Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 12 ( Kencan bersama Hilman)


__ADS_3

Hari ini hari minggu, Farah sudah bangun sejak subuh untuk menunaikan solat. Seperti biasanya di hari minggu ia akan bertemu dengan tunangannya, Hilman.


Hilman bekerja di Bogor sebagai karyawan di sebuah BUMN. Karena jarak yang jauh, mereka hanya bertemu saat weekend.


Mereka dulu bertemu di rumah tante Eri. Hilman yang notabene tetangga tantenya sering melihat Farah bertamu disana. Dari sekedar kenalan lalu bertukar nomer handphone dan sekarang menjadi tunangan.


Orangtua Hilman dan tante Eri bahagia karena sebentar lagi mereka akan menjalin hubungan persaudaraan yang lebih dekat jika Farah dan Hilman menikah. Hilman sosok pria yang bertanggung jawab, baik dan sopan maka dari itu Farah jatuh cinta dan mau bertunangan dengannya.


Di jaman sekarang mencari lelaki baik sangatlah sulit, terkadang penampilan fisik begitu menawan namun tidak demikian dengan sifat aslinya.


Hilman pria dewasa yang mampu melindungi dan membuat Farah nyaman. Usianya yang terpaut lima tahun dari Farah.


Farah mendapatkan sosok pria yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Sosok yang memberinya begitu banyak kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan dari ayahnya sendiri.


Dulu Farah sempat menolak untuk berpacaran dengan Hilman. Rasa trauma di masa lalu dan rasa ketidakpercayaan terhadap seorang pria membuatnya enggan untuk berpacaran.


Dulu setiap ada pria yang ingin mendekat padanya, Farah selalu menghindar. Farah merasa takut jika pria yang mendekatinya akan bersikap seperti sang ayah yang tidak pernah peduli, dingin dan kurang bertanggung jawab. Namun, Hilman mematahkan pandangan Farah tentang itu. Dari Hilman lah ia mendapatkan banyak cinta dan kasih sayang yang tulus.


" Percaya deh yang mau ketemuan sama ayang Maman." goda Vania, ia melihat Farah yang sedang bermake up di depan cermin. Farah yang tomboy dalam kesehariannya dan jarang memakai make up, kini terlihat cantik dengan make up yang natural.


"Namanya Hilman bukan Maman." Farah menghela nafas kasarnya, Vania yang selalu menyebut nama Hilman dengan Maman mengingatkan dirinya pada Mang Maman si tukang cilok yang selalu berjualan di sekitar kontrakan.


"Pulang jam berapa?" tanya Vania dan Dini bersamaan pada Farah. Mereka saling memandang kemudian membuang wajahnya kearah lain.


"Ya ampun! berangkat juga belum malah tanya pulang jam berapa, kalian seperti security penjaga pintu! " gerutu Farah, seperti biasanya kedua temannya selalu menanyakan jam berapa Farah pulang ke rumah. Mereka saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain jika salah satu diantara mereka melampaui batas.


" Aku menginap bersama Hilman boleh?! " Farah sengaja mematik kemarahan dua orang temannya


" Tidak boleh!!" sahut mereka bersamaan


"Awas saja kamu sampai menginap sama si Maman!" ancam Vania


" Mau menginap dimana,? Hotel, losmen atau apartemen, gue bakal ngikutin lu kemana pun. Kalau perlu gue telepon tante Eri biar lu digrebek dan dinikahkan langsung daripada bikin zina!" ancam Dini


"Bercanda gaes, canda." Farah menggulum senyum. "Kayak baru kenal gue kemarin sore, sih!"


" Tapi bercanda lu nggak lucu!" ucap Vania dengan kesal


" Iya, maaf deh. Yasudah daripada kalian penasaran kita mau kemana, lebih baik kalian ikut kita jalan."


