
Akhirnya malam ini Khaffi datang ke kontrakan Farah setelah beberapa hari ini menolak datang. Ia malas berurusan dengan wanita hamil yang menurutnya sangat merepotkan. Dulu saat Kinan hamil ia harus menuruti keinginan kakaknya itu. Saat Hanin hamil juga beberapa kali ia disuruh Fafa untuk membeli sesuatu sesuai keinginan nyidam si ibu hamil.
"Kenapa ibu hamil selalu menjadikan anaknya sebagai alasan untuk memperdaya suami mereka. Ini masih menjadi misteri." gumam Keken dengan lirih
"Kenapa kau komat - kamit, memangnya kamu bertemu dengan hantu?" Kini Dini datang setelah Farah menelepon nya.
"Iya aku sedang merapalkan do'a karena detik ini ada setan dihadapan ku."Khaffi
" Sia lan!! Kamu pikir aku setan. "Umpat Dini." Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu ya, Fi! "ketusnya
Dan pria itu hanya menye-menye dengan gaya tengil nya.
" Ada apa sih kalian ribut - ribut, selalu saja tidak akur. " Farah keluar dari rumahnya. Ia sudah bersiap untuk pergi ke pasar malam.
" Dia dulu yang bikin masalah, bukan aku! "Dini
" Siapa juga yang bikin masalah denganmu, jangan sok cantik padahal lu nggak cantik, dibawah level lagi! "ejeknya
" Apa katamu?! "Seru Dini
" Sudah, sudah cukup. Aku meminta kalian kesini untuk menemaniku ke pasar malam bukan nya bertengkar dan adu mulut. "Sembur si ibu hamil.
" Khaffi, kenapa kau selalu sibuk. Aku kan ingin diantar kamu. "Farah sedikit kesal karena seminggu ini Khaffi selalu beralasan sibuk dan belum bisa menemani dirinya pergi.
" Aku sibuk bekerja dan kemarin aku sakit. "
" Benarkah. "
" Iya benar lah masa benar dong, duren saja dibela bukan dibedong "kelakar Khaffi
" Tidak lucu!! "Kali ini suara Farah dan Dini kompak menjawab.
" Kenapa perasaanku tidak enak berada di tengah - tengah mereka. "gumamnya dalam hati. Khaffi harus berjaga dengan segala kemungkinan terburuk.
Mereka berjalan menyusuri gang kecil menuju pasar malam. Jika tidak memotong jalan maka akan memakan banyak waktu untuk pergi kesana.
"Memangnya sakit apa? Kau sudah ke dokter?" Farah
"Hanya demam, kemarin aku muntah dan pusing. Kau tenang saja, aku sudah minum obat."
" Jika kau perlu sesuatu katakan padaku karena Dini siap membantu." Farah
__ADS_1
"Apa maksudmu?!" Kali ini Dini yang merasa disebut namanya merasa kesal, bagaimana tidak kesal, Farah menawarkan bantuan pada Khaffi tapi dirinya yang harus siap sedia.
"Kamu kan digaji Keken, kemarin saja dia transfer tiga juta untuk uang jajanmu bulan ini kan." Farah.
Dini hanya menghela nafas panjangnya, ia berencana menggunakan uang itu untuk bersenang-senang dengan Farah dan sebagian untuk uang kuliah.
"Jadi sekarang kamu asisten Farah?!" tanya Khaffi
" Iya, terserahlah mau bilang apa yang penting aku dapat uang tambahan yang halal. Bersih-bersih kontrakan Farah pun aku tidak masalah yang penting dapet duit." Dini memang tidak pernah gengsi, ia selalu melakukan pekerjaan apapun asalkan halal.
Khaffi menatapnya sekilas lalu mengambil sebuah rokok dari dalam saku celananya.
" Jangan merokok, ada ibu hamil! " Dini merebut rokok yang menggantung di bibir Khaffi, ia mengilasnya dengan keras.
"Ya ampun, galak sekali dia." Khaffi hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia lupa saat ini sedang bersama Farah. Memang benar tidak boleh merokok di dekat ibu hamil hanya saja cara Dini mengambil rokok nya terkesan kasar.
"Selalu salah saat bersama ibu hamil." gumamnya dalam hati. Dan Kini sampailah di tempat pasar malam. Hiburan murah ala keluarga menengah ke bawah. Ada beberapa permainan yang cukup menguji adrenalin seperti ombak laut dan bianglala kecil. Ada juga permainan anak-anak yang murah meriah, dengan tiket sepuluh ribu mereka bisa menikmati hiburan ini. Farah begitu senang saat melihat pasar malam, bahkan ia dengan semangat menyusuri jalan sembari membeli beberapa makanan.
"Jangan beli gorengan, ini tidak sehat." Khaffi tidak mengijinkan Farah membeli makanan itu karena melihat betapa hitam nya warna minyak goreng yang sudah beberapa kali dipakai.
