Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 148 ( Di Cafe Michelle)


__ADS_3

Imelda begitu bahagia saat tahu calon cucunya laki-laki bahkan terlihat jelas di wajahnya saat bervideo call. Entah mengapa ia begitu cerewet kali ini. Farah pun merasa aneh, ini bukan seperti ibu mertuanya.


"Besok main ke mommy ya, mommy masakin kesukaanmu"


" Jangan terlalu lelah atau mommy kirim asisten kesana untuk beberes."


" Tinggalah disini tapi Keken tidak boleh, kamu saja!"


" Mommy akan menyiapkan kamar bayi untuk cucuku."


"Kamu ingin apa, nanti mommy belikan."


Lagi-lagi mommy selalu mencerocos hingga membuat Keken kesal.


"Mommy, aku anakmu! kenapa aku tidak diperhatikan!" protes nya


"Kamu sudah dewasa, sudah saatnya gantian mommy yang akan memperhatikan calon cucuku."


"Mommy kenapa hanya Farah yang boleh menginap, sedangkan aku tidak!?" protes nya lagi. "Aku merasa seperti terbuang."


"Kau itu sudah cocok tinggal di kontrakan, sedangkan Farah dan cucuku akan tinggal di mansion. Bukankah kamu sudah betah disana dan tidak mengeluh, kenapa sekarang baru protes!" Imelda tak mau kalah, ia kembali mengomel pada anaknya.


"Ya ampun, aku anak kandung berasa anak tiri." gerutu Keken


Imelda tergelak tawa dan Farah lagi-lagi baru menyadari ternyata mertuanya bisa tertawa lebar tidak seperti yang dipikirkan selama ini, dingin dan ketus.


"Mom, calon cucumu ingin mobil ferari warna merah keluaran terbaru, belikan mom daripada dia ileran." Keken sengaja mengatasnamakan anaknya agar sang ibu mau membelikan mobil untuknya. Farah menatap tajam pada Keken namun pria itu seolah tidak melihat.


"Mana ada calon bayi minta mobil, itu hanya akal-akalanmu saja!" seru Imelda di layar ponsel. " Rumah masih ngontrak minta mobil ferari,kamu mau parkir di pemakaman dekat situ, yang ada mobilmu dipakai kuntilini." kelakar Imelda


Keken tergelak tawa, benar juga yang dikatakan mommy nya.


" Aku putuskan dulu sambungannya mom, ada telepon masuk." ujar Keken.


Dan setelah itu Keken mengangkat telepon sembari menyingkir dari Farah karena saat ini Michelle menelepon nya.


"Kok pindah?" ia merasa Keken tidak ingin dirinya mendengar percakapan mereka


"Tunggu sebentar ini penting." ucap Keken


"Memangnya aku tidak penting hingga kamu menghindar seperti itu!" Farah


Keken merasa ada yang aneh dari Farah, semenjak pulang dari rumah tante Navysah, Farah selalu banyak bertanya tentang kegiatan nya diluar dan tentang pekerjaan nya, tidak seperti dulu yang selalu tidak peduli.


Keken mengurungkan niatnya, akhirnya ia menerima telepon di dekat Farah.


"Ia cell, oke deh gue kesana." jawab keken. Ia menutup teleponnya


"Bilang ke teh Cucu, suruh dia pakai baju kemeja putih celana hitam sekarang karena aku akan mengantarnya ke Cafe Michelle." pintanya. Ia masih membalas beberapa email yang masuk di ponselnya.

__ADS_1


Farah keluar dan ke kontrakan sebelah, setelah itu ia masuk kembali dan berganti pakaian.


" Nanti aku pulang malam ya, setelah anterin teh Cucu aku mau ke Fafa, aku pakai motormu agar lebih cepat. "teriak Keken dari ruang tamu.


Farah sudah berganti pakaian dan terlihat cantik dengan sedikit polesan di wajah, namun Keken hanya mengerutkan wajahnya karena bingung.


" Kamu mau kemana? "tanyanya


" Aku mau ikut ke Cafe. "jawab Farah


" Ngapain ikut, kemarin juga bilang tidak mau. "


" Aku berubah pikiran. "ucap Farah lagi


" Sudahlah kamu di rumah saja, ini sudah malam lebih baik kamu tidur dan jaga kesehatan. Aku tidak mau kamu kena angin malam. "


" Aku mau ikut. "kekehnya


" Kamu di rumah saja, aku pakai sepeda motor agar hemat ongkos dan lebih cepat. " Keken


" Bilang saja kamu mau pelukan sama teh Cucu! atau kamu mau berduaan dengan Michelle, iya kan?! " tuduhnya, Farah berkaca-kaca karena tidak diijinkan untuk ikut bersamanya.


" Ngomong apa sih kamu, tidak jelas! "Keken malas menanggapinya. Ia mengambil jaket di lemari agar tidak terkena angin. Ia menyemprotkan parfum agar tubuhnya terasa segar dan wangi. Keken selalu berpenampilan rapi.


