
Imelda membawa Farah ke dalam ruangan kerja. Ada hal yang ingin ia sampaikan dengan menantunya secara pribadi.
" Masih ingin jualan kah?" Imelda bertanya secara to the point seperti biasanya.
" Sekarang jarang mom karena Keken selalu melarangku." Farah meremas kedua tangannya karena gugup.
"Apa kau masih ingin bekerja?"
"Sebenarnya aku masih ingin terus bekerja dan mencari uang tapi Keken __."
" Lakukanlah, raih impianmu. Terbanglah jauh dengan kedua sayapmu, aku tidak akan membatasi mimpimu."
"Mulailah bisnis dari nol." sambung Imelda lagi.
"HAH..!" Farah terkesiap. "Maksud mommy, aku diijinkan berjualan lagi."
Imelda menganggukkan kepala.
" Tapi setelah kamu melahirkan bukan sekarang dan juga bukan di rumah petak itu." sambungnya lagi. "Kamu harus tinggal disini atau di apartemen karena Keken akan sangat sibuk beberapa bulan ini."
"Mulailah dengan membuka restoran kecil di pusat kota, terserah konsep yang akan kamu pilih mommy tidak akan ikut campur. Masalah modal, mommy akan berikan tapi kamu harus bisa atur waktu antara anak dan pekerjaan. Pilihlah karyawan yang benar-benar bisa kamu percaya.Mommy melakukan ini agar calon cucuku tetap sehat dan tidak kurang perhatian dari ibunya. "
" Apa kamu mengerti?"
Farah menganggukkan kepala dengan cepat, ia tidak menyangka mertuanya akan sebaik ini dan mengijinkan dirinya untuk berkembang dan bekerja.
" Aku masih punya uang dari mahar Keken, mommy tidak perlu memberiku modal karena aku ingin mandiri. Aku ingin merintis usaha kecil bukan usaha besar yang mengeluarkan banyak modal."
"Baiklah jika itu keinginanmu."
Farah mendekat dan memeluk lengan Imelda dengan erat seolah tak ingin terpisahkan. "Terima kasih karena mommy mengerti apa yang aku inginkan tanpa harus aku ucapkan." Farah mulai berkaca-kaca, dibalik sikap mertuanya yang terlihat dingin ternyata ia lebih tahu apa yang diinginkannya.
"Karena mommy pernah berada di posisimu, sebagai anak pertama, bahu mommy harus kuat untuk melindungi keluarga. Harus bisa mandiri dan melakukan segalanya untuk penghidupan yang lebih baik."
Dan mereka berdua saling bercerita tentang masa lalu, terutama Imelda yang mengenang kenapa dirinya harus bersikap tegas dan dingin seperti ini.
Keken yang menunggu istrinya kini mulai jenuh. Ia beberapa kali melirik jam tangannya dan mondar - mandir di kamarnya sendiri.
"Farah sedang diapain ya sama mommy?" ia khawatir istrinya diceramahi sang ibu karena sudah satu jam lebih Farah tidak menampakkan batang hidungnya.
Tanpa pikir panjang Keken bergegas menuju ke ruangan kerja ibunya dan tidak disangka ternyata mereka berdua sedang tertawa, Keken akhirnya bisa bernafas lega ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.
" Apa yang mommy bicarakan hingga tertawa seperti itu?" Ia melihat ibunya tertawa lepas dan ini jarang terjadi.
"Bicara tentang dirimu saat kecil."
Keken hanya menggerucutkan bibirnya, lalu wajahnya terlihat malu karena sudah pasti sang mommy menceritakan keburukannya dulu.
" Apa tidak ada yang bisa kalian bicarakan selain aku."
" Anak mommy cuma kamu, lalu siapa lagi yang akan kami bicarakan."
"Ayo sayang kita pergi ke kamar lagi." Keken menarik tangan istrinya agar ikut dengannya.
"Ngapain ke kamar, ogah! Aku mau makan lagi, laper." Farah berjalan cepat dan menghindari suaminya, Ia tahu apa yang akan dilakukan Keken padanya saat di kamar.
__ADS_1
" Sayang, kau baru saja makan."
"Memangnya kenapa? Aku lapar lagi." Entah kenapa hari ini naf su makanan nya begitu besar apalagi saat melihat banyak makanan yang disediakan pelayan Imelda.
" Sepertinya si boy tahu kalau makanan disini premium dan enak." gumam Keken
"Benar disini untuk makan saja tidak perlu mikir, aku hanya bisa makan dan tidur enak saat disini." Farah terkekeh
Dan benar saja, Farah makan dengan lahap tanpa memperdulikan tatapan dari Keken. Ia seperti orang kesurupan saat makan hingga isi piring itu licin tandas. Dua pelayan yang melihat cara makan Farah hanya bisa menggulum senyum, karena ini pertama kalinya mereka melihat Farah makan tanpa rasa malu.
"Apa perutmu tidak sakit? Keken memastikan perut istrinya baik-baik saja.
" Tidak! Perutku aman terkendali. "
Keken tertawa karena Farah makan tiga piring dan menghabiskan semua lauknya.
" Sepertinya aku harus ekstra kerja keras agar kamu bisa makan enak terus." gumam Keken
"Ya bekerja keraslah agar kita bisa hidup dengan nyaman." jawabnya tanpa menoleh kearah Keken. Ia masih sibuk dengan buah pencuci mulut.
"Apa kau ingin pernikahan ini selamanya? Hidup bersamaku dan selalu mencintaiku? Apa kau sudah melupakan mantanmu itu?" kali ini Keken bertanya dengan serius, bertanya tentang isi hati istrinya dan berharap Farah sudah mulai mencintainya dengan ikhlas.
