."


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Inha


"Aku baik."


" Inha tahu Keken dimana selama tiga hari terakhir? Dia tidak mengunjungiku. "


"Dia dengan wanita lain!" bohongnya dengan suara ketus. Selama beberapa hari ini dia tahu bahwa rumah tangga kakaknya sedang tidak baik-baik saja dan Keken terlihat murung.


"HAH...!" Farah meremas tangannya.


"Inha...." Imelda tidak mengijinkan gadis itu mencampuri urusan rumah tangga Keken.


"Farah, aku menyukaimu karena mas Keken cinta padamu tapi aku tidak suka saat kakakku sedih seperti ini." ucapnya


"Maaf."


"Simpan kata maafmu untuk kakakku." Inha masih terlihat kesal. Ia melihat memang tidak bisa menutupi rasa kecewa nya pada wanita ini. Gara - gara dia mas Keken selalu terlihat sedih dan tidak betah berada di rumah.


"Sudah, sudah biarkan Farah istirahat dan kamu pijitin mommy. Ayo!"

__ADS_1


"Iya mom."


"Mereka begitu baik tapi aku menyia - nyiakan kasih sayang suamiku." Farah menyesal atas apa yang telah dilakukan nya. Ia melihat dua orang wanita itu pergi bersama ke taman belakang.


* **


Disisi lain,


Sejak kemarin Keken menginap di rumah Navysah di ruang santai, tempat dimana ia selalu merasakan nyaman. Dan tanpa karpet mewah Keken rebahan di tempat itu.


Ia memang tidak menemui istrinya di rumah sakit saat siang hari namun ia pasti datang di malam hari. Tidak bertemu Farah membuatnya rindu bahkan pria itu beberapa kali menelepon suster jaga untuk menanyakan kabarnya.


"Dasar plin plan katanya mau menyerah tapi masih saja menanyakan keadaan istrimu." cibir Khaffi. Ia merasa jengah karena selalu melihat Keken menelepon suster.


Saat ini Khaffi juga berada di tempat itu karena pekerjaan. Mas Raffa memintanya untuk menyelesaikan pekerjaan sembari menemani Keken yang sedang patah hati.


" Nanti kalau kamu punya istri dan sedang hamil maka kamu akan tahu bagaimana rasanya khawatir. "Keken masih dengan mode tiduran sembari membaca berkas.


" Aku memang marah dengan Farah tapi aku juga cinta dengannya bahkan rasa cinta mengalahkan egoku. "


" Tapi aku harus bagaimana, sudahlah jalani saja. Kalau memang kita jodoh pasti kita akan bersatu. " Keken


" Terserahlah, pusing aku lihat rumah tanggamu!" Khaffi kembali menatap laptop dan mengecek laporan.


" Kapan kamu akan ke Malang? "


" Dalam minggu ini, lebih cepat lebih baik. "Keken


" Sialan lu!! Dia bini gue, biarpun gendut aku tetap cinta. "


" Cih! Sudahlah jangan berkata cinta padaku bikin aku muak saja, kamu mudah berubah sebentar mau balikan sama Farah, sebentar lagi minta pisah. Nggak jelas! "


Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya, memang benar ia plin plan karena rasa cintanya terlalu besar namun di satu sisi ia ingin memberi pelajaran pada istrinya agar bisa menghargai dirinya.


" Aku harus bagaimana ya, Fi?! "


" Kamu nanya?!" Khaffi berkata dengan gaya menye-menye.


Keken menganggukkan kepala, pikiran nya sudah buntu.


" Aku akan kasih saran kamu agar Farah bertekuk lutut tapi kamu tidak boleh protes dan menolak. Turuti semua saranku. "


"Ah, beneran tidak saran nya. Aku tidak mau rumah tanggaku semakin kusut."


"Minta saran tapi curigaan!" ketus Khaffi, ia mengeplak kepala Keken dengan kertas map.


"Kalau tidak mau ya sudah mikir saja sendiri, aku heran ini kepala isinya apa kok buntu kayak jalan." kelakar Khaffi


Keken mendengus kesal. " Baiklah, kali ini aku serahkan semuanya padamu. Bantuin aku agar Farah nurut dan cinta padaku.


Dan Khaffi tersenyum licik.


