
Sesuai dengan janji sebelumnya Farah datang ke apartemen Keken pukul tujuh, lebih awal karena Farah takut terjebak kemacetan di jalan.
Dengan cepat dia membersihkan apartemen Keken seperti biasanya, membayar hutang dengan tenaga yang dia punya. Pak Amin sesekali mencuri pandang pada Farah karena tidak seperti biasanya Farah datang pagi hari. Dan kali ini Farah terlihat rapi dan cantik, tidak seperti biasanya memakai kaos longgar yang selalu Farah kenakan.
Dengan hati-hati Pak Amin menghampiri Farah, mencoba mencari informasi kenapa Farah datang pagi ini.
"Farah, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Pak Amin
"Kerja." jawabnya dengan cepat
"Iya, bapak tahu kamu kerja. Maksud bapak kenapa kamu datang pagi ini. Tumben?" Pak Amin melirik ke kanan dan ke kiri, takut kepergok Keken karena kepo dengan urusan Farah.
" Oh, itu karena __" belum sempat Farah menjawab, terdengar teriakan dari seorang pria yang tidak asing
"Farah, kemari." panggil Keken
"Maaf pak, saya harus kesana. Den Keken memanggilku." Farah dengan cepat menghampiri Keken
"Ada apa?" tanyanya
"Ada apa, ada apa! Kalau si Amin tanya - tanya jangan dijawab. Mengerti!" seru Keken
"Ih, kan nggak sopan Ken. Panggil dia pak Amin jangan Amin saja. Sama orangtua harus hormat kalau ditanya ya harus dijawab jangan diem ntar dibilang sombong kayak kamu." Farah yang keceplosan memukul mulutnya dengan tangan. Seperti biasa menceramahi pria itu.
Keken hanya mendengus kesal.
"Masih pagi Far, jangan membuat aku naik darah." ucap Keken
"Kalau kamu kesal dan emosi cobalah sesekali beristighfar agar hatimu tenang jadi nggak gampang emosian."
Keken terdiam mendengarkan Farah ceramah dan hanya meneguk air mineral yang sudah dipersiapkan Pak Amin seperti biasanya.
Tubuh Keken terasa lengket setelah olahraga pagi, ia membuka kaos dan membuangnya ke wajah Farah.
" Masukan ke mesin cuci. " perintah Keken tanpa melihat kearah Farah
"Rese banget sih! Ini muka bukan keranjang baju. Nggak ada sopan - sopannya sama sekali." Namun saat Farah membuang baju Keken ke lantai, ia melihat tubuh putih Keken yang sixpack dan berotot.
"Pakai bajumu!" Farah menundukan kepala, ia merasa malu melihat tubuh pria lain selain ayah dan adiknya.
" Kenapa, ini rumahku." Dengan sengaja Keken mendekat kearah Farah. "Kau tidak ingin menyentuh tubuhku yang mulus ini." goda Keken sembari mengedipkan matanya.
" Siapa juga yang ingin menyentuh tubuhmu itu. Aku tidak ada niatan sama sekali untuk menggodamu!" Farah membuang wajahnya kearah lain.
"Kalau sakit mata periksa ke dokter, mungkin saja kamu cacingan!" Farah kesal karena Keken selalu bermaun mata dan seolah genit padanya.
"Enak saja! Siapa juga yang cacingan!" Keken hampir naik darah, bagaimana bisa Farah menyebutnya cacingan karena berusaha menggodanya dengan bermain mata.
"Sial! Gadis ini tidak terpukau dengan pesonaku!" gumamnya dalam hati.
"Kau yakin tidak ingin melihat tubuhku yang bagus ini?!" tanya Keken lagi.
"Tidak!" Farah masih memalingkan muka.
"Mendingan aku lihat tubuh bang Hilman, yang selalu bikin aku panas dingin dan hangat saat dipeluk." lirih Farah, namun masih sempat terdengar oleh Keken.
"Pergilah!" perintah Keken, entah untuk kesekian kalinya dia merasa kesal saat Farah mengucapkan nama calon suaminya.
"Ya, ya, tanpa diminta aku akan pergi. Dasar bau asem!" Farah memungut kaos Keken lagi dan berlalu pergi.
"Aku tidak bau asem!" teriak Keken dengan kesal.
"Bau ketek, hoek...hoek" teriak Farah dari jauh seolah - olah ingin muntah.
"Aku tidak bau ketek! Enak saja!" balas Keken dengan berteriak.
"Dasar cewek gendeng!" teriaknya lagi
Farah cekikikan mendengar umpatan Keken,suatu kesenangan tersendiri saat Keken kesal.
__ADS_1
Satu jam kemudian, di apartemen Keken dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita.
Farah dengan cepat membuka pintu ketika bel apartemen berbunyi. Terlihat seorang wanita yang sudah berumur namun masih terlihat cantik, apalagi dengan pakaian yang rapi dan modis. Terlihat anggun.
