Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 71 ( Kembali dari Malang)


__ADS_3

Akhirnya Keken kembali ke Jakarta setelah urusan di Malang selesai. Ia mampu membereskan pekerjaannya dengan cepat, Keken memang pintar. Berada di Malang membuat dirinya tersiksa karena jauh dari para sahabat. Kebiasaan yang sering keluar masuk club dan bermain dengan wanita kini tidak ia lakukan lagi.


Keken kini berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Rasa bersalah pada Farah membuatnya sadar akan satu hal yakni wanita sangat berharga, harus dilindungi bukan dihancurkan. Keken selalu merenungi setiap kesalahannya.


Dan setiap malam ia selalu menelepon wanita yang pernah ia campakkan dan hancurkan, mencoba untuk meminta maaf dan berharap mereka akan memaafkannya. Banyak dari mereka yang merasa Keken aneh, satu kata maaf yang terlontar dari mulutnya seolah keajaiban yang tidak pernah terduga,karena selama ini Keken sosok pria yang enggan untuk meminta maaf. Sebagian dari mereka bahkan tidak memaafkan karena takut itu hanya akal bulus Keken untuk memperdaya mereka kembali. Sangat sulit dipercaya saat orang yang penuh dengan kesalahan dan kemaksiatan kini mencoba untuk membuka jalan yang lurus. Tapi Keken tak patah arang, walaupun beberapa kali dimaki, ia tak pernah marah karena kesalahannya memang besar.


Dengan dijemput Khaffi ia tidak serta merta pulang ke rumah, Keken mampir ke Cafe mantan pacarnya,Michelle.


Cafe yang mereka bangun dengan uang patungan kini mulai ramai.Michelle, wanita yang pintar dan mandiri. Ia mampu mengolah keuangan yang Keken berikan padanya. Tak hanya menjual kopi yang sedang hits saat ini, Michelle dengan segala idenya membuat Cafe yang menyajikan makanan sejenis fast food untuk melengkapi Cafenya dan itu sangat berbeda dengan Cafe lain.


"Sudah lama kita tidak bertemu." sapa Michelle pada Keken sembari cium pipi kanan dan kiri.


"Kamu makin cantik dan sexy aja cell." goda Keken, ia melihat Michelle lebih bersinar dari biasanya dan terlihat lebih berisi.


"So pastilah, kan gue udah nggak mikirin elu lagi, nggak mikirin lu bakal sama cewek yang mana atau sama siapa. Pikiran gue udah tenang." Michelle duduk sembari tersenyum. Walaupun mereka sudah putus namun hubungannya dengan Keken terjalin dengan baik.


"Tenang seperti di alam baka." celetuk Khaffi


"Si*lan lu Fi, nyumpahin gue mati!"ketus Michelle," Gue masih mau kawin dan punya anak. "


" Sama aku? " Khaffi menawarkan dirinya sendiri.


" Cuih! Najis, kamu itu sebelas dua belas sama si me sum ini, casingnya saja yang kalem padahal mafia wanita. "sindirnya


" Hahaha..., bener banget Cell, Khaffi mah keliatannya aja kadang plonga - plongo aslinya demen yang polosan. " Keken terkekeh


" Gimana, mereka bener nggak kerjanya? tanya Keken. Satu bulan yang lalu saat Michelle menelepon, ia membutuhkan beberapa karyawan lagi untuk mengurus Cafenya dan Keken mencoba menghubungi beberapa wanita yang pernah ia kenal untuk bekerja di Cafe Michelle.


"Dalam sebulan ini masih aman, mereka tidak berbuat ulah apalagi menggoda tamu yang datang. Aku merasa terbantu dengan mereka."


"Syukurlah, semoga saja mereka beneran insyaf dan tidak akan menjalani profesinya yang dulu." harap Keken, ia memberikan Michelle tiga orang temannya yang dulu bekerja sebagai wanita malam di club. Tiga orang wanita itu berkata pada Keken bahwasanya ingin mengakhiri pekerjaan haram nya dan ingin mencari pekerjaan yang halal. Dan akhirnya saat Keken menawarkan pekerjaan mereka langsung mengiyakan. Namun saat itu Michelle ragu untuk menerimanya, ia takut mereka akan berbuat ulah dan kembali menawarkan diri pada para tamu. Keken mencoba merayu Michelle untuk memberikan mereka kesempatan, jika mereka kembali ke jalan haram nya, maka Michelle berhak untuk memecatnya secara sepihak. Maka dari itu Michelle mau menerima mereka.


