
Hilman datang lebih pagi dari biasanya, memang dia berencana membawa Farah dan teman-teman untuk pergi ke Lembang, Bandung.
Setiap beberapa bulan sekali Hilman selalu mengajak tunangannya untuk bertamasya dan mencari udara segar di luar kota. Kepenatan dalam pekerjaan seolah menghilang saat mereka liburan bersama.
Dan hari ini Hilman datang kembali dengan membawa satu plastik putih berisi makanan dari sang ibu untuk calon menantu kesayangan.
"Assalamualaikum."
"Walaikumm salam."
Dini membuka pintu dan terlihat Hilman yang sudah berpakaian rapi dan terlihat ganteng.
"Wangi amat." Dini menghirup aroma parfum dari tubuh Hilman, aroma maskulin yang segar.
" Kan mau ketemu Farah tersayang." Hilman menggulum senyum dan sedikit malu.
"Dih! Mau apel aja pake parfum sebotol."
Hilman tergelak tawa mendengar sindiran Dini. Sudah biasa.
"Farah sakit, sepertinya kita semua tidak jadi pergi." sambung Dini dengan raut wajah sedih.
"Farah sakit!" Hilman begitu terkejut karena sejak kemarin dia bertanya kabar sang kekasih selalu dijawab baik-baik saja olehnya. "Dimana dia?"
Dan suara dari dalam begitu berisik saat Farah dan Vania saling merengut dan membuang muka.
"Boleh aku melihat Farah?" tanya Hilman pada Dini, karena sebelumnya Hilman tidak pernah masuk ke dalam ruangan kedua yaitu tempat tidur Farah dan Dini.
"Kali ini aku ijinkan, awas jangan macam - macam! Ancamnya
" Ya ampun Dini, ini masih pagi dan buat apa aku macam-macam sama Farah kan ada kamu disini kecuali cuma berduaan baru beda. " Hilman tersenyum mendengar Dini begitu posesif pada Farah.
" Namanya setan kan nggak tahu, aku nggak mau kecolongan. Si Dipta itu dah kayak saudaraku jadi kita harus saling menjaga. "
Hilman hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju.
__ADS_1
" Farah... "sapa Hilman saat melihat tunangannya berbaring di kasur tanpa ranjang." Hei, Van. "
" Hei Man. "balas Vania ," Sebaiknya hari ini cancel aja ke Lembang, Farah sakit tapi dia ngotot ingin jalan denganmu. " Vania begitu kesal karena Farah pura-pura sehat agar mereka tidak membatalkan liburannya.
" Sakit apa Far?" Hilman menyentuh kening Farah, mengenggam tangannya dengan penuh kelembutan.
" Dia kecapean, restoran begitu ramai dan kepala chef beberapa hari libur jadi dia yang handle." ucap Vania sembari memberi ruang agar Hilman bisa duduk berdekatan dengan Farah, ia terpaksa berbohong karena permintaan Farah, sebenarnya Vania sudah tidak tahan lagi untuk memberi tahu Hilman bahwa Farah mengambil double job sehingga istirahatnya kurang. Vania berpikir jika dia mengatakan yang sebenarnya, Hilman pasti mengerti dan akan memberikan uang untuk membayar si pria songong itu. Menurut Vania, bagi Hilman uang dua puluh lima juta tidak masalah toh orangtuanya juga kaya apalagi dia anak tunggal.
"Aku ingin liburan sama abang dan teman-teman." pinta Farah dengan memelas. "Aku sehat kok."
Hilman menggelengkan kepala, " Kamu sakit, ini saja masih demam. Ayo kita ke rumah sakit."
" Tidak usah! Aku tidak mau!" Farah membuang mukanya dengan kesal
"Farah, kamu sayang aku kan?" tanya Hilman sembari menolehkan wajah Farah agar melihatnya. Dan sang gadis mengangguk dengan cepat.
" Kalau kamu sayang aku, kita ke dokter sekarang. Kesehatanmu lebih berharga daripada sekedar jalan-jalan. Kita bisa planning lagi, masih banyak waktu."