Farah menoleh sesaat menatap Keken yang kini memasang wajah serius. Namun ia dengan cepat membuang wajahnya kearah lain. Entahlah, ia tidak mampu menjawabnya dan pertanyaan ini sangat sulit. Disatu sisi ia selalu menikmati perlakuan dan kasih sayang Keken namun di sisi lain ia tidak bisa bohong, masih ada nama Hilman di hatinya.
"Aku sudah selesai, aku ke kamar dulu." Ia sengaja menghindari pertanyaan Keken dan pergi menjauhinya.
Dan Mereka saling diam saat pulang ke rumah, bahkan Keken pun tidak banyak bicara. Setelah kejadian di rumah Imelda dan melewati kegiatan panasnya, Keken mengira Farah sudah jatuh cinta padanya karena istrinya tidak pernah menolak saat disentuhnya. Namun saat ia bertanya dan Farah hanya diam maka ia sudah tahu jawabannya, gadis itu masih belum bisa mencintainya, lalu apa yang baru saja mereka lakukan tadi siang,Keken hanya bisa mengusap wajah kasarnya.
"Apa kau ingin makan?" Farah mulai membuka percakapan karena Keken sejak pulang dari rumah mommy masih diam membisu dan sibuk dengan laptopnya.
" Apa kau ingin kopi?"
"Tidak!"
Lagi-lagi Keken hanya menjawab seperlunya dan akhirnya Farah menyerah, ia tidur terlebih dahulu karena hari ini terasa melelahkan.
Dan saat tengah malam ia mendengar suara berisik dari arah dapur. Ia terbangun dan melihat Keken sedang memasak.
" Kau lapar? Sedang masak apa?" tanyanya. Keken terlihat sedang mengiris sawi hijau dan memasukan sebutir telur ke dalam panci.
"Mie rebus."
"Kau duduklah, biar aku yang memasak untukmu."
"Tidak perlu, aku bisa melakukan ini. Kau tidurlah." jawabnya tanpa melihat kearah Farah.
"Keken sedikit berubah setelah pulang dari rumah mommy nya dan ini semua karenaku." ucap Farah dalam hati
Keken yang terbiasa masuk ke dapur kini tidak merasa canggung lagi karena ia sudah tahu dimana letak bumbu dan alat masak. Ia pun tanpa malu memasak sendiri, hal yang tidak pernah ia lakukan saat menjadi pangeran.
Keken membawa semangkok mie instan ke ruangan tamu dan menyantapnya disana. Aroma mie rebus begitu menggiurkan kan itu membuat Farah hampir meneteskan air liur nya.
Ia mendekati Keken dan duduk tepat di depannya, melihat semangkuk mie panas dengan wajah polosnya namun Keken seolah tidak peduli ia masih dengan santai nya makan tanpa gangguan.
"Ken...."
__ADS_1
"Apa."
"Aku mau."
"Mau apa?" Keken menahan senyum saat melirik wajah istrinya yang selalu menatap mie panas itu. Farah seolah berharap Keken berbagi makanan dengannya. Entah kenapa ia tidak bisa marah terlalu lama dengan istrinya, bisa jadi rasa cintanya terlalu besar hingga mengalahkan rasa amarah.
"Aku mau mie itu."
"Bikin saja sendiri, di dapur masih ada tiga bungkus mie instan." jawabnya tanpa melirik Farah, ia bahkan sengaja makan dengan gaya menggoda dan membuat Farah semakin menginginkan mie itu.
"Tidak mau, aku hanya mau mie itu." ucapnya dengan wajah memelas.
" Aku punya mie yang lebih enak kau mau?"
"Mana?"
"Nih, mie hitam bagian bawah." kelakar Keken sembari melebarkan kakinya.
"Nggak jelas! Siapa juga yang mau mie hitam itu! ketus Farah, bukan nya memberi mie instan panas Keken malah menawarkan mie ajaib.
" Aku mau mie instan ini. " Farah merebut sendok itu dan menyeruput kuah panas yang terlihat enak.
" Enak. "ucapnya lagi, ia bahkan makan tanpa jeda. Mie buatan Keken menurutnya sangat enak padahal bumbu itu sudah diracik dari pabriknya.
Dan Keken hanya menggulum senyum.
Tanpa terasa mie itu telah habis dimakan Farah dan ia masih menginginkan lagi.
" Aku masih lapar, buatkan aku lagi." pintanya
"Ya ampun, kamu sudah makan satu mangkok sedangkan aku baru saja makan tiga suap dan kamu bilang masih lapar." Keken menggelengkan kepala
" Mie ini sangat enak, aku mau lagi."
"Tidak! Makan yang lain nya saja, mie instan banyak pengawet tidak bagus untuk kesehatan. Makan roti strawberry saja dari mommy."
"Aku tidak mau roti, aku mau mie!" Farah tanpa sadar berkaca-kaca, ia benar-benar menginginkan mie instan.
" Tidak!"
"Ken.... buatkan aku mie instan " Farah menarik lengan suaminya dan merayu agar Keken mau membuatkan mie untuknya.
"Tidak!"
"Ken....," Farah memasang wajah memelas sembari terus memeluk lengan Keken agar ia luluh dengan nya.
"Ishhh..." desisnya, Ia tidak tega melihat Farah seperti itu.
" Minta makan dan minta perhatian denganku tapi cintanya untuk orang lain." sindirnya sembari pergi ke dapur. Farah yang mendengarnya hanya bisa meremas ujung bajunya. Ia memang salah dan pantas diperlakukan seperti itu.
"Maaf..."
"Minta maaf terus tapi tidak pernah berubah dan peka." Keken masih kembali menyindir sembari merebus mie.
Farah hanya menghela nafas panjangnya, tidak peduli Keken masih dalam mode mengomel yang terpenting dia mendapatkan mie rebus dari suaminya.
__ADS_1