Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 152 ( Hatiku begitu sakit)


__ADS_3

Mereka tiba di bandara siang hari dan sudah waktunya jam makan siang.


" Sayang, ayo kita makan di restoran terlebih dahulu. Aku lapar." ajak Wina, ia selalu menggandeng tangan Keken di sebelah kanan dan ibunya di sebelah kiri, sedangkan Farah hanya bisa mengikuti langkah Keken.


Mereka masuk ke dalam restoran padang yang berada di area bandara dan memesan beberapa makanan.


" Aku mau rendang dan ayam pop." pinta Wina.


"Keken, aku pesankan kamu dendeng daging dan sayur singkong. Makanan kesukaanmu masih sama kan." Wina kembali mendominasi obrolan. Ia tahu makanan kesukaan Keken karena mereka pernah bersama.


" Ibu, aku pesankan ayam bakar. Farah, kamu mau makan apa?" tanyanya


"Aku tidak lapar." Farah mencoba menahan dirinya untuk tidak menangis, ia begitu terlihat bodoh bahkan Wina saja tahu makanan favorit suaminya, sedangkan dia tidak mengerti apa-apa tentang makanan kesukaan Keken. Memang salahnya karena sejak dulu tidak pernah bertanya dan tidak peduli dengan suaminya.


"Dia mau ayam bakar dan sayur daun singkong dengan porsi banyak. Dia suka sayuran." ucap Keken pada pelayan. Farah menatap pada Keken dengan wajah datar, ternyata suaminya tahu makanan kesukaan nya.


Mereka makan dan sesekali diselipkan obrolan dan tentu saja Wina yang mendominasi obrolan tersebut.


" Sayang, maukah kamu suapin aku untuk yang terakhir kali, dulu kamu selalu menyuapiku setelah ___"


Farah menggenggam sendoknya dengan erat, ia mencoba sabar namun wanita itu seolah sengaja ingin mengingatkan kisah masa lalu mereka.


Keken menghela nafas panjangnya, ini bukan seperti yang ia inginkan. Keken menyuruh Wina untuk membuat Farah cemburu tapi tidak sampai ada adegan suap - suapan. Wina mencari kesempatan.


"Sayang, ayo suapin" suaranya merengek dan seolah men desah pada keken hingga membuat Farah muak.


"Brengs*k! Wanita ini sepertinya ingin membuatku kesal." gumam Farah dalam hati. Ini sungguh keterlaluan.


Mau tak mau Keken menyuapi Wina beberapa kali hingga gadis itu merasa senang namun ibunya selalu menyuruhnya untuk tidak berbuat demikian.


"Wina, kamu makan sendiri Nak! Keken sudah memiliki istri."


"Ibu, Farah tidak cemburu kok. Dia mengerti kalau aku akan pergi jauh dan ini kesempatan terakhirku bersama Keken. Benarkan, Farah kalau kau tidak cemburu padaku?!"


Farah hanya tersenyum kecut, lalu menyuap kembali makanan nya.

__ADS_1


Ada rasa sakit hati karena suaminya mau saja menuruti keinginan Wina. Dia tidak menolak perlakuan wanita itu.


" Aku pergi ke toilet dulu." ucapnya, ia menghindari mereka. Farah tidak kuat saat melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain,ia meneteskan air mata sembari bercermin di kaca toilet.


"Apa aku cemburu?" tanyanya bermonolog. Ia mengusap wajahnya dengan air agar merasa sedikit tenang, lalu ia mengoles wajahnya kembali dengan bedak agar terlihat segar.


"Tidak, tidak, aku tidak mungkin cemburu pada wanita itu." Elak Farah, ia meyakinkan dirinya bahwa tidak ada perasaan seperti itu di dirinya.


"Wina memang cantik, sexy, putih pantas saja Keken suka dengannya sedangkan aku, jelek, gendut, item bagaikan langit dan bumi." Farah merasa insecure karena dirinya kalah jauh dari mantan pacar suaminya.


Dan di menit kemudian ponselnya berdering, Hilman menelepon nya.


" Iya bang. "


" Kenapa suaramu seperti itu? " Hilman menyadari bahwa suara Farah serak seperti orang menangis.


" Tidak ada apa-apa bang." bohongnya


"Farah... aku mengenalmu dari siapapun, katakan ada apa sayang? " desak Hilman


"Bersikaplah seperti biasa, jangan menangis karena pria itu tidak patut untuk ditangisi."


