
Farah datang disambut oleh teriakan gadis kecil yang baru saja pulang mengaji. Gadis berjilbab pink dengan sepeda mini nya.
"Kakak...!!! "teriaknya
" Ishh... Ais tidak perlu teriak keras begitu, kakak tidak budeg dan si Ghani jadi kaget kan. "Farah mengelus perut buncit nya, calon anaknya bergerak kencang seperti terganggu dengan suara Ais.
" Maafkan tante Ais ya Ghani sudah bikin kamu kaget. "Ais mengelus perut kakaknya dan berkata seolah si bayi bisa mendengar nya.
Farah terkekeh lalu dia ingat kalau dia membawa sesuatu.
" Pak tolong bawa semua tas kedalam lalu bi, tolong sediakan makanan ini. "
"Siap non." jawab mereka serempak
Farah membawa dua tas besar, satu perlengkapan untuk dirinya dan satu perlengkapan untuk kelahiran Ghani. Saat Farah memutuskan keluar dari rumah ayahnya ia membawa semua baju dan barang miliknya hingga tidak ada yang tersisa dan kini dia harus membawa kembali perlengkapan itu.
"Kakak disini sampai melahirkan kan? Ais seneng banget saat mendengar kakak mau menginap disini. " Ais tidak henti-hentinya mengekor pada Farah walaupun saat ini wanita hamil itu sedang meneguk segelas air di dapur.
" Iya kakak akan lama disini, nanti jika kakak butuh sesuatu tolong dibantu ya. "
"Iya kak, tentu saja Ais akan bantu kakak. " Gadis kecil itu terlihat antusias
"Ibu kemana? "
"Ibu sedang anterin pesanan ke kampung sebelah, mereka pesan untuk acara arisan jadi ibu yang anterin karena kak Fadil belum pulang. " jelas Ais
"Emang Ais bisa melayani pelanggan saat ada yang beli baso? " Farah berjalan ke depan dan duduk di kursi rotan sembari menunggu pembeli.
"Tidak! " Ais hanya cengengesan. " Kalau beli jus atau es blender Ais bisa, tapi kalau baso tidak, jadi Ais suruh mereka pulang dulu nanti kesini lagi tiga puluh menit lagi. "
"Emang kak Fadil masih ikut les pelajaran. "
"Masih kak, kak Fadil banyak kegiatan diluar juga. Besok malah ada pertandingan antar kampung. "
" Jauh dari sini? "
" Tidak jauh, orang di lapangan Pak Haji Arfan. "
"Benarkah, wah kakak bisa nonton dong. "
__ADS_1
" Bisa, nanti sama Ais ya. "
"Oke."
Farah membuka syal yang membelit lehernya, terasa panas karena seharian dia menutupinya. Ais melihatnya dan hanya memperhatikan dari dekat, leher kakaknya terlihat merah -merah.
Pengawal dan bibi hanya berdiri dan menunggu perintah Farah selanjutnya, namun sepertinya wanita hamil itu lupa dengan mereka.
"Maaf non, semuanya sudah bibi tata di meja makan dan tas sudah dimasukkan ke dalam kamar. Apalagi tugas bibi?
"Eh, iya ya kan aku kesini sama bibi kenapa aku lupa. " gumam Farah. Namun belum sempat Farah memberi tugas selanjutnya kini Ais bertanya dengan polos nya.
"Kakak, kenapa banyak tanda merah seperti itu,apa kakak masuk angin? Bibi ya yang kerikin tubuh kakak? " tanyanya
Farah menahan malu, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya karena Ais masih terlalu dini untuk tahu hal tabu itu. Sedangkan bibi dan pengawal hanya menggulum senyum.
Farah mengambil syal itu lagi dan mengenakan di lehernya, Ais anak yang pintar dan cerewet ia tidak mau diintrogasi oleh anak dibawah umur.
"Ini kena gatal-gatal, kakak alergi dingin. " Hanya itu yang bisa Farah jelaskan walaupun harus berbohong
"Sejak kapan kakak alergi cuaca, aneh! " celetuk Ais
" Ais, ambilkan kakak cemilan keripik di meja. Kakak mau itu. "pintanya
" Oke. " Ais menuruti permintaan kakaknya
Akhirnya Farah bisa menghela nafas panjangnya lalu memberikan waktu pada bibi dan pengawal untuk istirahat di rumah sebelah dan Farah berkata akan menghubunginya saat membutuhkan.
Untuk mengurangi rasa jenuh Farah menyiram bunga dan melayani pembeli. Namun Ais mengerucutkan bibirnya saat tahu Farah menggratiskan baso mereka.
