
Di taman belakang, Antoni merokok dengan melihat pepohonan yang begitu rindang, ia menatap langit cerah yang sinarnya masuk melalui celah-celah ranting pepohonan. Dan disampingnya terdapat rumah pohon milik keluarga Tarzan yang dulu sengaja dibuat untuk memenuhi permintaan nyidam nya Hanin.
Rumah pohon itu sudah tidak terpakai beberapa bulan ini karena perut Hanin kian membesar. Hanin tidak diperbolehkan untuk naik ke rumah pohon nya.
"Antoni, a...aku___" Farah terbata
"Tidak perlu dijelaskan." potong Antoni, " Aku tidak ingin ikut campur hubunganmu dan Hilman. Aku tidak akan memberi tahu dirinya tentang hari ini. Dan sebaiknya kamu yang harus berkata jujur padanya."
"Aku tahu." Farah menghela nafas panjangnya.
" Hari ini aku berbohong sama bang Hilman." Ia menunduk lesu.
" Terima kasih atas pengertiannya, aku yang akan memberitahukan padanya kalau hari ini aku ke butik tante Navysah untuk melihat gaun pernikahan." Farah sedikit lega karena Antoni tidak banyak bicara dan tidak ikut campur tentang hubungannya bersama Hilman.
" Jangan berhubungan dekat dengannya, cepat selesaikan urusanmu dan menikahlah dengan Hilman. "
" Aku hanya asisten Keken, tidak lebih An. "jelas Farah
" Itu bagimu bukan baginya. "ucap Antoni tanpa melihat kearah Farah
" Maksudnya? "
" Sudahlah, kamu tidak perlu tahu. Sekarang yang penting jangan terlalu dekat dengan pria lain, semakin mendekati hari pernikahan akan semakin banyak godaan. Aku harap kalian bisa menikah secepatnya dan bahagia. Ingat, jangan mau diajak pria gila itu pergi, jauhi dia mulai sekarang. "
"Terima kasih kak Antoni sudah memberi nasehat padaku, aku akan berusaha menghindarinya." Farah
Antoni sesekali melirik Farah, perasaannya sudah tidak enak saat di dapur, Keken menatap Farah dengan penuh cinta. Tatapan yang tidak pernah Keken lakukan untuk gadis lain. Keken memang playboy, ia berganti pacar hanya untuk kesenangan bukan untuk serius. Dan sepertinya kali ini Keken benar-benar mencintai gadis ini. Antoni hanya bisa menarik nafas panjangnya dan menghisap sisa rokok.
Dan dari kejauhan teriakan Keken begitu keras memanggil Farah.
" Farah...!!! Kamu kemana saja, sih! Itu kamu dipanggil si judes di dapur. Sekarang! "
__ADS_1
" Si judes? " Farah mengenyitkan dahi, ia tidak tahu yang dimaksud Keken
" Maksud aku si Inha." sahut Keken, namun matanya melirik Antoni yang sedang menghisap rokok, seolah pria itu tidak peduli dengan kedatangannya.
" Iya aku kesana. " Farah dengan sedikit berlari pergi menuju dapur untuk menemui Inha.
"Kita perlu bicara." ucap Keken setelah Farah pergi.
"Aku rasa kamu sudah tahu semuanya tanpa aku jelaskan." Keken duduk di samping Antoni sembari mengeluarkan rokok dari saku kemejanya
" Bukan urusanku." tegas Antoni tanpa melirik Keken.
" Aku tahu, tapi gadis itu mengenalmu dan kau teman baik tunangannya. " Keken menyesap dan menghembuskan udara dari mulutnya hingga kepulan asap terlihat begitu pekat
"Apa tidak ada gadis lain hingga kamu ingin merebutnya." Antoni tidak peduli saat ini berhadapan dengan Keken yang notabene atasannya di kantor, karena saat ini dia berada di luar maka status mereka sama, yaitu sahabat.
"Kali ini aku serius dengannya."
"Aku memang br*ngsek karena aku ingin yang terbaik. Dan aku menemukannya pada dia." Keken menatap jauh, sembari menghela nafas panjangnya. Baru kali ini ia mencintai seorang gadis diwaktu yang tidak tepat.
