Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 209


__ADS_3

Farah masih berwajah muram setelah kepergian keluarga Sam. Ia masih duduk disisi Keken namun matanya selalu melirik tajam.


Navysah dan Imelda kali ini pulang terlebih dahulu karena mereka ada keperluan di lain tempat. Imelda meminta Farah untuk menjaga Keken sebelum Feri datang.


"Ada colokan listrik gak sih?! Kesel gue lihat mata bini lu begitu." Khaffi menatap malas saat melihat Farah yang selalu menekuk wajahnya dan menatapnya tajam.


" Kalau lu cemburu sama gadis tadi mendingan lu ngomong deh!" Fafa menangkap raut wajah Farah yang selalu cemberut saat melihat gadis tadi.


" Iya aku cemburu dan kenapa kau bilang wanita itu cantik! " Farah menatap pada Keken meminta penjelasan.


" Memang wanita itu cantik, memang salahnya dimana. "Keken berkata dengan jujur


" Lalu aku cantik apa tidak?! "


" Tidak! "jawab Keken dengan jujur


Khaffi dan Fafa tergelak tawa bahkan sampai perutnya sakit, ini bukan Keken yang sebelumnya yang selalu berkata bahwa Farah cantik.


" Akhirnya kamu sadar juga kalau bini lu biasa aja. "Fafa


" Farah tidak cantik. "timpal Khaffi


Farah kian kesal membari mencubit tangan Keken dengan gemas." Dulu kamu bilang aku cantik dan manis kenapa sekarang tidak. "


" Benarkah aku pernah berkata kalau kamu cantik, ah sepertinya kamu berhalusinasi. "Keken


Lagi-lagi Khaffi dan Fafa tergelak tawa. Sedangkan Farah berkaca-kaca.


" Kau jahat! " Namun ia hanya merajuk tanpa bisa meninggalkan Keken. Farah harus sabar dan mengerti bahwa saat ini suaminya hilang ingatan.


" Khaffi... "panggil Farah


" Kok aku jadi tidak enak hati saat dipanggil Farah. "gumamnya dalam hati Khaffi. Dan benar saja wanita hamil itu ingin makan sesuatu yang hangat dan pedas.


" Lapar banget? "tanya Khaffi


Farah menganggukan kepala.


" Hei, Modosa!! Lu yang nabung bayi napa gue yang ribet. Awas saja kalau lu sembuh gue minta ganti rugi, bayar tenaga gue pakai mobil lu. "


" Modosa sudah kere, Fi. Mana ada dia punya mobil. " celetuk Fafa


" Bener juga ya, mobil Aphat itu kan milik tante Imelda. Ah, siapa tahu setelah ini si Modosa bisa balik lagi jadi kaya. "


" Modosa uangmu banyak kan? "


Keken hanya menggelengkan kepala.


" Ya ampun, dia cuma geleng-geleng sama manggut - manggut kaya si beo." gerutu Khaffi.


" Ya sudah aku beli makanan dulu. "


***


Tak lama kemudian Dini datang bersama Vania dan Chef Ardi. Mereka menjenguk Keken sembari membawa buah tangan.


"Ken, kau ingat aku?" tanya Dini


Keken menggelengkan kepala.


"Kau ingat kami?" tanya Vania

__ADS_1


Keken pun menggelengkan kepala.


"Lukanya cukup serius di kepala, ada sebagian memori nya menghilang."


"Keken, cepatlah sembuh." Dini bahkan menangis melihat wajah Keken yang datar tanpa ekspresi sangat berbeda dengan Keken yang selalu ceria.


" Ken, aku Dini teman Farah. Aku yakin kau bisa sembuh."


"Aku Vania dan ini chef Ardi, kami juga teman Farah."


"Maaf jika aku tidak kenal kalian."


"Tidak masalah, kami akan membuatmu mengingat kembali."


" Kau tahu sejak kau menghilang Farah selalu menangis dan tidak mau makan bahkan tidak peduli dengan kesehatan Ghani, untungnya kamu memiliki keluarga yang baik.Saat di rumah tante Navysah, Farah makan dengan baik dan mau tersenyum lagi. "


Keken melirik istrinya lagi.


" Aku bahagia kamu bisa pulang, jangan pergi lagi Ken kasihan Farah. "


Dan disaat yang bersamaan Khaffi datang membawa makanan.


" Yah, lu lagi lu lagi. "ucapnya saat melihat Dini.


" Dih! Emang gue seneng liat lu." Dini


" Apaan sih kalian, selalu berantem kalau ketemu dah kayak Tom jerry aja." Farah


" Kami tidak berantem cuma bosan dia lagi dia lagi. " Khaffi


" Ya sudah kalau begitu aku pulang saja! "rajuk Dini


" Eh, kok gitu. Baru juga sebentar, ayo temenin aku makan dulu. " Farah menahan tangan Dini agar tetap di ruangan itu.


" Aku kira kita cuma berempat jadi aku cuma beli sedikit. " Khaffi


Farah membuka kotak pizza dan menawarkannya pada semua rekan nya."


" Ayo kita makan rame-rame."


