Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 198


__ADS_3

Feri mendengar informasi dari Davian bahwa ada beberapa kejanggalan atas musibah yang terjadi dengan Keken. Ia menyebut hilangnya Keken karena perbuatan seseorang yang menjadi musuh anaknya.


" I Made Mahendra." ucap Davian, " Dia masih kerabat jauh dengan si pengawas P Rafting. Mereka dengan sengaja merencanakan pembunuhan Keken dan membelokkan arah perahu kearah lain . Dan mereka sengaja menenggelamkan wanita itu ke sungai agar tidak ada saksi yang melihat. Mereka berkomplot memukul kepala Keken dengan dayung kayu yang sudah dipersiapkan dan menceburkan Keken ke sungai agar tenggelam. "


"I Made Mahendra ayah dari Made Indra,pria yang dimasukan ke penjara karena kasus korupsi restoran di Bali. Dia dendam anaknya di bui,maka dari itu dia membuat rencana pembunuhan terhadap Keken sebagai balasan rasa sakit hatinya." Davian


Feri begitu geram, ternyata ini ulah dari musuh Keken." Tidak akan aku biarkan tikus itu keluar dari penjara, bahkan aku akan menyeret pria tua bangka itu ke penjara, menyusul anaknya. "


" Dan saat ini Keken masih dalam pencarian, belum ada tanda-tanda keberadaan nya. Ada dua kemungkinan bisa jadi Keken diselamatkan seseorang dan orang itu sengaja merahasiakan keberadaan Keken atau__"Davian menggantungkan kalimatnya.


"Atau apa?" Feri


"Atau Keken tewas tenggelam di dasar sungai, maka dari itu tubuhnya tidak ditemukan sampai sekarang."


"Tidak!!! Anakku masih hidup, Keken pasti hidup!!" teriak Imelda lagi, dia mulai frustasi dan meracau kembali saat mendengar ucapan Davian. Tidak ingin sekalipun mendengar anaknya tiada.


" Akan aku bunuh pria itu!!" teriak Imelda. "Dia tidak akan hidup nyaman setelah membuat anakku menderita!!" ancam nya sembari menangis.


"Sayang, sabarlah." Feri merengkuh istrinya.


"Aku tidak terima mas, anakku dihabisi bahkan tidak ada jasadnya. Bagaimana aku bisa hidup tenang tanpa Keken, huhuhu..." Imelda menangis lagi .


"Sabar sayang, aku juga yakin Keken masih hidup." Feri mencoba menenangkan istrinya walau dalam hati ia mulai ragu anaknya masih hidup.


"Ke...keken anakku....." Imelda terisak dan kepalanya terasa pusing hingga hilang kesadaran.


* **


Farah masih selalu melamun, satu minggu berlalu setelah hilangnya Keken. Ia masih mengurung diri bahkan hanya makan sedikit makanan. Kehamilan nya masuk di usia tujuh bulan namun ia enggan memeriksakan ke dokter. Farah selalu bilang bahwa ingin ke dokter setelah Keken pulang. Keken pasti pulang untuk melihat kami, itu yang selalu Farah katakan.


"Apa kau sudah siap?" tanya Inka yang baru saja masuk ke dalam kamar Farah. Namun ternyata ibu hamil itu masih melamun di balkon, menatap nanar dengan pandangan kosong.


"Aku sedih melihatmu seperti ini." Inka dengan cepat menggandeng tangan Farah untuk masuk ke dalam ruangan


"Ganti pakaianmu, aku tidak suka melihatmu dekil seperti ini." Lagi-lagi Farah hanya menggunakan baju hamil pemberian Keken yang belum sempat ia cuci.

__ADS_1


" Aku tidak ingin kemana-mana." ucap Farah masih dengan tatapan kosong.


"Kau ingin mencari mas Keken kan?" tanya Inka. Farah dengan cepat menganggukkan kepala.


" Kita cari mas Keken lewat media sosial dan sekarang kau harus ikut live di toko ku. Ini salah satu cara mencari Keken."


"Kenapa harus di shopping live, itu kan hanya jualan baju pasti mereka tidak akan peduli dan hanya mendengar saja." Farah


"Ishhh... kau itu lucu sekali. Kau tahu, penduduk di bumi ini rata-rata dihuni oleh wanita. Dan sudah pasti mereka berperan penting dalam kehidupan. Mana tahu salah satu dari mereka tahu dimana keberadaan Keken, kita harus berusaha bagaimanapun caranya. Masa kamu belum apa-apa sudah pesimis, kau bilang cinta pada mas Keken tapi tidak mau usaha. "gerutu Inka


" Aku akan ikut denganmu, tapi tunggu Dini sebentar. Dia akan datang. " Farah kembali bersemangat lalu membuka lemari dan mencari pakaian yang terbaik untuk dipakai di acara shopping live Inka.


