Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 164 (Mengeluh)


__ADS_3

Kali ini Keken ditugaskan untuk pergi ke Utara dan mengecek progres pembangunan gudang. Ia mengira dengan masuknya ke perusahaan Keken bisa tenang dan nyaman bekerja di dalam ruangan, nyatanya tidak. Dan mau tak mau ia harus menuruti perintah Fafa untuk kembali turun ke lapangan.


"Ini cuma sementara, cuma tiga hari aja disana. Pembangunan hampir tujuh puluh persen dan sedang dikebut kalau tidak diawasi mereka akan memperlambat pekerjaan nya dan kau tahu apa artinya."


Keken menggelengkan kepala


" Mas Raffa akan mengejar kita berdua, dia akan memakiku lagi dan sudah pasti tumpukan tugas akan siap menantimu. " Fafa menggelengkan kepala, kakaknya begitu kejam jika menyangkut pekerjaan. Ia tidak mentolerir pembangunan yang macet karena semua sudah terjawal dengan baik.


" Aku akan meminta belas kasihan pada mas Raffa agar aku bisa kerja di kantor Selatan bukan di Utara."


"Kau pikir yatim piatu minta dibelas kasihani, mereka yang yatim saja masih mau bekerja keras tanpa mengeluh dan aku tidak yakin mas Raffa akan memberikan keringanan karena dia profesional dalam pekerjaan." Fafa


" Aku yang pusing kerja di lapangan, sudah panas, bau keringat, kebanyakan buruh bangunan. Kalau di kantor setidaknya ada pendingin udara apalagi bisa cuci mata dengan banyak wanita cantik. "


" Kau itu sudah punya istri masih saja celamitan! "


" Ini bukan masalah celamitan tapi refreshing mata biar nggak butek. Kalau di lapangan mereka ajaib semua, ada yang berkumis, berjenggot, pakai kaos singlet, pamer ketek wangi kagak asem iya."


Fafa tergelak tawa, Keken yang notabene selalu menjaga kebersihan pasti sedikit kesulitan bertemu dengan orang luar yang kacau dengan penampilan.


" Kita pemilik perusahaan, kenapa harus yang turun langsung ke lapangan. Aku kira dengan menjadi pemimpin perusahaan maka tugasku berkurang malah yang ada numpuk terus dan memusingkan." keluh Keken


"Lu kira pemimpin perusahaan cuma duduk manis dan tanda tangan kayak artis. No Keken!" seru Fafa, "Gaji kita besar dan tanggung jawab kita juga besar, kita harus berpikir bagaimana membuat perusahaan ini lebih maju dari sebelumnya.


" Ya, ya, ya sudahlah jangan cerewet pusing aku dengernya. " Keken lebih baik bergegas pergi ke Utara daripada harus mendengarkan ceramah Fafa.


" Dulu aku di Utara, kerjanya di Selatan eh sekarang aku kerja di Selatan kini ke Utara lagi. Apes bener nasibku, mondar - mandir di jalan terus." gerutunya


Dan saat jam istirahat, Keken membaca pesan dari Inha bahwa Farah benar-benar ingin berubah dan mulai sadar bahwa Keken berarti untuknya, Keken tersenyum saat membaca pesan itu. Hatinya berdetak dengan kencang, tidak dipungkiri ia pun mencintai istrinya walaupun saat ini masih ada rasa kesal.


Lalu Keken membaca pesan selanjutnya bahwa perut Farah sedikit sakit saat ia mengejarnya. Namun Inha sudah memeriksakannya ke dokter dan tidak terjadi apa-apa, kandungan nya aman.


Keken menekan tombol panggilan dan menghubungi adiknya.


"Mas belum bisa pulang karena masih mengawasi proyek di Utara. Mungkin mas akan tinggal di kontrakan seperti biasa, tolong jaga Farah selama tiga hari, mas belum bisa pulang." Keken enggan pulang ke Selatan karena jaraknya cukup jauh, ia akan kelelahan jika harus bolak balik pergi kesana.

__ADS_1


" Mas masih mau akting, mas ingin dengar langsung dari mulut Farah kalau dia benar-benar mencintaiku. "


" Terserah, yang penting dalam tiga hari mas harus pulang. Aku tidak bisa menjaga Farah terus karena pekerjaan dan kuliahku cukup padat."


"Siap tuan putri, terima kasih sayang." goda Keken,ia merasa bersyukur karena Inha mau menemani dan menjaga istrinya disaat sendirian.


"Aku tuan putri tapi rasa baby sitter." gerutu Inha hingga membuat Keken tergelak tawa.


"Sabar sayang nanti mas beri kartu kredit untukmu asal kau mau menjaga Farah."


"Sok-sokan ngasih kartu kredit, mobil saja tidak punya." sindir Inha. " Aku hanya menerima black card bukan kartu silver." Mulutnya mulai berkata pedas namun tidak Keken hiraukan.


"Kau sama matre nya dengan si Fafa!" Lalu Keken menutup sambungan telepon.


Disisi lain,


Farah tidak terima saat mendengar Keken tidak bisa pulang selama tiga hari bahkan saat ia menelepon, Keken tidak mengangkatnya.