"Maaf, mau cari siapa bu?" tanya Farah dengan sopan sembari tersenyum. Namun wajah wanita itu menatap Farah dengan lekat dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa menjawab pertanyaannya. Sorot mata wanita itu begitu tajam seolah menguliti, hingga siapapun tidak akan berani menatapnya kembali. Farah menundukan kepalanya.
" Nyonya, silakan masuk." ucap Amin, ia menarik tangan Farah agar tidak menghalangi jalan nyonya Imelda.
"Nyo.. Nyonya, maksudnya ini ibunya Keken pak?" tanya Farah dengan lirih pada pak Amin. Dan dijawab dengan anggukan kepala.
" Silakan masuk nyonya, mohon maaf karena tidak mengenali anda." Farah menunduk hormat.
Imelda masuk begitu saja tanpa menjawab sapaan dari Farah. Ia menemui Keken yang sedang sarapan.
"Pasti mommy kesini karena informasi dari Pak Amin kan?" Keken melirik Amin yang sedang menundukan kepala. Seperti biasanya Amin akan melaporkan semua kegiatan Keken.
Ibunya tidak menjawab pertanyaan Keken, ia membuka piring yang sudah dipersiapkan Amin dan mengambil beberapa makanan,mencoba merasakan masakan Farah.
" Pantas saja kamu masih mempertahankannya." ucap mommy Imel tanpa melihat kearah anaknya, setiap masakan yang Farah buat cukup enak dan ingin memakannya lagi dan lagi.
"Pak Amin, kok aku merasa tidak nyaman. Auranya begitu dingin, Hii..." Farah yang berada di dapur kini bergidik ngeri, bulu kuduknya seolah merinding. Ada rasa yang sedikit aneh bagi Farah saat kedua orang yang sedang makan itu terlihat kurang harmonis bahkan tidak ada canda tawa atau sekedar senyuman hangat dari keduanya.
" Pak Amin, apa yang harus aku lakukan. Apa kita akan menonton mereka makan?"tanya Farah, ia begitu bingung karena pak Amin pun hanya diam berdiri di dapur, tak jauh dari tempat mereka makan.
" Kamu diamlah! Jangan banyak bicara dan tetap disini. " lirih pak Amin. Farah hanya menganggukan kepala
" Orang kaya memang aneh, kenapa aku harus melihat mereka makan. Aku kan jadi lapar lagi." gumam Farah dalam hati, ia mengelus perutnya yang terasa perih. Farah tidak sempat sarapan banyak karena dia harus mengejar waktu dan kini perutnya terasa lapar kembali.
" Siapa namamu ?! " tanya Imelda. Namun Farah diam dan tidak menjawab. Dan pak Amin memberi kode Farah untuk menjawab.
"Saya pak!" lirih Farah pada Amin, " Beneran saya yang ditanya?" tanyanya lagi. Pak Amin hanya menganggukan kepala.
"Saya Farah nyonya, maaf lama menjawab karena saya kira anda tidak bertanya padaku." jawab Farah
"Kemarilah." perintah Imelda,
"Duduk."
" HAH...!" Farah terkesiap mendengar perintah Imelda, ia melirik kearah Keken. Dengan menganggukan kepala Keken memerintahkan dia untuk duduk di dekat mommy nya.
" Iya nyonya." jantung Farah berdegup kencang, entah kenapa saat melihat wajah nyonya Imelda dari dekat, Farah merasa takut dan hanya bisa menundukan kepalanya.
"Makanlah, kau lapar?"tanya Imelda, ia menatap wajah Farah dengan intens, ada rasa iba yang merasuk ke dalam hati Imelda.
Farah hanya menganggukan kepala, memang sejak tadi dia menahan lapar namun tidak berani untuk makan karena Keken belum menyentuh sarapannya.
" Bagaimana nyonya tahu apa yang aku pikirkan." gumam Farah dalam hati.
" Maaf nyonya, boleh saya bertanya? "
Imelda menganggukan kepala
" Apa aku pantas duduk disini bersama nyonya? Aku merasa kurang nyaman dan tidak percaya diri." ucap Farah sembari tersenyum kikuk.
" Jika kamu tidak percaya diri duduk bersamaku, apa yang bisa kamu lakukan agar kamu lebih percaya diri. Kelebihan apa yang bisa kamu tunjukan agar kamu percaya diri? "tanya Imelda, ia menatap wajah Farah. Tidak terlalu cantik tapi senyumnya indah. Kulitnya sawo matang namun tidak mengurangi wajahnya yang terlihat manis.
" Pantas saja anakku kepincut dengan gadis ini. "gumam Imelda dalam hati
" Apa ya kelebihan aku? " Farah bertanya pada dirinya sendiri sembari mengenyitkan dahi." Aku hanya bisa masak nyonya. " jawabnya.
" Cantik tidak, kaya tidak, lulus kuliah juga tidak. Sepertinya aku banyak kekurangan nyonya. " sambung Farah lagi. Ia begitu polos menjawab pertanyaan sang nyonya.
Keken terkekeh mendengar jawaban Farah.
