
Keken hari ini berencana masuk lebih siang karena tubuhnya merasa lelah. Sedangkan Farah menyiapkan sarapan seperti biasa tanpa membangunkan suaminya. Ia bergerak membersihkan rumahnya yang sudah beberapa hari tidak ditempati.
"Hari ini aku akan masak kesukaan Keken lalu apalagi ya, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
Farah sempat bicara dengan Dini apa yang harus dilakukan agar Keken mau bersamanya lagi dan gadis itu menyarankan Farah untuk memakai pakaian sexy. Menyebalkan.
"Keken, pria yang menyukai wanita cantik dan sexy. Lakukanlah."
"Mana ada suami yang mau melihat istrinya jelek dan tidak menarik."
"Puaskan suamimu agar tidak jajan diluar."
"Jangan memakai daster buluk, aku saja malas melihatmu apalagi Keken!"
Beberapa perkataan Dini yang membuat Farah semakin khawatir, ia tidak mau Keken jajan diluar apalagi menikah siri dengan wanita lain.
"Apa aku tidak seperti wanita na kal saat memakai baju dinas seperti ini." Farah bercermin di kamar mandi dan menggunakan lingery pemberian dari Kinan dulu. Ia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, berpikir apakah masih pantas menggunakan pakaian itu sedangkan dirinya hamil.
"Kenapa aku seperti membawa gendang di perut." Ia terkekeh sembari mengelus perutnya yang membuncit. Perutnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
"Farah, apa kau tidur di kamar mandi, cepatlah!" suara Keken terdengar cukup keras hingga akhirnya Farah mengganti pakaian, ia tidak berani menggunakan baju dinas itu. Malu.
"Apa?"
"Kau tidur atau semedi? lama sekali di kamar mandi." ketusnya, Keken membawa handuk dan mandi dengan cepat, ia sudah telat. Keken mengira masih jam tujuh nyatanya ini sudah jam sepuluh,ia harus segera berangkat ke proyek.
Farah tahu mungkin Keken masih marah dengannya bahkan perhatian nya hanya sedikit tidak seperti dulu namun ia harus sadar diri ini semua karena salahnya.
Farah membuka lemari pakaian dan menemukan baju hamil pemberian Keken, ia pun merias diri agar terlihat lebih segar.
" Sempurna." Farah tersenyum saat memoles lipstik sebagai senjata terakhirnya untuk memikat hati Keken.
" Apa yang sedang kau lakukan?"
Farah terlihat duduk berselonjor sembari menonton televisi, namun terlihat berbeda karena wanita itu memakai make up dan terlihat cantik.
"Kau mau ketemuan dengan pria itu lagi?!" tanya Keken dengan menyelidik. Farah biasanya akan berpakaian rapi dan cantik untuk menemui itu sedangkan saat di rumah dia biasa saja.
"Tidak!"
"Bilang tidak tapi nantinya iya." Keken melempar handuk ke sembarang arah, tubuhnya yang bertelanjang dada semakin membuat Farah menelan salivanya. Apalagi bagian bawah Keken hanya menggunakan celana d*lam. "
__ADS_1
"Keken benar-benar sexy, aku menginginkannya." gumam Farah dalam hati. Ia mendekati Keken yang sedang memilih kaos.
"Aku seperti ini untukmu."
Keken mengerutkan dahinya, Farah begitu aneh bahkan wanita itu memeluknya dari belakang.
"Awas aku mau kerja, sudah terlambat." Keken terlihat gugup, niat hati tidur sebentar nyatanya dia kebablasan karena Farah tidak membangunkan nya.
Saat melihat Farah memakai dress biru pemberiannya membuat hati Keken berdesir, hasratnya mulai naik namun sesaat kemudian pikiran buruknya kembali menyergap saat melihat istrinya terlihat cantik, lagi-lagi Keken mengira Farah akan bertemu dengan mantan nya lagi.
Farah mencium punggung Keken dengan berani hingga akhirnya pria itu membalikkan badan karena geli.
"Apa yang kamu lakukan?" Hasrat Keken terpancing lagi saat istrinya menciumnya secara bertubi-tubi. Iman Keken sangat tipis, setipis tisu wajah saat dipancing seperti ini ia mulai bergejolak apalagi melihat istrinya begitu cantik dan menggoda.
" Hari ini sangat panas." Farah membuka tiga kancing dressnya hingga nampak jelas warna br* yang ia pakai dan dadanya begitu besar dan menggoda iman.
Keken membuang wajahnya kearah lain. Ia begitu bingung pemandangan saat ini begitu indah namun ia ingat perkataan Khaffi yang mengharuskan dirinya untuk menahan diri, agar Farah bertekuk lutut dan mengatakan cinta yang utamanya.
" Aku mau kerja." Keken kembali kearah lemari dan mencari celana panjang warna hitam. Saat ia akan menggunakannya, Farah merebut celana itu dan berlari ke ruangan kedua. Tempat dimana ia tidur.
