
Keken bersiap untuk pergi ke villa namun saat ia sarapan di resto hotel, ia sempat melihat seseorang mirip Hilman. Namun saat ia ingin mendekatinya pria itu menghilang.
"Apa mungkin dia berada di hotel yang sama denganku?" gumam Keken.
" Ah, mungkin dia hanya mirip, tapi jika benar pria itu ada disini maka aku harus waspada." gumam Keken dalam hati.
Ia seharian kerja di lapangan memeriksa villa yang sedang dibangun. Sejak mommy memberinya kesempatan, ia bekerja dengan giat dan serius tidak mau menyia - nyiakan kepercayaan yang ibunya berikan.
Disaat makan siang tanpa sengaja Keken bertemu dengan wanita yang menggodanya kemarin. Namun wanita itu terlihat menyendiri dan berwajah sedih bahkan sesekali menenggelamkan wajahnya di meja. Keken tidak peduli,ia tetap melanjutkan acara makanan nya.
" Sial!!" Pria tampan itu memang tidak tertarik padaku padahal jarak kami hanya dua meja jadi tidak mungkin dia tidak melihatku." gumam Ayu dalam hati. Dan mau tak mau ia yang terlebih dahulu mendekati Keken.
" Sepertinya kau pria penghuni kamar itu, benar kan?" tanyanya
Keken hanya melirik lalu menyuap makanan nya lagi." Hmm. "
" Maaf, aku lancang masuk ke kamarmu karena dulu pacarku selalu menginap di kamar itu."
"Oh." Namun Keken melihat tubuh gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. " Terlihat sopan karena gadis itu memakai kemeja dan celana panjang."
" Apa aku boleh duduk disini?" tanyanya
"Silahkan."
"Terima kasih." Ayu membawa makanan nya lalu duduk di depan Keken. Ia menyuap makanan nya beberapa kali walaupun terlihat tidak bersemangat.
"Kau bukan orang sini?" Ayu kembali membuka percakapan karena Keken tidak bertanya satupun padanya.
"Bukan, aku orang Jekardah."
"Benarkah, aku orang sini. Namaku Kadek Ayu, kau siapa?"
"Keken."
"Oh, namamu Keken." Ia menyuap kembali makanannya dan sesekali memisahkan sayuran yang tidak mau dimakan nya. "Kau kerja disini?" tanyanya berbasa - basi.
"Iya sementara saja, karena nanti aku akan pulang. Istriku menungguku."
"Ternyata kau sudah beristri, baguslah jangan sepertiku yang ditinggal sang pacar." Ia berkaca-kaca saat mengatakan nya.
"Pacarmu selingkuh?"
"Tidak, dia meninggal satu bulan yang lalu makanya aku selalu rindu kamar itu dan mabuk. Aku berhalusinasi dan menganggap dia selalu ada disana." Ia mulai menangis, aktingnya cukup bagus untuk ukuran seorang yang amatiran.
"Maaf, saya tidak bermaksud __"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ken." ia mencoba tersenyum.
" Kau kerja dimana?" tanya Keken. Ia melihat gadis ini ramah dan tidak canggung saat bertemu seorang pria asing, menurutnya.
"Di restoran dekat pantai sanur, aku chef disana." jawabnya dengan berbohong.
Keken hanya mengernyitkan dahi,untuk ukuran seorang Chef wanita ini terlihat aneh tidak seperti Farah yang memang benar-benar Chef.
"Aku pergi dulu, selamat siang." Tanpa basa - basi Keken pergi meninggalkan wanita itu. Perasaan nya mulai tidak enak saat bertemu dengan nya.
Sore hari setelah Keken selesai bekerja ia menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh untuk istrinya. Ia tahu Farah suka makan dan senang menggunakan daster maka dari itu ia membeli daster dan pie khas Bali.
"Farah pasti suka jika aku mengirimkan daster, bahan nya cukup lembut dan nyaman untuk ibu hamil." Keken sengaja membeli daster bali yang harganya lumayan mahal. Tak lupa ia membelikan pakaian juga untuk mommy nya.
"Untuk papih, aku akan membelikan kacamata dan topi." ujarnya
Saat ia berjalan di sebuah toko cinderamata, ia melihat beberapa gantungan kunci dari bambu dan bergambar barong,ada juga tas dan beberapa patung minimalis yang terbuat dari kayu.
