
Tiba saatnya keken pergi ke Singapura, sejak di perjalanan Farah selalu memeluk lengan suaminya seolah tidak ingin terpisahkan. Feri pun menatap jengah, saat melihat leher menantunya terbelit syal merah yang menutupinya. " Siang -siang terik begini masih saja pakai syal, pasti ada sesuatu dibalik kain merah itu. "Sindir nya
Keken tergelak tawa lalu menarik syal istrinya sedangkan Farah menahan malu. " Apaan sih, Ken! "
"Sudah lah dibuka saja, kau tidak perlu malu sama kami. " Feri mengulum senyum
" Ini perbuatan anak papih padaku. " Farah menutup wajahnya, jejak kepemilikan keken begitu terlihat dan banyak sekali. Memalukan.
" Itu leher bukan kanvas gambar, Ken! " Imelda akhirnya menyahut , putranya benar-benar keterlaluan begitu jahil pada istrinya.
"Terakhir mah, terakhir bersama Farah. " Keken
" Kamu selalu bilang terakhir tapi nyatanya begini terus. Minta terus. "Keluh Farah, sudah dia hari ini dia dibodohi keken terus dan menerima semua ajakan nya, melayaninya secara terus menerus.
Keken tertawa keras, memang dia biang keladi atas semuanya. Senang sekali mengerjai Farah disaat terakhir.
" Ternyata putraku lebih ganas dariku. " Lirih Feri sembari melirik Imelda
" Tidak perlu menatapku seperti itu, kita sudah tua dan aku malas melakukan hal seperti itu. " Imelda tahu tatapan suaminya itu untuk meminta jatah
Feri tergelak tawa, Imelda benar-benar tahu apa yang diinginkan nya.
Mereka bercengkrama hingga tidak terasa sudah sampai di bandara.
"Pakai syal nya lagi. " Keken memasang kembali kain untuk menutupi leher istrinya
"Aku akan berdo'a agar kamu segera pulih dan kita bisa kembali bersama. " Farah kembali menangisi suaminya
"Sudahlah jangan menangis, aku akan baik-baik saja. " keken memeluk tubuh istrinya untuk terakhir kali.
" Keken, huaaaa.... " Tangisan Farah pecah saat Keken mengecup keningnya
"Cuaca begitu terik tapi kenapa di depan ku begitu mendung. " goda Keken
"Aku mendung karena kamu, kamu dan kamu. " dengus Farah, sedangkan keken terkekeh.
" Jaga bayi ini, aku akan pulang jika memungkinkan. " Keken
" Kenapa aku begitu menyedihkan, hamil ditinggal suami kerja dan saat persalinan suamiku tidak bisa mendampingi ku, huaaa... "
"Sabar lah, ini demi aku. " Keken
__ADS_1
Mereka saling berpelukan di saat terakhir, namun aroma busuk tercium begitu saja.
"Kamu kentut ya? " tebak keken sembari menutup hidungnya
Farah hanya meringis memperlihatkan gigi putihnya, tanpa merasa berdosa.
"Sudah kuduga! " Keken menatap malas suasana perpisahan yang sedih kini berubah ambyar karena ulah Farah, sudah beberapa hari ini istrinya suka buang angin sembarangan dan bau, dia juga sering buang air kecil.
"Kelepasan ,Ken. Tidak bisa dikondisikan. " Farah berkata dengan enteng nya
"Untung bini gue, kalau tidak sudah aku tenggelam kan ke dasar lautan. "
Farah terkekeh.
Imelda dan Feri datang, mereka sudah selesai menyiapkan bagasi dan segalanya.
"Mommy dan papih pergi dulu, jika kau perlu sesuatu katakan pada pengawal dan bibi. Jika ada hal mendesak telepon mommy. " Imelda memeluk menantunya untuk yang terakhir kali
"Iya mih, semoga operasi mommy lancar juga. Aku akan berdoa dari sini. "
"Aamiin."
"Papih pergi dulu, jangan lupa makan yang banyak dan jaga cucu papih. " Feri menyentuh lembut rambut menantunya
" Buat apa anak ini dititipkan, papih akan jual dia di Singapura dan mommy mu akan papih masukan panti jompo. "kelakar Feri
" Jika kau berani berani melakukan seperti itu jangan harap bisa kembali ke Indonesia! " ancam Imelda
" Bagus mih, kita masukan saja papih ke ruang tahanan disana dan di penjara seumur hidup seperti Made Mahendra. " Keken mendengar berita terakhir bahwasanya musuhnya itu dipenjara seumur hidup, mendekam di jeruji besi atas tindakan kriminal nya.
