
Keken sudah merasa lebih baik setelah seminggu dirawat di rumah sakit namun ia masih harus menjalani beberapa fisioterapi lagi.
Seminggu yang lalu memang mommy Imelda tidak mengijinkan Farah untuk berkunjung ke rumah sakit karena Keken benar-benar harus istirahat total. Farah ingin sekali menolak permintaan mertuanya namun Navysah selalu menenangkan dirinya.
"Demi Keken, bersabarlah."
"Keken sedang fisioterapi, dia hanya ingin segera sembuh dan bisa menggerakkan anggota tubuhnya dengan normal."
"Bicara Keken ngelantur, dia belum bisa fokus jadi mommy minta kamu di rumah saja, jaga kehamilanmu."
Itulah sederet kalimat dari mommy katakan saat Farah menelepon. Dan tante Navysah pun memintanya untuk bersabar.
"Beri Keken waktu untuk istirahat, yang terpenting dia sudah kembali. Nanti minggu depan tante antar kamu kesana."
" Keken belum mau dijenguk oleh siapapun termasuk anak-anak tante, bukan hanya kamu saja, sayang."
Ingin sekali Farah menolak dan kabur melihat suaminya namun tidak berdaya. Ia harus sabar karena ini semua demi kesehatan Keken.
" Tante, kira-kira Keken kenal aku tidak ya? "tanyanya
" Aku ingin Keken kembali padaku dan kita hidup seperti biasanya. "
" Tante belum tahu keadaan Keken, tapi satu yang pasti tante yakin Keken akan tetap menyayangimu dan anak ini. "Navysah mengelus perut Farah yang membesar.
Sepanjang perjalanan Farah selalu bertanya pada Navysah dan khawatir dengan sikap Keken jika nantinya dia tidak mengingatnya.
Mereka langsung menuju kamar inap Keken dan menemui pria yang sedang bersandar di kepala ranjang.
"Kau sudah datang?" Imelda melihat Farah dan Navysah dengan membawa buah tangan.
"Iya mom."
Farah mendekati suaminya namun Keken masih saja diam bahkan tidak menyapanya sama sekali.
" A.. apa kau baik-baik saja?" tanya Farah. Ia menatap intens wajah Keken yang mulai membaik dari sebelumnya.
"Ya, aku baik." Namun Keken menatap Farah sekilas lalu membuang wajahnya kearah lain.
Farah langsung memeluk tubuh Keken dan menangis, suaminya masih sama tidak ada pancaran cinta di mata Keken. Hati Farah merasa sangat sakit, lalu ia mencium pipi Keken lagi dan lagi.
"Apa yang kau lakukan?" Keken merasa risih karena perempuan hamil itu menangis dan menciumnya secara bertubi-tubi.
"Aku kangen kamu, sangat kangen." ucap Farah sembari terisak.
"Aku istrimu, kau ingat kan?"
Namun Keken menggelengkan kepala, ia masih tidak mengingat Farah.
Farah mengurai pelukan nya lalu menatapnya kembali. " Aku tidak peduli kamu ingat atau tidak yang terpenting kamu selamat dan bisa kembali padaku." Farah mengusap airmatanya, benar kata Fafa. Ia harus kuat dan berusaha membuat Keken ingat kembali.
"Mom, aku ingin ke toilet." Keken meminta ibunya mengantar ke dalam kamar mandi
"Biar aku saja." Farah
"Tidak sayang, kau sedang hamil. Biar mommy saja." Ia memapah Keken ke dalam kamar mandi lalu ia keluar. Setelah selesai, Keken berteriak kembali memanggil ibunya.
" Kau ingin makan apel?"tanya Farah saat melihat Keken yang sedang bersandar di kepala ranjangnya kini mengatur nafasnya. Berjalan ke kamar mandi cukup melelahkan dan dia harus belajar berjalan pelan-pelan. Ini bertujuan agar anggota tubuhnya cepat merespon dan kembali seperti semula.
" Iya." Namun ia melirik Farah lagi. Dengan cepat Farah mengupas apel dan menyuapi suaminya.
"Bagaimana kesehatan Keken mbak?" Kali ini Navysah bertanya pada Imelda.
"Ayo kita keluar, aku juga lapar ingin makan." Imelda menarik tangan adik iparnya lalu menuju kantin rumah sakit tanpa menjawab pertanyaan nya.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Farah. Ia bingung mau bicara apa karena Keken hanya diam padanya.