"Gantungan kunci ini sangat unik, aku membeli yang berbentuk papan seluncur dan barong ini."
" Gantungan kuncinya mau dikasih nama tidak pak, gratis?"
"Boleh-boleh, aku tulis dulu." Namun saat ia ingin menuliskan namanya dan Farah ia tertegun. Keken malah menuliskan sebuah nama yang terlintas di otaknya, GHANI.
"Ini pak sudah jadi, ada lima gantungan kunci."
"Terima kasih." Keken membayar semua barangnya dan saat ia melangkah keluar ia menabrak seorang wanita.
"Kamu lagi?" Wanita itu terkejut saat melihat Keken.
"Kau sedang apa?" tanyanya lagi
"Aku membeli beberapa oleh - oleh untuk keluargaku."
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Keken
"Aku akan ke kios milik saudaraku, itu disana." Ia menunjuk secara acak toko itu agar Keken tidak curiga.
" Kau tidak bekerja, bukankah kau seorang chef?"
"Oh, a... aku libur hari ini. Jatah liburku bekerja."
"Hari ini kau ada acara apa?" tanyanya
"Aku akan ke tempat ekspedisi dan mengirimkan ini semua." Keken
__ADS_1
"Aku tahu dimana tempatnya, apa kau perlu bantuanku? Ayo, aku akan membungkus ini agar terlihat rapi sebelum dikirim."
Keken termenung sejenak.
Namun gadis itu dengan cepat menarik tangan nya. "Tidak usah kebanyakan mikir, ayo!!"
Ayu membawa Keken ke rumahnya dan duduk di teras. Seperti kebanyakan tamu yang lain nya, ia menyuruh Keken tidak masuk ke dalam rumahnya karena saat ini keluarga Ayu pergi ke pura untuk sembayang.
" Tidak ada keluargaku, jadi kamu tidak boleh masuk. Maaf ya."
"Tidak apa-apa, itu bagus." ucap Keken, ia pun tidak mau terjadi sesuatu karena saat ini rumah gadis itu sepi.
"Kau tinggal dengan orangtuamu?"
"Hanya dengan ibu dan adik, ayah sudah meninggal."
"Oh, maaf." Lagi-lagi Keken meminta maaf bukan maksud hati untuk membuatnya sedih.
" Aku ambil kardus dan kertas dulu ya." Gadis itu masuk ke dalam dan membawa dua kardus dan solasi.
"Yang kain masukan disini, yang makanan masukan di kardus satunya lagi." perintah Ayu
Keken menuruti perintah gadis itu lalu kemudian Ayu masuk ke dalam rumah dam membawa dua gelas es kuwut.
"Aku melihat di kulkas ada minuman, ini minuman khas Bali. Silakan dicoba."
"Iya tunggu sebentar." Keken menutup kardus itu dengan kertas dan memberi nama si penerima paket.
"Kenapa kau membeli banyak daster Bali? Apa kau ingin berjualan?" tanyanya.
"Aku tidak berjualan, istriku sedang hamil dan ia menyukai daster kata dia sangat nyaman saat digunakan maka dari itu aku belikan." Keken tersenyum saat mengingat istrinya yang selalu memakai daster buluk hingga beberapa kali ia marah padanya.
"Kau begitu mencintai istrimu ya?" Ayu sedikit terharu dengan perhatian manis Keken terhadap istrinya.
"Tentu saja aku mencintainya apalagi sekarang dia sedang hamil."
"Oh, benarkah." ia tersenyum kikuk.
"Ayu, apa kau benar-benar orang Bali asli karena logat dan bicaramu seperti bukan orang sini." Tanyanya
Ayu mulai terkesiap, ia memang keturunan orang Bali namun selama kuliah di Jakarta logat dan nada bicara nya mulai berubah. Ayu mulai waspada karena pria yang di depan nya bukan orang sembarangan.
" Aku orang Bali asli, disini kita bertemu banyak orang dan membaur jadi logatku sedikit berbeda dan itu wajar."
Namun Keken tidak percaya begitu saja, ia melihat penampilan gadis itu dari atas hingga bawah. "Benar-benar aneh, aku harus memastikan sesuatu." gumam Keken dalam hati.
__ADS_1