Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 161


__ADS_3

Keken sudah terlihat rapi dengan setelan jas nya. Hari ini dia akan pergi ke kantor Selatan dan menghadiri rapat. Sejak pagihari Farah sudah menyiapkan makanan untuk suaminya dan berharap Keken mau makan masakan nya. Ia melihat Keken dan Inha berjalan bersama dan itu membuat ia sedikit cemburu.


"Keken terlihat sangat tampan." ucap Farah dalam hati.


" Kau sudah membawa dokumen nya?" tanya Imelda lalu melirik menantunya yang sedang menata meja makan.


"Sudah mih, tenang saja."


"Bagus, jangan membuat mommy kecewa untuk kedua kalinya. Pergunakan kesempatan emas ini dan lakukan yang terbaik. "


"Iya mih."


"Ken, duduklah." Farah menarik sebuah kursi untuk suaminya seperti yang Inha lakukan kemarin.


" Aku sudah memasak untukmu." Farah memperlihatkan senyuman manisnya agar Keken luluh.


Keken melihat nasi goreng dengan telur dadar dan secangkir kopi. Makanan yang biasa Farah sajikan untuknya saat sarapan di rumah petak.


"Ayo mas kita makan." Inha


"Aku tidak selera, aku akan sarapan di kantor saja." Keken tahu ini akan menyakiti perasaan Farah tetapi ia harus kuat karena ini sebagian dari rencana Khaffi.


Farah mengigit bibir bawahnya, usahanya untuk meraih hati Keken gagal sudah. Dan Imelda melihat raut wajah Farah yang kecewa.


" Pakailah mobil mommy untuk hari ini." Imelda merasa kasihan dengan anaknya jika harus memakai sepeda motor.


"Tidak mih! Aku akan naik taxi, aku masih dihukum dan harus tahu diri." Keken mencium takzim tangan ibunya lalu kearah Inha yang mencium takzim tangan nya dan langsung pergi tanpa menoleh kearah Farah.


"Mas...." Inha mengejar Keken yang tidak memperdulikan istrinya, ini bukan sifat Keken, pikir Inha. Ia ikut sedih saat melihat Farah berkaca-kaca bahkan wanita hamil itu masuk ke dalam kamarnya.


Imelda hanya bisa menghela nafas panjangnya, beberapa hari yang lalu ia meminta Keken untuk bersikap lembut Farah dan mau berbaikan lagi namun anaknya menolak. Imelda juga sedikit bersalah karena memberikan ijin agar Farah mengejar mimpinya, merasa ikut andil dengan kekisruhan rumah tangga anaknya.


"Aku tidak tahu masalahmu mas tapi berbaik hatilah sedikit pada kak Farah, kasihan dia."


"Jangan membuat dia stres, dia sedang mengandung anakmu mas." sambung Inha lagi. Ia juga seorang perempuan dan tidak bisa melihat hal seperti ini.


"Ini urusanku, jangan ikut campur." Keken melangkah pergi, bahkan saat ia berkata wajahnya terlihat serius.


" Mungkin saja kesalahan Farah begitu besar hingga mas Keken sulit memaafkannya. Aku tahu dia tidak akan bersikap seperti ini, mas Keken orang yang baik dan pemaaf. "


Inha yang selesai sarapan ingin mengunjungi kamar Farah, ia membawa beberapa makanan dan jus buah namun langkahnya terhenti saat melihat kamar Keken terbuka dan mendengar suara mommy Imelda dari luar.


" Maafkan aku mih. " Farah menyesali semua kejadian ini, andai saja dia nurut dengan Keken pasti pria itu tidak akan sedingin ini padanya.


"Mommy juga salah, kamu tenanglah. Keken masih belum bisa menerima kejadian ini, untung saja bayi ini selamat jika tidak, dia pasti akan ___" Imelda tahu betul karakter anaknya. Saat Keken marah dia akan bersikap dingin dan tidak ingin diganggu.


" Keken akan membenciku jika bayiku ini tidak selamat." Farah mengelus perutnya


" A... aku ingin meminta maaf pada Keken dan kita bisa kembali seperti semula mih."


"Kau ingin kembali seperti semula? Apa kau sudah mencintai Keken? tanyanya dengan menyelidiki


"A...aku..."Farah terdiam, tak tahu apa yang akan dikatakan.


" Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, mommy tidak akan memaksamu jika kamu tidak ingin menjawab. Sekarang makanlah, mommy tidak mau bayi ini kelaparan. "


Farah menganggukkan kepala, sejak kejadian kemarin ia benar-benar ingin menjaga bayinya. Tidak mau sesuatu terjadi dengan anaknya lagi."


