
~Mohon dibaca pelan-pelan agar mengerti makna dibalik cerita ini~
Sepanjang perjalanan Farah selalu diam dan melihat kearah luar jendela karena beberapa kali ia sempat melirik Keken menatap iba padanya.
" Jangan mengasihani diriku, aku tidak suka dengan tatapanmu itu!" Mata Farah akhirnya menatap tajam kearah Keken, kemudian membuang wajahnya kembali pada luar jendela.
" Apaan sih! Siapa juga yang mengasihanimu, aku sedang fokus menyetir." kilahnya
Tak lama kemudian, Farah mulai bercerita.
" Dia ibu tiriku, adik tiriku ada dua. Satu perempuan dan satu laki-laki. Adik-adikku anak yang baik, mereka tidak seperti ibunya. Kamu tidak perlu penasaran lagi, hanya itu yang bisa aku katakan. " ucap Farah tanpa melihat kearah Keken
Keken terkejut, bagaimana bisa Farah tahu apa yang ingin dia tanyakan. Rasa penasaran yang begitu besar kini terjawab sudah karena Keken tidak berani bertanya sejak mereka masuk ke dalam mobil, Farah selalu diam.
" Aku baru tahu jika ibu tirimu sekejam itu. Apa kau dendam?" Keken lagi-lagi menanyakan hal itu.
" Kau tahu apa yang paling menyakitkan?" tanya Farah tanpa melihat kearah Keken.
Keken hanya bisa menggelengkan kepala.
" Yang paling menyakitkan itu memaafkan dan selalu memaafkan lagi. " ucap Farah," Dan hal itu terus berulang."
" Dendam?" Farah menghela nafas panjangnya," Bagaimana bisa seorang anak dendam dengan keluarganya sendiri, aku tidak punya kekuatan untuk itu." Farah menatap nanar
" Aku selalu mencoba memahami apa kesalahanku dan sampai detik ini namun masih belum menemukan jawabannya . "
" Menghindar adalah cara yang terbaik walaupun aku terkadang rindu dengan adik - adikku. "
" Pernah suatu hari aku membuat kesalahan karena lalai menjaga Aisyah yang baru saja belajar berjalan, dia terjatuh dan menangis. Dan aku diseret dari dalam rumah dengan rambut yang dijambak begitu kencang dan terasa sakit."
" Bukan hanya fisik yang sakit tetapi psikologis. "
" Kau tahu, bahkan orang yang terlihat baik-baik saja bisa jadi mereka sakit secara mental tanpa mereka sadari. "
" Memaafkan itu mudah tapi rasa trauma dengan kejadian itu akan diingat sampai kapanpun. " ucap Farah
Keken merasa terenyuh dengan cerita Farah yang begitu menyedihkan.
" Terkadang aku berpikir, mungkin ibu tiriku atau ayahku pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dari kecil hingga mereka pun memiliki trauma tersendiri, tidak menyelesaikannya, lalu menurunkan luka itu kepada kita melalui perilakunya. Ini seperti Intergenerational trauma. "
" Dan kenyataannya, orangtua sering melampiaskan rasa sakit itu kepada anaknya. "
" Kau tahu, hubungan darah tidak menjamin untuk selalu memberikan kasih sayang dan kebahagiaan. Nyatanya, luka batin yang kita miliki ditorehkan oleh orang terdekat kita sendiri. Maka dari itu kamu harus bersyukur memiliki orangtua yang sayang denganmu karena tidak semua anak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya" Farah melirik Keken yang sedang menyetir.
Keken mencelos, hatinya terasa hangat dan entah kenapa wajah kedua orangtuanya muncul dipikirannya. Keken mengingat setiap kejadian di masa lalu bagaimana dirinya dulu menjadi anak bandel. Tawuran, balapan liar, keluar masuk club. Dan orangtuanya yang selalu melindunginya.
Keken hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya.
Ayahnya yang begitu memanjakanya dan mommy yang selalu tegas dengannya.
