
Mereka duduk bersama di ruang makan. Berkali-kali Farah menelan salivanya saat melihat banyak makanan yang tertata di atas meja. Aromanya begitu lezat dan menggoda hingga Farah selalu menatap makanan tersebut.
Keken segera menginjak kaki istrinya agar tidak bersikap memalukan dan Farah tahu arti injakan itu. Namun ia tidak peduli karena saat ini ia merasa lapar.
"Ambilah sesuka hatimu, semua tante siapkan untuk kamu." Navysah yang sejak tadi melihat Farah menginginkan semua makanan itu, hanya bisa menggulum senyum.
"Alhamdulillah, terima kasih tan." dengan tersenyum lebar Farah terlihat sangat bahagia.
"Om Davian tidak makan tan?" tanya Keken
"Om sedang berolahraga dia makan setelah olahraga selesai dan itu biasanya lama. Kita makan duluan." Navysah mulai menyendok nasi dan disusul menantu - menantunya. Keken pun memberi tanda pada Farah agar menyendokan nasi untuknya.
" Dirumah tante Navysah masih saja minta dilayani, ya ampun gemes banget sama kamu. " gumam Farah dalam hati, mau tak mau Farah harus pura-pura melayani Keken dengan baik dan romantis.
Namun Navysah melihat kekakuan dalam hubungan mereka.
" Kalau mau tidurlah disini, toh Keken libur panjang kan. " tawar Navysah, ia ingin ponakan dan istrinya menjalani hidup rumah tangga yang normal dan saling mencintai walaupun mereka menikah karena keterpaksaan.
" Aku bukan pengangguran tan, aku sudah bekerja. "potong Keken
" Kerja dimana? " kali ini Hanin dan Kinan serempak bertanya, mereka sangat penasaran karena Keken tipe orang yang pemilih dalam pekerjaan dan bertindak sesuka hati jadi tidak mungkin ada perusahaan yang betah dengan sikap Keken yang seperti itu.
" Di showroom mobil tapi aku bagian lapangan alias sales, eh mba Kinan, Hanin lebih baik mobil kalian ganti deh itu dah bulukan dan jelek, ganti yang baru dong beli di aku." ucap Keken, seperti biasa dengan mudahnya Keken mengejek barang milik orang lain jelek dan usang.
" Ini pangeran udah miskin masih saja songong! "pekik Kinan
" Ini namanya miskin yang belagu! " sahut Hanin juga
Keken hanya tertawa.
" Dimana-mana sales itu harus ramah, penuh senyum. Lah ini malah songong. " Kinan menggelengkan kepala,namun ia tidak pernah tersinggung dengan setiap ucapan Keken karena memang pria itu sudah terbiasa bersikap begitu.
__ADS_1
"Kalau salesnya aku beda mba, tinggal kedipin mata mereka langsung tanda tangan jual beli." ucapnya dengan sombong. Keken menyuap coto Makassar yang selalu menggoda untuknya. Enak dan segar. Sedangkan Farah, ia sibuk dengan kari ayam namun sesekali ia mengambil mie aceh seafood yang terlihat menggoda.
" Farah, kamu tidak cemburu kalau Keken dikerumuni cewek cantik? Kalau aku pasti tidak akan aku ijinkan mas Raffa kerja bareng wanita cantik." ucap Kinan
" Saya percaya dengan Keken mba." ucap Farah, ia tidak tahu harus menjawab apa, karena memang Farah tidak peduli jika Keken bekerja dengan siapapun jadi mana mungkin Ia cemburu.
Keken hanya menggulum senyum, Farah sangat pandai berakting di depan keluarganya. Walaupun dalam hati ia berharap Farah akan cemburu dengannya.
" Showroom mana, Ken?" kali ini Navysah yang bertanya.
" Di daerah Ragunan, mobil merk T. Itu tan yang punya si Kevin, tante kenal kan anaknya pak Haryono yang punya pabrik spartpart."
"Oh si Kevin botak, pantes saja lu bisa diterima disitu ternyata dia yang punya." ucap Hanin
"Paling dia menerima Keken karena terpaksa, aku yakin deh bocah tengik ini pasti maksa!" Kinan tahu betul sifat Keken, jadi dia terkadang berasumsi negatif tentangnya.