Farah hanya menunduk lemas.Gagal liburan bersama pacar.
"Aku pulang dulu, daripada aku dikacangin disini." Vania membereskan tas nya, ia sengaja memberi ruang kepada Farah dan Hilman untuk bicara.
"Jangan pulang." Dini menarik baju Vania dari samping.
"Rencana liburan sudah gagal mendingan aku pulang dan pacaran sama Andrew daripada disini."
"Bukan nya Andrew selingkuh?" Dini begitu penasaran karena saat itu Vania kesal mendapati pacarnya yang diam-diam mempunyai wanita lain.
"Masih aku selidiki, tapi kali ini dia masih bersikap biasa saja. Aku juga belum punya bukti jika dia benaran selingkuh."
" Semoga kali ini feelingmu salah, karena aku melihat Andrew lelaki yang baik."
"Semoga saja." Vania juga berharap pacarnya benar-benar lelaki baik tidak seperti dugaan nya.
" Makanya lu punya pacar, sih! biar nggak jadi obat nyamuknya si Farah." lanjut Vania lagi, ia melihat Dini yang hanya menonton televisi sendirian. Kasihan.
__ADS_1
" Gue juga maunya begitu tapi belum nemu jodohnya, jadi kayak gini deh jomblo ambyaaarrr cuma nonton tv. "
Vania hanya terkekeh dan pamit pada semua temannya.
" Aku bawa makanan untukmu. "Hilman menyentuh rambut Farah dengan lembut
" Untuk aku ada tidak?! " celetuk Dini, ia mengintip di balik tembok, masih dalam mode mengawasi sepasang kekasih itu.
" Tentu saja, ada makanan untukmu juga. "Hilman hanya terkekeh melihat kelakuan teman Farah yang selalu mengawasi bak security komplek.
" Preman pasar, tukang palak! "Farah melotot pada temannya karena selalu celamitan.
" "Apaan sih Far, pumpung gratisan tahu enak kagak bayar dapat banyak makanan." Dini terkekeh, namun ia kembali ke ruang tamu dan menonton televisi.
"Bang, ada yang ingin aku katakan." Farah menundukan kepala karena malu
"Apa?"
" Aku rasa pernikahan kita hanya bisa diadakan secara sederhana karena keluargaku tidak mampu mengadakan pesta mewah dan aku tidak mau membebanimu dengan biaya resepsi."
" Kamu tidak perlu khawatir dengan biaya pernikahan, semuanya aku yang tanggung. Aku hanya ingin kita sah dan menjadi suami istri, kamu tidak perlu memikirkan masalah uang. "
" Tapi bang. "
" Tidak ada tapi - tapian, acara akan digelar beberapa bulan lagi dan aku minta kamu harus siap secara fisik dan mental. "
" Undangan belum dicetak, gaun belum dipesan, masih banyak persiapan yang belum kita lakukan Farah, jadi aku mohon kamu harus sehat, aku tidak ingin melihat kamu sakit seperti ini. "
" Bang... "Lirih Farah, ia begitu bahagia mendapatkan seorang pria seperti Hilman yang sangat pengertian dan sayang padanya.
" Nanti aku bawakan beberapa contoh undangan, aku ingin kamu yang memilihnya. "
" Ibuku sangat antusias menjelang pernikahan kita , dia begitu bahagia sampai - sampai membeli tiga lusin gamis brukat dan kemeja pria untuk para saudara. Bahkan untuk brismaid ia yang memilih warnanya, warna dusty. ""Hilman terkekeh saat mengingat ibunya sibuk dengan menyiapkan acara pernikahannya.
" Abang mau tanya, apa kamu sakit karena memikirkan masalah biaya pernikahan kita? " Hilman menyelidik dan menatap wajah Farah dengan intens.
__ADS_1
" Mm... tidak bang, aku sakit bukan karena memikirkan itu."
"Benarkah, aku harap kamu tidak banyak pikiran, Ayo kita ke dokter." Hilman membantu Farah untuk berdiri dan bersiap untuk ke dokter.