
Dini hanya bisa menghela nafas panjangnya karena Farah memintanya untuk duduk di bangku penumpang depan di samping Khaffi, sedangkan si ibu hamil itu duduk di bangku tengah sembari melihat kearah luar jendela.
"Jangan melamun." Dini melirik Farah yang diam saja, tidak ada raut bahagia padahal wanita itu yang menginginkan pergi ke pantai.
"Aku tidak melamun Dini." ucap Farah dengan nada datar dan sesekali Khaffi memperhatikan Farah dari spion dalam.
Mereka ke pantai Utara dan melihat ombak sesuai permintaan ibu hamil itu. Farah duduk di pasir sembari menatap laut, membayangkan suaminya yang kini belum ada kabar.
" Keken.... kapan kau pulang, aku sangat merindukanmu..." lirihnya sembari berkaca-kaca. Saat ia ingin tidur di kamar Keken, Farah selalu melihat pigura besar yang terpampang wajah suaminya lalu satu pigura lagi saat pernikahan mereka.
" Aku selalu menatap fotomu setiap tidur dan Ghani tidak mau diam, sepertinya dia juga merindukanmu." Ia menangis terisak
Dini dan Khaffi duduk menjauh dari Farah, mereka memberikan waktu untuk Farah sendirian untuk berkeluh kesah pada laut.
"Aku tidak tega dengan Farah, kapan Keken pulang ya." tanyanya pada diri sendiri tapi Khaffi mendengar gumaman gadis itu.
"Aku ingin memberi satu informasi penting, apa kau bisa menyimpan rahasia?" tanyanya
"Apa aku seperti gadis yang suka bergosip dan tukang ngadu." Dini melirik Khaffi
Khaffi tahu Dini tidak banyak bicara dan sepertinya gadis ini bisa dipercaya untuk menjaga Farah.
" Keken koma dan dia hampir dibunuh seseorang. Besok Keken akan ke Jakarta untuk perawatan lebih lanjut. Aku minta kau jangan beritahu Farah karena pasti dia akan panik dan ingin bertemu suaminya. Keken masih dalam keadaan kritis. "Khaffi berkata sembari menghela nafas panjangnya
Tubuh Dini hampir limbung saat mendengar kenyataan pahit ini," Ke.. Keken koma. "
" Tapi dia bisa sembuh kan, Keken akan selamat kan? "tanyanya sembari berkaca-kaca, ia tidak menyangka ternyata Keken sudah ditemukan namun kondisinya koma.
" Belum tahu karena cidera di kepalanya cukup berat, aku benar-benar tidak tahu. "Khaffi pun ikut berkaca-kaca, selama ini ia selalu bercanda tawa dengan pria itu tapi sekarang Keken sakit parah. Khaffi tidak menyangka
" Keken akan menjalani rangkaian pemeriksaan, aku minta kau menjaga Farah. Jangan sampai dia tahu kalau Keken sudah di Jakarta. "
Dini langsung mengangguk cepat.
" Aku yakin Keken akan sembuh, aku akan berdoa pada Allah agar Keken sembuh, aku tidak ingin melihat Farah sedih, dia baru saja menemukan cintanya lalu bagaimana jika dia tahu kalau Keken koma,Farah pasti akan sangat sedih." Airmata Dini tak mampu lagi terbendung dan mengalir begitu saja.
" Pakailah sapu tanganku. "Khaffi menyodorkannya
" Tidak perlu! Aku masih punya baju. " Ia mengusap airmata nya dengan lengan bajunya.
" Dasar jorok! " Khaffi
" Bodo amat daripada aku harus menggunakan sapu tanganmu, kita tidak terlalu dekat jadi jaga jarak. Aku tidak ingin hutang budi denganmu, apalagi meminjam sapu tangan, ini bukan seperti drama-drama televisi . " ketus Dini
"Dasar cewek sinting!!" umpatnya, baru kali ada wanita yang menolak pemberiannya. Biasanya wanita lain akan dengan sengaja meminjam saputangan atau sekedar merebahkan kepalanya di bahunya tetapi wanita ini menolaknya mentah - mentah.
Dini pergi membeli minuman daripada harus berdekatan dengan Khaffi namun saat membayar botol minuman nya, ia melihat seseorang yang dia kenal.
"Iqbal!!!" teriak Dini lalu dua orang pria itu menoleh. Salah satu dari mereka melambaikan tangan.
__ADS_1
"Kau disini?"
"Iya." jawab Iqbal dengan malas karena ketahuan bolos kerja.
"Kau sedang apa?"
"Aku bersama Farah, dia sedang melihat laut."
"Kau tidak masuk dua hari dan aku pun malas untuk kerja."
"Cih! Sudah banyak uang ya jadi kau malas, atau karena yang ini lebih tajir." Dini melihat pria disamping Iqbal yang terlihat tampan dan berwajah bule. Iqbal dengan cepat membekap mulut Dini dan menariknya ke tempat lain.
" Jangan banyak bicara, aku sedang usaha. "Akhirnya Iqbal melepaskan tangannya dari mulut Dini
" Sial, tanganmu bau terasi!! "Dini menjambak rambut pria itu dengan kesal.
