Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 49


__ADS_3

Farah menekuk wajahnya sepanjang perjalanan menuju rumah, ia benar-benar marah bercampur malu karena Keken menggodanya di depan umum. Rencana untuk makan di pinggir jalan pun batal karena Farah sudah tidak berselera lagi. Permintaan maaf Keken pun tidak ia hiraukan, Farah hanya diam sepanjang perjalanan.


Farah membanting keras pintu mobil Keken sebagai tanda kekesalannya. Dan saat ia akan masuk ke dalam rumah, suara teriakan dari Vania membuat nyalinya menciut.


"Bagus!! handphone dimatiin, berangkat pagi pulang malem. Eh, maemunah lu kagak sadar ini jam berapa?!" seru Vania


"Baru jam delapan mak, galak amat mak." ucap Farah dengan cengengesan


"Nggak usah senyum - senyum, bete gue sama lu!" Vania


"Lah, si sontoloyo itu nganterin kamu?! Vania melihat Keken turun dari mobil sembari tersenyum


" Ini lagi senyam - senyum, lu kira ada yang lucu! " semburnya lagi


" Ya ampun, kenapa wanita penghuni rumah ini galak-galak sih! "ucap Keken," Makanya makan itu nasi bukan batu kerikil, kalau ngomong nggak usah pake urat,disini nggak ada tukang bakso. "kelakarnya


" Idih.., si Aa pinter pisan ngelawaknya, udah cakep, humoris lagi. Mau atuh neng dikawinin. " sahut teh Cucu, tetangga samping kontrakan Farah. Janda tiga anak yang bekerja di sebuah Cafe di malam hari. Perawakan yang gendut dan masih terlihat cantik karena make up yang cukup tebal serta aroma parfum tercium begitu kuat darinya.


" Gue juga kalau mau ngawinin milih - milih teh, masa mau ngawinin gerobak dangdut. Apaan ini muka siang, leher malem begitu." kelakar Keken, ia melihat wajah teh Cucu terlihat seram serta warna kulit wajah yang tidak sama dengan warna kulit lehernya.


Farah mencubit ringan pinggang Keken.


"Apaan sih Far, sakit tahu." gerutu Keken. " Emang bener kok, jangan tersinggung ya teh."


"Nggak A! Emang teteh begini kok, teteh masih belajar pakai make up. Kalau perawatan ke salon juga sayang mending buat bayar uang sekolah anak teteh."


Dini dan Vania yang saat ini berdiri tepat di depan pintu hanya bisa cekikikan mendengar lelucon dari Keken. Memang benar, dengan make up yang tebal teh Cucu terlihat lebih aneh karena antara wajah dan leher tidak satu warna.


" Farah masuk! "seru Dini," Dan kamu pulang sana, sudah malam tidak menerima tamu lelaki. "


" Woi Wartiyem, ini baru jam delapan. Lu kira gue bocil yang tidur di jam segini. Ini weekend gaes, weekend... "protes Keken


" Bodo amat! Mau weekend kek mau weekday sama aja, tetap tidak boleh menerima tamu malam - malam. " sahut Dini


" Ini nih, yang beginian pasti jomblo akut jadi nggak gaul. Makanya punya pacar biar tahu indahnya dunia, nggak cuma nongkrong di kontrakan doang." sindir Keken


Dini mendengus kesal hingga menatap tajam pada Keken dengan sengit. Ia masuk ke dalam kontrakan dengan menendang pintu.


" Ihh... kamu apa-apaan sih! Jadi marah kan si Dini nya. " Farah mencubit Keken


" Emang aku salah! Apa yang aku katakan benar, ini baru jam delapan bukan jam sebelas malam. Dia nya aja yang sensitif, marah tidak jelas."


" Udah - udah, si Dini emang lagi sensitif. Mendingan lu pulang. "Vania menunjuk kearah Keken


" Ya ampun, mereka trio galak. Satu frekuensi, senggol bacok. " Keken bergedik ngeri dan pulang tanpa pamit pada Farah.


Farah masuk dan melihat Dini yang berbaring menghadap tembok. Vania hanya memberi kode dengan matanya bahwa Dini sedang patah hati setelah putus dengan seseorang yang ia cintai.


" Ada apa? " Farah masuk ke dalam selimut dan memeluk Dini dari belakang. Vania pun mengikutinya.