"Besok mommy harus ke Bandung, restoran cabang sedang bermasalah,mommy harus kesana dan mengecek ya. Ada Inha, jika kau butuh sesuatu katakan padanya."


"Iya mih."


"Ayo makan, agar kamu sehat. Masalah Keken jangan terlalu dipikirkan."


Farah mengangguk walaupun hatinya masih galau karena Keken masih belum memaafkannya namun Ia makan dengan lahap dan Imelda melihat itu, ia merasa lega karena Farah lebih penurut tidak seperti sebelumnya.

__ADS_1


* **


Keken terlihat serius saat mengerjakan pekerjaan nya. Ia bersyukur karena bisa masuk kembali ke dalam perusahaan walaupun masih dalam tahap awal.


Ia berjanji tidak akan membuat kesalahan lagi, beberapa bulan ia hidup sederhana membuat dirinya sadar bahwa mencari uang itu susah dan ia butuh pekerjaan tetap untuk menghidupi anaknya. Berulang kali Keken memikirkan tentang Farah, bagaimana keadaannya namun saat mengingat kembali sifat istrinya yang keras kepala dan hampir saja mencelakakan calon bayinya maka rasa sakit itu kembali lagi.


"Aku masih mencintainya tapi hatiku belum bisa menerima kesalahan Farah kali ini" gumam Keken, ia kembali melanjutkan pekerjaan nya yang masih menumpuk dan sesaat kemudian Fafa masuk ke ruangan nya.


"Selamat datang kembali di kantor ini, Pangeran Modosa." Fafa merentangkan tangan seolah ingin memeluk sepupunya.


" Hmmm..."


"Dih! cuma gitu doang reaksinya, memangnya kamu tidak suka kerja di kantor ini lagi?"


"Suka Fa, saking sukanya lu ngasih kerjaan segini banyaknya." sindirnya.


Fafa tergelak tawa, memang di hari pertama Keken bekerja ia sengaja memberinya banyak tugas.


"Dimana si kulkas? Apa dia sudah sembuh?"


"Dia sedang dipinjam mas Raffa ke kantornya. Ada beberapa hacker yang ingin meretas perusahaan mas Raffa."


"Kau pikir si kulkas itu barang." gerutu Keken


"Karena aku sebal dengan nya, selama ini dia dekat dengan si cerewet. Sejak Inka kerja paruh waktu disini, dia selalu mencuri waktu."


"Aku yakin bukan Antoni yang mencuri waktu tapi adikmu yang cerewet itu, jadi jangan menyalahkan si kulkas karena aku yakin dia tidak tertarik dengan Inka. Kau juga tahu itu kan." Keken mengenal sifat Antoni yang tidak memiliki perasaan dengan Inka justru gadis itu yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.


Fafa hanya bisa menghela nafas panjangnya, memang sebenarnya adiknya lah yang suka menggoda Antoni, bukan pria itu.


"Sudahlah jangan melamun seperti itu." Keken melihat Fafa yang terdiam seolah berpikir. "Nikahkan saja mereka segera."


"Tidak akan! Aku tidak akan merestuinya. Memangnya si kulkas punya harta apa sampai dia mau menikahi adikku. Big No!" Entah kenapa Fafa tidak bisa merestui hubungan mereka.


"Sekali tidak tetap tidak!! Adikku harus mendapatkan pria yang lebih mapan dari dia. Kau tahu kan si Inka ratu belanja, dia boros dan suka menghamburkan uang."


"Seperti dirimu?"


"Isshh... kenapa kau menyindirku ." gerutu Fafa


" Aku bicara kenyataan Fa, daripada ntar kaya gue, mending nikahkan saja mereka. Tadi malam Inha cerita tentang si cerewet yang mulai berani mencium Antoni."


"Apaaaa!!!" Fafa terkesiap, ia tidak menyangka adiknya seberani itu.


"Jadi si judes menginap di mansion mommy Imel, pantas saja dia tidak pulang."


"Bagaimana Inka bisa mencium si kulkas itu?" Tanya nya penasaran.


Keken menceritakan apa yang ia dengar dari Inha.


Flashback On


Saat itu Inha tidak sengaja mengunjungi kantor Fafa karena ada titipan dari Hanin yang harus diberikan padanya, namun Inha tidak mendapati kakaknya di kantor namun saat ia melewati ruangan Antoni, ia sempat mendengar suara wanita yang sedang berbicara cukup keras, Inha sempat tidak peduli namun setelah ia dengarkan kembali suara wanita itu ternyata tidak asing, ia memutar tubuhnya dan kembali ke depan pintu Antoni dan karena pintu itu sedikit terbuka dengan berani Inha membukanya perlahan. Ia melihat kembarannya mencium pipi Antoni dan wajah Inka terlihat seperti habis menangis.