" Hihihi, aku lupa tadi makan ayam geprek sambal terasi, emang bau ya. "Iqbal mencium tangannya sendiri lalu terkekeh.
" Bau banget kayak ketek lu!! " ketus Dini.
" Cari perempuan bukan lelaki, kau memang tidak berubah. " Dini yang tahu kalau Iqbal mengalami menyimpangan s*ksual hanya bisa memberikan saran, memang pria itu lebih tertarik dengan lelaki.
"Gue udah coba suka dengan wanita tapi tidak bisa." lirihnya sembari berbisik pada Dini.
" Terserahlah aku tidak peduli yang penting besok kerja, awas saja kau libur lagi. Aku sedang cuti karena Farah sedang ada masalah. Jika kau libur maka restoran akan kewalahan dan sudah pasti Mba Riri akan meneleponku terus."
"Iya besok aku kerja Dini, hari ini aku sedang bersenang-senang jangan mengatakan pada yang lain kalau aku lagi asyik-asyikan. " Iqbal langsung merengkuh pinggang Dini agar dia tidak membocorkan keberadaan dirinya. Hanya Farah dan Dini yang tahu kalau dia h*mo. Dan Dini tampak tidak menolak karena dia tahu Iqbal tak punya hasrat padanya.
" Dasar kau tukang palak, tidak mau rugi!" Mau tak mau Iqbal membayarnya sebagai uang tutup mulut.
"Bye, Dini... mmuah.. " Iqbal melambaikan tangan sembari cium jauh.
"Dih, amit-amit. Cuih!!"
"Ah, sok banget lu. Gue cium langsung minta lagi lu!" teriaknya
"Amit-amit mending gue dicium aspal daripada dicium lu, br*ngsek!!" umpat Dini
Iqbal tergelak tawa, namun di sisi lain Khaffi melihat interaksi dua orang itu dari jauh.
"Sepertinya mereka saling mengenal apalagi Dini tidak menolak saat pria itu merengkuh pinggang nya." gumam Khaffi dalam hati.
"Minumlah." Dini memberikan sebotol air mineral pada Khaffi.
" Farah masih duduk disitu dan bermain air, kita mau pulang jam berapa?" tanyanya
"Aku tidak tahu, Din." Khaffi menerima minuman itu
" Tadi kau pamit sebentar dengan tante Navysah kan, ayo kita pulang."
__ADS_1
"Dia siapa?" Khaffi tidak mengindahkan permintaan Dini, malah bertanya tentang pria Dini.
" Teman kerja ."
"Oh, aku kira pacarmu."
" Yang benar saja masa Iqbal pacarku, itu tidak mungkin!" jawab Dini dengan ketus.
"Kok tidak mungkin, bukankah kau mau saja direngkuh olehnya?"
"Memangnya kalau direngkuh berarti dia pacarku!"
"Tidak juga, hanya aneh saja karena kau biasanya akan marah saat ada pria yang menyentuh tubuhmu."
" Sudahlah jangan membahas temanku itu, tidak penting."
Khaffi pun diam dengan pemikiran nya sendiri dan hanya meneguk air mineral sembari melihat kearah Farah.
"Ayo pulang." Dini mendekat kearah Farah dan membantunya untuk berdiri.
Sudah siang kau harus makan dan tidur."
" Aku bukan anak kecil yang diharuskan tidur siang, Din. " gerutu Farah
" Iya, tapi ini tidur untuk anakmu. "
" Ayo kita pulang, matahari begitu terik nanti yang ada kamu tambah hitam. "
" Biarkan saja, walaupun aku hitam Keken pasti akan menerimaku apa adanya. Dia bilang aku hitam manis. " Lagi-lagi ia mengingat setiap ucapan Keken.
" Iya manis gula merah yang ada kamu disemutin. Ayo kita pulang. " Dini menggandeng ibu hamil itu untuk pulang ke rumah.
Khaffi mengajak kedua wanita itu untuk makan di restoran D & R. Ia ingin Farah makan dengan lahap dan sehat.
"Kenapa wajahmu sedih, kau tidak suka makanan nya?" Khaffi melirik Farah yang sedang makan namun sembari meneteskan airmata.
"Aku ingat saat pertama kali bertemu Keken disini."
Dini dan Khaffi saling memandang, mereka tidak tahu kalau Farah pernah bertemu dengan Keken di restoran ini. Dini mengedikkan bahunya.
"Saat itu Keken begitu menyebalkan karena tidak menerima uluran tangan bang Hilman aku membencinya tapi sekarang aku mencintai suamiku ."Farah
" Sudahlah, ayo makan dulu. Aku suapin ya. "
" Tidak Din, aku bisa makan sendiri. " Farah sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak merepotkan Dini. Ia ingin mandiri. Setelah menangis di laut ia merasa lega dan kini mulai menata hidupnya kembali sembari menunggu kabar dari Keken. Farah tidak ingin larut dalam kesedihan karena dia yakin Keken baik-baik saja dan pasti akan pulang.
"Setelah ini kau ingin kemana? Aku akan mengantarmu lagi." Khaffi
"Aku ingin pulang setelah ini."
__ADS_1
" Baiklah jika kau ingin pulang."