Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 47


__ADS_3

Keken melajukan mobilnya kearah rumah Farah. Sejak di dalam mobil Farah hanya diam dan sesekali meliriknya. Hembusan nafas panjang Farah terdengar begitu menganggu di telinga Keken dan dia tahu alasannya.


" Berhenti disini, itu mereka." Farah menunjuk kearah adiknya yang sedang berdiri tak jauh dari gang.


Sejak di rumah sakit Farah menelepon adiknya untuk bertemu dan Keken tetap kekeh mengantarnya pulang walaupun gadis itu selalu menolak.


Farah tidak menuju rumahnya karena malas bertemu ibu tirinya. Mereka bertemu di sudut jalan tak jauh dari rumah.


"Kakak...!!" Aisyah melihat Farah turun dari mobil dan dengan segera ia memeluknya. Keken hanya diam dan melihat interaksi mereka dari dalam mobil. Ia tidak ingin ikut campur dengan urusan Farah.


"Ais, kangen..." ucapnya, " Kakak, aku benci sama ibu. Dia selalu menyuruhku untuk ini dan itu, pekerjaan rumah tidak ada habisnya. Aku kan capek kak, terkadang aku dimarahinya karena melakukan kesalahan." keluhnya dengan panjang lebar Aisyah menceritakan keadaan rumah yang semakin tidak nyaman.


" Jangan membenci ibu, bagaimana pun dia ibu kita. "Farah mengelus rambut Aisyah dengan lembut dan melirik adik lelakinya yang kini terlihat beberapa perban di dahi dan tangan kanannya.


" Bagaimana keadaanmu dek? " Farah memeluk Fadil dengan lembut.


" Alhamdulillah sudah baikan kak, cuma ini yang masih sakit." Fadil menyentuh dahinya


" Kakak kesana, tapi__" Farah tidak melanjutkan ucapanya. Ia merasa tidak enak jika mengatakan hal yang sebenarnya.


"Fadil tahu, karena ibu kan. Fadil sempat dengar suara kakak dari ruangan UGD. Maafkan ibu ya kak."


" Tidak perlu meminta maaf, kakak sudah memaafkan dan melupakannya." Farah mengurai pelukan


" Maaf, kakak tidak bisa merawatmu saat sakit. Kakak minta maaf. " ucap Farah dengan menyesal


" Kakak tidak perlu minta maaf, Fadil tahu posisi kakak yang serba sulit. "


" Jadi beneran kamu ikut tawuran? "


" Mana ada seperti itu, Fadil hanya korban salah sasaran karena saat itu Fadil dan Zidan pulang secara terpisah dengan teman-teman dan bertemu mereka di jalan. Mereka mengira Fadil salah satu musuh mereka. " jawab Fadil dengan lugas


" Fadil bersyukur masih selamat karena ada korban warga sipil yang tewas akibat senjata tajam. Mereka sangat mengerikan kak, mereka membabi buta dan menyerang siapapun yang lewat. Fadil benar-benar ketakutan saat itu. " Wajah Fadil terlihat ketakutan. Ia sedikit trauma akibat kejadian itu dan beberapa kali Farah melihat Fadil meremas jari tangan nya seolah gelisah.

__ADS_1


" Jangan takut, ada kakak disini. "Farah kembali memeluk adiknya," Kalau kamu butuh sesuatu atau minta diantar katakan pada kakak, mengerti?"


" Iya kak, ayah juga berkata seperti itu. Kata dia, akan antar Fadil dan Aisyah mulai sekarang. "


Farah hanya mengernyitkan dahi, tumben sekali ayahnya peduli dengan keadaan anaknya sekarang.


" Ayah sudah berubah kak. " sambung Fadil lagi." Sudah beberapa hari ini tanya keadaan Fadil terus. "


Farah hanya tersenyum kecut, ia tidak pernah menyangka ayahnya akan berubah setelah ada kejadian, namun ayahnya masih saja tidak pernah bertanya kabar tentang keadaan dirinya. Farah merasa sedikit iri.


" Sebenarnya ada hal yang ingin Fadil katakan, kemarin ayah menyuruh Fadil berikan ini untuk kakak. Pin nya sesuai tanggal lahir kakak. Kata ayah, ini uang untuk tambahan biaya kakak nikah tapi jangan bilang ke ibu, ini rahasia. " Fadil memberikan sebuah kartu atm berwarna biru pada Farah.


" Ayah bilang kakak perlu uang banyak dan jika kakak perlu sesuatu datang saja ke pabrik jangan di rumah. " lanjutnya


Farah terkesiap, ia tidak menyangka ayahnya akan memberikan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali. Seorang ayah yang biasa cuek dan terkesan tidak peduli kini memberikan biaya pernikahan untuknya.