" Apa yang kalian lakukan?" tanya Inha dengan keras.


Inka terbelalak aksinya dipergoki kembarannya, ia mulai panik sembari menghapus jejak airmatanya.


"In... Inha,ini tidak seperti yang kamu kira." Inka terbata


Ia pun melirik kearah Antoni yang hanya diam dengan raut wajah yang datar.


"Ada yang ingin kamu jelaskan?" tanya Inha pada pria itu.


"Tidak ada nona."

__ADS_1


" Aku tidak menyangka kalian berbuat me sum seperti ini. Dan kamu Inka, aku akan bicara dengan mama agar dia tahu kelakuanmu di luaran."


"Ja... Jangan!! Aku tidak mau mama tahu." Inka memegang tangan adik kembarnya dengan erat.


"Aku mohon. Ini yang terakhir." pintanya


" Apa maksudmu ini yang terakhir, jangan - jangan ada yang pertama?!" Inha menatap tajam kembarnya, tidak habis pikir dengan Inka yang selalu bersikap seperti ini.


"Ti... tidak!!! bukan seperti itu. Aku akan menjelaskannya tapi tidak disini. Jangan bilang keluarga kita kalau aku bersama Antoni." Inka memohon dengan sangat dan wajah yang memelas.


"Jelaskan padaku baru aku pertimbangkan." Inha pergi dari ruangan itu dengan hati kesal. Ibunya selalu mengajarkan kebaikan dan melindungi diri dari pria, namun Inka selalu mengabaikannya.


"Andai saja mama tahu, dia akan kecewa padamu, Ka." gumamnya dalam hati.


Flashback Off


"Kurang ajar si Inka, aku harus bilang mama agar si Inka mendapatkan pengawalan lebih."


"Enak saja si Antoni dapat ciuman dari adikku, aku tidak terima." geramnya


"Bukan dia yang harus disalahkan tapi adikmu yang celamitan." ucap Keken dengan santai.


"Kenapa kamu membela si kulkas itu!" geram Fafa


"Lu tahu kan si kulkas no respon, mana ada kucing yang nolak dikasih ikan asin!" Keken. " Kamu juga sering mencium banyak wanita, kenapa kamu yang marah saat adikmu mencium pria lain. Dia juga sudah dewasa."


"Dia memang sudah dewasa tapi aku tidak suka adikku jadi bahan percobaan pria."


"Nyatanya adikmu menikmatinya." jelas Keken


Fafa mendengus kesal, Keken selalu membela Antoni dan Inka memang sulit diatur, selalu bersikap sesuka hati. Teman pria nya lebih banyak daripada teman pria Inha. Fafa sedikit khawatir jika terjadi sesuatu dengan adiknya.


"Yaelah malah diem." Keken menatap sekilas pada Fafa lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.


" Sudahlah jangan membahas tentang si kulkas, bagaimana dengan Farah. Kau sudah memaafkan nya?"


Dan helaan panjang hanya terdengar dari Keken.


"Jangan seperti itu, maafkan Farah. Jangan buat dia stress yang akan berakibat fatal dengan bayimu lagi."


Keken melirik sahabatnya yang masih saja memberikan nasehat. "Sok tahu!"


"Yaelah kagak percaya,jangan dengarkan si Khaffi kupret itu. Dia belum menikah jadi pengalaman nya nol besar. Ikuti saja saranku, beri Farah kesempatan terakhir dan jika dia masih saja tidak bisa menerimamu baru ceraikan."


Keken hanya mendengar dan sibuk membaca berkas.


" Kau dengar aku tidak?!


"Aku masih punya telinga jadi aku mendengar, Fa."


" Aku tidak mau kamu menyesal, dan Aku yakin si Farah pasti memiliki perasaan untukmu."


"Sudahlah jangan membahas dia, aku jadi badmood." Keken menutup berkasnya dan menyesap kopi itu sejenak.


"Jangan lupa, lusa ada acara pernikahan Robi dan Dinan. kau harus datang."


"Memangnya mereka siapa?"


"Ya ampun, kau lupa. Dia anak dari direksi keuangan. Undangannya sudah aku titipkan pada mommy Imelda."


" Benarkah, mommy tidak mengatakan apapun mungkin dia lupa."


"Ya sudah aku balik dulu, jangan lupa selesaikan tugasmu dengan cepat karena masih ada setumpuk pekerjaan di meja sekretaris." Fafa berlari dari ruangan Keken dengan cepat dan benar saja teriakan Keken begitu menggema.


"Fafa sial*n!!!!" umpatnya dengan keras, "Kau ingin memanfaatkanku!!!"

__ADS_1


__ADS_2