
Beberapa hari kemudian,
Farah mendekati suaminya sembari membawa secangkir kopi dan sarapan pagi. Sejak semalam Keken kurang tidur karena membereskan pekerjaannya.
" Ken, ada yang ingin aku katakan denganmu."
"Apa." jawabnya tanpa melirik istrinya
"Begini." Farah menarik nafas panjangnya dan mulai berbicara serius.
"Saat kita di rumah mommy, ia mendukungku untuk membuka usaha. Meraih impianku yang belum sempat terlaksana. Dan aku ingin membuka restoran kecil di Selatan tapi mommy bilang aku bisa melakukannya jika bayi ini sudah lahir dan aku bisa merekrut karyawan untuk menghandle semuanya. Mommy hanya berpesan agar aku menjaga anakku dan tidak boleh melupakan tugas keluarga. Aku akan tetap meng ASI hi anak ini dengan baik"
" Lalu, apa yang akan kamu inginkan sekarang? " suaranya terlihat tidak suka karena otomatis Farah akan sibuk dan pasti quality time mereka akan berkurang. Ia tahu sifat Farah yang keras kepala dan tidak ingin berdiam diri walaupun ada karyawan, ia pasti akan terjun langsung mengecek restoran setiap harinya.
" Sudah kubilang aku ingin membuka usaha di Selatan maka dari itu bagaimana jika kita pindah. Tidak perlu di rumah mommy, kita bisa sewa rumah kecil untuk kita."
" Dulu aku memintamu untuk pindah ke Selatan tapi kamu menolak, setelah kamu ada kepentingan disana, kamu ingin pindah. "sindir Keken
" Aku tidak setuju! Jika kamu ingin membuka restoran kecil maka lakukanlah nanti setelah anak kita berusia lima tahun, aku ingin kamu fokus meng ASI hi dia dan fokus dengan keluarga, Aku tidak mau kamu kelelahan. "
" Tapi Ken, bukan aku yang bekerja tapi karyawanku nantinya. "elaknya Farah
" No! Farah, jangan berbohong padaku. Kamu itu selalu profesional dalam pekerjaan dan walaupun sudah ada karyawan, aku yakin kamu akan turun tangan.Dan aku tidak ingin dibantah untuk kali ini! " tegasnya
Lemas sudah, Keken tahu apa yang dipikirkannya selama ini. Awalnya ia yakin Keken akan menyetujuinya nyatanya pria itu tahu dengan jalan pikirannya.
"Apa! Mau melawan lagi?" Keken menatap tajam istrinya, Farah biasanya akan keras kepala dan bersikeras berdebat dengannya namun kali ini gadis itu hanya diam.
Sembari menghentakkan kakinya, Farah masuk ke dalam kamar.
Keken kali ini harus tegas, ia tidak mau Farah kelelahan dan nantinya anak mereka akan tersisih. Keken mau keluarga menjadi prioritas utama.Dan Farah yang nantinya akan menjadi seorang ibu harus selalu bersama anak mereka. Keken tidak ingin anaknya seperti dirinya yang kurang perhatian dan hanya diasuh oleh asisten rumah tangga dan itu karena mommy nya selalu kerja, kerja, kerja.
Namun setelah beberapa hari, Farah terlihat sibuk dan Keken merasa istrinya menyembunyikan sesuatu darinya. Farah pun beberapa kali pergi tanpa ijin, entah kemana.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"
"Tidak ada, memangnya aku sembunyikan tentang apa." Farah melengos, menghindari kontak mata dari suaminya. Ia takut ketahuan Keken kalau beberapa hari ini ia bertemu chef Ardi dan beberapa kenalan nya yang biasa kerja di restoran. Ia membahas tentang rencana bisnis restoran, namun chef Ardi menolak bekerja sama dengannya karena ia masih ada kontrak dengan restoran tempatnya bekerja.
" Aku harap kamu bisa jujur denganku."
Keken yakin saat ini Farah sedang berbohong dan menutupi sesuatu entah apa itu. Keken mencoba untuk sabar dan percaya dengan sang istri meski hati kecilnya menolak.
" Aku pergi dulu." Keken berangkat kerja setelah tidak mendapat jawaban dari istrinya, namun ia memerintahkan pengawal untuk mengawasi kegiatan Farah hari ini. Ia yakin istrinya akan keluar rumah lagi saat dirinya pergi.
__ADS_1
Dan benar saja, siang hari Farah pergi diam-diam tanpa sepengetahuan pengawal. Ia mengira para pengawal itu lengah hingga ia bisa bertemu seseorang di Cafe.
" Bagaimana dengan tawaranku?" tanya Farah sembari menatap seorang pria di depan nya.
"Aku masih betah kerja di restoran, kan seharusnya kamu lebih mementingkan kehamilanmu bukannya merintis usaha." Ia melirik perut Farah yang semakin membesar, usia kandungan nya menginjak usia enam bulan dan kini Farah sedikit kerepotan.