"Ah, mba Kinan kalau ngomong bener banget deh." Keken tergelak tawa, ia memang masuk kerja di perusahaan Kevin karena memaksa pemiliknya. Keken tahu kartu as yang mematikan hingga akhirnya Kevin menyetujui Keken untuk berkerja dengannya dan masuk sesuai keinginannya. Luar biasa.
Keken kembali tertawa. Sedangkan keempat wanita itu menggelengkan kepala. Ampun bener dengan sikap Keken.
" Tenang saja, aku kerja frelance dan itu tidak mengganggu operasional perusahaan. Aku juga masih ada pekerjaan dengan Fafa dan Khaffi jadi mau tidak mau aku harus berbagi waktu."
" Jadi dengan perusahaan ayahnya Michelle belum deal?" tanya Hanin. Keken hanya menggelengkan kepala.
" Cepetan sih, Ken beresin semua kerjasama ini jadi lu bisa kembali ke perusahaan bantuin Fafa,kalau tidak ada kamu aku yang kesal karena Fafa selalu pulang malam. "keluh Hanin. Semenjak tidak ada Keken, Fafa selalu pulang malam dan berimbas dengan hilangnya waktu dengan keluarga.
" Sabar dong Nin, ini juga lagi diusahain. "ucap Keken sembari menghabiskan suapan coto terakhir. Selesai. Namun ia melirik istrinya yang masih mengunyah hingga pipinya terlihat gembul. Keken menggulum senyum.
" Makan yang banyak tidak perlu malu-malu. " ucap Keken pada istrinya. Farah melirik kearah Keken dan bergantian kearah ketiga wanita di depannya. Malu karena semua orang melihat kearahnya.
" Maaf, aku sangat lapar dan makanan ini sangat enak." ucapnya dengan tersipu malu
__ADS_1
" Habiskan, tidak apa-apa Farah. Nanti dibungkus untukmu agar bisa makan lagi dirumah." ujar Navysah
"Beneran boleh tan." mata Farah kian berbinar dan dengan senyuman lebar. Keken menginjak kaki Farah agar segera menolaknya namun istrinya pura - pura tidak tahu.
"Tidak usah tan, dirumah masih banyak makanan." bohong Keken, padahal tadi Farah tidak sempat memasak.
" Tidak apa-apa Ken, bawa saja." ucap Navysah lagi
"Boleh ya tan aku bawa makanannya, ini sangat enak." Farah segera memotong pembicaraan Keken yang akan terlihat menolaknya lagi.
" Iya, boleh kok dibawa."
"Farah, kamu jangan lupa sering - sering kemari. Dulu saat aku hamil, aku selalu ingin makan masakan mama Navysah, bawaanya laper terus dan ingin makan makanya tubuhku bengkak berlipat - lipat." ucap Hanin
"Ah, itu kan alasan kamu saja yang malas masak. Bilang saja ingin masakan yang sudah siap saji." sindir Keken, kemudian ia mendapat tatapan tajam dari Hanin.
"Iya beneran Ken, kalau ibu hamil pasti sering kelaparan. Apalagi kalau lihat makanan enak terus mood lagi baik pasti deh makan nambah terus, berasa nikmat banget." timpal Kinan
" Makanya aku bawa Farah makan disini kalau makan masakan mommy Imelda yang ada istriku muntah - muntah. "kelakar Keken
" Jahat lu sama mommy sendiri. "
" Durhaka lu, Ken. "
" Eh, gue ngomong kenyataan, nih misal gue sodorin ke kalian masakan mommy Imelda. Kalian bakal makan tidak? "tanya Keken lagi
Dan kedua menantu Navysah menggelengkan kepala.
" Kalian aja tidak mau, masa istriku yang sedang hamil aku kasih masakan mommy, yang ada keracunan. "ujarnya
Keluarga mereka tahu bahwa Imelda tidak bisa memasak dan rasanya tidak enak.
__ADS_1
Dan disaat mereka sedang mengobrol terdengar suara salam dari luar rumah.Dan mereka tahu suara siapa itu.