"Dini ditipu laki-laki yang sedang dekat dengannya, tadi dia telepon aku nangis-nangis makanya aku kesini." sahut Vania

__ADS_1


" Ditipu bagaimana? Emang Dini punya pacar, kok tidak bilang - bilang!" sewot Farah, selama ini ia mengira Dini hanya jomblo yang tidak pernah dekat dengan pria lain.


" Kenalan lewat sosmed ngakunya orang kaya tapi nyatanya miskin. Untung hubungannya belum terlalu jauh. Tadi Dini curhat padaku" Vania kembali menyaut.


"Coba jelaskan, kok bisa kamu pacaran nggak ngomong kita-kita." Farah menggoyangkan tubuh Dini agar menghadap kearahnya


"Apaan sih Far!" Mau tak mau Dini membalikan badannya.


"Aku kenal dia tiga bulan lalu, deketin aku terus sayang - sayangan. Aq ketemuan sama dia selalu di luar tanpa sepengetahuan kalian niatnya ingin bikin surprise ternyata aku yang dibikin surprise sama pria penipu itu." Dini terlihat sedih


" Dia selalu posting pakai mobil, terus ketemuan sama aku pakai motor sport. Dandananya juga keren, rapi. Saat gue tanya dia bilang kerja di perhubungan. Gue kira dia pegawai negeri nyatanya__" Dini diam sesaat


"Nyatanya apa?" tanya Farah dengan penasaran


Vania hanya cekikikan karena dia sudah tahu jawabannya


"Nyatanya dia hanya sopir online, huaaaaa..." Dini menangis keras


" Gue kira, gue bakalan dapet pria tajir, tampan dan mapan.nyatanya__" Dini menutup wajahnya karena malu


"Lah, kan bener tuh cowok. Dia bilang kerja di perhubungan, yaitu perhubungan darat nganterin orang." Farah menahan senyum, ia tidak berani tertawa karena Dini begitu terlihat menyedihkan.


"Ya seharusnya dia bilang aja kalau dia kerja jadi sopir online, nggak usah bilang kerja di perhubungan kan gue mikirnya dia pegawai negeri yang terjamin hidupnya." kesal Dini


" Lu aja yang matre, mau pacaran pilih-pilih yang kaya raya." potong Vania


"Gue memang matre karena hidup harus realistis. Gue juga pengen punya pacar kayak kalian. Lu, Van punya pacar tajir anak orang kaya, jabatan manager hidup terjamin." tunjuk Dini pada Vania


"Maaf jika kita membuat kamu sedih, aku pengen kamu juga mendapatkan pria yang kaya tapi bukan begini caranya. Kalau kaya tapi nyakitin emang kamu mau?" Farah


Dini menggelengkan kepala.


"Aku mendapatkan Hilman karena aku nyaman bukan karena dia kaya, itu hanya bonus, Din. Aku tidak ingin kamu terobsesi dengan pria kaya." ucap Farah


"Betul Din, ini masalah hati. Carilah lelaki yang baik dan mau menerima keadaan kita apa adanya. Bukan cuma kaya nya aja."


" Entahlah, yang ada dipikiran aku hanya pria kaya agar aku bisa membantu kedua orangtuaku apalagi sebentar lagi Arman masuk kuliah. Aku ingin adikku bisa kuliah dan jadi orang sukses, tidak sepertiku ini. "Dini


" Tapi kalau dia sopir online berarti dia punya mobil sendiri. Dia kaya dong?"tanya Farah


Vania tergelak tawa sembari menutup wajahnya dengan bantal


" Kaya apaan! " seru Dini dengan nada tinggi," Mobil yang dia pakai itu punya Om nya, tiap hari bagi hasil. Motor sport yang dia pakai punya sepupunya yang sedang kerja di luar negeri, jadi sementara bisa dia pakai."


"Gue kemarin ngajak teh Cucu untuk ketemuan di Mall sama si kampret itu. Dia bilang mau seriusan jadi dia ngajak gue ke rumahnya. Sedangkan teh Cucu pergi karena ada janji sama temen-temennya di mall. Gue sempet kaget liat rumah dia."


" Kok kaget."


