Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 172 (Pasar)


__ADS_3

"Farah....!!" teriak Dini, ia berkali-kali mengetuk pintu namun belum juga dibuka. Ia hanya ingin mengantarkan makanan untuk Farah karena gadis itu pasti kelaparan.


"Farah, kau dengar aku!!" teriaknya lagi, namun kali ini Keken yang membuka pintunya.


"Ada apa?!" tanyanya dengan ketus karena Dini menganggu mereka


"Mana Farah, aku mengantarkan makanan untuknya."


"Dini, berikan padaku." Keken merebut semangkok sayur sop baso dan iga kesukaan Farah


" Memangnya Farah kemana? Kok sepi."


"Farah sedang kecapean karena kita habis iya-iya." Keken menaik turunkan alisnya.


"Keken....!!!" teriak istrinya dari dalam rumah, mulut Keken memang tak berfilter hingga dia mengatakan pada Dini bahwa mereka sudah iya-iya.


"Dasar sinting!!" Dini


"Kenapa, kau ingin mendengarkan cerita kami tidak!?" goda Keken


"Dasar stress!" Dini segera pergi meninggalkan rumah itu daripada mendengar ocehan Keken yang unfaedah.


Keken melihat sop buatan Dini sembari menelan salivanya, ia mengambil nasi dan makan dengan cepat. Lapar.


"Sisain buat aku." Farah


"Iya sayang, sebentar lagi juga pesanan online datang."


Dan benar juga lima belas menit kemudian makanan mereka datang. Farah pun hanya menggunakan baju seadanya, perutnya terasa lapar dan ingin diisi.


"Pelan-pelan makan nya." Keken melihat istrinya makan begitu cepat dan lahap.


"Aku sangat lapar, Ken. Dan ini semua karenamu." Farah mendengus kesal.


"Iya, aku tahu maafkan aku sayang. Hari ini sudah cukup, kapan - kapan minta lagi."


Farah mendelik kesal.


***


Waktu terus berlalu bahkan Farah tidak pernah membalas pesan dari Hilman. Saat ini Farah dan Keken sedang berbahagia karena pernikahan mereka mulai harmonis dan berjalan sebagaimana mestinya.


" Aku akan pulang telat, jangan lupa kunci pintu." Keken mencium perut dan kening istrinya seperti biasa.


"Aku akan ke pasar bersama Dini, stok makanan sudah habis."


"Minta antarlah pengawal."

__ADS_1


"Tidak usah, aku ingin naik bajaj. Nyidam naik itu." Farah sudah lama tidak naik kendaraan umum bajaj dan sekarang ia menginginkan nya.


" Ya sudah hati - hati."


"Sudah siap belum?" Dini menghampiri Farah setelah melihat Keken pergi.


"Sudah."


Mereka pergi ke pasar untuk membeli beberapa sayuran dan ikan. Hari ini Farah nyidam sayur gabus pucung dan dia mau Dini yang memasaknya.


"Bumil yang satu ini memang rese, kamu kan tahu aku tidak bisa memasak tapi ngotot terus minta dimasakin, waktu itu teh Cucu yang masak sop iga bukan aku." gerutu Dini, mereka sudah membeli ikan dan kini tinggal membeli bumbu.


"Ini beneran anakku yang mau Din." kilah Farah, anaknya selalu dijadikan alasan. Mereka melewati penjual jajanan basah hingga tercium aroma wangi kue.


" Aku mau ini, ini, ini." Farah menunjuk kue cucur, lapis dan kue nagasari.


"Aku juga mau, disini banyak sekali cemilan enak, aku jadi ingin memborong semuanya." Dini begitu bingung memilih aneka jajanan karena saking banyaknya. Mereka yang hobi jajan sangat menikmati tempat seperti ini, surga makanan.


"Jangan lupa belikan untuk Malika dan teh Cucu." Farah


"Siap!"


Setelah membayar mereka kembali menyusuri pasar dan masuk ke dalam toko baju. "Aku mau beli baju hamil karena bajuku sempit semua." Farah


"Niatnya cuma beli ikan dan bumbu nyatanya beli lain-lain. Emang ya tidak bisa dipungkiri wanita memang suka dengan keindahan, lihat barang bagus langsung sikat."


"Namanya juga wanita, kalau sudah cuci mata langsung isi dompet ludes tidak tersisa." Farah terkekeh.


"Lu emang juaranya tawar menawar, harga bisa dipangkas tujuh puluh persen. Gila!" Farah kembali terkekeh


" Iya harus ditawar ekstra karena mereka menjual dengan harga yang tidak masuk akal." lirih Dini


"Eh, Din. Kira - kira Keken mau tidak ya pakai kaos murah begini?" tanya Farah


"Tidak! Suamimu bakal alergi kulit saat memakai kaos lima puluh ribu." kelakar Dini


"Benar juga, ya sudah beli baju untukku saja." Farah membayar sejumlah nominal yang disepakati lalu mereka jalan kembali.