" Biasanya juga pulang pergi Utara ke Selatan kenapa Keken sekarang tidak pulang."


"Aku ingin bertemu Keken, aku ingin pulang ke Utara."


Kalimat itu yang terlontar saat Farah mendengar suaminya tidak pulang, bahkan pikiran - pikiran negatif mulai menghantuinya lagi.


"Kau yakin ingin pulang ke Utara?" tanya Inha, ia melihat Farah mengemasi barangnya. Tepatnya hanya membawa tas kecil karena Farah memang tidak membawa pakaian apapun saat datang ke mansion.


"Aku yakin, anakku sehat dan dia ingin bertemu ayahnya."


"Cih! terus saja mengatas namakan anakmu, padahal kamu yang kangen mas Keken." sindir ya. Wajah Farah merona, malu.


Farah pergi ke utara dengan dua pengawal seperti biasanya, ia sudah tidak sabar bertemu Keken.Ia berpenampilan menarik agar Keken menyukainya.


"Apa yang kau lakukan disini." Saat pulang kerja tengah malam ia melihat istrinya rebahan di depan televisi, bahkan Keken tahu istrinya sedang menahan kantuk demi menunggunya pulang.


"Kau sudah pulang, apa kau lapar?" Farah tidak menjawab pertanyaan suaminya, namun ia menawarkan makanan.

__ADS_1


"Tidak, aku sudah makan." Keken menarik dasi dan membuangnya di sembarang tempat, rasanya seperti tercekik di tenggorokan saat memakai dasi seharian.


Keken melepaskan kemeja dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri.


" Aku tadi beli baso, aku ingin makan bersamamu. " ucap Farah setelah melihat Keken keluar kamar mandi. Mau tak mau Keken duduk bersila dan makan bersama istrinya, tanpa ada suara ataupun candaan dari Keken.


"Tidurlah dikamarmu sendiri jangan harap aku akan mengangkatmu ke dalam, tubuhmu semakin berat, aku tidak kuat! " Keken sengaja berkata dengan ketus, agar Farah mengira ia masih marah padanya.


"Maafkan aku." Farah mulai mendekati suaminya,bahkan ia bersandar di bahu Keken agar pria itu luluh.


"Pergilah ke kamarmu sendiri, aku mengantuk." Keken mengibaskan selimut dan mengurai pelukan Farah. Ia merebahkan tubuhnya sembari meregangkan otot yang mulai kaku karena seharian bekerja,tubuhnya kelelahan dan tidak mau Kenzi terbangun saat berdekatan dengan istrinya. Berbahaya.


" Aku mau tidur denganmu." Farah ikut merebahkan dirinya dan memeluk Keken.


"Jangan seperti ini." pinta Keken, "Pergilah."


"Tidak mau! Kau tahu, si adek kangen dengan papahnya hingga membuatku frustasi dan sulit tidur tapi saat tidur bersamamu, dia begitu tenang dan aku bisa tidur dengan nyenyak." Farah dengan cepat menarik tangan Keken dan mengelusnya. Perut istrinya kian membesar dan Keken bisa merasakan tendangan dari anaknya.


" Kau lihat, anak kita bergerak aktif lalu diam, dia benar-benar menyukai sentuhanmu. "Farah menyeka airmatanya, akhirnya Keken mau mencium perutnya seperti dulu.


" Anak papah jangan nakal ya kasihan mama."Keken mencium lagi perut Farah berkali-kali bukan hanya istrinya saja yang kangen tapi ia juga kangen setiap momen sederhana seperti ini.


" Maafkan aku Ken, karena sudah membuatmu kecewa berkali-kali. "Farah memanfaatkan waktu ini sebagai ungkapan penyesalan nya pada suami. Ia benar-benar menyesal karena tidak nurut pada Keken.


" Aku sudah memaafkanmu. " Keken membalikkan tubuhnya, tak bisa berjarak terlalu dekat dengan Farah seperti ini. Keken takut khilaf.


" Kenapa tidak menghadap padaku. " Farah merasa tersinggung saat Keken membelakanginya.


" Farah, aku mohon tidurlah. "Keken menutup matanya, ia benar-benar mengantuk dan ingin beristirahat jika dia tidak tidur Keken takut jika harus menjamah istrinya. Sedangkan Farah tak patah arang ia tetap memeluk Keken dari belakang seperti biasanya.


" Hangat. "Farah bahkan beberapa kali mencium punggung Keken. Wangi maskulin yang ia rindukan selama ini.


" Kenapa aku kangen Kenzi. "gumam Farah dalam hati, entah kenapa ia merindukan sentuhan suaminya yang begitu lembut. Farah kian erat memeluk Keken, namun pria itu tidak merespon dan sepertinya sudah masuk ke alam mimpi


Pikiran kotor Farah berkelana, hingga akhirnya dia bangkit dan mencuci wajahnya. "Aku pasti sudah gila."

__ADS_1


Mau tak mau Farah tidur di kamarnya sendiri daripada mengganggu Keken yang sedang tidur nyenyak.


__ADS_2