" Aku mohon jaga perasaanmu untukku, bukan untuknya." pinta Hilman dan Farah hanya mengiyakan serta mengakhiri obrolan.


Ia kembali bergabung dan malas untuk menghabiskan makanan nya.


" Lanjutkan lagi makan nya. "Keken


" Aku sudah kenyang. " Farah sudah tidak mood untuk makan lagi. Dengan sigap Keken menyuapi istrinya namun Farah masih enggan untuk membuka mulutnya.


" Ayo makan. "Keken mencoba kembali agar istrinya mau makan, sisa makanan Farah masih banyak karena ia baru makan beberapa suap.


Mau tak mau Farah membuka mulutnya dan menerima suapan dari Keken, terasa enak karena ia biasanya disuapi Dini saat awal kehamilan. Dan tak terasa makanan itu licin tandas karena Farah sejak tadi kelaparan.


"Mau makan lagi?" tanya Keken dan Farah menggelengkan kepala, "Aku kenyang."

__ADS_1


Dan tiba saatnya Wina pergi, ia pamit pada Farah. " Terima kasih sudah mengantarku, aku titip Keken."


"Keken bukan anak kecil yang bisa dititipkan, aku istrinya sudah pasti aku akan mengurusnya dengan baik." Farah mulai memperjelas status nya dan bicara dengan nada ketus.


Wina menggulum senyum, baru pertama kalinya ia mendengar Farah menyebut dirinya istri Keken.


" Pangeran Modosa, aku pasti kangen denganmu." Wina kembali memeluk Keken dengan erat seolah tidak ingin dipisahkan. Ia menangis diperlukan Keken lagi. Farah hanya bisa membuang wajahnya kearah lain, tidak ingin melihat adegan seperti ini.


"Kamu juga akan merindukanmu, hati-hati disana jaga kesehatan ibumu." ujar Keken


"Keken, a.. aku sayang banget sama kamu, apa bisa aku hidup jauh darimu Ken, huhuhu...." Wina kembali menangis ia menumpahkan segala perasaannya pada Keken.


Deg, Hati Farah kian sakit saat tahu Wina memiliki perasaan untuk suaminya, pantas saja Wina begitu menempel pada Keken.


" Aku tahu dan sekarang aku sudah memiliki istri. Mulai sekarang hiduplah dengan baik,kamu wanita kuat dan kita masih bisa berteman jangan lupa hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu." Keken sembari menenangkan gadis itu.


"Jika kau ingin menambah istri lagi katakan padaku, aku siap!" kelakarnya namun Farah tidak terima, ia mengepalkan tangannya dengan erat.


"Aku sudah memiliki Farah, dia satu-satunya istriku tidak ada yang lain." jawab Keken lagi. Dan ini membuat Farah mencelos, hati yang sempat emosi kini sedikit mereda karena ucapan Keken.


"Aku pasti kangen Kenzi si perkasa." bisik Wina di telinga Keken hingga membuat pria itu tertawa terpingkal, namun tidak dengan Farah. Hatinya kian kesal karena Wina berkata tidak sopan dan menjurus ke hal me sum.


"Keken, aku pergi dulu." Wina dengan cepat mencium pipi kanan dan kiri Keken seperti yang dulu pernah ia lakukan. Keken terkesiap karena gadis itu sangat berani menciumnya di depan istrinya.


Dan benar saja Farah pergi tanpa permisi meninggalkan mereka karena sudah tidak kuat lagi.


" Sayang, jangan lari ingat anak kita." Keken berlari mengejar Farah, ia langsung pamit pulang pada Wina dan ibunya.


Farah yang menangis kini tidak sadar kalau dirinya berlari, ia menjauhi Keken.


"Jangan lari, ingat anak kita." Keken berhasil menahan tangan istrinya dan memeluknya dengan erat. Ia tidak mau Farah kenapa - napa.


"Tega kamu Ken, sama aku!" teriak Farah, ia memukul dada bidang Keken dengan keras menumpahkan semua rasa kesal nya. "Tega kamu sama aku.., huhuhu.." ucapnya lagi, ia menangis kian menjadi - jadi.


"Ayo kita pulang, jangan disini malu diliatin orang." Keken menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam mobil, saat Farah berteriak beberapa orang melihat kearah nya dan Keken merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Malu?? Bahkan tadi kamu dicium pipi kanan kiri olehnya, kenapa sekarang harus malu." sindirnya. Dan Keken tidak memperdulikan ucapan Farah, ia menggendong istrinya masuk ke dalam mobil walaupun Farah kembali berteriak minta diturunkan.


__ADS_2