" Hasil dari Cafe ini sebagian masih menjadi hak mu, apa kau tidak ingin mengambilnya?" tanya Michelle


"Tidak! nanti sajalah, aku belum membutuhkan uang.Aku kan crazy rich masa mau nyimpen uang recehan. Yang pantas nyimpen recehan itu onoh, si Khaffi." Keken menunjuk teman nya kere.


"Kok aku jadi sasaran! " protesnya, " Walaupun recehan sedikit demi sedikit lama - lama jadi bukit apalagi kalau kembar bukitnya hehehe..." kelakarnya


"Lihat kan, stress dia. Pikirannya nggak jauh-jauh dari gunung kembar dan lubang buaya." Michelle menatap jengah dengan kelakuan Khaffi

__ADS_1


"Sawan dia, karena nggak dapet jatah dari pacarnya. Opps.. malah udah putus, kasihan ya." ejek Keken


Khaffi hanya bisa menerima ejekan sembari menghela nafas panjangnya.


"Cell, bantuin gue ngelobi papah lu dong. Gue butuh investor." Keken meminta tolong agar Michelle mau membantu nya kali ini. Sangat sulit menggaet orangtua Michelle untuk menjadi investor,mereka sangat selektif jika bekerja sama dengan pihak lain.


"Gue udah bilang sama papah dan dia bilang pulang dari Amerika bakal mampir ke kantor lu. Tapi gue nggak bisa janji karena papah orangnya sangat selektif." ujarnya


"Tidak masalah, yang penting lu udah beri gue akses buat ketemu bokap lu. Itu aja udah makasih banget, sayang."


"Cuih! Sayang - sayang tapi hatinya buat wanita lain. Capek gue dibohongi terus!" gerutu Michelle


" Tapi kan lu juga mau Cell sama gue,lu kangen nggak sama pelukan dan bibir gue ini. Sebagai ucapan terima kasih gue peluk dan cium lu deh, gue ikhlas." goda Keken sembari menggulum senyum.


" Modus...!!! " celetuk Khaffi


" Itu mah enakan elu Ken, mencari kesempatan dalam kesempitan. Bilang saja tuh bibir kering karena dah lama nggak dicium wanitamu! "sindir Michelle dengan senyuman mengejek. Keken hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari tersenyum.


Disaat mereka bercerita, Fafa datang dengan membawa dua kantong plastik di tangannya.


"Sorry gue telat, belanja dulu sebelum pulang kerja." Fafa tersenyum memperlihatkan barisan gigi yang rapi.


" Punya si Janin, ini pesanan dia. Jangan diambil nanti aku kena omel. "


" Sebanyak itu! "Keken menggelengkan kepala karena tidak percaya, bungkusan roti, biskuit dan susu memenuhi kantong plastik


" Iya, ini punya si Janin. Dia kan ibu menyusui jadi sering lapar. Lu belum ketemu Janin ya Ken, setelah dia melahirkan si kembar tubuhnya dah kayak drum minyak goreng, banyak polisi tidur di bagian perutnya,sudah turun mesin lagi hehehe... " kelakar Fafa sembari tertawa , semenjak Hanin melahirkan ia sering makan dan tubuhnya kian membesar serta memiliki lemak tebal di bagian perut.


" Emang nggak olahraga? "tanya Michelle


" Belum mau, katanya biar kuat gendong si kembar. Tapi aku tidak masalah kalau dia gendut, aku malah makin cinta karena dia sudah berjuang melahirkan dan merawat anak kami. " Jawab Fafa


" Tapi kan tidak menarik Fa? Cewek kan sexy kalau kurus dan cantik terawat." Keken


"Nanti kalau kamu udah nikah dan punya anak kamu pasti ngerasain apa yang aku rasain. Bukan hanya fisik, yang terpenting kenyamanan dan kalo masalah fisik pasti akan berubah setelah melahirkan. Perlu kamu tahu, dia sudah bersusah payah merawat anak kami dari pagi sampe malem nggak ada liburnya menjadi seorang ibu!"