" Nah gitu kan cantik, jangan lupa pakai lipstik agar tidak pucat. "


Dan benar saja dini datang dan langsung diminta ke kamar Farah.


" Aku ikut ya, aku ingin belajar denganmu, guru." Dini menunduk hormat seolah Inka guru nya.


"Untung saja kau teman Farah, jika tidak, aku tidak akan memberimu lampu hijau untuk ikut ke butikku."


"Iya sama sepertimu." sahut Farah


"Kau bilang aku pelit, oke fix gak usah ikutan ke butik!"ancam Inka


" Jangan dong, aku kan hanya bercanda. Masa gitu saja marah, ya, ya, ya. " rayu Dini dengan menyentuh lengan Inka


Inka mengomel walaupun mengijinkan Dini,tidak mungkin hanya membawa Farah saja karena wanita itu pasti akan menangis lagi dan Inka tidak bisa menenangkannya, hanya Dini yang tahu bagaimana karakter dan sifat Farah.


Mereka tiba di sebuah kompleks perumahan tempat dimana produksi berlangsung. Inka sengaja membawa Farah kesini agar dia tahu bagaimana proses pembuatan sebuah baju.


" Banyak juga yang kerja ya Ka, kalau yang di mall itu disini juga produksi nya?" tanya Farah


"Iya, tapi hanya proses jahit kalau proses payet ada di samping rumah mama, kau pernah kesana kan."


Farah mengangguk cepat, ia ingat pernah dibawa tante Navysah kesamping rumah yang tempat produksi gaun pengantin.

__ADS_1


"Berarti karyawan tante banyak juga ya?" Farah


"Tentu saja banyak, mereka betah kerja dengan mama karena mama tidak pelit dan selalu memberi upah lebih." Inka mengetahui ibunya sering memberi beberapa uang tambahan pada karyawan.


"Ka, kalau aku jahit baju disini bisa dong. Misal jahit kolor, daster gitu?" tanya Dini


"Tidak bisa! Yang kerja disini khusus untuk konveksi milikku bukan untuk umum apalagi cuma jahit kolor dan daster kumal." sindir Inka


" Pelit banget, masa jait kolor saja tidak boleh." gerutu Dini


"Sekali lagi kau bilang aku pelit kututup pintu depan, balik saja sendiri jangan ikut mobilku!"


Dini mendengus kesal, tidak tahu kenapa setiap bersama Inka membuat dirinya ingin bertengkar dengan gadis itu padahal Inka tidak melakukan kesalahan apapun.


Farah terlihat ceria karena bisa melihat pekerja menjahit, bahkan dia tidak sungkan untuk bertanya tentang bahan dan model baju. Beberapa kali ia berfoto di tumpukan bahan dengan pose yang berbeda.


"Kenapa kau suka sekali foto? Kita kesini untuk kerja bukan untuk untuk selfie." gerutu Inka


" Aku berfoto agar Keken tahu bahwa aku sehat dan baik-baik saja nanti jika bertemu dengan nya aku akan memberikan foto ini kalau aku pernah diajak Inka ke tempat konveksi. "Farah, lagi - lagi ia selalu mengingat suaminya.


Inka dan Dini saling memandang, merasa kasihan dengan sahabatnya.


" Besok kau bawa Farah ke psikiater, aku khawatir dengan kesehatan mentalnya. "bisik Dini


" Aku akan konsultasi terlebih dahulu dengan mommy Imelda, aku tidak bisa membuat keputusan sepihak,aku takut disalahkan. " bisik Inka


" Kau bicarakan dengan kakakku Alif, dia dokter, mana tahu dia bisa memberi solusi."


" A.. alif... "Dini begitu gugup, pria tampan itu yang merawat Farah saat pingsan.


" Akan aku coba tanyakan padanya." Dini," Setidaknya aku bisa mengobrol dengan pria itu, yess. "batin nya.


" Kalian kenapa berbisik seperti itu. "gerutu Farah." Kalian sedang membicarakan apa?


"Tidak ada." ucap mereka bersamaan lalu mereka tergelak tawa.

__ADS_1


"Kalian bicara apa?" Farah begitu penasaran,sepertinya Dini dan Inka sedang membicarakannya.


__ADS_2