" Lebih baik cari yang lain saja, mereka akan menikah dan berbahagia. Jangan jadi pebinor."
"What...!!! Pebinor, perebut bini orang. Yang benar saja, gadis itu masih single dan belum menikah, sebelum janur kuning melengkung dia masih milik umum." kekeh Keken
" Jauhi dia jangan menjadi orang ketiga yang merebut kebahagiaan mereka, aku tidak melihat cinta dimatanya untukmu. "
Keken meremas jari tangannya dan menatap pria disampingnya dengan rahang mengeras." Aku tidak mau menjauhinya, aku yang akan melindungi, memberikan kebahagiaan untuknya lebih dari pria itu dengan begitu matanya akan memancarkan cinta untukku. Hanya untukku!"
Dan disaat kedua pria itu saling menatap tajam, terdengar suara cempreng seorang wanita yang bisa ditebak tanpa harus melihat wajahnya.
" Apa yang sedang mas Keken lakukan pada pacarku. "Inka yang baru saja pulang dari tempat konveksi kini melihat dua orang yang saling menatap tajam seolah ingin memangsa.
__ADS_1
" Cih! pacar katamu, sejak kapan kalian pacaran. Emang kamu mau pacaran dengan pria yang modelnya beginian. Cuek, diam, dingin,nggak ada senyuman sedikitpun." Keken menatap tidak suka dengan Antoni yang kali ini menjadi viral nya.
"Maulah, mas Keken saja yang belum tahu kalau kak Antoni itu begitu tampan dan sekali dia senyum bikin klepek-klepek hatiku, hehehe..." Inka cengengesan dengan gaya khas nya.
" Makanya kalau makan jangan kebanyakan micin jadi halu nya nggak kebangetan! Emang Antoni mau sama lu yang modelnya beginian. "Keken melihat dari atas hingga bawah.
" Cerewet, bawel, berisik, tukang makan lagi. Emaknya Antoni bakal bangkrut punya menantu karung beras kayak lu Ka!"
Inka tidak terima saat Keken menjelekan dia di depan Antoni.
" Emaknya kak Antoni bakal bahagia punya menantu kayak aku yang pintar cari duit, bisa bantuin promosi toko kue emak, dan satu lagi dia tidak akan kesepian karena aku akan menghiburnya dengan tingkahku yang absurd, hihihi..."
"Terserah, bodo amat!" Keken dengan kesal meninggalkan mereka dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Kakak tidak diapa-apain mas Keken kan?" Inka yang begitu khawatir dengan refleks ia menyetuh wajah Antoni dengan kedua tangan nya. "Apa ada yang luka?"
"Aku tidak apa-apa, sudahlah jangan berlebihan." Antoni bangkit dan ingin menghindari Inka. Ia tidak menyangka gadis itu berani menyentuh wajah nya.
"Eits,mau kemana?" Inka menghadang pria yang sudah dianggap kekasihnya dengan merentangkan kedua tangannya. Sejak dulu Inka menyukai Antoni, namun sang pria tidak pernah menganggap perasaan gadis itu yang notabene anak bos besar.
"Aku harus pulang, ada yang perlu aku selesaikan."
"Kakak...!!" panggil Inka, namun Antoni tidak menoleh ke belakang untuk sekedar menjawab panggilan nya.
" Kakak...!! panggilnya lagi dan Antoni masih tidak menoleh ke belakang
" Kakak, apa kau mau menikah denganku? "teriak Inka.
Antoni menoleh ke belakang, mulut gadis gila ini benar-benar tidak berfilter. Dengan sengaja Inka berteriak dan memintanya untuk menikahinya. Luar biasa nekat.
Antoni mendekat kearah Inka, tepat di depannya." Kalau mau melamar seorang pria harus mandi dulu, jangan bau asem seperti ini." bisiknya di telinga Inka, ia bergegas pergi dengan senyuman yang tidak bisa diartikan, meninggalkan sang gadis yang masih melamun dengan ucapannya.
__ADS_1
"Ih.... Kakak!!! Aku tidak bau asem ya, aku selalu wangi dan bersih." "teriaknya lagi namun ia segera menutup mulutnya, Inka takut orangtuanya tahu bahwa dia menyukai Antoni.