" Kamu memang banyak kekurangan, kelebihanmu cuma satu,yaitu lemak!" sahut Keken
"Aku tidak gendut cuma berisi." Farah menatap tajam Keken yang sudah menghinanya lagi di depan nyonya besar.
" Makanlah." perintah Imelda
__ADS_1
Farah dengan cepat menuruti perintah Imelda. Dengan malu-malu dia menyantap makanan dengan porsi sedikit.
" Biasanya juga makan dua piring, nggak usah malu, biasanya juga malu-maluin." celetuk Keken lagi.
Farah begitu kesal sampai ia menginjak kaki Keken yang berada di bawah meja makan.
"Gadis sial*n! Beraninya menginjak kakiku." gumam Keken dalam hati sembari melirik Farah. Ia kembali menginjak kaki Farah hingga terjadi perkelahian antara kaki dan kaki.
" Terus saja saling injak sampai kaki kalian berdarah!" ketus Imelda, ia tahu kedua orang di depannya sedang berkelahi antara kaki dan kaki di bawah meja makan.
"Maaf." Farah menundukan kepala dan mengakhiri perseteruan di bawah meja makan.
Setelah acara sarapan bersama selesai, Farah bergegas membersihkan meja dan yang lainnya. Dengan cekatan Farah membereskan semuanya.
"Farah kemarilah !" panggil Imelda
Farah yang dipanggil , dengan cepat menghampiri nyonya besar.
"Mih.." Keken yang melihat Farah datang kini hanya bisa menghela nafas panjangnya. Ibunya pasti akan memberikan Farah tes interview yang cukup panjang.
" Mommy tidak akan berlebihan saat bertanya, kamu pergilah sekarang."
Keken pergi meninggalkan Ibunya yang kini sedang duduk di balkon.
"Iya nyonya." Hati Farah kembali berdegup kencang, setiap kali melihat nyonya besar Farah merasa takut.
" Duduklah, aku ingin bertanya."
" Apa rencanamu kedepan?"
"Apa ya, mmmm... rencananya aku akan menikah dan tinggal di bogor, nyonya." Farah sempat bingung kenapa nyonya besar bertanya tentang masalah pribadi
"Lalu?"
"Mmm... menjadi ibu rumah tangga, menjaga mertua dan bahagia bersama suamiku." Farah tersenyum malu saat mengucapkan kata suamiku.
"Apa kamu tidak punya mimpi?" tanya Imelda
" Mimpi..., entahlah nyonya. Aku tidak tahu apa aku masih berhak bermimpi atau tidak. Semuanya terasa sulit bagiku. Dulu aku bermimpi ingin lulus kuliah dan bisa bekerja kantoran, nyatanya itu sangat sulit, aku DO. Aku tidak seberuntung gadis lainnya. " wajah Farah sedikit sedih mengingat dirinya tidak mendapat dukungan dari keluarganya saat kuliah. Hingga akhirnya ia putus di tengah jalan.
" Apa kau masih ingin kuliah? "
" Sekarang tidak ada keinginan nyonya, sekarang fokusku bekerja dan segera menikah. "
" Farah,hidup akan terus berjalan. Kamu masih muda, kejarlah mimpimu. Kamu punya bakat memasak yang baik,cobalah mencari peluang dari situ. Hidup harus tumbuh dan berkembang jangan pernah menyerah dengan keadaan. Aku yakin kamu bisa meraih mimpimu. "
Farah hanya bisa menunduk mendengar nasehat dari nyonya Imelda.
" Sebenarnya aku masih punya mimpi. "Farah menghela nafasnya dengan panjang.
" Setiap kali aku memasak, bayangan ibu selalu terlintas di benakku, dia selalu tersenyum. Dulu, saat aku kecil aku selalu membantu ibu di dapur. Dan aku ingin memiliki restoran atau toko kue, aku ingin ibu bangga padaku." Farah menahan buliran air mata yang hampir menetes di sudut matanya
" Maaf nyonya, saya selalu sedih jika mengingat ibu saya. " Farah dengan terburu-buru menyapu kedua sudut matanya. Dan Imelda hanya tersenyum getir.
" Raihlah apa yang ingin menjadi mimpimu, aku akan mendukungmu dari belakang." Imelda
"Mak... maksud nyonya apa?" Farah tidak mengerti apa yang dikatakan sang nyonya besar. Namun, belum sempat ia bertanya lagi suara pria gila itu cukup menganggu.
" Farah, ayo kita berangkat! " teriak Keken dari dalam ruangan.
"Iya, permisi nyonya. Saya pamit dulu." Farah menunduk hormat.
"Ayo kita masuk." ajak Imelda dan Farah mengekorinya dari belakang.
"Mommy ikut Ken."
"Ishh... Mommy ngapain ikut sih, menuh-menuhin mobil Keken aja." gerutunya, " Memangnya mommy tahu Keken mau kemana?"
"Dasar anak kurang ajar!" Imelda menjewer telinga anaknya, " Mommy tahu kamu akan kemana." Ia keluar bersama Farah dan Keken yang masih mengaduh kesakitan.
__ADS_1