Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 81


__ADS_3

Farah merasa tidak nyaman karena Keken selalu berada si sampingnya dan menjaganya. Kedua orangtua Keken pamit karena ada masalah yang harus diselesaikan hingga akhirnya Keken lah yang menjaganya.


"Apa kau perlu sesuatu?" tanyanya, ia melihat Farah yang kasak kusuk ke kanan dan ke kiri membenarkan posisi tubuhnya.


"Tidak! Lebih baik kamu pulang!" ujarnya tanpa menatap Keken


"Aku akan menjagamu."


"Tidak perlu!" ketusnya. "Aku terbiasa sendiri dan sebentar lagi aku juga pulang ke rumah. Aku baik-baik saja."


Hari ini Farah diijinkan untuk pulang karena tidak ada luka yang serius dan kondisinya sudah membaik setelah mendapatkan obat dan vitamin dari dokter.


" Far, sampai kapan kau akan seperti ini. Aku minta maaf karena salah tapi kumohon ijinkan aku merawat kamu."


Farah diam seribu bahasa.


"Kita nikah ya?" Keken menggenggam tangan Farah


"Aku tidak mau menikah denganmu, aku juga tidak mau melihatmu Ken. Please, jangan ganggu aku." Farah mengibaskan tangan Keken dengan kasar


"Ini demi anak kita."


" Aku bisa merawatnya sendiri!" kekeh Farah


"Aku tidak ingin anakku hidup tanpa seorang ayah. Apapun yang kamu inginkan aku akan menurutinya Farah. Apapun itu." janjinya


"Apa kau mau anak ini lahir tidak punya ayah, tidak punya data administrasi, bagaimana nantinya dia sekolah, aku tidak mau anakku dibully dan tidak percaya diri. Apa kau tega dengan anakmu ini?"


Farah hanya membuang wajahnya kearah lain.


"Kamu boleh benci aku tapi tidak dengan anakku ini." sambung Keken lagi


Namun saat mereka berbicara serius, suara berisik terdengar dari luar.


"Farah... huhuhu..." Terlihat Dini dan Vania menangis sembari memeluk Farah. Diikuti chef Ardi dan mommy Alin .


" Aku menunggumu di parkiran kemarin, ternyata kamu ada disini. Aku khawatir denganmu Farah." Dini semakin erat memeluknya.


"Aku juga khawatir kamu tidak pulang. Setelah menerima telepon darimu kami bergegas kemari." timpal Vania sembari mengurai pelukan


"Mommy Alin..." Farah melihat ibu Vania, sosok yang selalu membantunya. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri.


"Mommy sudah tahu, sudah jangan menangis." Mommy Alin memeluk Farah seperti anaknya sendiri.


"Mommy harap kamu dan bayi ini selalu sehat,mommy akan selalu ada untuk kamu."


"Mommy... Huhuhu... Aku, a aku... Huhuhu." Farah menangis di pelukan ibu Vania.

__ADS_1


"Sakit sekali, mih....huhuhu... " Hanya pada dia Farah menumpahkan beban beratnya.


"Semuanya akan baik-baik saja, kamu tenanglah.." Mommy Alin mengelus punggung Farah dengan lembut


"Chef Ardi , kau disini." Farah melirik chef Ardi


"Iya, aku datang setelah menerima pesan dari Dini. Are you oke?"


Farah menganggukkan kepala


" Terimakasih chef."


" Ternyata pria br*ngsek ini ada disini, kau harus bertanggung jawab! Awas saja jika kau lari. Aku akan mencarimu ke ujung dunia!" Vania menatap tajam, sebenarnya ia tidak suka dengan sosok Keken tapi mau bagaimana lagi,Farah sudah hamil dan harus segera menikah.


" Aku akan bertanggung jawab tapi temanmu tidak mau menikah denganku. "jawab Keken


" Farah, benarkah itu? "Vania melotot kearah temannya yang kini berada di ranjang." Kau masih keras kepala! " ia begitu gemas karena Farah kekeh tidak mau menikah dengan Keken


" Aku tidak mau menikah dengannya, sudah aku katakan berulang kali. Aku tidak mau! "


" Kau memang menjengkelkan dan gila! " Dini dengan kesal memukul lengan Farah


" Apa yang kau lakukan pada Farah!" Keken menatap tajam sembari menahan tangan Dini agar tidak memukul Farah." Jangan menyakitinya."