"Iya karena sebelum ke rumah, dia bilang selamat datang ke istanaku. Gue pikir beneran istana megah ternyata istana burung merpati." gerutunya


"Istana burung merpati?!" Farah masih tidak mengerti, sedangkan Vania masih cekikikan lagi.

__ADS_1


"Terus aja Van, ketawa terus ngakak sampai mati!" sembur Dini saat melirik Vania yang selalu tertawa


"Oke, maaf maaf..." Vania mencoba memasang wajah serius namun ia benar - benar tidak bisa menahan tawanya.


"Maksudnya, istana burung itu karena si kampret itu tinggal beriringan dengan kandang burung. Ia jualan burung juga Far. Mana bau banget, geli gue liat bulu burung itu bertebangan disana sini."


"Ah, nanti kalau liat bulu burung ajaib yang asli lu malah histeris, ketagihan minta lagi dan lagi." goda Vania


Farah melempar bantal kearah Vania.


"Nyesel gue telepon lu! Kalau tahu aku di bully gini mendingan gue tidur dan nangis sendirian." Dini menarik selimut dengan kasar dan membelakangi mereka


"Maafkan Vania, dia hanya bercanda." Farah


" Terus lu gimana, langsung putus atau mau lanjutin hubungan dengannya? Dia mau seriusan sama lu Din."


"Gue mau putus sama dia, gue nggak bisa lanjutin Far, dia udah bohongi gue mentah - mentah."


"Jadi cinta lu sebatas materi." sahut Vania


"Iya!" ucap Dini dengan tegas, " Gue memang matre, ini semua gue lakuin agar semua keluarga gue senang. Gue mau orangtua gue hidup nyaman di saat tua nanti. Gue mau bahagiain mereka."


"Tapi jalan pikiranmu salah Din, tidak semua kebahagiaan dinilai dengan uang." potong Farah


"Tapi dengan uang kita bisa memberi mereka kebahagiaan, dengan uang aku bisa memberikan semua apa yang orangtuaku inginkan. Semuanya butuh uang Farah, bahkan ibu tirimu juga suka dengan uang sampai - sampai memeras tenagamu hingga kini."


Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia tidak ingin berargumen lagi dengan Dini yang kini diliputi rasa marah , kecewa dan kesal.


" Terserah kamu, aku tidak ingin ikut campur dalam hidupmu. Aku hanya mengingatkan saja jika kamu ingin lelaki hebat dan kaya raya, kamu harus bisa memantaskan dirimu.Hanya itu yang bisa aku sarankan. Dan jika aku ataupun Vania membuat hatimu tidak nyaman atau membuat kamu iri, aku minta maaf. "


" Seharusnya aku yang meminta maaf karena dengki dengan kalian, aku yang salah. Maaf, huhuhu.... " Dini kembali menangis, rasa iri dan dengki yang menyelimuti dirinya kini berakibat fatal. Dia sempat terjebak dalam laki-laki yang mengaku dirinya kaya namun nyatanya bohongan belaka.


" Ayo kita tidur, aku lelah. " ajak Farah, ia mematik selimut hingga menutupi badannya.


" Tunggu sebentar, ada yang ingin aku tanyakan." Vania membuka selimut Farah


" Sepertinya pria gila itu menyukaimu, apa lu selingkuh Far?" tanyanya


"Ngomong apa sih kamu! aku dan Keken tidak ada hubungan lebih. Kita hanya berteman." jawab Farah dengan tidak suka


"Tapi aku melihat dia seperti menyukaimu dan itu sangat jelas dimatanya. Lu sih bo doh, nggak bisa membaca raut wajahnya. Yang ada dipikiranmu cuma si Hilman doang."


"Ya, aku memang bo doh! Puas!" Farah begitu kesal karena ada lagi orang yang menyebutnya bo doh


"Sorry, maksud gue bukan begitu, Far." Vania memeluk Farah dari belakang. " Jangan salah paham gitu dong."


"Gue nggak ikutan ah, mendingan tidur pura-pura budeg." Dini dengan cepat menarik selimut dan memejamkan matanya. Ia takut dengan semburan Farah yang pedas saat marah.


"Far... Farah... Maafin gue." Vania masih memelas, mengiba agar Farah memaafkannya. Namun Farah tidak bergeming, ia tertidur karena begitu ngantuk.


"Yaelah, ***** dia nempel molor." Vania melihat Farah yang sudah pergi ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2