
Benar saja saat Keken datang kembali ke rumah Farah namun rumah itu terlihat sepi. Tidak ada penghuni yang membuka pintu untuknya walaupun sudah diketuk beberapa kali.
"Neng Farah pergi dengan Dini, tidak tahu kemana."
" Lebih baik abang kasep pulang saja, Farah biasanya pulang malam dengan Dini."
Jawaban itu yang keluar dari bibir teh Cucu.
"Keterlaluan Farah, pergi tidak bilang padaku. Kalau begini kan aku capek bolak - balik, mana perjalanan jauh lagi." Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya.
Di sisi lain, Farah yang ditemani Dini kini datang ke restoran untuk melihat Cctv. Ia begitu penasaran dengan perkataan bapak kalau dia terkadang datang ke restoran hanya untuk melihat Farah.
" Cctv disini hanya merekam selama dua bulan, setelah itu akan terhapus secara otomatis." ucap Riri
" Aku pernah melihatnya duduk di bangku samping pohon. Beberapa kali aku melihatnya kesini dan dia selalu memesan makanan di ruangan luar."
Seperti itulah perkataan Riri, ia tidak tahu jika pria paruh baya itu bapak dari Farah.
Farah pun mengunjungi pemilik warung nasi tempat kerjanya dulu dan dosennya, jawaban mereka sama. Bapak Farah memang sesekali datang dan melihatnya dari jauh. Uang tambahan yang ia terima setiap gajian tak lain pemberian dari bapaknya.
Farah menangis meraung mengetahui kebenaran yang baru saja ia dengar dan Dini mencoba menguatkan.
"Aku seperti anak yang durhaka, hatiku penuh kebencian untuk bapak namun nyatanya dia menyayangiku dan melindungiku dari jauh." ucap Farah hingga airmata menetes deras. Matanya kian memerah karena seharian menangis.
"Sudah, jangan sedih lagi. Ingat bayimu, kamu tidak boleh sedih dan stres." Dini
" Ternyata bapak benar, dia selalu pulang malam dan bekerja keras untukku agar aku bisa kuliah dan hidup dengan baik bahkan selama ini aku tidak tahu. Tapi ternyata aku gampang menyerah dan selalu menyalahkan bapak. Dan saat aku diusir dari rumah, aku marah kenapa bapak tidak pernah membelaku ternyata dia melakukan semua itu agar aku bisa bebas dari ibu tiri kejam itu. Dia tidak tega melihatku melakukan semua pekerjaan rumah. " Farah kian terisak
" Semuanya sudah terjadi, sekarang yang harus kamu lakukan adalah meminta maaf pada bapak. " Farah mengangguk mengerti ucapan Dini
" Aku ingin ke rumah bapak tapi itu tidak mungkin karena ada mak lampir. " Farah menghapus airmatanya, ia mencoba kuat dan tidak mau bersedih karena ia tidak boleh stres dan banyak pikiran.
" Bapakmu pasti masih di pabrik,temui dia saat libur saja seperti biasa ketemuan di luar, jangan di rumah. "
Farah menganggukkan kepala.
Malam hari mereka tiba di rumah dan melihat Keken duduk di teras bersama teh Cucu. Keken yang sedang merokok kini terlihat bercanda dengan nya, entah apa yang mereka bicarakan hingga terlihat begitu asyik. Saat melihat Farah, Keken langsung mematikan rokok dan membuangnya di tong sampah.
"Kau sudah datang?" Keken menyerahkan beberapa plastik pada Farah
"Kok kesini lagi?" Tanpa menjawab pertanyaan Keken, Farah malah balik bertanya.
__ADS_1
" Aku kangen__" Ia mendapat tatapan tajam dari Farah.
" Ya ampun, galak sekali dia." lirih Keken.
"Neng Farah, si kasep nungguin kamu satu jam yang lalu akhirnya ngobrol deh sama teteh. Kamu tidak marah kan?"
"Tidak teh, kalau mau ngobrol silahkan." Farah masuk ke dalam rumah kontrakan dan diikuti Keken.
"Kok bawa makanan banyak sekali." Farah membuka semua plastik berisi makanan dan biskuit.
"Kemarin saja belum habis." sambungnya lagi
" Biar kamu dan anakku sehat." ucapnya dengan cepat
"A... apa?! Teh Cucu begitu terkejut saat akan mengantarkan nasi goreng untuk Farah kini mendengar sesuatu yang tidak boleh didengar oleh orang lain.
"Keken mengusap wajahnya dengan kasar karena ada orang lain yang tahu kehamilan Farah, sedangkan kedua gadis itu hanya menundukkan kepala.
" Neng Farah, be... benarkah itu?"tanyanya lagi
Ia menganggukkan kepala dengan raut wajah sedih bahkan berkaca - kaca lagi. Teh Cucu segera menutup pintu rumah dan memeluknya." Aku hanya kaget, maaf tidak bermaksud mencuri dengar karena aku kesini hanya ingin mengantarkan makanan. Teteh janji tidak akan bicara tentang kehamilanmu ini, kamu dan Dini sudah teteh anggep adik apalagi kamu sangat baik sama Malika. Jangan sedih ya."