" Kadang aku saja nyerah gendong si kembar, capek dan suka nangis." lanjutnya lagi


Entah kenapa Keken kembali teringat pada Farah, gadis yang pernah mengisi hatinya. Membayangkan Farah hamil dan gendut seperti yang diceritakan oleh Fafa. Pasti bahagia

__ADS_1


" Aku harus melupakan gadis itu."gumam Keken dalam hati


" Fi, lu masih dikejar sama penyanyi dangdut itu?" Fafa menyomot kue strawberry milik Khaffi


" Ah, lu Fa! maen comot aja, itu kan milik gue!" cebik Khaffi, kue sisa satu dan itu dimakan Fafa. Ia tidak menjawab pertanyaan Fafa


" Dih, pelit banget lu! Udah mulai perhitungan sama aku. "


"Tidak! Gue hanya bete aja kalau pesen sama karyawannya si Michelle, mana pada genit lagi." Khaffi bergidik ngeri membayangkan saat salah satu karyawan Michelle mengedipkan matanya.


"Beneran ada yang godain kamu, yang mana? Aku akan kasih teguran." kata Michelle


"Itu yang agak menor, bibirnya tebel kayak disengat lebah. Tapi biarin ajalah kayaknya cuma sama aku aja dia begitu, kalau yang lain aku liat dia tidak genit."


"Ah, bilang aja lu minta disosor ." goda Keken, ia sangat senang melihat Khaffi kesal.


"Cuih! Yang benar saja, gue minta disosor juga milih-milih masa sama si bibir tebal. Penyanyi dangdut si pemilik goyangan arwah juga nggak gue ladenin, ogah! masa penyanyi dangdut modelnya begitu."


"Lah, jadi beneran si penyanyi dangdut goyang arwah lagi deketin lu? Dia kan pendatang baru di dunia entertaiment, cantik lho Fi." sahut Fafa


"Iya dia memang cantik tapi stress! Masa perform di depan umum pake baju sexy sambil goyang arwah pakai acara lompat - lompat segala kayak vampir, dah kayak orang sawan aja!" kesalnya, Khaffi mengingatnya saat bertemu si pemilik goyangan arwah itu di sebuah Cafe, dengan beraninya dia menggoda dan menyentuh dagu Khaffi. Ia pun meminta nomer handphone Khaffi pada sahabat dekatnya hingga terjalinnya komunikasi, namun Khaffi selalu menolak halus jika sang biduan meminta bertemu dengannya. Alasannya karena sang ibu selalu mewanti - wanti agar Khaffi tidak sembarangan berteman.


" Enak Fi, kalo lu sama dia bisa digoyang tiap hari sama dia." Keken menggulum senyum


"Yang ada aku kena stroke! nyanyi dengan suara pas - pasan cuma modal goyangan dan cantik. Bisa-bisa emak Ifa kejang-kejang punya mantu modelnya orang sengkleh begitu."


" Terus gimana Ken, lu kapan masuk kerja lagi?" Fafa menyeruput kopi Keken tanpa jijik


" Emang kan, si Fafa mah asal nelen doang untung kita semua bebas dari penyakit. "Michelle menggelengkan kepala melihat sikap Fafa yang tidak pernah berubah, ia suka minum punya orang lain dalam wadah yang sama.


" Udah kebiasaan Cell. " jawabnya dengan enteng


" Lusa saja sekalian meeting sama pak Irwan di Mall. Lu handle dulu yang di Utara sama si Antoni. Hari ini aku ingin istirahat di rumah ratu Medusa."


"Yakin, tumben banget lu nggak handle proyek Utara. Masih belum move on?" Fafa menaik turunkan alisnya


"Yakin, aku sudah tidak ada keinginan untuk kesana. Please jangan bahas itu lagi." Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya, mencoba untuk melupakan gadis itu dengan tidak pergi ke daerah Utara


" Aku ingin cemburu tapi sepertinya tidak bisa, gadis itu sudah memenuhi isi kepala si Pangeran Modosa" Michelle sempat melirik Keken yang terlihat sedih,ia tahu Keken mencoba untuk menyembunyikan perasaannya. Satu tahun menjadi pacar Keken membuat dirinya tahu bagaimana karakter Keken.

__ADS_1


" Sudahlah jangan bahas dia lagi." Keken mengubah topik pembicaraannya. Ia lebih suka membahas bisnis daripada membahas tentang Farah lagi.


__ADS_2