Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 114


__ADS_3

" Mau bertaruh denganku tidak? "Khaffi menaik turunkan alisnya pada Farah. Mereka mengobrol di teras rumah, sedangkan Keken sedang mandi. Kontrakan Farah yang sempit dan pengap serta tidak adanya pendingin udara membuat Keken sering mandi disaat malam hari.


" Taruhan apa? "


" Kita lihat, jika kamu bisa menahan Keken untuk tidak pergi denganku. Aku akan memberikan susu hamil satu kardus untukmu." ucap Khaffi


"Aku tidak mau, Keken sudah memberiku banyak susu kehamilan bahkan aku sampai ingin muntah karena saking banyaknya." Farah menghela nafas panjangnya saat mengingat betapa gilanya Keken dengan membeli susu kehamilan beberapa kardus untuknya,ia selalu membeli secara berlebihan.


" Kau mau hadiah taruhan apa? "


" Aku tidak ingin taruhan, Khaffi. Buat apa taruhan seperti itu!"


" Yakin, mau ijinin Keken keluar denganku?" tanyanya lagi. "Kita mau ketemu Michelle dan bisa jadi Keken mampir ke rumah Wina, dia itu mantan partner ranjang Keken. Apa kamu tidak cemburu?" lirih Khaffi sembari mendekat kearah Farah agar tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.


"Ngapain aku cemburu, mana ada kayak gitu!" ucap Farah dengan ketus,


"Keken menikahiku karena bayi ini. Cuma bayi ini yang dia cintai bukan aku." lirih Farah, ia mengatakannya dengan suara sangat lirih.


"Kau itu aneh dan tidak peka. Keken itu mencintaimu, kamu saja yang tidak sadar. Cobalah buka hati dan pikiranmu jangan hanya melihat mantan,itu masa lalu."


"Apaan sih! Kok pembicaraan kita kemana-mana." Farah bersungut dan kesal saat Khaffi membawa - bawa masalah mantan pacarnya.


"Aku serius Farah, coba kamu pikir. Keken anak tunggal, emaknya tajir melintir sampai guling-guling, tujuh turunan lima belokan sampai tiga perempatan kagak bakalan habis tuh duitnya. Dan sekarang Keken mau tinggal di kontrakan sempit, panas, pengap seperti ini. Ini semua karena dia cinta sama lu! "


" Kalau dia cinta sama aku, dia tidak akan menghamiliku seperti ini. Ini bukan cinta Khaffi tapi naf su. Dan Keken mau tinggal denganku seperti ini karena terpaksa. Dia diusir dari rumahnya. Itu perjanjian ibunya dan dia, bukan karena cinta denganku. "


" Wah, waras banget nih cewek. Pikiranmu buntu kudu dibersihin pakai vacum cleaner. Kesel gue denger lu ngomong gini. " Khaffi benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Farah yang tidak pernah menganggap cinta Keken yang begitu besar untuknya.


Saat Khaffi mengobrol dengan Keken tentang masalah pekerjaan, sesekali terselip obrolan diantara mereka tentang sikap Farah yang masih belum menerima Keken sebagai suaminya bahkan Keken bercerita bahwa mantan Farah pernah datang ke rumah. Farah pun tidak mau disentuh dan hanya menyuruh dirinya untuk ini dan itu, sebatas tanggung jawab pada kehamilannya,tidak lebih. Sungguh malang nasib Keken.


" Sudahlah Khaffi, aku tidak mau mendengar cerita karanganmu itu!" Farah seolah tidak percaya dengan teman suaminya. Khaffi selalu berkata tentang wanita - wanita disekeliling suaminya.

__ADS_1


"Kamu pikir aku bohong! Eh, Farah. Mantan Keken itu banyak dan cantik - cantik. Keken pria yang loyal sama mereka, apapun mereka minta pasti Keken beri dan banyak wanita cantik ingin memiliki suami seperti Keken. Selain fasilitas unlimited, tentu saja mereka suka dengan Kenzi si per kasa, emang lu nggak mau kenalan sama dia.Nyesel lu gak kenalan sama dia, sekali tembak minta nambah. "


Farah hanya tersenyum sinis, seolah tidak peduli dengan ucapan Khaffi yang terlalu berlebihan." Bodo amat! "


" Beneran ya jangan nyesel kalau si Kenzi lebih memilih wanita lain. Kebaikan Keken pada wanita biasanya dibalas dengan kenikmatan. Emang lu mau saat hamil gini eh tau tau ada wanita lain yang ngaku hamil anak si Keken." Khaffi sengaja membuat takut Farah dengan cerita bohongnya. Ia tahu Keken tidak semudah itu menerima ajakan wanita lain. Keken pria pemilih dan perfeksionis.