Namun tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan itu. " Pangeran Medit kok dipercaya, kalau lu percaya dia yang ada rumah tangga mu semakin runyam." cibir Alif sembari menggaruk-garuk ******, ciri khas darinya yang tidak pernah berubah sejak dulu. Ia merebahkan tubuhnya dan membaca dokumen perusahaan milik Keken

__ADS_1


" Apaan sih lu dokter kremi! heran gue sama lu Lif hobi kok garukin ****** dari dulu. "


"Kaya gue dong hobi baca buku dan touring." sambung Khaffi lagi.


"Lu itu bukan touring jalanan tapi touring ke tubuh anak gadis orang." sindir Alif. Khaffi memang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan saat berpacaran dulu.


"Enak lah touring itulah. Daripada lu, punya tunangan tapi jalan di tempat. Liburan kayak gini seharusnya lu jalan sama si Bengek eh malah rebahan di rumah." Khaffi menggelengkan kepala. Entah kenapa Alif kurang perhatian dengan tunangannya bahkan disaat libur pria itu lebih suka berada di rumah atau pergi memberikan pelayanan kesehatan gratis pada kaum menengah kebawah daripada pacaran.


"Berisik!" Alif


"Kalau masih cinta dengan istrimu lebih baik maafkan beri dia kesempatan terakhir dan jika masih saja seperti itu baru lepaskan." sambung Alif lagi


"Atau lu mau ceraikan dia?" tanyanya


"Kagaklah, enak saja cerai. Dapetin nya susah masa cerai gitu saja."


" Siapa tahu ku mau ceraikan Farah, gue siap nampung bini lu. Dan lu Lif, daripada si Anggrek diangurin begitu mending buat gue aja." Khaffi sengaja memancing emosi kedua sahabatnya.


"Berani merebut Farah, gue bakar apartemen lu!" Ancam Keken dengan kesal


"Berani lu tikung gue, gue coret dari perusahaan mas Raffa dan dari daftar keluarga tante Ifa." ancam Alif


"Hahahaha...seneng banget gue liat kalian kebakaran jenggot begitu." Khaffi tergelak tawa.


" Mana tahu si celengan bagong lupa diri mau denganku dan si Bengek dah capek dengan lu, gue sih siap aja nikahin dia."


"Alif dan Keken maju lalu menggelitiki tubuh Khaffi." Gue sunat juga nih si otong. "Alif


" Sunatin lagi Lif, gue bantu pegangin. "Keken terkekeh


" Mak, emak... Alif dan Keken nakal mak, si otong mo disunat ntar dia tambah gundul mak. Tolongin mak! " teriak Khaffi bertingkah seperti anak kecil hingga membuat Keken dan Alif gemas. Saat mereka bersama, mereka selalu bertingkah seperti ini,mengenang masa lalu mereka yang menyenangkan.


" Gue pipisin nih. "Keken ikut berlagak seperti anak kecil yang ingin buang air kecil sembari berdiri.


" Sialan lu! Jadi inget waktu lu kecil suka kencingin bola gue karena tidak boleh ikutan main. " Khaffi mengingat dulu Keken anak yang tidak pernah diajak bermain bola karena usil dan nakal, lalu dia mengamuk dan membasahi bola itu dengan air seni nya.


Keken tergelak tawa.


" Tuh, si dokter kremi dan si Fafa dulu suka ngasih ikan dengan air susu katanya agar ikan sehat dan kuat." Keken tergelak tawa sedangkan Alif hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malu mengingat masa kecil yang jahil.


"Sudahlah aku pergi saja, mau cari Jabol." Alif beranjak dari tempat duduknya.


"Jabol itu apa? Kau tahu?" tanya Keken pada Khaffi


"Mana kutahu." Khaffi mengedikkan bahu


"Jabol itu Janda Bolong. Mana tahu ada yang bisa dibolongi." kelakar Alif. hanya pada mereka ia bisa bercanda namun saat berkaitan dengan pekerjaan dia selalu dingin dan serius.


"Gila juga dia." ucap Khaffi. Namun saat Alif membuka pintu ia membuang angin dengan suara keras lalu lari dari ruangan itu.


"Alif, sialan lu!!" umpat Keken, ia langsung menutup hidungnya dengan kaos karena aromanya begitu menusuk.


"Emang dasar dokter kremi, itu pantat kagak pernah disekolahin. Bau sampah!!" Khaffi mual mencium aroma busuk itu. Sedangkan Alif tergelak tawa mendengar umpatan dari kedua sahabat nya.

__ADS_1


__ADS_2