Feri tergelak tawa, berurusan dengan singa betina memang mengerikan. Ancaman Imelda bukan sekedar isapan jempol belaka, mengingat sekarang musuh anaknya hidup sengsara
" Pengawal, bawa Farah pulang. "perintah Keken lalu ia mencium perut buncit istrinya.
" Aku pergi dulu "
"Hati-hati Ken. " Farah. Ia pun tak, lupa mencium takzim tangan papih dan mommy nya. Ia pulang dengan berderai airmata
****
Farah menghela nafas panjangnya saat pulang ke mansion Imelda. Rumah besar itu terasa sepi dan Farah merasa sendirian.
__ADS_1
" Non mau makan? "tanya seorang bibi, " Saya yang akan membantu segala keperluan non Farah karena bi Tini ikut dengan Nyonya Imelda
" Aku ingin ke rumah ayah. "satu permintaan yang keluar dari mulut Farah
" Tapi non, sebaiknya non makan dulu agar bayinya sehat. " Bibi mulai merayu, seperti yang pernah Keken ajarkan saat Farah tidak mau makan maka anaknya yang menjadi alasan.
Farah menurutinya, toh tidak salah juga. Dia harus sehat dan kuat untuk menjalani hidup.
" Setelah makan aku ingin ke rumah ayah. "pintanya lagi
" Baik non, bibi akan menyiapkan segala keperluan nya.
Dengan cepat Farah melahap semua makanan yang telah dimasak asisten rumah tangga,lalu pergi dari mansion.
"Kenapa nona tidak tidur sehari saja di rumah kan pasti nona lelah seharian pulang pergi terus? tanya bibi bernama Nur yang kini menemani nya pergi
" Jika aku berada di mansion itu maka aku akan selalu mengingat Keken dan kangen dengan nya. "jawab Farah
" Aku selalu rindu Keken bi, jika aku disana maka aku bisa gila dan menginginkan suamiku pulang cepat. "
"Belum sehari ditinggal oleh nya namun bayangan dia selalu nampak di mataku, huhuhu... " Farah menangis kembali
"Sabar non, tenang. Dengan keken pergi untuk pengobatan dan nantinya non yang akan senang jika dengan keken sembuh. "
"Aku harap juga begitu, keken cepat sembuh dan bisa berkumpul bersama kita lagi. "
"Bi Nur dan bi Dian akan tinggal di sekitar rumah ayah dan pasti itu akan merepotkan kalian, daripada sewa rumah dan uangnya mubadzir lebih baik kalian pulang saja ke mansion bersama kedua pengawal. Aku pasti baik-baik saja kok di rumah bapak. " Farah
" Nona tidak perlu khawatir karena kami tidak menyewa rumah tapi tuan Feri yang membeli rumah itu. "Kali ini pengawal yang menjawabnya
" What!! Papih membeli rumah itu. "Farah terkesiap karena mertua nya tidak mengatakan apa-apa tentang rumah itu.
" Iya nyonya, rumah itu sudah dibeli dan sertifikat sedang diurus, rumah itu atas nama nona Farah. "
" What!!" Lagi-lagi dirinya terkejut bahkan kali ini membuat tubuh nya lemas tidak bertenaga. Tidak terbesit sedikitpun untuk memiliki rumah pak Irwan yang begitu megah apalagi sertifikat itu atas nama dirinya. Farah seperti mendapatkan durian runtuh.
"Bi.. bibi... tolong pukul pipi aku, ini beneran tidak sih aku akan mendapat rumah pak Irwan yang begitu megah,dulu memimpikannya pun tidak. "
Bibi mengulum senyum, nona Farah begitu lucu dan polos. Ia menowel pipi majikan nya yang chubby.
"Ternyata ini beneran ya bi, aku tidak menyangka papih sebaik ini padaku. " Farah berkaca-kaca kembali
__ADS_1
"Tentu saja tuan sayang karena nona pun tidak banyak permintaan dan sangat perhatian dengan tuan muda. "
Farah masih dalam mode mengulum senyum hingga sampai ke rumah keluarga bapak.