" Ini makanlah nasi goreng, Dini tidak usah makan karena dia punya lambung yang lebar jadi kuat untuk nahan lapar. "
" Apaan sih, teh! kok sekarang pilih kasih masa aku tidak dibagi. "gerutunya
" Iya nanti aku bagi tapi piringnya saja. "kelakar teh Cucu. Keken yang sempat khawatir kini merasa lega karena teh Cucu bisa diajak kompromi agar merahasiakan kehamilan Farah. Namun tidak dengan gadis itu, Farah sedikit geram karena Keken tidak bisa menjaga ucapan nya.
" Teteh pulang dulu. "pamitnya
" Gara - gara kamu ada orang tahu tentang kehamilanku! " ketus Farah
" Sudahlah tidak usah marah toh sepertinya dia bisa dipercaya. "
" Iya tapi kan aku malu! " Farah berkaca-kaca kembali. Keken meliriknya dan hanya bisa menghela nafas panjangnya.
"Dini berikan aku teh hangat manis dan cemilan ." pintanya dengan sedikit berteriak, ia tidak mau melihat wajah Farah yang sedang bersedih
Dini yang mendengar suara Keken buru-buru datang dan berkacak pinggang. "Lama-lama dikasih hati minta jeroan."
"Minta jantung Din, bukan jeroan." Farah yang masih sedih masih bisa menyela dan membenarkan ucapan teman nya. Dini terlihat masa bodo.
__ADS_1
" Kenapa harus aku yang menyiapkan teh dan cemilan untukmu, kan ada Farah." gerutu nya
" Farah sedang hamil tidak boleh kecapean, kamu saja yang bikin teh untukku."
"Kalau aku tidak mau gimana?"
"Wah!! Mau cari perkara denganku, mau aku telepon si Khaffi agar dia minta uang ganti rugi mobil padamu, sekarang." ancamnya. Dini tergagap saat mendengarnya ancaman Keken, mau tak mau ia harus menyiapkan minuman untuknya.
"Dasar pria menyebalkan! Kalau saja kamu bukan ayah dari bayi yang dikandung Farah, pasti sudah ku usir dari sini." kesalnya. Dini segera menyiapkan minuman untuknya dengan menggerutu, bibirnya selalu merutuki Keken.
Seperti biasa Keken hanya tersenyum, tidak peduli jika Dini kesal dengan nya. Ia pun tertidur diruang televisi hingga pukul sebelas malam.
"Ken, bangunlah...."Farah menepuk pipi pria itu agar segera bangun
" Ken... "Ia melihat Keken yang menggeliat namun malah berpindah tidur ke pangkuannya.
" Ya ampun, Ken. Jangan begini, nanti ada orang yang melihat kita. Digrebek bisa gawat yang ada aku dinikahkan denganmu. "
" Baguslah."Keken masih menutup mata dan seolah tidak ingin beranjak dari pangkuan Farah
" Ishhh... Kamu ah! Kalau begini terus aku tidak akan mengizinkan kamu bertemu si bayi dan aku tidak mau makan, biarkan saja bayimu kelaparan. "ancamnya, padahal Farah juga tidak ingin calon bayinya menderita. Ia akan makan dan memastikan bayinya sehat. Sejak pemeriksaan terakhir, saat Farah menerima foto hasil USG, entah kenapa dia merasa bahagia. Ternyata begini rasanya menjadi calon ibu.
" Baiklah aku akan pulang. " Keken menyadarkan lamunan Farah.
Ia segera bangkit, karena takut dengan ancaman Farah. Sebisa mungkin Keken akan mempertahankan bayi itu karena bayi itu benih dari rasa cintanya. Pengikat dirinya dan Farah.
"Lusa aku kesini lagi." ucapnya
"Jangan kesini terus, aku bosan melihat wajahmu!" ketus Farah, rasa kesalnya pada Keken masih berlanjut. Setiap kali Keken datang ia selalu memasang wajah masam
" Aku kesini untuk menengok anakku, bukan kamu!" Keken tak kalah sengit, ia sengaja membuat Farah semakin kesal." Ingat, jangan terlalu membenciku. Bisa jadi si bayi akan mirip seperti wajah tampanku."
Farah kembali menatap kesal, namun Keken hanya menggulum senyum
" Cium dulu. " goda Keken lagi, ia mendekatkan pipinya kearah Farah.
"Apaan, sih! Mana ada cium- cium seperti itu!" Farah semakin kesal.
"Cup..." satu kecupan mendarat di pipi Farah dan dengan cepat Keken pergi meninggalkan rumah.
"Keken!!!" teriak Farah dengan sangat kesal, ia merasa kecolongan kali ini.
__ADS_1