
"Khaffi..." sapanya, "Kenapa kamu datang kesini?" tanya Farah
" Basecamp kita disini, tempat nongkrong saat santai. Keken kemarin telepon aku agar datang kemari."
Farah merasa lega ternyata tidak hanya Keken saja yang datang kemari, ia tadi sempat berpikiran negatif dan beranggapan bahwa tempat ini hanya untuk alasan agar Keken dan Michelle selalu bertemu, nyatanya tidak. Farah bisa bernafas lega.
" Kamu kenapa? "Keken melihat istrinya menghela nafas panjang.
" Aku tidak apa-apa. " jawabnya sembari tersenyum lebar.
Michelle hanya menggulum senyum, melihat raut wajah Farah yang tadi hanya diam sekarang ia mau tersenyum lebar.
" Apa mungkin dia cemburu padaku? Aku jadi usil ingin mengerjai dirinya." gumam Michelle dalam hati
" Ken, bantu aku seperti biasa." pinta Michelle, " Farah, aku pinjam Keken sebentar ya."
"Eh, iya." ucap Farah. "Memangnya Keken barang bisa dipinjam." lirihnya namun bisa terdengar oleh Khaffi dan Keken. Mereka tertawa.
" Aku bantu Michelle sebentar." Keken pun beranjak mengikuti Michelle kearah kitchen. Ia menggunakan celemek seperti karyawan lainnya dan mulai membantu Michelle meramu kopi. Cafe memang terlihat rame karena ini malam minggu dan mereka harus turun tangan ikut membantu. Walaupun Michelle pemilik Cafe ia tidak segan-segan ikut membantu karyawan.
Beberapa kali Farah melihat Keken tersenyum dengan Michelle dan begitu pun sebaliknya, mereka terlihat serasi. Dan entah kenapa saat Keken menggunakan celemek itu terlihat keren di mata Farah bahkan ia sempat mendengar beberapa wanita berbisik memuji ketampanan suaminya. Sial.
"Mereka memang sering bekerja sama seperti itu jadi jangan cemburu." Khaffi melirik Farah beberapa kali dan gadis itu melirik suaminya tanpa berkedip.
"Siapa juga yang cemburu." ucapnya dengan ketus. Dan terdengar suara gelak tawa dari Khaffi.
"Kenapa tertawa seperti itu, memangnya ada yang lucu?" Farah kian cemberut
"Dengan kamu bersikap seperti ini saja sudah membuktikan bahwa kamu cemburu." ucap Khaffi
"Aku tidak cemburu, mana ada seperti itu!" Farah mengelak lagi. Namun matanya melirik Keken yang sedang menyajikan minuman ke beberapa tamu. Dan pria itu menghampirinya sembari mengelus rambut Farah.
" Kalau kamu bosan, ikutlah Khaffi keatas disana lebih menyenangkan. " Keken tak lupa mengelus perut Farah hingga beberapa wanita melirik kearahnya sambil berbisik.
"Dia sudah punya istri dan sedang mengandung."
"Aku kira pria itu lajang, padahal aku sempat naksir."
" Tidak apa-apa jadi yang kedua."
"Pria itu keren dan tampan tapi sayang sekali sudah menikah."
__ADS_1
Suara - suara sumbang terdengar di telinga Farah hingga ia begitu gemas karena ada saja wanita yang membicarakan suaminya bahkan mau jadi yang kedua. Menyebalkan.
"Ayo kita keatas, disana lebih indah." ajak Khaffi. Dan Farah menganggukkan kepala dengan mengikuti langkah kaki Khaffi untuk pergi keatas. Benar saja, di lantai dua terasa lebih santai karena terdapat balkon yang dihiasi rumput imitasi hingga membuat ruangan itu lebih teduh dan indah. Di lantai dua lebih ramai pengunjung karena mereka ingin melihat kota Jekardah dari atas.
"Benar ini terasa lebih nyaman." ucap Farah
"Setiap weekend disini pasti ramai makanya Keken selalu pulang malam karena membantu disini." jelas Khaffi
"Whatt...!!" seru Farah, "Jadi Keken kerja disini juga?"
"Memangnya kamu tidak tahu." Khaffi malah balik bertanya. Farah terdiam.
"Dia harus bekerja keras untukmu dan calon anaknya."
"Ini anakku juga." Farah membenarkan perkataan Khaffi.
" Iya aku tahu ini juga anakmu tapi__" Khaffi terdiam
"Tapi apa?" tanya Farah
"Ayo ikut aku ke lantai tiga,disana lebih aman. Tapi kita harus keluar ke samping Cafe karena lantai tiga tidak terhubung dari sini."
Farah mengikuti kembali langkah kaki Khaffi dan saat di lantai dasar ia bertemu Keken kembali.
"Aku ajak dia ke lantai tiga." ucap Khaffi
"Hati-hati keatas lihat pijakan nya." ucap Keken sembari mengelus perut buncit istrinya. Farah hanya mengangguk.
"So sweet." ucap beberapa wanita muda yang melihat interaksi mereka.