"Gue mau dijemput Andrew, gue juga mau pacaran dong, emang si onoh jomblo ngenes paling banter yang ngapelin mamang-mamang jualan di depan kontrakan." Mata Vania melirik kearah Dini sembari mencibirnya


"Sialan lu!" Dini menjitak kepala Vania, " Lihat saja nanti pacar gue lebih keren dari kalian.


" Ah ngibul lu! " sahut Vania, beradu mulut dengan Dini salah satu hobinya." Paling sebelas dua belas dari Mang Aco. " Vania menyebut nama seorang security yang bekerja di rumahnya, Mang Aco unik, selalu berpenampilan rapi dan klimis.


"Culun-culun manis." ucap Vania


"Setan lu Vania!" umpat Dini dengan kesal.


Tak berapa lama suara seorang pria terdengar tidak asing.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Walaikumm salam."


Hilman duduk lesehan di samping pintu, di kontrakan Farah memang tidak ada kursi sofa untuk tamu.


"Babang Hilman dah nyampe, mau minum apa bang?" Dini menawarkan minuman.


"Tidak usah, nanti saja." Namun dirinya melirik Farah yang terlihat sangat cantik, badannya yang berisi ditutupi dengan outer panjang hingga terkesan lebih langsing.


"Sudah makan bang?" tanya Farah, ia merasa gugup saat berada di dekat Hilman. Rasanya sedikit canggung walaupun mereka setiap minggu bertemu.


" Belum, nanti kita makan di luar saja. Sudah siap?"


Farah menganggukan kepala.


" Van, Din, gue pergi dulu ya. " pamit Farah


" Bang Hilman, gue titip Farah." Vania tidak menjawab Farah, ia meminta Hilman untuk menjaga temannya.


Hilman hanya menganggukan kepala seperti biasanya.


" Ya ampun, aku merasa seperti anak kecil minta dijagain. Kalian benar-benar aneh." Farah menatap jengah kearah kedua sahabatnya yang selalu over protektif.


"Ayo bang kita pergi keburu digangguin mereka." Farah mendorong tubuh Hilman ke luar rumah.


"Farah, kalau lu nggak mau biar gue yang maju nikah sama bang Hilman!!" teriak Dini dari dalam, ia senang saat wajah Farah menatapnya dengan kesal.


" Biar rame Van, mereka kan adem ayem nggak pernah berantem dan gue ngomong kayak gitu cuma bercanda, masa gue mau jadi pagar makan tanaman. Oh No..."


"Dasar stres!" umpat Vania, Dini memang selalu bikin gara - gara.


* **


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, saat Hilman bertanya Farah hanya menjawab seperlunya. Entah mengapa Farah selalu kesal saat ada seseorang berkata akan merebut Hilman darinya dan kini perasaannya begitu buruk.


" Kita ke Selatan ya, abang mau kenalin temen abang ke kamu."


"Ya." balas Farah pendek


" Nggak usah nonton ya, minggu kemarin kan habis nonton. Abang bosen."


"Terserah abang." Farah membuang wajahnya ke luar jendela mobil. Ia menikmati pemandangan Jakarta di siang hari.


"Kamu kenapa, marah sama abang?"


"Tidak, aku hanya kesal sama Dini. Dia bilang ingin merebut bang Hilman, walaupun cuma bercanda tapi aku kesal bang." Farah gadis yang apa adanya, dia akan bilang apapun itu yang mengganjal di hatinya.


"Kamu cemburu?" Hilman tersenyum lebar, seperti biasa Hilman melihat wajah masam Farah yang cemburu padanya.


Farah membuang wajahnya ke luar jendela.

__ADS_1


"Aku suka." Hilman menggulum senyum sembari melirik Farah kembali.


"Abang suka sama Dini! " Farah kembali menatap tajam tunangannya.


"Tidak." Hilman menggelengkan kepala, "Aku suka kamu yang cemburu seperti ini, itu berarti kamu cinta sama abang."