"Sudah jangan lihat toko lagi, kau itu selalu belanja. Sejak hamil kau itu boros sekali."


Farah memang menyadari semenjak menikah dengan keken, ia mudah mengeluarkan uang bahkan dia tidak sungkan membeli makanan dan barang secara online.


"Kau memang benar, aku boros tapi Keken tidak pernah melarangku untuk belanja. Kok aku kangen Keken ya?"


"Ayo cepetan, setelah itu kita pulang dan kau bisa video call dengan suamimu."


Namun saat mereka menuju tempat penjual bumbu, terdengar suara seorang pria dari belakang mereka.

__ADS_1


"Farah..." sapanya


Mereka berdua menengok ke belakang dan cukup terkejut dengan sosok pria itu.


"Bang Hilman..."


"Bisakah kita bicara?"


Farah meremas jari tangan nya dan menatap kearah Dini.


"Ayo kita pergi ke tempat baso bang, tidak pantas bicara disini." Kali ini Dini yang bicara, ia tidak ingin ada keributan di pasar.


"Dini sengaja memberikan ruang pada mereka untuk mengobrol, sedangkan dia duduk di sudut meja, mengamati kegiatan mereka.


" Kenapa tidak mengangkat teleponku. " Hilman menatap nanar, kini Farah berubah tidak pernah sekalipun menjawab pesan nya. Ia sengaja datang dan mengikuti kemana mereka pergi. Hilman tidak berani datang ke rumah kontrakan Farah karena banyak tetangga yang mengenali wajahnya.Dan sekarang kesempatan nya saat melihat Farah pergi tanpa pengawasan dari para pengawal.


"Maafkan aku bang." Farah menundukkan kepala, ia tidak ingin goyah saat bertatapan dengan Hilman.


"Apa kau sudah mencintainya?" Tanpa berbasa basi Hilman bertanya


"A... aku mencintainya bang. Maaf."


" Dia hampir saja mati karenaku dan saat itu aku baru menyadarinya bahwa dia begitu berharga. Aku tidak ingin kehilangannya bang."


" Kamu hanya kasihan dengan dia, Farah!"


"Tidak bang, aku benar-benar mencintainya. Selama menikah denganku dia selalu aku maki dan aku hina tetapi tidak pernah sekalipun dia marah padaku. Keken selalu sabar dan menuruti apapun yang aku inginkan. Lalu bagaimana bisa aku tidak mencintainya.


" Hubungan kita sudah masa lalu dan sekarang masa depanku bersama Keken, maafkan aku karena harus jujur bang. Nanti cincin yang pernah engkau berikan akan aku kembalikan, aku selalu menyimpannya dengan baik."


"Tidak... tidak Farah jangan lakukan itu, kembalilah padaku sayang." Hilman menyentuh tangan Farah dengan erat tak ingin wanita nya pergi begitu saja.


"Maafkan aku, semoga abang mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." Farah tak kuasa menahan tangis. Inilah keputusannya untuk menutup kisah masa lalu dan hidup dengan lembaran baru bersama Keken.


"Aku tidak terima Farah, kamu milikku!" Hilman masih saja kekeh dan tak ingin pisah dengan Farah.


"Aku minta abang ikhlas, lepaskan aku bang. Jangan merusak diri hanya karenaku, lupakan karena sekarang aku milik orang lain."


"Tidak Farah!!"


Dini yang melihat di sudut meja sembari merekam kini hanya bisa mengusap airmata nya. " Kisah mereka begitu menyedihkan." gumamnya


" Aku tidak bisa melepaskanmu Farah." Kali ini suara Hilman begitu menyedihkan, masih berharap Farah akan kembali bersamanya.


"Maaf, maaf, maaf bang." Lagi-lagi permintaan maaf keluar dari mulut Farah hingga dadanya terasa sesak saat melihat wajah Hilman yang menyedihkan.


"Aku pulang dulu." Farah dengan cepat pergi dari warung baso itu, bahkan ia tidak memakan nya sama sekali. Dini pun ikut berlari saat melihat Farah pergi.

__ADS_1


"Farah.....!!!" teriak Hilman, ia menatap nanar melihat cintanya pergi. Beberapa orang melihat kearahnya sembari berbisik - bisik.


" Farah...!!" teriaknya lagi. Ia berlari mengejar wanita itu. Namun dengan cepat seseorang menahan nya. "Woi, bayar dulu baso nya tiga mangkok! Enak saja mau kabur!!" ucap si pedagang baso


__ADS_2