" Apa kakak sedang bermimpi? " Farah berkaca-kaca saat mengatakannya.


Farah mengusap airmatanya yang mengalir begitu saja, sesekali ia mengusapnya dengan lengan baju.


Keken hanya tersenyum saat melihat Farah menangis dan menyusut air hidungnya dengan lengan.


" Dia seperti anak kecil, kenapa dia begitu imut dan mengemaskan, ah otak kotorku mulai lagi." gumam Keken dalam hati. Ia memukul kepalanya sendiri agar pikirannya tidak mesum melihat Farah yang begitu menggoda baginya.


" Kakak, bisakah setelah kakak menikah tinggal disini saja. Kakak jangan tinggal di Bogor. Aku ingin selalu bisa melihat kakak,hanya kakak tempat aku bersandar dan mengadu keluh kesahku." pinta Fadil


Farah menggigit bibir bawahnya dengan erat. Hatinya nyeri seketika saat Fadil meminta dirinya untuk tinggal di kota ini setelah menikah dengan Hilman. Sedangkan sang calon suami yang notabene bekerja di Bogor sudah menyiapkan tempat tinggal untuk keluarga kecil mereka. Farah tidak berpikir jauh tentang kehidupan kedua adiknya jika dia meninggalkan kota ini dan hidup di bogor.


"Bagaimana setelah lulus sekolah kamu ikut kakak, kita bisa hidup di Bogor dan kamu bisa kuliah disana. Aisyah juga bisa pindah sekolah jika mau." ujar Farah


"Tidak semudah itu." Fadil menggelengkan kepala, " Ibu pasti murka jika tahu kedua anaknya lebih memilih kakak daripada dirinya."


" Aku harap kakak bisa mempertimbangkannya."

__ADS_1


"Kakak, pria itu siapa?" tanya Aisyah, sejak tadi ia melirik pria yang berada di dalam mobil.


Keken yang mendengar Aisyah bertanya pada Farah namun tidak dijawab, dengan segera ia turun dari mobilnya.


"Hai anak manis, perkenalkan kakak ini Pangeran berkuda putih." Keken mengelus rambut Aisyah tanpa meminta izinnya.


"Uhhsss..!! tidak boleh pegang-pegang sembarangan. Aisyah marah!" Aisyah melotot pada Keken. Ia tidak suka ada pria asing yang menyentuh bagian tubuhnya.


"Wow... ternyata gadis kecil ini seperti kakaknya, galak juga." Keken terkekeh sembari melirik Farah yang juga sedang menatap tajam padanya.


" Kakak, dia siapa?" tanya Aisyah kembali, rasa ingin tahunya begitu besar.


"Dia temen kakak. Pangeran kecebong dari laut merah." jawab Farah dengan asal


"Mana ada kecebong hidup di laut merah, yang ada kecebong hidup di dalam ra him." sahut Keken sembari tersenyum geli.


"Kok bisa?!" jawab Farah dan Fadil secara bersamaan, wajah keduanya terlihat bingung dan saling menatap satu sama lain.


"Ah, kalian masih kecil belum cukup umur. Sudahlah..." Keken tidak melanjutkan perkataannya, ia hanya menghela nafas panjangnya. Sedangkan Farah menatap dengan tidak suka karena Keken mulai berkata mesum.


"Otakku dan otak kalian berbeda. Bukan satu frekuensi dan kalian kakak beradik yang masih polos tidak sepertiku." gumam Keken dalam hati


"Kakak tidak bisa lama-lama, besok ada paket laptop untukmu. Kakak membelinya dari online shop agar kamu lebih semangat belajar, kakak tahu laptop kamu sudah jadul dan sering diservice. Semoga hadiah kakak bermanfaat untuk kamu dil."


"Beneran kak!" Fadil begitu sumringah mendengar dirinya akan mendapatkan laptop baru. Farah hanya menganggukan kepala


"Alhamdulillah, akhirnya Fadil punya laptop baru. Minta sama ibu tidak pernah dikasih padahal laptop Fadil sudah rusak. Fadil janji akan belajar lebih giat agar masuk universitas negeri, agar kakak tidak terbebani biaya kuliah Fadil. Do'ain Fadilnya kak."


"Iya sayang, semoga adek kakak yang baik ini bisa kuliah di universitas negeri. Aamiin..." Farah menadahkan tangannya sembari mengucapkan do'a.


"Kakak pergi dulu, assalamualaikum..."


"Walaikumm salam."

__ADS_1


__ADS_2