
Di ruang kerja Raffa,
Terjadi perdebatan yang alot antara Keken dan Fafa. Mereka saling beradu argumen dan egois ingin memenangkan pendapatnya masing-masing.
"Pokoknya aku tidak mau ke Malang, Fafa saja yang kesana. Aku hanya ingin menghandle proyek di daerah Utara saja." kekeh Keken
"Bilang saja lu mau deketin gadis itu kan, emang dasar lu suka modusin anak orang!" Fafa begitu kesal karena Keken kekeh tidak ingin pergi ke Malang dan lebih memilih proyek kecil di Utara.
" Sejak kapan lu suka gula merah daripada gula putih? Semua mantan - mantan lu itu gula putih semua, mana ada yang gula merah. " sindir Fafa
" Berisik!" Hati Keken begitu ketar- ketir saat Fafa kembali menyindirnya, bukan karena apa-apa melainkan karena ada Antoni yang tahu bahwa Farah sudah bertunangan apalagi calon Farah notabene teman dekat Antoni. Keken sempat melirik Antoni yang hanya diam tidak menanggapi obrolan mereka.
" Apa lu, masih mau ngeles!" Fafa masih dengan nada tinggi ," Proyek di Utara itu mudah, Antoni bisa menghandlenya. Nominal proyeknya juga tidak banyak,sedangkan di Malang nilai proyeknya tidak main-main, kita juga harus bertemu dengan beberapa investor disana, surat - surat pembangunan apartemen sudah selesai tinggal eksekusi dan sebagai salah satu pemilik perusahaan lu seharusnya tahu bahwa ini sangat penting, masa proyek besar ini harus aku yang handle, sedangkan Hanin sebentar lagi persalinan. "
" Antoni saja yang kesana. " Keken masih dalam mode malasnya dan menjawabnya dengan asal.
" Lama - lama gue cuci otak lu ini. "Fafa begitu gemas hingga menjambak rambut Keken dan seolah ingin memakan kepalanya." Ini kepala kalau dibedah pasti kotor banget, pikirannya cuma sel*ngkangan mulu! "
Keken hanya menggulum senyum saat melihat Fafa mulai naik darah padanya.
" Mas Raffa nggak bisa ke Malang? "Keken bertanya dengan gaya cengengesan.
" Mas Raffa akan bolak - balik Jakarta - Bekasi untuk mengecek proyek tanah wakaf mama Navysah yang kini sedang di bangun masjid dan Mas tidak bisa ke Malang karena terlalu sibuk dengan perusahaan mas sendiri. "
" Sudah seharusnya kamu yang pergi Ken, Fafa tidak mungkin jauh dari Hanin untuk saat ini biarkan Fafa yang mengurus di sini, kamu yang di Malang. Tidak lama kok cuma dua bulan sebelum orang kepercayaan mas pulang ke Indonesia. " sambung Raffa lagi.
" Itu sangat lama mas, dua bulan terlalu lama untukku. " Keken cemberut seolah tidak terima dirinya yang harus dikorbankan untuk pergi ke luar kota.
" Eh, ******! Sejak kapan dua bulan lama bagi lu. Bukanya lu suka kelayaban nggak jelas dan lari dari pengawal mommy Imelda. "Fafa menatap tak percaya dengan casanova di sampingnya. Sejak dulu Keken suka bertraveling dan pergi tanpa pesan untuk menghindari pekerjaan kantor yang kian hari kian menumpuk dan terutama menghindari ibunya sendiri yang selalu memantau pergerakan nya. Mommy Imelda menginginkan Keken menikah dengan wanita yang dijodohkan nya tapi ia selalu menolak dan kabur.
__ADS_1
" Jangan bilang lu takut kangen sama si gula merah." sindir Fafa dan dan ia dihadiahi jitakan keras dari Keken.
"Gula merah siapa sih?" Raffa begitu penasaran dengan percakapan adik-adiknya.
"Itu cewek yang dibawa Keken." sahut Fafa
"Lho bukan nya cuma temen dan gadis sudah bertunangan." Raffa menatap kearah Keken seolah meminta penjelasan.