"Sedikit."
"Apa kau tidak kangen denganku dan Ghani?" tanya Farah sembari berkaca-kaca.
"Ghani, siapa dia?"
__ADS_1
Farah menuntun tangan Keken kearah perut. "Ini Ghani, anak kita."
" A... aku akan menjadi Ayah, itu tidak mungkin karena aku belum menikah." Keken
Lagi-lagi Farah merasa terkejut, Keken bilang dia belum menikah. Lalu hubungan selama ini apa,pikirnya. Ia memejamkan mata sejenak menahan laju airmatanya yang hampir menetes.
" Kita sudah menikah dan sebentar lagi Ghani akan lahir. Aku harap kau percaya padaku." pintanya
Keken hanya diam tidak merespon ucapan istrinya.
Namun suara pengawal terdengar dari dalam hingga akhirnya Farah membukakan pintu.
"Cari siapa?"
"Apakah ini kamar Slamet?"
"Slamet siapa, tidak ada nama slamet disini." suara pengawal Imelda
"Bukan slamet ayah, nama pria itu Keken." potong Eki
"Oh iya Keken, namanya keken anak dari nyonya Imelda. Kami orang yang menyelamatkan Keken."
Farah tidak bisa percaya begitu dan tidak mau kecolongan lagi, lalu ia segera menelepon Imelda agar datang ke kamar Keken karena ada orang asing.
" Maaf bukan maksud tidak sopan, bisakah menunggu sebentar karena mommy sedang keluar. Aku takut sesuatu terjadi dengan Keken, kalian bukan orang jahat kan?"
Pak Sam hanya terkekeh karena wanita hamil itu benar-benar selektif dan tidak memasukkan sembarang orang ke dalam kamar Keken.
" Mungkin wanita ini istri si Slamet. "gumam Sam dalam hati.
" Tidak apa-apa, kami akan menunggu diluar. "jawabnya.
Beberapa menit kemudian Imelda dan Navysah datang lalu mereka meminta kelima orang itu masuk ke dalam perawatan kamar Keken.
" Farah, kenalkan mereka orang yang membantu Keken saat kritis, tanpa mereka mommy yakin Keken akan __"Imelda menghela nafas panjangnya tak sanggup berkata apa - apa lagi.
" Benarkah, maaf karena aku kurang sopan. Saya Farah, istri dari Keken. Dan terima kasih sudah menolong suamiku." Farah berjabat tangan satu persatu.
"Mommy membawa mereka kemari agar kamu tahu Ken, siapa yang menolongmu saat itu." Imelda mendekat pada anaknya lalu menjabarkan peristiwa yang terjadi dan Farah mendengarnya secara langsung.
"Apa kau ingat saat kejadian itu?" tanyanya
"Mom, aku hanya ingat terakhir kali aku dipukul dengan dayung oleh pengawas Rafting itu. Lalu tidak tahu lagi." ucap Keken
"Jangan dipaksa untuk berpikir atau mengingat lebih jauh tuan, santai saja sedikit demi sedikit anda akan mengingatnya kembali." Sam
"Terima kasih sudah menolongku pak." ucap Keken, namun ia melirik seorang wanita diantara empat pria itu.
"Dia siapa?" Keken
"Ini Ani anak pak Tono, dia yang merawatmu saat koma. Dia yang menjagamu bersama Eki." ucap Sam
Keken melirik wanita berjilbab itu,ia sangat sopan dan cantik.
"Terima kasih sudah merawatku." Keken tersenyum
"Iy...iya mas." Ani gugup dan salah tingkah, hatinya meleleh saat melihat senyuman Keken.
"Ingat mba, Keken sudah memiliki istri yang sedang hamil." bisik Eki. Sejak Keken di koma di Malang, Eki tahu kalau Ani mengagumi sosok Keken yang tampan dan bersih.
"Berisik! Aku tahu diri dan tidak akan mencintai nya." balasnya dengan berbisik.
Farah melihat gadis itu memandangi suaminya dengan penuh kekaguman, ia cemburu.
" Terima kasih banyak sudah menolong suamiku, semoga kalian selalu mendapatkan kebaikan." Farah
" Aku dokter Crish, kau ingat tidak?"
Keken menggelengkan kepala.
