Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 125


__ADS_3

Farah merasa terganggu saat tubuhnya merasa sesak oleh sebuah benda berat yang menghimpitnya. Ia menyipitkan matanya saat melihat seorang pria memeluknya dengan erat.


"Keken...!!!" teriaknya, ia melotot kearah pria yang masih tertidur pulas. Ia kembali melotot saat menyadari bahwa dirinya tidak menggunakan satu helai benang pun begitu pula dengan suaminya.


"Keken...!!!" suara Farah kian keras hingga pria itu terusik dan menyipitkan matanya.


"Apa?" ia yang masih ngantuk kembali menutup matanya


"Apa yang kamu lakukan padaku?" Farah bertanya sembari berkaca-kaca karena sesuatu telah terjadi diantara mereka tadi malam.


"Seperti yang kamu pikirkan." ucap Keken dengan mudah dan masih dengan menutup mata.


"Tega kamu, Ken!" Farah terisak merutuki kebodohannya, ia mengingat tadi malam terbuai dengan cerita dan sentuhan Keken.


"Gara-gara cerita si putri salju sial*n! Kamu sengaja kan membohongi aku dengan cerita karanganmu!" Farah memukul Keken dengan membabi buta, kesal, marah saat ini yang Farah rasakan. Suaminya selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.


" Tapi tadi malam juga kau menikmatinya hingga mendes*h begitu indah. "Keken akhirnya bangkit dari kasur Farah tanpa mengenakan satu helai pun.


" Dasar sinting!! Pakai celana dulu kalau mau ke kamar mandi! "Farah membuang wajahnya, malu saat melihat Kenzi yang polos.


" Kamu juga sinting, seharusnya tutuplah terlebih dahulu gundukan lemak depan agar tidak memancing hasrat si Kenzi. " Keken menutup kamar mandinya dan membersihkan diri. Farah menurunkan pandangannya kearea dada dan benar saja, ia lupa menutupnya dengan selimut pantas saja sejak tadi Keken tidak mau melihat kearahnya


" Aku benar-benar kecolongan dan sepertinya aku mulai gila." gumam Farah sembari menutup wajahnya dengan bantal. Ia mengingat - ingat dan menyusun kepingan puzzle tentang kejadian semalam. Keken yang mulai merayu dan menjamah setiap tubuhnya hingga ia tidak bisa menolak. Sentuhan Keken yang entah mengapa membuat dirinya ingin lagi dan lagi.


"Sial*n...!!" umpat Farah, ia melirik Keken yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tatapan kesal.


" Kenapa menatapku seperti itu, mau lagi?" godanya. Farah melempar bantal kearah wajah suaminya dengan kesal.Namun Keken hanya terkekeh.

__ADS_1


"Nanti kita cek kandungan ya, takut adek kenapa - napa habis mama nya keasyikan minta terus sampai papah lemes." Keken kembali menggoda Farah hingga wajah istrinya begitu kesal kembali .


"Keken...!!!" teriak Farah, ia bangkit dan menyerang tubuh suaminya. Tidak peduli dirinya masih polos dan tanpa ampun memukul Keken saking kesalnya.


"Mandi dulu, bau." ucap Keken sembari menahan tangan istrinya. Nafas Farah yang masih memburu karena kesal kini dibuat terkejut saat Keken menggendongnya ala bridal style dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku tunggu diluar, kamu mandilah." Keken dengan cepat keluar kamar mandi sebelum Farah mengamuk lagi. Keken senyum - senyum sendiri saat melihat hasil karyanya di tubuh istrinya. Dan benar saja saat Keken keluar terdengar suara teriakan lagi dari Farah.


"Keken...!!" teriaknya, ia melihat begitu banyak jejak kepemilikan Keken di seluruh bagian tubuhnya. Keken benar-benar pemain ulung yang mampu membuat setiap wanita bertekuk lutut dan pasrah.


" Ayo kita ke dokter." ajak Keken


"Aku tidak mau!" tanpa melihat kearah Keken, Farah terlihat menekuk wajahnya.


"Apa kau yakin adek tidak apa-apa?"


"Aku yakin, Ken!" ketus Farah, ia mengaduk-aduk bubur ayam yang baru saja dibeli Keken di pedagang kaki lima.


"Tidak ada!" lagi-lagi Farah menjawab dengan ketus


"Yasudah, aku pergi dulu. Jangan lupa makan dan istirahat, tidak usah jualan." Keken menyiapkan tas ransel dan laptopnya.


" Aku tidak mau kejadian seperti ini terjadi lagi, huhuhu.. Kamu jahat." Akhirnya Farah menangis, rasa kesalnya begitu besar hingga akhirnya ia meluapkannya dengan menangis.