"Fafa cuma bicara asal mas, jangan dianggap serius." Keken mencoba meluruskan, ia sudah pasrah karena lambat laun Antoni akan mengetahui bahwa dirinya menyukai Farah.
" Cih! Tidak mau ngaku." decih Fafa
"Apa tidak ada solusi lain? " Keken kembali ke topik pembicaraan lagi,tidak peduli dengan Fafa yang masih menatap sinis padanya.
"Ada." Khaffi yang sejak tadi diam kini mulai bersuara.
"Apa?"
"Jadi Keken tidak perlu lagi memikirkan gadis itu, kan sekalian bulan madu disana." Khaffi cengengesan saat mengatakan nya.
Dan dengan cepat Khaffi mendapat jitakan dari Fafa dan Keken secara bersamaan.
" Tega kalian! Ini kepala bukan cobek sambel, enak saja jitak-jitak kepala gue!" seru Khaffi dengan tidak terima saat kepalanya dijitak." Dikasih saran dan solusi tidak mau!" gerutu nya
" Saran mu tidak masuk akal, dia sudah bertunangan dan akan segera menikah dengan calon suaminya. Pria lain tidak boleh merebut wanita yang sudah dipinang. Jangan merusak kebahagiaan orang lain."Antoni yang sejak tadi diam kini mulai menjawab dan menekankan di kalimat terakhirnya.
" Si dingin ini pendiam tapi sekali bersuara omongannya begitu menusuk ke jantung. " gumam Keken dalam hati
" Wah.. Wah... ternyata gadis yang ingin bunuh diri itu sudah bertunangan padahal aku terpesona dengan senyumannya." ucap Khaffi dan Keken langsung menatap tajam padanya.
__ADS_1
" Apa! Berani melotot padaku, gini-gini aku Pangeran, crazy rich Bandung." Khaffi seolah tidak terima saat Keken menatap tajam padanya, ia dengan sombong membanggakan dirinya sendiri terutama kekayaan keluarga dari sang ibunya.
"Dih! Model beginian pangeran crazy rich. Lu itu Pangeran Medit." sindir Keken
"Hei! Kenapa kalian bertengkar hanya karena masalah siapa yang paling crazy rich! Yang ada kalian berdua itu sama CRAZY nya!" Fafa menekankan kalimat terakhir
"Lah, berarti gila dong kita." ucap Khaffi
"Lu saja yang gila, gue tidak!" Keken
" Berisik! terus gimana ini? " Fafa hampir frustasi karena Keken dan Khaffi masih berdebat hal yang tidak penting sementara masalah pekerjaan belum ada titik temu nya, masih kekeh dengan keinginannya untuk menghandle proyek Utara.
" Hei, Modosa! Ngapa lu kagak jawab, sih! " teriak Fafa
" Aku harus jawab apa, tidak ada bonus untukku jika aku pergi ke Malang." Keken pura-pura bodoh, ia tahu Fafa akan memberikan suatu imbalan agar Keken mau pergi ke Malang. Mencari kesempatan dalam kesempitan, pikirnya.
" Ambil mobil sport gue, nih kuncinya. " Fafa merogoh saku celananya dan memberikan kunci mobil pada Keken.
" Cih! cuma ini, miskin sekali sepupuku ini." cibir Keken. Raffa dan Khaffi hanya menggulum senyum, seperti biasa akal bulus Keken mulai memprovokasi Fafa agar mengeluarkan semua barang miliknya. Keken dan Fafa sering bertaruh dengan barang - barang mewah sebagai taruhannya.
" Plus duit seratus juta. " ucap Fafa, ia terpaksa menambahkan nilai bonus untuk Keken agar mau pergi ke Malang, semuanya demi Hanin, istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan.
"Nah, gitu kan enak. Deal." Keken menadahkan tangan ke arah Fafa.
"Deal." Fafa menjabat tangan Keken.
"Siapa yang mau salaman! Gue mau lu transfer sekarang duitnya sebelum lu berubah pikiran, Cepatlah! " Keken
"Emang lu bener - bener sepupu bangs*t!" Fafa segera mengambil handphonenya dan mengetikan sejumlah uang permintaan Keken di mobile banking.
__ADS_1
"Crazy rich malak duit!" gerutu Fafa lagi. Dan Keken hanya terkekeh.