" Kita sudah tunangan ya pasti aku cintalah sama abang, kalau aku nggak cinta sama abang ngapain ke jenjang yang lebih serius." gerutu Farah


"Cup, cup, cup calon istri abang manis banget kalau ngambek gini." Hilman mengelus rambut Farah agar sedikit tenang.


"Ih..., apaan sih bang! Emang Farah anak kucing dielus gini." gerutu Farah


Hilman menepikan mobilnya di sisi jalan yang agak sepi, ia membuka seatbeltnya.


" Cup." satu kecupan mendarat di pipi Farah. Dan sang gadis sedikit terkejut mendapat serangan dadakan. Pipinya merona dan terlihat malu, Farah menundukan kepalanya.


" Sudah nggak marah lagi kan." Hilman memasang kembali seatbeltnya dan kembali menyetir.


Saat Farah menyentuh pipi kanannya dengan tangan, Hilman baru menyadari kalau Farah tidak memakai cincin pertunangan mereka.


"Kamu tidak pakai cincin?" tanya Hilman


"Oh.., itu mm.. saat tadi mandi aku sengaja melepaskan cincinnya dan sekarang lupa aku pakai lagi." Farah tergagap dan sedikit panik saat Hilman menanyakan dimana cincin pertunangan mereka.


"Yakin?" Ini pertama kalinya kamu tidak memakai cincin lho. " Hilman menatap Farah dari spion dalam mobil, seolah ia tahu bahwa Farah berbohong padanya. Farah bukan pembohong ulung, bahkan dari gerakan matanya saja Hilman tahu kalau tunangannya sedang berbohong.


" Beneran bang. " Farah mencoba kekeh dengan ucapannya.


Hilman mencengkeram erat setir mobilnya, wajahnya datar entah apa yang dia pikirkan. Saat Farah bertanya, hanya jawaban singkat yang dia balas.


Farah menghela nafas panjangnya, ia melirik Hilman yang saat ini diam membisu. Hilman sedang marah padanya.


Satu ciri dari Hilman saat marah adalah mendiamkan pasangan dan Farah tidak suka dengan hal itu.


" Nanti aku pakai lagi cincin pertunangannya." lirih Farah dengan sedikit takut.


" Aku tidak mau tahu, cincin itu harus melingkar di jarimu. Kalau kamu tidak mau cerita sekarang, aku tidak akan memaksamu." tegas Hilman tanpa menoleh kearah Farah. Di siang hari pun lalu lintas di Jekardah macet apalagi ini weekend, banyak orang berlibur ke tempat wisata.


Farah sekilas menatap calon suaminya yang kini masih dengan raut wajah tidak bersahabat. Ia melepaskan seatbeltnya dan mendekat ke arah Hilman dan mencium bibir tipis itu


"Cup.. Cup.." dua kali Farah mengecup bibir calon suaminya. Entah keberanian darimana ia melakukan hal itu di siang hari, disaat macet - macetnya.


Hilman terkejut dengan apa yang dilakukan Farah barusan. Ia melirik Farah yang kini membuang wajahnya ke arah luar jendela mobil.


"Sudah berani kamu sekarang ya." Hilman menggulum senyum, ini pertama kalinya Farah berinisiatif mencium dirinya.


" Ya sudah kalau tidak suka, dihapus saja." Farah memberikan tisu yang dia ambil di box mobil. Ia menahan malu dengan tidak melihat ke arah Hilman.


" Siapa yang tidak suka, kali ini aku maafkan. Besok - besok kamu khilaf seperti ini terus ya agar aku mendapat vitamin tambahan. " Hilman tergelak tawa sembari melirik Farah yang sedang mengerucutkan bibirnya.


Mereka tiba di sebuah restoran terkenal di kawasan Jakarta Selatan untuk menemui teman Hilman yang sudah lama tidak bertemu. Namun, saat Farah dan Hilman baru saja duduk untuk memesan makanan, terlihat dari jauh seorang pria yang dia kenal. Pria yang menyita cincin pertunangannya beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2