Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 101


__ADS_3

Keken pergi ke restoran milik Michelle dan membantunya disana. Lantai tiga yang biasanya terlihat kosong kini diubah menjadi beberapa kamar kos yang memiliki tangga masuk yang berbeda, sedangkan lantai satu dan dua dikhususkan untuk Cafe Michelle. Beberapa minggu yang lalu Cafe Michelle memang tutup karena ada pembangunan di lantai atas. Dan Keken yang memiliki setengah saham Cafe dari Michelle kini mau tak mau harus terjun langsung disana karena saat ini Keken belum memiliki pekerjaan tetap.


Michelle tahu Keken sekarang dimiskinkan oleh mommy nya dan seperti biasa ia wanita pertama yang selalu mensupport Keken di saat - saat seperti ini.


" Gimana, seminggu lagi yakin bisa kelar ini pembangunan lantai atas?" tanyanya pada Michelle


"Perkiraan seminggu lagi, aku sudah tanya sama mandornya."


"Jangan lama-lama, aku harus kerja dan menghidupi Farah dan calon anakku. Apalagi sekarang uangku tinggal sedikit karena pembangunan kamar kost ini." Keken menghela nafas panjangnya, tangannya masih sibuk dengan cat yang berwarna putih.


"Kamu tenang saja, aku yakin bisnis kita akan berhasil. Semua pekerja butuh tempat tinggal yang nyaman apalagi tempat kita terbilang strategis. Gue yakin dalam waktu satu bulan enam kamar itu akan terisi." ucap Michelle sembari membawa dua gelas es coklat." Minumlah. "


" Makasih. "


"Gimana penawaran dari Raden, lu mau nggak kerja disana?" tanya Michelle sembari menyeruput es miliknya.


"Aku tidak mau!" ucap Keken.


" Dia janji kasih jabatan ke aku sebagai manager club malam tapi aku tidak mau. Aku ingin cari uang yang halal dan berkah agar anakku jadi anak soleh tidak seperti diriku."


" Kamu kan tahu bagaimana club malam, terlalu banyak maksiat disana dan aku tidak mau itu." sambung Keken sembari mengecat dinding kamar.


"Cie... Cie... Yang sudah insyaf dan sebentar lagi bakal jadi bapak." goda Michelle, entah kenapa ia suka sosok Keken yang sekarang. Yang selalu semangat dan bertanggung jawab untuk keluarganya.


"Gimana keadaan Farah? Dia tahu lu kerja sama gue, marah tidak dia?" tanyanya.


"Dia baik-baik saja dan masih seperti biasa, kadang ketus dan tidak menganggapku suami. Dia tidak tahu kalau kita kerja bareng. Dan sepertinya dia tidak akan cemburu karena dia masih cinta dengan pacar lamanya."


"Lu kasihan banget sih, Ken." Michelle menepuk bahu Keken dan memberinya semangat. "Aku yakin suatu saat dia akan mencintaimu karena kamu begitu tulus mencintainya."


"Semoga saja, walaupun aku terkadang tidak percaya diri." Keken menggulum senyum. Mengingat perlakuan Farah padanya selama ini. Farah selalu marah-marah tanpa alasan dan kesal saat Keken menggodanya.


" Nih, uang hasil usaha kita. Ini milik lu. Nanti setiap bulan lu bakal dapat gaji sesuai kesepakatan kita. Gue shift pagi, lu shift siang. Kita usaha bareng - bareng Cafe ini agar lu juga bisa nafkahin Farah. Mau tidak?"

__ADS_1


"Mau." ucap Keken dengan cepat, ia yang dulu menolak uang hasil kerja sama sekarang mau menerimanya.


" Nanti jam kerja gue disesuaikan aja soalnya gue juga kerja sebagai sales mobil. Lumayan kan buat lahiran Farah nantinya." Keken sempat meminta tolong pada temennya untuk bekerja di sebuah showroom mobil. Namun ia tidak terikat dengan kontrak, tugasnya hanya mencari konsumen untuk membeli produk mobil merk T.


" Salut gue sama lu, rajin banget cari duit. Sampai jadi sales mobil. Awas kepincut SPG cantik!" goda Michelle sembari menaik turunkan alisnya.


"Gue udah miskin Cell, mana ada gadis yang mau sama gue. Paling mereka nyinyir karena dulu gue konsumennya eh sekarang malah jadi karyawan." Keken tergelak tawa membayangkan dirinya dulu bermain dengan para wanita SPG yang cantik dan sekarang dirinya malah jadi SPB.


" Dunia berputar, Ken. Dan aku percaya ini takkan lama. Mommy mu pasti ingin yang terbaik untuk kamu. Anggap ini sebagai pembelajaran agar kamu semakin dewasa."


"Aku sudah dewasa Cell, buktinya si Kenzi bertambah besar ukurannya." kelakar Keken terkekeh


"Emang setan lu! Pikiran lu hanya selangk*ngan aja!" geram Michelle sembari melempar serbet yang terkena cat kearah Keken.