__ADS_1
Mommy yang selalu bilang No! saat dia melakukan kesalahan,dan akan selalu menghukumnya dengan caranya sendiri untuk mendidik anaknya agar menjadi orang yang benar. Mommy yang selalu berwajah galak namun tidak pernah sekalipun memukulnya dan kejadian Farah tadi benar-benar membuat hati Keken terbuka bahwa apa yang selama ini mommy lakukan semata-mata untuk mendidik dirinya agar lebih disiplin dan menjadi anak baik.
"Aku bicara seperti ini bukan untuk dikasihani, kamu jangan salah paham. Aku ingin kamu tahu bahwa ada banyak sekali anak-anak yang tidak menerima hak dalam keluarganya. Mereka tidak seberuntung kamu bisa hidup bahagia dan hidup dengan nyaman."
Keken hanya tersenyum mendengar setiap penuturan Farah. Hati Keken bergetar melihat kedewasaan dan kemandirian Farah. Dibalik keceriaannya, banyak luka batin yang begitu ia simpan rapat-rapat. Bahkan disaat dia menceritakan kisahnya tak sedikitpun Farah meneteskan air matanya. Ia begitu tegar.
Tak lama kemudian mereka terjebak kemacetan, lalu lintas begitu padat terlebih di sore hari.
Farah melihat seorang anak laki - laki penjual tisu.
"Beli tisunya dek!" Farah melambaikan tangannya, dan anak lelaki itu menghampirinya.
"Satu berapa?" tanya Farah
"Lima ribu rupiah kak."
Farah membuka dompetnya dan mengeluarkan satu lembar uang lima puluh ribu. " Kakak beli dua ya."
Anak itu memberikan dua tisu berukuran travel pack," Sepuluh ribu." ucapnya
"Ini uangnya,tidak usah kembali sisanya buat adek." ucap Farah sembari tersenyum
Dengan senyum sumringah anak laki-laki itu menerima uang lima puluh ribu rupiah. "Beneran kak, alhamdulillah. Terima kasih. Semoga kakak rejekinya banyak dan panjang umur, selalu bahagia." anak lelaki itu mendoakan Farah seraya menadahkan tangan.
"Aamiin." Farah menutup kaca mobil kembali dan meletakan tisu itu di dashboard mobil Keken.
" Terkadang kita membeli bukan karena butuh, anggap saja saling berbagi dan bersedekah." Farah menatap kembali keluar jendela, menatap taman kota yang berjejer rapi sepanjang jalan.
" Kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya bertahan hidup. Dengan cara kita membeli daganganya, dia mendapatkan pemasukan untuk makan hari ini dan setidaknya anak itu tidak meminta - minta masih ada usaha untuk berdagang."
Hati Keken kembali bergetar melihat sikap Farah yang begitu baik, hatinya mencelos kembali. Berapa uang yang dia hamburkan untuk wanitanya, berapa banyak uang yang ia pakai untuk berfoya-foya sedangkan banyak orang yang bekerja hanya untuk bertahan hidup.
"Itu tisu untukmu, aku tidak perlu." ucap Farah
" Aku juga tidak butuh tisu itu." ucap Keken, ia merasa terlalu banyak tisu di mobilnya.
" Iya kamu tidak butuh tisu kering tapi butuh tisu magic." cibir Farah
"Enak saja! Kamu pikir punyaku kecil, si Kenzi kagak butuh yang begituan. Dia itu kokoh tak tertandingi." salak Keken, ia tidak terima miliknya diremehkan Farah
"Ya ampun, aku hanya bercanda kenapa kamu kesal. Dan sekarang aku tahu, ternyata yang namanya Kenzi itu si dia." Farah melihat kearah bawah Keken, Kenzi yang sering Keken sebut ternyata mengarah ke bagian miliknya.
Keken hanya tersipu malu.
Dan tak lama kemudian, handphone Farah bergetar. Satu panggilan dari nomor tak dikenal.