" Lihat kan, kalau keluar rumah pasti wangi dan keren. " gumam Farah dalam hati.


" Aku mau ikuttt...!! "Farah menangis kali ini. Ia masih kekeh ingin pergi bersama suaminya.


" Ya sudah ayo ikut kita naik taxi."


"Kenapa harus naik taxi, kan ada mobil pengawal jadi kita tidak perlu mengeluarkan uang."


"Benar juga." Keken tersenyum licik.


Mereka melajukan mobilnya kearah Selatan, tempat dimana Cafe Michelle berada. Salah satu dari pengawal itu mau tak mau harus turun dari mobil karena hanya memuat empat orang saja. Farah hanya mau mobil dibagian tengah itu untuk dirinya dan Keken. Sedangkan teh Cucu duduk di kursi penumpang depan bersama sang pengawal yang kini menjadi sopir.


Sepanjang perjalanan Farah selalu menempel pada Keken, ini tidak seperti biasanya. Aroma parfum suaminya seolah menjadi candu untuknya, dan sang bayi seolah senang karena aroma tubuh ayahnya begitu wangi. Farah selalu bergelayut di lengan suaminya hingga Keken merasa aneh.


"Ini beneran Farah bukan, sih! Biasanya ngomel dan memaki saat aku curi - curi kesempatan tapi ini sungguh berbeda." gumam Keken dalam hati


"Seneng banget kalau aku wangi?"


Farah menganggukkan kepala dan Keken mengusap pucuk rambutnya, kali ini Farah tidak menolak saat Keken menyentuh rambutnya.


"Neng Farah, aku jadi iri melihat keromantisan kalian." ucap Teh Cucu namun matanya sembari melirik pengawal yang sedang fokus menyetir.


"Maaf nyonya, saya tidak tertarik dengan anda." ucap pengawal itu. Ia beberapa kali melihat teh Cucu mencuri pandang dengan nya.


"Siapa juga yang naksir situ, sok keren lu!" Teh Cucu begitu malu hingga akhirnya dia berkata ketus pada pengawal itu.

__ADS_1


Keken dan Farah hanya saling menatap lalu mereka menggulum senyum.


Dan tak lama kemudian mereka tiba di Cafe Michelle setelah menempuh perjalanan satu jam.


" Ken..." Michelle tersenyum saat melihat sahabatnya, namun ia melirik Farah yang berjalan disamping Keken.


"Kenapa dia ikut, kemarin Keken bilang dia tidak mau, ah... jiwa usilku ronta ingin sekali membuatnya cemburu." gumam Michelle dalam hati, ia tersenyum menyeringai.


"Michelle ini Farah."


"Hai, Farah." Michelle tersenyum manis.


"Hai Michelle." balasnya


"Ini teh Cucu yang aku bicarakan kemarin, dia pernah kerja di Cafe."


" Iya bu, saya Cucu." Ia mengulurkan tangan nya dan Michelle menerimanya.


" Sekarang interview dulu dengan asistenku ya, ada di lantai dua. Silahkan keatas." perintahnya


"Siap bu."


"Neng Farah, Den kasep. Teteh keatas dulu ya." pamitnya


"Semoga berhasil teh." Farah memberinya semangat sembari mengepalkan dua tangan ke udara. "Semangat!"


"Dia yang mau kerja kenapa kamu yang heboh." cibirnya


"Karena teh Cucu bekerja untuk anak-anaknya, memang ada yang salah jika aku memberinya semangat." Farah menggembungkan pipinya.


Michelle tergelak tawa, entah mengapa ekspresi Farah membuat dirinya terpingkal."Gadis itu benar-benar lucu. "


" Kenapa kamu tertawa?" kali ini Keken dan Farah bertanya serempak.


"Tidak ada apa - apa." Ia segera mengikis senyumnya, tak ingin Farah tersinggung.


" Perutmu kian membesar, jangan lupa jaga kesehatan." Michelle berkata dengan tulus


"Iya, terima kasih atas perhatiannya." hanya itu yang bisa Farah katakan karena bingung apa yang akan ia bicarakan.


"Sayang, kau dengar kata Michelle. Dia begitu mengkhawatirkanmu." Keken merengkuh tubuh istrinya sembari tersenyum


"Wah... wah... wah... kau panggil dia sayang padahal dulu aku yang dipanggil sayang olehmu." sindir Michelle


" Itu masa lalu cell." ucap Keken


"Ya, ya, ya itu memang masa lalu dan sekarang kita terpisah masing-masing." Michelle


Farah hanya diam dan sesekali hanya mengulas tersenyum. Kedekatan suaminya dan Michelle mengalir begitu saja dan terlihat sangat dekat, bahkan beberapa kali Farah selalu melirik Michelle dengan tatapan curiga." Benar kata Hanin, mereka terlihat serasi dan kompak." gumamnya dalam hati

__ADS_1


Namun seseorang datang dan duduk bersama mereka tanpa permisi hingga saat Farah menengok, ia tersenyum pada pria itu.


__ADS_2