Mereka mengambil satu slice pizza dan makan bersama, namun saat Farah ingin menyuapi Keken pria itu malah terdiam.


"Kau kenapa?" tanya Farah


"Biar aku makan sendiri." Keken meraih pizza itu dan memakan nya sendiri. Entah kenapa dia tidak nyaman dengan keberadaan Farah yang selalu perhatian dengannya.


"Ken, kamu kenapa?" Lagi-lagi Farah melihat Keken termenung.


"Aku tidak apa-apa." ucapnya


Keken merasa tidak asing dengan situasi ini bahkan saat melihat pizza, kepingan memori mulai bermunculan bahkan Keken mengingat seorang gadis kecil yang senyumnya menenangkan. Kepala nya mulai sedikit pusing.


"Apa kau ingin minum?" tanya Farah


"Boleh." Keken menghirup nafas kuat-kuat berharap ia akan mengingat semuanya.


"Minumlah." Dengan sabar Farah membantu Keken minum


"Terima kasih." Keken sedikit lega setelah minum air mineral


"Ken, kau tahu Michelle tidak?!" Fafa

__ADS_1


"Kenal lah mana mungkin aku lupa dengan Michelle." jawab Keken


" Dia akan bertunangan dengan Axel bulan depan."


"Whatt!!" Keken terkesiap, " Dia selingkuhi aku?" tanyanya


"Maksudnya?" Fafa tidak mengerti perkataan Keken


"Michelle kan masih pacar aku, Fa!"


Semua orang terdiam dan saling menatap sedangkan Farah kembali meremas jari tangannya. Sakit.


" Keken, aku istrimu. Michelle mantanmu." Farah


"Benarkah? Maaf, aku lupa. Tapi aku akan berusaha mengingat semuanya."


Farah dengan cepat menggenggam suaminya dan tersenyum kecut. " Pelan-pelan pasti kamu akan ingat."


"Farah, aku ingin mengatakan sesuatu pumpung ingat. Kau tahu, seminggu yang lalu bapakmu datang dan menanyakan keberadaanmu dan Keken. Dia meneleponmu tapi tidak pernah terhubung lalu mencari rumah mertuamu tapi tidak tahu tempatnya."


"Handphoneku disita dan belum dikembalikan, aku akan menelepon bapak setelah Keken pulang dari rumah sakit." Farah


" Kenapa wajahmu seperti itu." Farah melihat Dini yang murung.


" Kau tahu kan pria yang selalu mengikutiku saat malam hari, kemarin aku hampir saja dibegal orang dan pria itu menolongku tapi sayangnya aku tidak mengenali karena dia memakai topeng hitam. Dia seperti pahlawan dan aku sangat berterima kasih eh ternyata dia langsung cabut sebelum aku mengucapkannya. Dia pasti pengagum rahasiaku, mungkin saja dia suka denganku tapi tak mau bicara. "Dini berkata dengan pede nya.


" Uhuk...Uhuk... "Khaffi tersedak saat makan pizza. Vania melirik pria itu dan merasa aneh karena gelagat Khaffi mencurigakan.


" Kau itu percaya diri sekali! Mana ada yang menyukai perempuan jutek sepertimu! " Khaffi


" Penggagum rahasia darimana, nungguin sapi bertelor dulu baru tuh ada pengagum rahasia untukmu." ejek Khaffi


"Kenapa kau yang sewot!!" Vania tidak terima teman nya diejek.


" Dini cantik, putih dan langsing pasti ada saja pria yang suka dengannya. Kamu saja yang tidak tahu karena Alvin, temanku menyukainya.


" A... apa maksudmu Van? kali ini Dini yang bingung


"Ya Alvin teman kerjaku suka denganmu. Saat kita video call dia melihatmu di layar ponsel dan dia tertarik denganmu yang apa adanya."


"Jangan - jangan dia melihat aku tidak pakai make up dan sedang ngupil." Ia ingat saat itu bervideo dengan Vania saat bangun tidur.


"Kau benar sekali, hihihi... si Alvin suka denganmu."


"Dih! Gadis jorok seperti itu disukai kayak nggak ada wanita lain di muka bumi ini!" cibir Khaffi


"Kalau kamu cemburu bilang saja!" Vania mendelik kesal


"Dih! hellowwww... ngapain cemburu tidak akan. Memangnya dia siapanya aku." ejek Khaffi


"Eh, perlu kamu tahu ya lusa gue bakal kenalin si Dini sama Alvin yang kaya raya. Dia pantas dapatkan pria baik dan tentu saja itu bukan kamu!" Kali ini Vania beradu mulut dengan Khaffi. Ia benar-benar membela Dini


"Emang gue pikirin!"


" Stop!!!" Keken merasa pusing dengan perdebatan mereka, " Kalian pulanglah, aku pusing melihat kalian bertengkar."


Keken merebahkan dirinya di ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Kamu sih!" Vania masih melotot pada Khaffi lalu Ardi merengkuh tubuhnya. "Sabar sayang."


Khaffi hanya menye-menye seperti biasa.

__ADS_1


"Wanita memang selalu begitu, tidak mau disalahkan." lirih Khaffi sembari keluar ruangan.


__ADS_2