Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 65


__ADS_3

Pagihari Vania sudah datang ke kontrakan Farah, setelah semalam mendapat pesan dari Dini, ia mengajukan cuti dua hari di kantornya. Ia dengan cepat memerintahkan asisten ayahnya untuk mencari informasi tentang keberadaan Keken.


"Jangan peluk terlalu keras, aku bisa sesak nafas." Farah mengurai pelukan Vania sejak datang ke rumah gadis itu selalu memeluk Farah dan menangis.


Hari ini Farah tidak masuk kerja, badannya mulai demam dan serangan morning sickness membuatnya lemas sehingga ia selalu berbaring di tempat tidur.


" Jaga kesehatan, aku tidak ingin kamu sakit. Kalau kamu ingin sesuatu katakan padaku." Vania mengusap sudut matanya,melihat Farah yang begitu banyak cobaan sejak kecil hingga dewasa membuatnya sedih,apalagi sekarang dia hamil dan pria brengsek itu belum tahu dimana keberadaan nya.


" Aku akan membuat perhitungan dengan pria itu, dia sudah merusakmu."ancam Vania


" Tidak perlu, keluarganya jauh diatas kita. Yang ada kita dituntut balik kalau kamu ngeroyok dia." Farah turun dari tempat tidur dan kembali masuk ke dalam toilet. Ia memuntahkan isi perutnya namun tidak ada yang keluar. Kepalanya pun terasa sakit, namun ia tidak bisa minum sembarang obat karena sedang hamil.


" Aku tidak peduli, setidaknya aku bisa melihat dia babak belur. Kalau dia lapor polisi aku akan minta bantuan ayahku." Vania anak dari keluarga yang kaya dan meminta perlindungan dari sang ayah adalah salah satu senjata terakhirnya.


" Kita ke dokter ya. "Vania iba melihat Farah, ia kembali menutupi tubuh Farah dengan selimut


" Tidak perlu! Aku hanya butuh istirahat." kekeh Farah." Tadi malam aku melihat Dini menangis di ruang televisi dan itu karenaku, maafkan aku sering membuat kalian repot. "


Dini gadis yang terlihat galak namun dalam hatinya begitu lembut, ia hanya tidak bisa mengungkapkan perasaan dan tidak mau terlihat lemah.


" Kita ini bersahabat, kalau satu terluka yang lain pasti akan terluka. Walaupun si jutek itu terkadang menyebalkan tapi dia sebenarnya baik."


"Dini memang baik keliatannya saja jutek seperti itu, kemarin saja dia beliin aku lima tespek dan susu kehamilan dua kotak."


" Benarkah, wah pasti akan ada hujan badai dengan petir yang berkilat ini."kelakar Vania, ia tahu Dini tipe orang yang hemat dan suka gratisan. Dan salah satu alasannya karena membantu menyekolahkan adiknya.


Farah hanya tersenyum lebar, bersama Dini dan Vania ia merasa beban hidup sedikit berkurang. Mereka selalu bisa membuat suasana hati yang tadi kacau mulai membaik.


"Sepertinya aku akan resign dari restoran, kehamilanku ini menganggu pekerjaan, kemarin saja chef Ardi marah padaku dan ini pertama kalinya, mungkin sudah enek kali dengan sikapku" ucap Farah sembari meneguk susu hangat.


"Apa kau yakin?"

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi, sebenarnya sayang banget sih. Mereka udah kayak keluarga tapi saat ini aku sangat merepotkan bagi mereka dan aku tidak mau ada yang tahu bahwa aku hamil. Malu banget Van, terkadang aku berpikir ingin mengakhiri hidup saja."


"Ngomong apaan sih kamu!" bentak Vania, "Aku tidak suka kamu berpikiran seperti itu!"


"Kalau kamu tidak mau merawat anak itu, sini berikan padaku. Aku yang akan mengurusnya. Dan kamu bisa lanjutkan hidupmu tapi jangan pernah ada ucapan mengakhiri!" geramnya


" Kamu pikir dengan mengakhiri hidup bisa menyelesaikan semua masalah!" Vania memukul ringan lengan Farah saking kesalnya.


" Hiks.. Hiks.. Hiks... Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,hidupku rasanya sudah tidak berarti lagi. Keluargaku membuangku, ayahku tidak peduli, ibuku meninggal, hidupku sudah rusak hamil diluar nikah apalagi yang tersisa, tidak ada,tidak ada Van." Wajah Farah begitu menyedihkan, menangis sepanjang malam membuat wajahnya bengkak. Hidup dan pikirannya begitu kacau setelah mengetahui dirinya hamil. Mimpinya bersama sang kekasih hancur, tidak ada yang bisa diharapkan lagi.