" Maaf. " Keken memeluk istrinya yang sedang menangis. "Aku khilaf tadi malam."


" Jangan menangis, aku kan pelan-pelan menyentuhmu, tapi nanti aku minta lagi ya." Keken menggulum senyum, bukannya menenangkan istrinya malah membuat Farah semakin kesal padanya.

__ADS_1


"Biasanya kalau kenzi udah silaturahmi, tanpa diminta lagi si gadis akan pasrah dan menawarkan diri." ucapnya lagi sembari menggulum senyum.


"Sial*n!!" umpat Farah, "Pergi sana, jangan balik kesini lagi!!" teriak Farah saat Keken menggendong tas ranselnya. Ia pamit untuk bekerja setelah mendengar makian dari Farah.


Setelah Keken pergi, Dini datang ke rumah Farah. Sejak semalam ia khawatir karena mati lampu dan petir menggelegar. Namun ia mengurungkan niatnya untuk datang tadi malam karena tahu Keken ada di rumah dan bisa menjaga Farah.


"Far, aku tadi ma__" Ucapan Dini terhenti saat melihat jejak kepemilikan di leher Farah apalagi rambutnya terlihat basah.


"Sial*n lu!! Gue udah khawatir setengah mati nyatanya lu enak-enakan sama si Keken!" umpatnya. Dini bukan wanita polos yang tidak tahu tentang tanda di leher Farah namun ia merasa lega karena ada perkembangan di pernikahan sahabatnya, setidaknya mereka jarang bertengkar.


" Apaan, sih!! " Farah dengan cepat menutup tanda itu dengan rambutnya. Merasa malu karena ketahuan berbuat sesuatu tadi malam.


" Pantas saja semalam berisik banget ternyata ada gempa lokal di sebelah." sindirnya. "Bahkan Malika saja tahu saat lu teriak sampai aku tutup telinganya. Aku kira kau sedang bertengkar dengan Keken."


Farah terkesiap mendengar penuturan Dini, " Aku sangat berisik tadi malam ya,benarkah? Keken benar-benar keterlaluan, aku kan kegelian tapi dia masih saja menyentuhku tanpa ampun. Ini semua gara-gara cerita putri salju sial*n itu!! "


" Cerita putri salju. "Dini mengerutkan dahinya dan Farah akhirnya menceritakan awal muda kejadian tadi malam, hingga akhirnya Dini tertawa keras saat tahu Farah telah dibod*hi oleh Keken.


" Terus saja tertawa seperti itu! " Farah mendengus kesal karena Dini tak berhenti menertawakannya


"Kamu memang polosnya kebangetan, tapi enak kan ya sudah merasakan gempa bersama Keken?!" godanya


Farah memukul lengan Dini dan wajahnya bersemu merah karena malu.


" Gue cuma pesan, kalian sudah suami istri dan sudah sepantasnya Keken mendapatkan hak nya. Masa lalu tidak perlu dikenang lagi Far, sekarang kamu harus belajar menjadi istri dari Keken walaupun aku tahu ini tidak mudah untukmu apalagi bayangan bang Hilman masih selalu ada. Jadilah istri yang baik agar Keken tidak tertarik dengan wanita lain,ingat Keken itu tampan dan berduit walaupun sekarang dia sedang dimiskinkan tetapi tidak menutup kemungkinan suatu saat dia akan kembali pada posisinya. Dia pangeran satu-satunya dan gue yakin emaknya bakal menarik dia ke perusahaan lagi. Dan lu tahu, si jabang bayi ini sudah dipastikan jadi sultan sejak lahir. Generasi penerus dari keluarga Feriansyah. Ingat, banyak wanita yang ingin menjadi selir dari seorang pangeran modosa yang berduit. " Dini memperingatkan Farah agar selalu menjaga rumah tangganya dari para wanita yang ingin merebut suaminya.


" Emang ya di otak lu duit, duit, duit. " Farah menghela nafas panjangnya karena Dini benar-benar hebat dalam memprediksi sesuatu, pikirannya lebih cerdas untuk masalah pria walaupun saat ini ia belum memiliki pacar karena terlalu pemilih dan satu yang pasti pacarnya harus kaya.

__ADS_1


" Gue wanita masa kini, harus realistis." ucapnya sembari terkekeh. "Sudahlah, gue cabut dulu mau kerja." pamitnya


Farah dengan cepat mengirim pesan pada Hilman kalau pertemuannya kali ini gagal, ia tidak mungkin bertemu mantan tunangan dalam keadaan penuh dengan tanda merah. Sangat memalukan.


__ADS_2