"Aku juga mau kak, perhatikan seperti itu." ucap salah satu dari mereka
"Sudah ganteng, perhatian pula." timpal lain nya.
" Mau lah punya suami seperti ini." ucap lain nya. Keken hanya tersenyum sedangkan Farah hanya terdiam, hatinya begitu panas saat melihat banyak wanita yang menyukai suaminya.
"Ayo Khaffi kita keatas." Farah berlalu dengan hati kesal.
" Tempat ini sebagian milik Keken dan Michelle." ucap Khaffi setelah berada di lantai tiga, tempat kost - kostan untuk mahasiswa.
"Aku tahu." ucap Farah
__ADS_1
"Kau tahu dari Keken?"
" Iya, tapi dia tidak banyak cerita malah Hanin yang mengatakan segalanya." Namun matanya menatap jauh ke bawah melihat keramaian jalan dari atas balkon.
" Saat dia bercerita, aku tidak mau tahu bahkan terkesan tidak peduli dan dia selalu sabar dengan sikapku yang menyebalkan ini, ternyata aku egois ya. " Farah menghembuskan nafas beratnya, ternyata selama ini dia begitu buruk memperlakukan suaminya, bahkan tidak tahu apa saja yang Keken lakukan untuknya agar dia bahagia. Farah berkaca-kaca.
" Dia berusaha keras agar kamu dan bayi kalian bisa hidup layak dan baru pertama kali aku melihat Keken seperti ini, dia banyak berubah setelah menikah." ucap Khaffi
" Keken sedang berusaha agar dia bisa masuk kembali ke perusahaan walaupun dia harus berpanas - panaskan di lapangan." Khaffi mengatakan kebenaran nya pada Farah agar wanita itu tahu suaminya sedang berjuang untuknya. Dan setidaknya wanita itu mau berbaik hati pada Keken walaupun dia tidak mencintainya.
" Kamar disini ada sepuluh dan ada delapan yang sudah terisi. Saat itu Keken meminta satu kamar untuk ia tinggali bersamamu tapi nyatanya kamu tidak mau jadi dia harus pulang pergi dari Utara ke Selatan. Dan itu pasti menguras waktu dan tenaga nya."
Farah kian merasa bersalah, saat mengingat Keken pernah mengajaknya untuk ngekos di Cafe ini namun Farah menolak karena ia masih betah hidup di kontrakan lamanya.
" Aku dan Keken teman sejak kecil jadi aku tahu bagaimana sifatnya. Tidak ada rahasia diantara kami." ucap Khaffi
" Sebenarnya ini bukan urusanku, tapi aku merasa kasihan dengan Keken. Ia pernah berkata setelah kamu melahirkan maka akan ada perceraian. Aku mohon pikirkan kembali, ini bukan hanya tentang Keken tapi tentang anak kalian. Jika kalian berpisah, anak itu akan diambil oleh mommy Imelda. Apa kau tidak menyesalinya? "
Farah menundukkan kepala, memang benar dulu ia hanya meminta Keken untuk menikah hanya satu tahun sampai anak ini lahir dan memiliki surat administrasi tapi ia tidak berpikir untuk kedepan nya. Bayi yang dulu tidak pernah ia inginkan, namun sekarang ia tidak mau kehilangan. Farah juga seorang ibu yang ingin selalu bersama anaknya. Ia tidak rela jika dipisahkan.
"Ini anakku.." Ucap Farah
"Dan bayi itupun anak Keken." ucap Khaffi, " Bukankah dulu kamu tidak menginginkan nya bahkan berharap keguguran."
Farah kian tersudut, ia memang pernah berpikir seperti itu, tapi itu dulu. Sekarang ia bahagia dengan kehamilannya. Ia meneteskan airmata, betapa jahatnya ia dulu pada bayinya.
" A... aku menginginkan bayi ini. "lirihnya
" Lalu apa yang akan kamu lakukan sedangkan kamu saja tidak mencintai Keken? " pertanyaan dari Khaffi agar Farah sedikit tersadar. Ia terdiam.
" Pikirkan baik-baik ucapanku, jika memang kamu tidak ada perasaan dengan Keken bersiaplah untuk mengakhiri segalanya,terutama dengan bayimu itu karena tante Imelda pasti akan berusaha keras mengambil bayi itu darimu. Ia tidak akan membiarkan cucunya hidup menderita apalagi tinggal di kontrakan sempit ala kadarnya. "
" Maaf jika aku harus berkata seperti ini. "Khaffi melirik kembali Farah yang diam dan termenung. Wanita itu sepertinya mulai berpikir untuk kedepannya.
" Akan aku pertimbangkan kembali ucapanmu, terima kasih Khaffi karena sudah menyadarkanku. "Farah mengusap airmatanya yang sempat menetes agar Keken tidak curiga dengannya.
" Apa boleh aku bertanya? "tanya Farah
" Apa? "
" Apa kau punya perasaan dengan Dini?"
__ADS_1
" Apa...??! "seru Khaffi, ia menatap tidak percaya dengan pertanyaan konyol Farah. Ia mengira wanita itu akan bertanya tentang Keken namun nyatanya tentang gadis sinting itu.