"Aku mau itu dan tidak setiap hari aku memakan nya." kekeh Farah
Farah membeli gorengan itu dan langsung memakan nya. "Khaffi mau?"
"Big Nooooo!!" Melihat makanan nya saja membuat dirinya jijik apalagi jika harus memakan nya. Minyaknya begitu hitam legam, ngeri.
"Kamu itu aneh Far, masa nawarin gorengan sama Khaffi ya pasti tidak mau lah yang ada ntar dia jerawatan dan sakit perut, nggak level makan beginian!" sindir Dini sembari mengunyah gorengan itu.
Khaffi menatap masa bodoh akan sindiran halus dari Dini.
Mereka kembali berjalan dan melihat beberapa penjual baju. "Ayo kita lihat - lihat Din, mana tahu ada yang cocok." ajak Farah
"Oh ya ampun, aku kira mereka hanya bermain ternyata sembari belanja." lirih Khaffi. Ia benar-benar tidak menyukai pasar malam karena kumuh dan beberapa tempat tergenang air.
"Mana becek, nggak ada ojek, mereka pun jelek." lirih Khaffi sembari menatap kedua wanita itu.
"Aku mendengar gumamanmu, Khaffi!" Dini mendelik kearahnya.
" Kok si judes tahu kalau aku membicarakan nya." gumamnya dalam hati. Ia bergidik ngeri.
"Ini bagus tidak." Farah menunjukkan long dress longgar berwarna ungu muda. Ia membayangkan betapa cantiknya saat menggunakan pakaian itu.
__ADS_1
"Bagus, ini bisa kau pakai saat pergi ke rumah mommy Imelda, jangan pakai daster buluk terus." Dini
"Milih warna ungu dah kaya jendes aja!" sahut Khaffi. Namun sesaat kemudian ia ingat saat pernikahan Keken dulu, Fafa dan pasukan nya memberikan perabotan warna ungu sebagai hadiah pernikahan Keken. "Farah, semua barang warna jendes itu kemana? saat kalian menikah."
"Oh, perabotan itu. Aku taruh di kamar Keken. Entahlah, mungkin saja sudah dipindahkan ke gudang karena barang itu cukup banyak."
"Padahal kalau dijual laku tuh gerabah, bisa jadi duit." Khaffi
" Jangan dijual,akan aku pergunakan untuk modal awal. Mana tahu aku jadi buka usaha." Farah
"Sudah punya mertua kaya raya masih saja cari duit lu tuh enak duduk manis saja dapet duit dan warisan." Khaffi
"Siapa juga yang minta duit dan warisan mommy Imelda. Yang aku mau Keken bekerja keras untuk kami dan aku bisa membantu nya cari duit. Kita cari duit sama-sama bukan minta sama orangtua." Farah
"Dini, aku mau pakaian ini." sambung Farah lagi. " Cepat kau tawar."
"Baiklah tuan putri."
" Dih! Seorang menantu tante Imelda beli baju di pasar malem, kalau dia tahu tuh baju cuma buat serbet doang." Khaffi tergelak tawa
" Ini murah meriah dan bagus, enak saja mau dibuat serbet!"Farah tidak terima
" Ayo Din, tunjukan kelebihan dirimu. Tawar barang ini untukku, jangan dengarkan ucapan Khaffi. "pinta Farah lagi
" Siap. "Dini mulai mendekati sang penjual baju sembari menawar barang dagangan nya, penawaran cukup alot hingga beberapa kali penjual itu terlihat berwajah masam. Khaffi hanya bisa melolong saat melihat wanita judes itu menawar dengan begitu pelit.
" Harganya delapan puluh ribu Far."Dini meminta uang pada Farah.
" Good job, asyik dapat setengah harga. " Farah begitu kegirangan saat mendapatkan baju dengan harga sangat murah.
" Kalian bener-bener edan!! " Khaffi menatap tidak percaya, bagaimana bisa harga baju semurah itu. Dini benar - benar ahli dalam menawar barang.
" Eh, lu tahu. Kemeja Keken saja harganya tiga juta, dasi dia aja satu juta lalu bagaimana bisa baju sepanjang ini dihargai delapan puluh ribu." Khaffi.
" Kalau begini mendingan gue jualan baju, beli di tanah abang terus gue jualin tuh dengan harga butik. Cuan banget dah. "Otak dagang Khaffi mulai beraksi setelah melihat transaksi Dini.
" Boleh juga tuh, lu yang modalin gue yang jualin. Tapi jangan terlalu mahal ntar kagak laku. "sahut Dini
" Bagus, kalian memang sama-sama kompak dalam urusan bisnis, sama-sama otak duit. "Farah
Khaffi dan Dini terkekeh.
__ADS_1