
Farah pulang ke kontrakan dan melihat Dini yang sedang berwajah masam dan selalu menggerutu.
Sejak pulang dari restoran tempat mereka bekerja, Dini dan Farah terlibat adu mulut. Dini yang terbiasa nebeng Farah setiap harinya kini harus pulang sendirian.
Dini kesal karena Farah pergi ke daerah Selatan hingga akhirnya dia harus nebeng salah satu temannya untuk pulang ke rumah.
"Kenapa lagi!" Farah melirik sahabatnya yang masih berwajah masam dan mendiamkan nya.
"Kesel sama kamu, gara - gara kamu pergi ke apartemen pria itu aku jadi pulang sama si Husni."
"Baguslah, siapa tahu kalian berjodoh." Farah merebahkan dirinya di kasur, ia merasa pusing dan ingin cepat - cepat istirahat.
"Apaan sih lu Far, yang Husni suka itu lu bukan gue. "sewot Dini,
" Mana tadi dia sengaja rem mendadak lagi, nyebelin banget. Gue kan takut. "
" Cie.. ada yang pegangan pinggang si Husni nih. "goda Farah menaik turunkan alisnya.
" Terpaksa, daripada gue jatuh dari motor. Itu anak ugal - ugalan banget naik motor, aku cubitin aja beberapa kali biar dia slow naik motornya. Dia nanyain lu, katanya kapan lu bubaran sama si Hilman. "
" Sialan si Husni, awas saja besok aku kasih pelajaran! " Farah mendelik kesal saat ada orang yang bertanya kapan kandasnya hubungan dia dan tunangannya.
" Gimana, sudah ketemu sama pria itu? "tanya Dini sembari melirik jari manis Farah yang sudah tersemat cincin nya kembali, Ia menyuap semangkok mie instan yang ditaburi cabe bubuk. Dini penyuka pedas, sepedas mulutnya.
" Sebelum aku cerita buatkan aku teh hangat dulu, kepalaku pusing. " pinta Farah, kepala nya kembali berdenyut.
Dini bergegas mendekati Farah dan mengecek suhu tubuhnya." Kamu demam?"
"Hm.."
"Aku rebus air dulu ya." Dini masuk ke area dapur dan memasak air. Dini tahu kebiasaan Farah, jika sakit dia akan minum air teh hangat lalu tidur, maka tubuhnya akan membaik.
Dini tidak pernah mengeluh saat disuruh Farah karena mereka akan saling membutuhkan disaat sakit.
"Minumlah." Dini menyuguhkan secangkir teh hangat.
"Nggak pakai sianida kan?" Disaat seperti ini Farah masih bisa berkelakar.
__ADS_1
"Aku kasih racun tikus, puas!" ketus Dini
Farah tersenyum lebar, walaupun Dini terlihat berwajah galak namun jauh dari lubuk hatinya dia seorang gadis baik.
"Tidurlah." Dini memberi selimut untuk Farah untuk menutupi tubuhnya. "Aku mau tidur di bawah saja, kamu belum mandi kan sejak pulang dari restoran."
Farah menggeleng kepala.
"Pantas saja bau kambing."
"Biarin, toh nggak ada bang Hilman." sahut Farah, " Mulai besok setelah pulang dari restoran aku harus pergi ke apartemen pria gila itu, selama tiga bulan." Farah sedikit menyesap teh hitam buatan Dini.
" What!! Tiga bulan, terus aku sama siapa dong pulangnya." Dini tidak memperdulikan temannya, yang dia khawatirkan ia tidak bisa pulang bersama Farah lagi selama tiga bulan. Dan pastinya dia akan mengeluarkan ongkos untuk naik ojek.Ia tidak bisa berhemat.
" Emang ya lu temen nggak punya akhlak! bukanya khawatirin gue malah lu khawatirin diri sendiri. Takut nggak bisa nebeng gratis lagi! "gerutu Farah
Dini hanya tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
" Sorry deh, habis aku kebiasaan sama lu Dip dan selalu nebeng gratis. Masa gue mau nebeng Husni terus yang ada gue isi bensin dia, mana anaknya pecicilan lagi. "
Farah hanya memutar bola matanya dengan malas.