" Kamu tenanglah, jangan banyak pikiran. Anakmu pasti akan sedih melihat ibunya seperti ini." Vania kembali memeluk Farah dan mengelus punggungnya. " Ada aku, kamu tenanglah. Walaupun mereka tidak peduli denganmu, ada aku, Dini, mommy Alin yang akan menjagamu. "


" Kita ke dokter ya. "pinta Vania, ia begitu khawatir dengan kesehatan fisik dan mental Farah. Terlihat dari sorot matanya begitu kosong, tidak bersemangat bahkan ingin mengakhiri hidupnya.


" Aku tidak mau! Kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau. " Farah cemberut dan berbalik badan membelakangi Vania.


"Oke, oke aku tidak akan memaksa. Sekarang apa ada yang kamu inginkan?"


" Kalau urusan duitmu aku bisa bilang sama mommy aku, jalan - jalan bisa, tapi yang terakhir kagak! Kamu kan tahu aku tidak bisa masak. "


" Tapi beneran ini aku dah pengen banget masakanmu Van,kan bisa lihat yutube kalaupun gosong tidak masalah."


"Beli saja di rumah makan padang, aku akan membelikan untukmu."


"Aku tidak mau, saat ini aku hanya ingin masakanmu!" kekeh Farah.


Vania mengerucutkan bibirnya, ia paling malas untuk memasak. Apalagi ikan, ia harus pergi ke swalayan terlebih dahulu, membersihkan nya, memasak dan itu sungguh sangat merepotkan untuknya.


" Oh my God. "Vania menghela nafas panjangnya, ingin rasanya ia menolak namun apalah daya karena saat ini Farah yang memintanya.


" Mau yah?" Farah begitu berharap dengan wajah memelas

__ADS_1


" Untung lu lagi hamil, kalo kagak udah gue jitak!" Vania mau tak mau pergi dan membeli ikan serta bahan lainnya sesuai keinginan ibu hamil itu. Ia pergi ke swalayan dengan wajah yang cemberut dan selalu menggerutu. Tidak lupa ia membeli sayuran dan buah untuk Farah. Ia membeli mangga, jambu dan buah jeruk.


Vania pernah melihat kakak iparnya suka makan jeruk disaat hamil, rasa asam membuatnya terasa segar. Ia pun pulang dengan banyak belanjaan.


" Harus aku apakan ini?" tanyanya pada Farah


" Bersihkan dulu ikannya, buang ingsang lalu cuci yang bersih."


Ia melakukan sesuai instruksi Farah.


"Kamu tidak boleh protes dengan masakanku karena aku sudah membeli bumbu instan jadi aku tidak perlu repot - repot mengulek."


"Terserah, yang penting aku bisa makan masakanmu." Farah tersenyum sembari melihat Vania memasak, ini pemandangan yang langka dan perlu diabadikan


"Lu ngapain ngerekam gue lagi masak?!" Vania mulai tidak fokus karena Farah cekikikan sembari merekam dirinya.


"Kamu lucu saat memasak, begitu kaku dan selalu menggerutu. Ini akan aku abadikan dan nantinya aku kirim ke pacarmu."


" Jangan dong, malu-maluin aku saja." gerutunya sembari menumis bumbu gulai dan memberinya beberapa rempah serta penyedap rasa.


Setelah tiga puluh menit menunggu akhirnya masakan Vania matang dan ia menyajikannya pada Farah.


" Sepertinya rasanya asin tapi aku tidak tahu. "


" Kalau asin berarti kamu pengen nikah." ucap Farah, ia begitu tidak sabar untuk mencicipi masakan Vania. Menyeruput kuah berbumbu kuning itu dan merasakan nikmatnya gulai ikan kakap.


"Enak?!" tanya Vania, ia melihat Farah makan dengan lahap


"Pelan-pelan itu cukup panas." Vania heran dengan Farah kali ini, sup yang ia sajikan termasuk panas namun gadis itu seolah tidak peduli, ia terus makan dan makan lagi


"Enak." ucap Farah, pipinya menggembung karena nasi di mulutnya

__ADS_1


"Oh ya ampun, dia mulai rakus padahal masakanku tidak enak." lirih Vania, ia tersenyum saat melihat Farah yang makan dengan penuh semangat.


__ADS_2