" Assalamu'alaikum. " suara bu Tami dari luar, ia memakirkan sepeda motor dan membawa beberapa bungkusan plastik
"Walaikum salam. " jawab mereka bersamaan dan tentu saja suara Ais lebih keras dan antusias karena ibu mereka pasti membawa sesuatu.
" Pasti ibu bawa jajanan basah. "tebak Ais. Seperti biasa saat ibunya pengajian dan arisan maka akan membawa beberapa jajanan basah seperti kue nagasari dan kue cucur.
" Hari ini ibu bawa banyak makanan tadi dikasih yang punya rumah. " Ia melihat Farah dan wanita itu mencium takzim
"Ibu bawa makanan untukmu. " Bu Tami membawa soto lamongan karena tahu anaknya suka soto.
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan makanan, tapi kalau ibu bawa soto mana bisa aku tolak hihihi.. " Farah cengengesan lalu ia melahap soto yang disajikan ibunya.
" Kenapa banyak makanan di meja, ini akan tersisa banyak. "bu Tami melihat banyak makanan dan jajanan yang dibawa Farah, bahkan buah-buahan pun ada.
" Jika ada yang tidak dimakan bagikan saja ke tetangga, nanti aku bisa beli lagi. "Jawab Farah dengan entengnya
" Tadi saja yang beli baso gratis bu! " celetuk Ais dengan wajah masam. " Kak Farah tidak menerima uangnya. "
"Padahal tadi banyak yang beli bu. " sambungnya lagi
" Nanti kakak ganti, biarkan mereka sesekali mendapat gratisan. Siapa tahu setelah ini rejeki ibu lebih banyak dan baso laku keras, laris manis tanjung kimpul. "
"Aamiin." bu Tami menggulum senyum, salut dengan apa yang dilakukan anak tiri nya yang selalu berbagi.
"Ais, ibu ingin bicara dengan kak Farah sebentar. Tolong beri kami waktu. " pintanya
Gadis kecil itu mengangguk dan mengerti akan permintaan ibunya. Dan dengan cepat ia pergi menjauh.
" Maafkan ibu Farah, selama ini ibu salah padamu, karena keegoisanku kamu pergi dari rumah dan banyak menderita. " bu Tami mengatakan dengan tulus, sebelumnya ia belum sempat bicara empat mata dan sedekat ini dengan Farah.
" Aku sudah ikhlas dan aku melihat ibu sudah berubah menjadi orang baik, nada bicara ibu sekarang tidak keras.Sudahlah bu jangan mengungkit masa lalu karena itu menyakitkan dan aku bersyukur dengan keadaan sekarang,aku bisa bertemu keken dan menjadi istri nya. Mungkin saja jika aku tidak mengalami semua itu maka aku tidak akan bertemu dengan nya" Farah
" Terima kasih untuk segalanya, ibu benar-benar minta maaf sekali lagi. " bu Tami menggenggam erat tangan Farah
"Iya, sekarang kita tata bersama hidup ini menjadi keluarga yang baik.Aku ingin Fadil bisa kuliah, Ais bisa sekolah dengan nyaman, aku bisa bahagia dengan keluarga ku. Kita harus bersama-sama mewujudkan semua itu bu, dan aku minta bantu aku saat ini. Hanya keluarga ini yang aku punya dan bisa diandalkan karena keluarga Keken sedang berada di luar negeri. "
"Kami akan selalu ada untuk kamu, ibu akan membantumu dan bersama-sama merawat anak ini. " bu Tami mengelus perut buncit Farah. Memang ia bukan ibu kandung Farah tapi sudah semestinya dia menjaga wanita itu karena Farah sudah banyak berkorban untuk mereka.Dan ini sebagai rasa kasih sayang nya .
Farah terharu, ini seperti anugerah baginya karena memiliki keluarga yang utuh, ia berkaca- kaca akhirnya penderitaan nya sejak dulu kini berakhir. Ia mendapatkan kasih sayang yang banyak dari keluarga nya sendiri.
***
Farah terbangun namun ia tidak mendapati adiknya di samping.
"Kemana Ais. " lirih nya sembari mengucek mata. Semalaman ia bertelepon dengan Keken hingga lupa waktu.
"Hah!! jam sembilan. " Ia terkesiap saat melihat jjam dinding. Ia kesiangan, pantas saja Ais tidak ada. Ia melihat ponselnya dan hanya ada satu pesan dari keken bahwa dia ada di ME hospitals untuk medical check up.
Namun saat dia keluar kamar Farah melihat seorang pria duduk bersama ibu tiri nya. Mereka sedang mengobrol dan bercanda.
__ADS_1