Dan Farah sedikit khawatir dengan perkataan yang baru saja Khaffi lontarkan. Ia memang tidak mencintai Keken namun dengan membayangkan saat dirinya hamil lalu ada wanita yang mengaku hasil dari Keken juga, ia tidak bisa menerimanya karena bagaimanapun ia masih sah istri Keken selama satu tahun sampai bayinya lahir. Ia hanya ingin hidup tenang sampai hari persalinan datang, tapi jika ada masalah seperti ini maka secara otomatis Farah juga akan kepikiran dan berimbas pada kehamilannya. Ini tidak boleh terjadi. Kini Farah hanya diam, merenung sejenak dan mempertimbangkan untuk menahan Keken agar tidak pergi.


"Kalau punya suami harus dijaga baik-baik, service full atas bawah agar dia tidak kelaparan dan jajan di luar." Khaffi menggulum senyum saat melihat perubahan wajah Farah yang tadinya jutek kini mulai bimbang. Ia berharap tembakannya tepat sasaran dan berharap Farah mau memulai menjalani hidup sebagai istri Keken tanpa paksaan, menerima suaminya dengan ikhlas dan memulai hidup dari awal dengan perasaan cinta.


"Ngobrolin apa sih, serius banget." suara Keken terdengar dari dalam rumah dan itu membuat Farah sadar dari lamunan nya.


"Khaffi, lu jangan cerita yang tidak - tidak sama bini gue. Awas lu!" ancam Keken dengan tatapan mengerikan. Ia sangat takut jika Khaffi menceritakan semua tentang pacarnya dan kebiasaan hidup Keken.


"Dih! PD amat lu, Ken. Gue kagak cerita apapun sama Farah, tanya aja dia kalau tidak percaya."


Keken menatap Farah dan melihat istrinya diam.


"Mau kemana?" tanya Farah pura-pura tidak tahu kemana suaminya akan pergi. Ia hanya melihat Keken yang lebih segar dan wangi dari sebelumnya, berkas yang tercecer dirapikan oleh pria itu dan dimasukkan ke dalam tas lagi.


"Aku mau pergi dulu. Mungkin pulang tengah malam."


"Kemana?"


"Mm..., aku akan ke Michelle dan pergi bertemu kawan." ucapnya dengan hati - hati. Keken memakai jaket agar terasa hangat. Ia sudah memakai kaos kaki juga. Setelah bertemu Michelle, ia akan bertemu dengan sekertaris ayah Michelle, berharap masih ada kesempatan untuk bisa menjalin kerja sama dengannya.


" Perempuan?" tanyanya lagi


Keken mengernyitkan dahi, tumben sekali Farah bertanya seperti itu.


"Iya, bertemu teman perempuan." jawabnya.

__ADS_1


Farah mulai resah saat mendengar Keken akan bertemu dengan perempuan. Ucapan Khaffi mulai terniang di telinganya dan membuat Farah risau.


" Bertemu mantan kehangatan?" tanyanya lagi


"Maksudnya?" Keken menyipitkan mata, entah apa maksud dari pertanyaan Farah.


Khaffi yang mendengar pembicaraan mereka dari luar kini hanya terkekeh dengan puas karena berhasil membuat hati Farah resah.


" Aku bekerja Far, kamu jangan berpikiran yang macam-macam. "ucap Keken kembali sembari mengikat sepatu.


" Siapa juga yang berpikiran macam-macam, aku hanya bertanya. Dan entah kenapa hari ini aku ingin kamu di rumah saja, tidak perlu bekerja. " pinta Farah dengan menahan rasa malunya. Rasanya ingin tenggelam di dasar laut karena meminta Keken untuk tinggal di rumah,tidak mengijinkannya pergi.


" Aku harus pergi, ini penting. "Keken bersiap dengan tas nya yang akan dibawa.


" Aku mau kamu di rumah. Ini anakmu yang minta, Ken! " Wajah Farah kian memerah menahan malu. Alasan terbaik adalah anak,sebagai senjata terakhir.


Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya, sedangkan Khaffi yang menguping pembicaraan terdengar gelak tawa darinya.


Keken menghela nafas panjangnya lagi, ia sudah benar-benar rapi dan akan menemui klien penting namun istrinya mulai merengek dan selalu mengatas namakan anaknya.


" Anakmu juga penting, Ken. Dia mau ayahnya tinggal di rumah." Farah membali berucap saat Keken mulai menatap dirinya dengan tatapan datar seolah bimbang.


Keken menaruh tas nya kembali dan pasrah saat Farah memintanya untuk tinggal di rumah.


"Sini, aku peluk. Hari ini belum ada pelukan." Keken menghampiri Farah dan memeluknya, mencium kening Farah dengan lembut.


Aroma tubuh dan sampo Keken begitu menguar membuat Farah betah saat dipeluk suaminya. Sangat nyaman.


" Hari ini ayah tidak jadi pergi, adek mau ayah dirumah ya?" Keken mengelus perut Farah yang sedikit membuncit dan menciumnya. " Hari ini bunda jualan dan pasti lelah, adek jangan rewel ya."


Farah tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Keken bersedia tinggal di rumah. Ia mulai berpikir sebenarnya alasan Keken tidak jadi pergi karena calon bayi atau karena dirinya.

__ADS_1


"Benarkah Keken mencintaiku?" gumam Farah dalam hati.


__ADS_2