Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 84


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Keken datang ke rumah kontrakan Farah, ia membawa beberapa bungkusan makanan dan susu ibu hamil.


Sebelumnya Keken menelepon Farah dan menanyakan apa yang ingin dia makan, namun jawaban Farah masih saja ketus dan tidak menginginkan apa - apa.


"Kenapa datang kemari?" Farah menatap tidak suka saat melihat Keken datang ke kontrakan nya.


"Kangen anakku." balas Keken


Farah dengan cepat membungkam mulut Keken dengan tangannya karena takut ada tetangga sekitar yang mendengar pembicaraan mereka.


"Cepetan masuk!" perintahnya


Dan tidak berapa lama teh Cucu mendengar ada suara seorang laki-laki di kontrakan Farah. Ia menghampiri dan melongok penasaran. Karena jarak kontrakan mereka hanya terhalang tembok maka akan terdengar saat ada orang bicara.


"Eh, neng Farah ada tamu ya?" Cucu menengok kembali siapa tamu Farah


"Eh, abang tampan kesini lagi." Ia masih mengenali wajah Keken, "Tumben bang main dimari?" tanyanya


"Iya teh mampir sebentar disini pumpung jam istirahat." jawabnya


"Eleh.. Eleh neng Farah, temennya kasep pisan, kenalin satu sama teteh dong neng. Teteh kan single." ia bicara malu-malu sembari melirik Keken kembali


"Sama ini mau?" Farah menunjuk Keken dengan dagunya.


"Mau atuh tapi si kasepnya mau tidak sama teteh yang janda ini? Beli satu bonus dua." ia menggulum senyum


" Berasa beli sabun deterjen ya teh dapet bonusan." kelakar Keken dengan tersenyum


" Teteh terlalu cantik buat saya, apalah diriku yang hanya sales panci teh." Keken masih saja bercanda dan menutupi identitas aslinya dari orang lain.


" Jadi kasep ini sales panci!" Teh Cucu melihat dari atas hingga bawah penampilan Keken yang kini memakai celana hitam dengan kemeja putih dengan motif garis biru. Terlalu tampan jika dia benar seorang salesman. "Ah masa, sih! Teteh tidak percaya kalau akang cuma sales."


" Beneran yeh, aku sales panci. Penampilan begini agar orang tertarik dan mau membeli produknya, harus berpakaian rapi dan keren dong."


Teh Cucu mengangguk mengiyakan.


" Kalau kasep tukang panci, teteh mah ogah. Tidak jadi naksir si kasep. Teteh kira si kasep mah manager meni penampilannya ganteng begitu. "


" Emang kenapa kalau tukang panci? "tanyanya Farah


" Eleh.. Eleh... Kalau tukang panci mah tiap hari di kelilingi ibu-ibu. Teteh bisa makan hati kalau banyak yang naksir si kasep, biasanya suka ngegombal biar pancinya laku"


" Ah, benar teh dia memang tukang panci makanya banyak wanita yang terjebak oleh mulut manisnya, suka merayu banyak wanita. " sindir Farah dan Keken hanya menggulum tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Neng, neng Farah jadi nikah bulan ini kan sama bang Hilman? Kok belum sebar undangan?" tanyanya


Farah hanya tersenyum kecut, wajahnya kembali sendu saat mengingat pernikahannya gagal.


"Tidak jadi teh." ucapnya singkat

__ADS_1


"Lho, kenapa?" tanyanya penasaran, "Padahal teteh bahagia banget neng Farah bakal nikah dan hidup bahagia dengan bang Hilman."


"Tidak ada apa-apa, mungkin belum jodohnya."


" Maaf ya neng, teteh banyak tanya. Soalnya kemarin nenek Ussy tanya ke teteh tanggal berapa nikahanya si Farah."


"Iya teh tidak apa-apa."


"Ya sudah teteh masak dulu ya. Kasep kalau mau nyicipin masakan teteh mampir saja ke samping, biar hemat kasep tidak perlu makan di warung nasi. Pintu kontrakan teteh terbuka dua puluh empat jam."


" Iya teh, makasih." ucap Keken.


"Lumayanlah ditawari janda makan bareng di kontrakannya, dua puluh empat jam lagi." sindir Farah setelah teh Cucu kembali ke dalam rumahnya


"Kamu cemburu?" Keken mulai menggoda Farah


"Amit-amit siapa juga yang cemburu! Tidak masuk akal!" Ia cemberut dengan mata yang menatap tajam


"Kalau aku mampir di dia dua puluh empat jam yang ada digrebek pak RT, malah disuruh nikah dengannya."


"Baguslah. Jadi beli satu bonus dua."


"Aku juga mau beli satu bonus satu, original lagi." Keken mengerlingkan matanya menggoda


"Tidak usah cari masalah denganku! Siapa juga yang mau nikah dengan kamu!" ketus Farah


"Aku kan sudah bilang tidak usah membeli mak___" Namun matanya melihat empat box susu ibu hamil dengan rasa dan merk yang berbeda,es campur, rujak buah, asinan buah, roti dan beberapa biskuit. Farah menelan salivanya


"Banyak sekali." ucap Farah, "Kenapa merk susu nya beda-beda?"


