Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 6 (Rumah bagai neraka)


__ADS_3

Satu hari berada di rumah sendiri serasa orang asing, itu yang dirasakan oleh Farah. Sejak pagi ibu tirinya tidak sekalipun mengulas senyum untuknya apalagi menawarkan Farah untuk sarapan.


Mereka tinggal dalam satu rumah namun seolah tidak saling mengenal, tak ada tegur sapa untuk anaknya yang baru saja menginap semalam. Ini sudah biasa Farah rasakan dan ayahnya sejak pagi sudah berangkat kerja hingga Farah tak sempat melihatnya pagi ini.


Sepulang dari toko sepatu Farah hanya bergulung di kamarnya bersama Aisyah, sedangkan Fadil pergi bersama temannya entah kemana.


Disaat Farah dan Aisyah tertawa keras di dalam kamar, ibu tirinya masuk tanpa mengetuk pintu dan hanya berdiri berkacak pinggang dan melihat tawa renyah anaknya.


"Menginap berapa hari?" tanyanya tanpa menyebutkan nama anak tirinya.


"Nanti sore juga aku pulang." jawab Farah tanpa melihat kearah ibu tirinya.


"Baguslah, tidak usah terlalu lama disini." ucapnya dengan sinis seperti biasa


Aisyah cemberut mendengar sang ibu dengan sengaja mengusir kakaknya. " Biarkan kakak tinggal disini bu, kenapa sih ibu selalu tidak suka dengan kakak? "


"Kamu tidak tahu apa-apa anak kecil, lebih baik diam!" hardik sang ibu dengan suara meninggi


"Pelankan suara tante, jangan sampai Aisyah terkena serangan jantung." Farah menatap ibunya tirinya dengan berani, sekarang tidak ada rasa takut padanya. Ia lebih suka memanggil tante daripada ibu karena menurut Farah ia tidak pantas dipanggil seorang ibu.


"Kakak tenang saja, Aisyah sudah terbiasa melihat ibu marah - marah." bisiknya di telinga Farah


"Sedang apa kalian bisik - bisik!" sentak ibunya dengan tidak suka melihat kedua anaknya saling berbisik


" Begini salah, begitu salah. Issshhh... Ibu selalu begitu, malu bu kalau teriak mulu dan kedengeran tetangga." cebik Aisyah, ia tidak suka jika suara ibunya terdengar hingga luar rumah dan menjadi bahan gunjingan orang.


" Pokoknya aku tidak mau kalau kamu nikah lalu membebani kami,kalau kamu ingin nikah kamu harus usaha sendiri dengan uang pribadimu!" ucap sang ibu tanpa menghiraukan ucapan Aisyah


" Ayah sudah tua, tidak punya banyak tabungan. Kamu harus tahu diri!"


Farah membereskan tas ranselnya dan bersiap untuk pulang ke rumah kos nya. Ia sudah tidak tahan dengan suara ibu tirinya.


" Heh...! Kamu dengar tidak!!!" teriak sang ibu hingga membuat Farah dan Aisyah sedikit terkejut karena lengkingan suaranya.


" Ibu apaan sih! " Fadil yang baru saja datang dengan cemilan di tangannya langsung masuk ke dalam kamar, ia mendengar ibunya berteriak.


" Ibu tidak pantas bicara seperti itu dengan kakak." ucapnya dengan tidak suka


" Kakak sangat sayang pada kami, kenapa ibu selalu memperlakukan kakak seperti itu!" lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Bisa tidak, sih! Ibu tidak berteriak. Aku malu bu dengan tetangga dan teman - temanku. Apa aku harus berteriak juga untuk membalas perlakuan ibu, tidak kan?"


" Ibu selalu bilang kita harus bersikap sopan dengan orang yang lebih tua, harus sopan saat bicara dengan orang lain tapi aku tidak melihat sikap sopan ibu dengan orang lain. Ibu selalu marah, berteriak, terkadang berani sama bapak. Jadi sikap mana yang perlu Fadil contoh dari ibu, malu bu. " akhirnya Fadil mengeluarkan semua kekesalannya tentang sikap sang ibu.


" Fadil!! Kau!!! " ibunya bergerak maju untuk merangsek tubuh Fadil. Ia ingin mencubit telinga anaknya seperti biasa jika melakukan kesalahan.


" Jangan pernah kasar dengan adik-adikku, apalagi sampai memukulnya. " Farah menarik tubuh Fadil agar berada di balik tubuhnya.


" Tante boleh marah padaku dan mencaci maki diriku tapi jangan pernah memukul Fadil dan Aisyah! Jika aku tahu tante melakukannya, tidak peduli anda ibu kandung mereka, akan kupastikan tante aku laporkan ke polisi!" ancam Farah


"Sudah berani mengancam aku! Sudah hebat kamu rupanya!" ucapnya dengan sinis sembari berkacak pinggang


" Aku hanya mengingatkan tante saja, anak dilindungi oleh negara. Dan tidak boleh ada kekerasan di dalam rumah. Undang - undang perlindungan anak siap menanti anda jika anda melakukan kekerasan. " Farah begitu marah hingga dia selalu menyebut kata Anda pada ibu tirinya.