"Justru karena anak ini akan lahir, nantinya aku ingin membuka restoran kecil. Aku ingin mandiri, bukan dari uang Keken. "
"Kau memang keras kepala, tidak pernah berubah." ucapnya
"Kau sudah memiliki suami kaya masih saja bekerja, seharusnya kamu merawat diri agar lebih cantik. Ingat, sekarang pelakor sedang membuka cabang dimana - mana." sambung pria itu lagi.
" Berisik! Jadi gimana lu beneran kagak mau?!" Farah kesal karena waktunya terbuang karena pria itu. Perutnya sedikit nyeri tidak tahu kenapa, Farah mengelusnya dengan lembut.
" Ya aku tidak mau karena gajiku belum pasti, jika kau naikkan gajiku tiga kali lipat maka akan aku lakukan."
"Dasar matre! Watakmu tidak berubah sejak SMA dulu bal." gerutu Farah. Saat ini ia bertemu Iqbal, teman saat di sekolah dan saat di restoran dulu.
" Gue harus matre, hidup perlu perawatan Farah." sahutnya
Dan tak disangka Keken datang dan duduk disisi istrinya. Farah terkesiap, bagaimana mungkin Keken tahu dirinya berada disini sedangkan pengawal itu tidak melihatnya pergi dari rumah.
"Ken... Keken..." Farah menyapa dengan suara yang tercekik di tenggorokan.
"Siapa kau?!" tanya Keken
Iqbal tersenyum lebar sembari mengulurkan tangan. "Saya Iqbal teman sekolah dan teman Farah di restoran dulu."
"Kau ada hubungan apa dengan istriku." Keken menyambut tangannya dan segera menariknya kembali, entah kenapa gelagat Iqbal terasa aneh dimatanya.
"Kami teman."ucapnya sembari tersenyum lebar
"Apa kau yakin? "
"Tentu saja, seratus persen hanya teman." Iqbal masih dengan senyuman nya.
"Bukan seratus persen lagi tapi seribu persen!" ketus Farah sembari menatap tajam Iqbal, mulutnya komat kami seolah memberi peringatan pada pria itu.
"Kenapa pergi diam - diam?" Kali ini Keken bertanya pada Farah.
"Nanti aku ceritakan di rumah, ayo kita pulang." Farah menarik tangan suaminya agar mau mengikutinya.
"Kok cepat banget, aku masih ingin mengobrol denganmu." Iqbal
__ADS_1
"Tidak usah bohong! Aku tahu apa yang ada di pikiranmu." Farah mendelik kesal namun disambut gelak tawa dari Iqbal.
"Sayang, apa kau ada perasaan dengan pria itu?!" tanya Keken setelah menjauh dari Cafe.
"No!"
"Apa kau yakin, dia menatapmu dengan tatapan aneh."
"No! Keken."
" Dia bilang teman sekolah dan teman kerja dulu, pasti dia naksir denganmu. Iya kan?" Keken semakin mengintimidasi istrinya
"Sudah kubilang, Noooo!!!"
"Kenapa? Pria itu tampan juga, kenapa kau tidak tertarik dengannya."
" Karena aku yang kurang tampan!!"
Keken menghentikan langkah kakinya sembari mengernyitkan dahi. Sedetik kemudian ia paham maksud ucapan dari Farah.
"Maksudmu.... dia???!"
"Iya, dia h*mo. Dia menyukai pria, apalagi saat menatapmu!"
Keken tergelak tawa saat mendengar kebenaran dari Farah, ia tidak menyangka seorang pria tampan yang ia yakini sebagai selingkuhan istrinya ternyata homoseksual.
"Jangan tertawa seperti itu!" ketus Farah, sepanjang perjalanan Keken selalu tertawa lebar dan itu membuat Farah kesal.
" Memangnya kenapa? Kamu pergi diam-diam ketemuan dengan pria setengah mateng juga aku tidak masalah." sindiran Keken begitu menohok untuknya.
" Terus saja menyindir seperti itu!" Farah membuang wajahnya kearah lain dan entah kenapa perutnya terasa nyeri kembali, beberapa hari ini ia merasa tubuhnya kurang fit. Farah merasa lemas.
" Apa ada yang ingin kamu ceritakan padaku? " Keken melirik istrinya dengan tajam.
Namun bukan nya jawaban yang Keken terima, Farah hanya meringis kesakitan.
"Ken...." ia kembali menahan rasa sakit di area perut
"Kau kenapa?" Keken mulai panik saat melihat Farah meringis kesakitan bahkan tubuh istrinya mengeluarkan keringat dingin. Ia memeluk istrinya dengan erat
" Ken, perutku sakit." lirih Farah
"Pengawal, putar balik ke rumah sakit sekarang!!"
__ADS_1
"Siap tuan!"