"Aku sengaja beli banyak agar kamu tidak kelaparan saat malam hari. Dan masalah susu aku tidak tahu kamu suka yang mana karena saat aku telepon kamu bilang terserah. Yang penting kan ada gambar ibu hamilnya jadi aku beli semua."


"Dasar sinting!" umpat Farah, Keken membeli banyak susu hanya karena melihat gambar ibu hamil.


Farah mendengus kesal,namun ia membuka plastik es campur dan menuangnya dalam mangkok.


" Enak? "tanya Keken. Ia melihat Farah makan dengan lahap


" Enak, seger. "Farah menyuap kembali es yang terasa manis dan segar dengan potongan buah - buahan.


" Kalau kamu ingin itu tinggal telepon aku, pasti kubelikan. "


" Anakku sedang apa? "tanyanya kembali. Farah menghentikan acara makannya dan menoleh kearah Keken


" Pelankan suaramu. " lirih Farah, ia sangat takut ada orang lain yang tahu dirinya hamil.


" Anakku sedang apa? "kini suara Keken lebih rendah dan lebih mendekat kearah Farah.


" Dia tidur. " jawabnya asal

__ADS_1


" Bolehkan aku mengelus perutmu, sejak di rumah sakit aku ingin menyentuhnya tapi sepertinya kamu keberatan. "pinta Keken dengan memelas


Farah menatap wajah Keken, memang situasi ini sangat tidak ia inginkan apalagi hamil anak dari pria menyebalkan yang kini berada di dekatnya. Namun, ia tidak bisa menolak takdir yang sudah terjadi karena bagaimanapun anak yang sedang ia kandung milik Keken.


Farah menganggukan kepala. Keken begitu bahagia. Ia mengelus dan meraba perut Farah yang masih terlihat datar. Tak pernah ia bayangkan selama ini akhirnya ia akan menjadi seorang ayah,apalagi janin itu tumbuh di perut gadis yang ia cintai.


"Sehat-sehat ya Nak!" ucapnya. Ia tak berani mencium perut Farah, takut gadis itu berteriak dan marah. Keken hanya bisa mengelusnya dengan lembut. Dan saat Keken mengelus perut Farah, otomatis jarak diantara keduanya begitu dekat hingga Farah bisa merasakan aroma parfum Keken yang begitu wangi. Aroma yang ia sukai, ia menghirupnya dalam - dalam dan seketika perutnya berdenyut seolah menandakan bahwa sang bayi sangat menyukai wangi ayahnya.


"Ishhh..." Farah berdesis sembari menahan perutnya yang terasa berdenyut.


"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit lagi? Ayo kita ke rumah sakit." Keken sedikit panik saat melihat Farah meringis kesakitan


"Aku tidak apa-apa."


"Yakin?!"


"Iya." Farah menyingkirkan es campur yang belum selesai ia makan, perutnya sudah terasa kenyang.


"Kok nggak dihabisin?"


"Aku kenyang, Ken."


Keken tanpa risih memakan sisa es campur Farah, ia memakannya hingga habis


"Itu bekas aku, kenapa kamu tidak jijik?"


"Kenapa aku harus jijik, daripada mubazir mending di makan. Aku sudah pernah menyentuh seluruh tubuhmu masa bekas sendok saja jijik. Itu tidak mungkin." Dan Keken menerima pukulan bertubi-tubi dari Farah


" Tidak usah marah begitu dan jangan terlalu benci nanti bisa jatuh cinta sama aku. " Keken menggulum senyum


" Apaan, sih! Jangan percaya diri, siapa juga yang jatuh cinta sama kamu! "pekiknya tidak terima." Sudahlah mending kamu pulang saja, aku akan beristirahat. "


" Sebentar lagi... "Keken menghela nafas panjangnya, beberapa hari ini ia kurang tidur karena pekerjaan kantor terlalu banyak.


Farah ke dapur dan menata susu kemasan dan memasukan makanan ke dalam lemari pendingin. Saat ia keluar untuk mengusir Keken lagi, ternyata pria itu malah ketiduran di depan televisi. Tidur diatas karpet dengan nyamannya.


"Ishh, mau aku usir malah tidur." gerutu Farah, matanya menatap raut wajah Keken yang terlihat kelelahan. Ia pun mengelus perutnya sendiri seolah si calon bayi merindukan ayahnya.


"Menyebalkan! Kenapa diriku menyukai aroma pria ini." gumam Farah dalam hati.


Farah memijit kepalanya lalu masuk ke dalam kamarnya lagi. Tertidur setelah kekenyangan. Sore hari ia terbangun dan tidak menemukan Keken di ruang tamu. Ia membuka ponselnya setelah beberapa kali berdering.


" Aku kerja dulu sayang. Do'akan papah, agar proyek kali ini lancar ya Nak!"


"Lusa papah datang lagi Nak! jangan nakal ya, kasihan mama."


" Ini apaan, sih! Kok pesannya seperti orang sudah nikah saja. "gerutu Farah


" Lihat saja, lusa aku akan pergi agar kamu tidak perlu datang kemari. " Farah

__ADS_1


__ADS_2