* **


Di tempat lain,


Farah meminta Dini untuk tidur di kontrakannya karena Keken tak kunjung datang. Setelah Farah menikah, Dini pindah ke kamar sebelah milik teh Cucu.


Dini pun tidak perlu repot - repot mencari kontrakan untuk pindah rumah, saat teh Cucu menawarinya ia langsung menyetujui. Disatu disisi ia bisa hemat dan uang tanpa harus membeli perabotan.


"Maafin aku ya Din , gara-gara nikah jadi lu pindah ke sebelah." Farah melirik Dini yang masih bermain ponsel. Mereka satu ranjang bersama seperti biasanya.


"Tidak usah dipikirkan, memang sudah waktunya aku pindah masa mau ngikut lu terus yang ada aku jadi orang ketiga." Ia meletakkan ponselnya dan melihat Farah wajah yang semakin gembul. Perutnya tidak terlalu besar walaupun Farah sedang hamil.


"Apa dia masih merepotkan?" Dini mengelus perut Farah dengan lembut


"Masih." ucapnya. "Tapi saat di rumah mommy Imel, anak ini begitu penurut sama ayahnya. Dia memang titisan si Keken!" gerutunya. Farah mengingat saat di rumah mertuanya, Keken selalu mengelus perutnya setiap hari dan itu membuat Farah nyaman.


" Apa pria itu menyakitimu?"


" Tidak! Dia memang sering pergi setiap hari saat pagi dan malam. Aku tidak tahu dia kemana dan aku tidak peduli."

__ADS_1


"Jadi si br*ngsek itu setiap hari pulang dini hari dan kamu tidak bertanya dia kemana?!" seru Dini dengan kesal


"Aku tidak peduli."


"Kamu benar-benar gila, Far!" Dini seolah ingin mencekik leher Farah karena gemas. " Kamu ini istri Keken, sudah seharusnya kamu tahu dia kemana dan diluar sedang apa. Memangnya kamu tidak takut ada wanita naksir suamimu. Keken itu tampan dan tajir, wanita mana yang tidak tertarik padanya."


"Termasuk kamu?" selidik Farah


"Eh, Farah. Gue memang matre tapi gue nggak bakalan ngerebut suami temen sendiri. Gue mau tinggal sama teh Cucu agar bisa deket sama lu dan bisa awasi tuh teteh bohay. Lu nggak takut si Keken di embat janda itu."


"Nggak, bodo amat!" ucapnya dengan ketus. "Aku pernah tanya sama mommy, Keken pergi kemana tapi dia tidak menjawab malah dia bilang aku yang harus tanya sendiri pada anaknya."


" Ya kamu memang harus tanya padanya langsung, ngapain lewat mommy." Dini tak habis pikir dengan Farah yang begitu gengsi pada suaminya sendiri


" Ogah! "Farah menggelengkan kepala," Aku tidak mau pria itu besar kepala saat aku tanya tentangnya! "


" Ya ampun Farah, kalian sudah menikah ngapain gengsi. Lu minta jatah olahraga malam aja itu hak lu dan itu halal, ngapain gengsi! " Dan Dini mendapat pukulan fari Farah


"Apa jangan - jangan kalian belum pernah kikuk - kikuk lagi." goda Dini, ia memenaik turunkan alisnya dengan menggoda


"Apaan sih! Ya nggak lah, masa mau gituan. Ogah!"


"Kebangetan lu Farah, suami tampan begitu dianggurin. Kalau dia main serong dengan wanita lain, nyesel lu nangis nggak ada gunanya."


"Kok kamu belain dia begitu, sebenarnya lu temen gue apa dia, sih!" kesalnya


"Gue memang temen lu tapi gue harus ngomong kenyataan jangan sampai lu nyesel kemudian hari. Lu tahu nggak mba Selvi di gang sebelah yang kini jadi janda muda,itu gara-gara dia sibuk dengan karir nya dan kurang peduli terhadap suami makanya tuh suami cari wanita lain yang lebih perhatian. Lu mau kayak gitu. "


" Sorry kalau gue ngomong gini, Hilman itu masa lalu dan gue yakin lu masih cinta tapi setidaknya hargai Keken yang sudah mau berjuang, bertanggung jawab dan perhatian sama lu dan bayi ini. "


" Mungkin dia pria menyebalkan tapi kamu harus mulai belajar peduli padanya, tanyain dia kemana sama siapa. Kalau lu gengsi, lu bisa alasan pakai mama bayi lu. Mudah bukan! "


Farah hanya mendengus kesal saat Dini berceloteh dan memberi nasehat padanya. Ia memunggungi Dini dengan kesal

__ADS_1


" Ngambek terus, kalau ada temen ngingetin gitu, pundungnya sampai Cipali. " kelakar Dini


Dini turun dari ranjang dengan kesal juga dan ia meninggalkan Farah sendiri.


__ADS_2