" Ah, sayang sekali padahal aku berharap kau mengenaliku. "
__ADS_1
" Tulang, kau mata duitan aku tahu apa yang ada dipikiranmu." bisik Eki dengan menatap tidak suka pada paman nya. Ia tahu jika Keken mengingatnya maka bisa jadi Crish akan mendapatkan relasi atau kenalan dari kalangan atas dan itu akan membuat dirinya kian dikenal.
" Kau memang ponakanku yang menyebalkan. "balasnya.
Imelda meminta mereka datang ke Jakarta untuk bertemu Keken, agar Keken tahu bahwa ini seperti kehidupan kedua yang baru saja lolos dari maut.
Dan Imelda sekaligus memberi mereka hadiah liburan ke Labuhan Bajo sebagai ucapan terima kasih pada keluarga Sam dan Tono.
Namun beberapa menit kemudian Fafa datang bersama Khaffi.
" Modosaaaaa.. aku datang... auuooooo.!!" seperti biasa suara Fafa seperti Tarzan, ciri khas miliknya.
"Berisik!!" Navysah menjewer telinga anaknya yang selalu bersikap kekanak - kanakan.
"Maaf emak, aye lupa ini rumah sakit, hihihi..." Fafa
"Kau itu selalu begitu, mama malu, Fa!"
"Tante, ini rumah sakit atau pasar kok ramai." celetuk Khaffi yang melihat banyak orang di ruangan Keken.
" Ini rumah sakit dan aku malaikat pencabut nyawa yang sedang mencari mangsa disini, termasuk memangsa nyawamu Fi!" kelakar Navysah dengan mata melotot
" Ihhhh... gemes.. gemes... gemes deh aku sama tante pengen ku cubit pipinya." Khaffi berlagak seperti wanita manja yang sok imut.
" Ada suntik mati nggak sih! pumpung di rumah sakit nih aku mau suntik ini bocah yang ngeselin." Fafa menjambak rambut Khaffi dengan keras, gaya pria itu menjengkelkan hingga membuat Fafa kesal.
Mereka yang berada di ruangan itu ikut tergelak tawa.
"Modosa, kau ingat aku kan? tanya Fafa
Keken mengangguk cepat." Kamu Fafa si Tarzan hutan. "
" Kalau aku ingat tidak? "tanya Khaffi
Keken menganggukan kepala." Kau Khaffi si pria mesum. "
Farah melolong, bahkan Keken tahu julukan kedua teman nya." Sayang, kau benar-benar tidak ingat aku? Lalu kenapa kau masih bisa ingat kedua pria sinting ini? "
Fafa dan Khaffi menatap tajam pada Farah. "Kami buka sinting, tapi otak kami memang kurang satu gram" ucapnya secara bersamaan lalu saling menatap dan mereka tergelak tawa.
"Kalian memang sinting dan stress." Kali ini umpatan dari Imelda
"Tapi memang aku tidak ingat kamu." Keken menatap pada Farah
"Ya sudah aku tidak akan memaksamu untuk mengingatku."
"Wanita cantik ini siapa Tan." Khaffi melirik satu wanita asing,tidak pernah melihat sebelumnya.
"Dia yang menyelamatkan Keken dan merawatnya."
"Mau dong dirawat kamu." celetuk Khaffi dengan cengengesan
"Ya sudah nanti tante rawat, masukan kamu ke rumah sakit jiwa." celetuk Navysah dengan gemas. Ani hanya menggulum senyum melihat kedua pria aneh. Sungguh lucu, menurutnya.
"Woww... senyumnya semanis madu." goda Khaffi, seperti biasa mulut manisnya merayu wanita cantik
"Ada bapaknya, kau berani tidak?!"ucap Navysah, ia menunjuk pak Tono yang berada di samping Ani.
" Ah, mana berani aku. Bercanda ya pak. "Khaffi
" Namamu siapa gadis cantik? "
" Ani. "
" Ani oh ani, kenalkan aku Rhomi Irimi. "kelakar Khaffi sembari cengengesan
" Ani cantik ya, Ken? "Khaffi bertanya pada pria yang duduk di kepala ranjang
" Iya, cantik. "
Ani tersenyum malu karena dipuji kedua pria itu, namun tidak demikian dengan Farah. Ia meremas tangan nya, kesal karena Keken menyebut wanita lain cantik padahal dulu hanya dirinya yang paling cantik bagi Keken.
__ADS_1
Setelah mengobrol, pak Sam dan kerabatnya pamit pulang menuju hotel yang disiapkan oleh Imelda. Tak lupa Ia sangat berterima kasih karena nyonya besar memberinya banyak hadiah.