" Kamu nggak capek? Terus urusan catering mommy Cristin gimana saat ada pesanan masuk."
"Pasti capeklah Din, tapi mau gimana lagi daripada cincin gue hilang. Nanti aku bilang ke mommy, saat dia sibuk nanti aku tetap bantuin dia. Urusan sama pria gila itu bisa dinego lagi."
"Vanila belum tahu kan?"
Farah menggelengkan kepala.
"Tadi dia telepon gue, dia lagi sedih" tutur Dini
"Kenapa dia?" Farah langsung bangkit dan duduk bersila, ia sangat mengenal Vania yang ceria,Dia tidak akan bersedih jika masalahnya tidak terlalu serius. "
" Dia telepon kamu katanya tidak diangkat, sepertinya si Andrew punya gebetan baru. Vanila curiga karena saat ini Andrew menggunakan dua ponsel dan selalu sembunyi - sembunyi saat menelepon. Ini masih dugaan dan dia lagi selidiki tuh laki. "
" Kalau bener si Andrew selingkuh, awas saja! Kemarin ngasih cincin nyatanya punya selir!" Farah begitu kesal saat mendengar Vania diselingkuhi walaupun masih dugaan tapi Vania bukan tipe wanita yang mudah untuk dibodohi. Ia pasti akan menyuruh orang kepercayaan nya untuk menyelidiki Andrew.
__ADS_1
" Kalau ini beneran kasihan juga si Vanila. "Dini menghela nafasnya.
" Tapi setidaknya kita tahu ada kejadian seperti ini sebelum pernikahan mereka, coba kalau si Vania udah nikah sama Andrew terus ketahuan selingkuh, ya ampun aku tidak bisa membayangkan perasaan Vania. "
" Benar juga ya Far. "Dini manggut - manggut.
" Kenapa lu diem begitu. "Farah melihat Dini termenung seperti ada sesuatu yang dipikirkan.
" Tidak apa-apa. "
" Ayo katakan, jangan disimpan sendiri. Gue tahu lu ada masalah. "
" Emak gue nanyain, kapan gue nikah. "Dini menghela nafas panjangnya." Kemarin saat pembagian warisan, emak gue disindir sama saudaranya kok si Dini kagak punya pacar. " Dini menghela nafas panjangnya merasa kasihan karena orangtuanya selalu disindir oleh keluarganya.
" Terus emak bilang apa?"
"Dia bilang belum ada jodohnya, nanti langsung nikah nggak ada pacar-pacaran."
Farah tergelak tawa.
"Ih, kenapa lu ketawa sih, Ngeselin!" dengus Dini
" Gue ketawa karena emak lu cerdas, bisa jadi lu bakalan langsung nikah tanpa pacaran."
"Ogah!" sahut Dini, "Masa gue mau beli kucing dalam karung, nggak tahu sifat dia langsung nikah. Gimana pernikahanku nanti." sambungnya lagi
"Berdo'a saja semoga jodohmu disegerakan. Minta yang terbaik padanya."
"Kamu ta'aruf aja itu lebih baik daripada pacaran, mana tau lu dapat jodoh seorang ustad." sambungnya lagi
Dini tergelak tawa, " Ya ampun Farah, mana ada ustad mau nikah sama gue yang modelnya begini. Yang ada dia istighfar terus setiap hari."
"Benar juga ya, lu kan kalau ngomong ngegas terus. Mulut cabe level sepuluh." sahut Farah dan ia mendapat cubitan dari Dini.
"Tidurlah, besok kerja lagi. Jangan sampai kesiangan bisa-bisa mba Riri ngomel lagi terus uang bonus kita dipotong."
"Tidak, tidak! Jangan sampai bonusku dipotong karena aku harus menabung untuk pernikahan." Farah tak mau rugi kalau masalah uang.
__ADS_1
Ia meneguk habis air hangat lalu kembali berbaring dan Dini menyelimuti tubuh sahabatnya. Namun tidak disangka Farah kentut dengan suara keras dan aroma busuk tercium diseluruh ruangan.
" Farah, kampret lu!! Temen durj*na, kentutmu bau sampah busuk" Dini menjambak rambut Farah dengan kesal. Dan si tersangka hanya tertawa keras karena berhasil mengerjai temannya.