" Assalamualaikum, siapa? "
" Walaikumm salam, ini siapa ya?" tanya si penelepon.
__ADS_1
Farah hanya mengerutkan dahi, si penelepon dengan suara laki-laki malah bertanya dirinya siapa.
"Ini siapa? Kalau tidak penting mending aku tutup teleponnya." ketus Farah
"Begini bu, saya sudah menculik anak ibu yang laki-laki. Dan sekarang saya minta tebusan!" ucap sang pria penculik.
Farah mengenyitkan dahi, bagaimana mungkin dirinya punya anak sedangkan dia saja belum menikah.
"Oke fix, ini penipuan. Aku kerjain balik ah" gumam Farah dalam hati sembari tersenyum. Ia meloud speaker handphonenya.
"Siapa?" tanya Keken
Farah hanya mengedipkan matanya sembari memberi tanda diam pada Keken.
"Jangan pak, kasihan anak saya pak, jangan diculik pak! Hiks.. Hiks... Hiks..." Farah pura-pura menangis, dan Keken bingung apa yang terjadi.
" Kalau kamu ingin anak kamu selamat, berikan uang tiga ratus juta dan transfer sekarang." ucap sang penculik
"Jangan pak, uang darimana sebanyak itu pak. Saya hanya punya uang tiga ratus ribu pak dan itupun untuk makan seminggu pak." Farah masih dalam mode merengek meminta belas kasihan. Keken yang sudah mengerti Farah sedang berakting kini hanya bisa menggelengkan kepala. Bisa-bisanya Farah meladeni penipu, jika Keken maka dia akan langsung mematikan sambungan telepon yang tidak penting itu.
" Terus kamu bisanya nebus berapa agar anak kamu ini selamat." tawar sang penipu
" Lima puluh ribu mau, aku transfer sekarang." Farah
Keken menahan tawa dengan kelakuan Farah.
"Kamu kira aku bercanda!" bentak si penipu, "Kalau begitu anak ini aku bunuh saja, karena kamu tidak mau menebusnya."
"Ya sudah terserah bapak sajalah, aku pun tidak berdaya karena tidak mempunyai uang. Bunuh saja pak daripada dia menuh-menuhin dunia ini. Dia makan banyak pasti dagingnya empuk pak." kelakar Farah dengan menahan tawanya. Keken menutup mulutnya, ia tidak tahan untuk tidak tertawa.
" Bangs*t kamu!! " umpat si penipu dengan kesal
" Iya pak, aku memang bangs*t. Emang pak! " Farah terbahak sembari menutup ponselnya.
" Huuaaaaaaa, emang lu gadis gendeng Far! "Keken pun terbahak dengan keras, ia membayangkan betapa kesalnya wajah sang penipu karena dikerjain si Farah.
" Hidup ini sudah sulit masih saja menipu orang. Kalau mau duit ya kerja. "ucap Farah
" Dulu juga ada orang yang telepon kayak gini, kadang anaknya kecelakaan lah minta ditransfer, ditilang polisi lah, dapat undian berhadiah. Sekarang harus lebih waspada jangan sampai kena tipu. Iya kalau kamu yang kena tipu sih nggak masalah Ken, kan uangmu banyak. Lah kalau yang modelnya kayak aku, bisa nangis kejer satu bulan hihihi. " sambung Farah lagi
Keken tersenyum kembali, hari ini bersama Farah membuat hatinya campur aduk. Ada perasaan sedih, iba, senang tertawa terbahak-bahak dan yang terpenting dia mendapatkan pelajaran hidup dari Farah.
Dan ponsel Farah berdering kembali. Kini seulas senyum terbit di bibir Farah
"Siapa?" tanya Keken
* **
Note: Tidak ada orangtua yang sempurna, begitupun juga dengan anak. Marilah saling mengingatkan dalam kebaikan. Bukan maksud untuk menggurui, karena sayapun masih belajar menjadi orangtua. Sehat selalu all reader 😘😘🙏😊
__ADS_1