"Apa yang kau lakukan, berikan cepat aku mau kerja." Keken menghampiri istrinya dan meminta celananya dikembalikan.
Farah membuang celana itu lalu ia menghimpit suaminya kearah tembok,memeluknya serta menciumnya secara menuntut walaupun terlihat kaku. Keken menggulum senyum lalu menikmati permainan istrinya, hari ini Farah begitu aneh, ia benar-benar sangat kaku saat menciumnya sangat berbeda dengan gadis yang pernah ia cumbu, mereka akan menyerang Keken dengan penuh gair*h dan sangat ahli dalam hal berciuman.
"Kau itu aneh, masa berciuman begitu saja tidak bisa, kaku sekali." ejeknya
"Apa...!!" Farah mendelik, kesal diejek bahwa dia tidak bisa melakukannya dengan baik.
"Sini..." Farah menarik suaminya dan mendorongnya kearah kasur. " Jangan menantangku!" ia mulai mencium suaminya dengan lembut hingga Keken mend*sah nikmat,bahkan Farah sengaja menggesek tubuhnya kearah Kenzi agar terbangun.
Keken sudah tidak berdaya, melihat istrinya yang cantik saja bisa membuat hasratnya melambung apalagi saat ini Farah yang sedang bekerja keras untuknya.
"Urusan Khaffi belakangan, aku sudah tidak tahan. Masa dikasih sajian nolak." gumam Keken dalam hati, ia mulai mengikuti gerakan Farah yang kian menggila bahkan, Keken lupa saat ini dia harus bekerja.
Disaat permainan panas ponsel Keken berdering, ia tidak peduli karena saat ini ia sedang menikmati quality time bersama istrinya.Namun berkali-kali ponselnya kembali berdering.
"Ken..." Farah mengatur nafasnya yang tersenggal akibat permainannya.
"Jangan diurusin, kita tuntaskan dulu." Ia masih ingin bermain dengan istrinya.
"Sial*n siapa sih yang telepon!" umpatnya namun saat ia melihat nama penelepon ia begitu terkejut.
__ADS_1
"Bagaimana ini." lirihnya
"Iy... iya mas." jawabnya dengan suara tersenggal. Ia mencoba mengatur nafasnya lagi.
"Kenapa belum ke tempat proyek, kau ingin cari mati!!" teriak Raffa diujung telepon, ia mendapat laporan dari bawahan bahwa Keken belum datang ke tempat kerja.
"Maaf mas, ini darurat. Ada kecelakaan."
"Kecelakaan, dimana? kau baik-baik saja?" tanya Raffa dengan sedikit khawatir
"Di kasur mas, kecelakaan lokal dan ini harus dituntaskan. Aku akan datang dalam waktu satu jam. Assalamualaikum..." Keken menutup ponselnya lalu melanjutkan kembali aktivitas panasnya.
" Walaikumm salam." Raffa terdiam, mengerutkan dahinya mencoba mencerna ucapan Keken dengan baik.
" Dasar bocah tengik!! serunya. "Siang bolong begini olahraga panas." Namun ia tersenyum, setidaknya pernikahan Keken mulai membaik.
Keken menghela nafas panjangnya, sudah pasti Raffa akan mengomel kembali saat dia datang ke tempat proyek. Itu masalah nanti dan yang terpenting sekarang melanjutkan kegiatan nya.
Farah mulai mencium suaminya lagi, memancing hasratnya kembali yang sempat terhenti, namun beberapa menit kemudian disela-sela kegiatan panasnya ponselnya berdering sangat keras hingga Keken merasa terganggu dan kesal.
"Angkat dulu, heran deh lagi asyik - asyikan begini banyak banget gangguan nya!" gerutu Keken.
Farah mengatur nafasnya lalu menerima sambungan telepon tersebut.
"Hallo, apa?!"
"Farah, aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Vania diujung telepon
"Apa cepetan!"
"Eh, tunggu dulu kenapa dengan suaramu?" Vania mendengar suara Farah yang tersenggal.
"A... aku ti.. dak apa-apa ahh.." jawab Farah. Ternyata Keken sedang memainkan inti istrinya dengan tangan hingga membuat Farah mendes*h lirih, ia beberapa kali memukul tangan Keken namun pria itu semakin usil dengan mempercepat gerakan nya.
" Kau sedang apa?! "Vania begitu penasaran, ia mengira terjadi sesuatu dengan teman nya.
" Sedang masak gorengan,ahh.."
" Masak gorengan. "Vania mengernyitkan dahi," Farah kau baik-baik saja kan? "
" Aku baik-baik saja Vania, jangan ganggu aku karena aku sedang masak gorengan di kasur!! "teriak Farah lalu memutuskan sambungan telepon.
__ADS_1
" Masak gorengan dikasur. "Vania mulai berfikir.
" Sial*n Farah! Gue kira beneran masak ternyata ___"umpatnya, namun beberapa saat kemudian ia tergelak tawa.