" Wah, sekarang ada pahlawan kesiangan. Memangnya kamu siapanya Farah sampai sebegitunya membela? "


"Aku..." Keken bingung menjelaskan statusnya, memang dia bukan siapa - siapanya Farah. "Sial!" geramnya dalam hati


"Memangnya kamu cinta sama Farah hingga kau ingin menikah dengannya?" kali ini pertanyaan keluar dari mulut Vania


"HAH...!" Keken terkesiap, ia melirik Farah. Namun, gadis itu seolah tidak peduli.


" Itu bukan urusanmu!" seru Keken, ia tidak ingin mengakui perasaannya pada banyak orang, malu rasanya karena Farah pun tidak ada rasa padanya.


"Permisi..." suara seorang pria terdengar dari balik pintu. Ternyata Khaffi datang membawa beberapa makanan permintaan Farah semalam.


"Wah,banyak tamu rupanya." Khaffi melihat Farah dikelilingi banyak orang.


"Sorry Far, gue telat tadi ada___" Namun matanya melirik seorang gadis yang dia kenal. Gadis yang membuat mobilnya kotor karena susu yang dia tuang ke kaca mobilnya. Sedangkan Dini meremas tangannya, ia terkejut melihat Khaffi untuk kedua kalinya.


"Si*l! Kenapa ada pria itu ada disini." gumam Fini dalam hati.


"Farah, kau kenal dia?" tanya Dini


"Kenal, dia pria baik yang menolongku saat itu. Aku sudah pernah ceritakan padamu Din."


"Whatt...!! Di... Dia pria yang menurutmu seperti malaikat itu. Wah, lu pasti sawan Far, itu tidak mungkin."

__ADS_1


" Hei nona! Apa maksudmu itu?" Khaffi menatap tidak suka pada Dini. "Urusan kita belum selesai, kau harus ganti rugi dengan mobil mahalku yang kau kotori."


"Kalian kenal?" kini Farah yang merasa penasaran. Ia melirik kearah Khaffi dan Dini secara bergantian.


"Kenal."


"Tidak." Mereka menjawab dengan tidak kompak


"Sudahlah, aku kesini hanya untuk membawakan pesananmu Far. Ini rujak buah, baso dan es boba coklat sesuai permintaan nyidammu." Khaffi menyerahkan bungkusan plastik pada Farah


"Makasih Khaffi, kamu memang yang terbaik." Farah mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar


"Kenapa kamu tidak minta padaku, aku bisa membelikannya untukmu." ucap Keken namun matanya menatap tidak suka pada Khaffi


"Aku hanya ingin Khaffi." ucap Farah


"Besok-besok kalau kamu ingin makan sesuatu katakan padaku, bukan pada pria lain karena itu calon anakku."


Farah tidak peduli dengan ucapan Keken, ia menusuk rujak yang terlihat menggiurkan apalagi saat melihat mangga muda yang membuat air liur nya hampir menetes.


" Enak? "tanya Keken, Farah hanya menganggukan kepala.


" Nanti aku belikan lagi ya. "Keken tersenyum sembari menyentuh pucuk rambut Farah. Dan langsung saja Farah menepis tangannya sembari menatap tajam.


Keken membuka plastik dan melihat boba, ia dengan cepat menusuknya dengan sedotan dan menyesapnya.


" Kok diminum sih!? " Farah kesal karena minumannya diambil Keken. "Itu punyaku."


" Ibu hamil tidak boleh minum es boba, ini kebanyakan gula tidak baik untuk kesehatan." ucap Keken


"Tapi aku ingin itu, rasanya pasti manis." Farah masih berusaha merebut minuman itu namun ia kalah cepat dari tangan Keken.


"Kalau kamu mau yang manis-manis tinggal lihat senyumku." Keken tersenyum


"Gak lucu!" ketus Farah


"Ah, aku jadi iri dengan kalian. Lebih baik aku pulang saja, masih banyak tugas. Aku pulang dulu Far." pamit Dini


"Hei gadis tengik! Berikan aku uang ganti rugi sekarang." Khaffi menadahkan tangannya pada Dini


"A.. Apa-apaan ini. Kau ingin uangku?" Dini merasa tersudut dan tidak berkutik saat Khaffi terang-terangan meminta uangnya. " Masa orang kaya minta duit, Memalukan!"


Khaffi bertambah kesal bukan nya meminta maaf tapi gadis itu malah mencibirnya.


" Ayo kita bicara diluar." Khaffi menyeret Dini ke luar ruangan.


"Kami juga ingin keluar." selanjutnya Vania dan Chef Ardi mengikuti Dini

__ADS_1


"Tuan Kendrew, ada yang ingin saya bicarakan pada Farah. Bisa berikan kami waktu berdua?" pinta mommy Alin


"Baik nyonya." Keken keluar ruangan, memberikan waktu untuk mereka bicara empat mata.


__ADS_2