" Ingat! Kekerasan tidak hanya secara fisik namun secara verbal. Sepatutnya anda memberikan contoh yang baik sebagai seorang ibu, walaupun tidak padaku tapi setidaknya pada anak kandung anda sendiri. "


" Dasar anak pembawa sial!! Seharusnya kamu sudah mati sejak dulu! " umpatnya dengan kesal


Farah hanya bisa berkaca-kaca, seperti biasanya ibu tirinya akan mengumpat dan memaki dirinya.


" Ibu...!! "teriak Fadil, ini pertama kalinya Fadil berteriak keras pada ibunya." Aku tidak suka ibu berkata tidak pantas seperti itu! "


" Fadil... "Farah mengelus punggung adiknya yang mulai naik turun karena emosi." Jangan berkata kasar sama ibu. " pinta Farah


" Biarkan kak, biar ibu sadar kalau apa yang selama ini dia lakukan salah. Rumah ini terasa kaku seperti neraka dan tidak ada kehangatan di keluarga ini!"


Aisyah mulai menangis, ia takut karena keluarganya saling berteriak.


"Aisyah, jangan takut ya, ada kakak disini." Farah memeluk tubuh adiknya dengan erat.


" Aisyah ingin ikut kak Farah saja, huuuuaaa..." ia mulai ketakutan karena ketegangan yang terjadi di dalam kamar.


"Lihat kan, Aisyah saja tahu mana yang baik dan mana yang benar." ucap Fadil lagi


"Ibu, kami butuh kenyamanan dalam rumah bukan teriakan!" sambung Fadil kembali.


Sang ibu keluar dari kamar Aisyah dengan perasaan marah bercampur malu apalagi saat melihat anak bungsunya terlihat ketakutan.


"Tidak apa-apa, Aisyah tenang saja ya." Farah mengelus punggung adiknya berkali-kali, mencoba menenangkan perasaan Aisyah yang sempat terguncang

__ADS_1


"Kakak pulang dulu ya, Fadil jaga Aisyah." ucapnya setelah melihat Aisyah tenang.


" Tidak bisakah kakak tinggal disini saja, Aisyah ingin kakak disini." pinta Aisyah


"Tidak bisa Aisyah, kakak harus pergi. Kakak juga harus bekerja agar Aisyah dan Fadil bisa sekolah dengan nyaman. Do'ain kakak agar selalu sehat dan punya banyak uang, nanti kita bisa jalan - jalan lagi seperti tadi siang. Oke.."


"Tapi kakak janji ya harus sering main kesini."


"Insya allah." Farah mencium kening adiknya dengan lembut, "Ai, apapun yang tadi ibu lakukan pada kakak jangan sampai kamu membenci ibu ya. Ibu sangat sayang sama Ai, bapak juga sayang sama Ai, jadi kamu harus jadi anak baik.Harus lebih baik dari sikap ibu."


"Iya kak, Ai juga sayang sama kakak." ia membalas pelukan Farah,


" Kakak pulang dulu." Farah menggendong tas ranselnya


"Ini untuk kakak." Fadil menyerahkan satu kantong plastik makanan untuk kakaknya


"Apa ini?"


"Batagor Mang Ucup kesukaan kakak." Fadil tahu kakaknya suka batagor itu.


"Makasih adikku." Farah mencium pipi Fadil


"Ih, apaan sih kak. Malu tahu." Fadil tersipu malu, wajahnya terlihat merah merona saat dicium oleh kakaknya.


"Baru dicium kakaknya saja merah seperti itu apalagi dicium pacarmu, dil." goda Farah sembari menggulum senyum


" Fadil nggak mau pacaran, Fadil ingin lulus sekolah dan kuliah yang yang rajin agar kakak bangga denganku dan nantinya aku ingin kerja dan memenuhi segala keinginan kak Farah agar kakak bahagia" ucapnya dengan semangat. Kali ini ia memiliki alasan kuat untuk semangat belajar.


Farah mencelos, hatinya berdesir mendengar perkataan adiknya yang sungguh - sungguh. Tak pernah dibayangkan olehnya bahwa Fadil memiliki pemikiran yang dewasa bahkan ingin membahagiakan dirinya.


"Kakak pulang dulu." ucap Farah lagi, ia tidak berani menatap wajah adiknya karena mencoba menahan air mata yang hampir jatuh di pelupuk matanya.


"Hati - hati kak, aku pasti kangen kakak. Nanti kakak datang lagi kan" Aisyah menunduk sedih ketika Farah beranjak pergi.


"Iya sayang, kakak pasti kangen kalian.Kakak akan datang lagi walaupun tidak di rumah ini." Farah tersenyum getir


"Fadil, kakak sudah transfer untuk biaya kamu sekolah. Pergunakan uang itu sebaik mungkin, Assalamualaikum."


"Walaikumm salam, terima kasih kak." Fadil mencium takzim kakaknya

__ADS_1


__ADS_2