
Keken pulang tengah malam dengan wajah lelah, sebenarnya ia ingin menginap di Cafe Michelle seperti biasa namun ia tidak tega dengan Farah yang sendirian di kontrakan. Ia pun memikirkan kesehatan istrinya dengan membawa beberapa susu hamil dan makanan. Farah selalu lapar setiap malam dan mau tidak mau Keken harus siaga dengan permintaan nyidam Farah.
Dengan kunci duplikat ia masuk dengan hati-hati agar istrinya tidak terganggu. Dan benar saja Farah terlelap di depan televisi, tempat dimana Keken tidur. Dengan hati-hati ia menggendong istrinya ke dalam kasur agar tidurnya terasa nyaman.
"Ken, kau mau apa?" tanyanya saat melihat Keken membaringkannya di kasur. Tidurnya terganggu saat tubuhnya terasa melayang di udara.
"Mau melakukan sesuatu seperti tadi malam." goda Keken sembari menggulum senyum.
"Jangan macam-macam!" ancam Farah, ia bangkit dan menatap tajam Keken yang masih saja menggulum senyum.
" Aku bawa makanan, kau mau makan tidak?!"
"Makanan apa?"
" Martabak manis yang rasa manisnya tidak semanis senyuman kamu." gombalnya
"Sudah malam tidak usah gombal!" ketus Farah, namun ia bangkit dan melihat isi bungkusan yang Keken bawa.
"Martabak manis, susu hamil, baso dan jus alpukat. Kamu bawa sebanyak ini." Farah melihat kantong berisi makanan yang cukup banyak padahal mereka hanya berdua.
"Aku beli untuk Dini dan teh Cucu juga." Keken memisahkan satu kotak martabak dan tiga bungkus baso.
"Emangnya Dini belum tidur ya, biasanya jam segini dia sudah molor." Farah melirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu malam.
"Dini belum tidur, tadi aku telepon dia."
Farah mengerutkan dahinya, sejak kapan Keken saling komunikasi dengan Dini, apalagi kini Keken perhatian dengan memberi makanan untuknya.
" Kamu sering kirim pesan sama Dini? tanyanya sembari menyuap makanan.
" Jarang, paling kalau mendesak saja,terutama saat kamu tidak balas pesanku. Ya cuma Dini dan teteh yang bisa aku andalkan. " jawabnya
" Pantas saja Dini selalu membelamu mati - matian ternyata kalian satu komplotan!"
"Dan ini sogokan agar Dini mau memberimu informasi." ucapnya lagi
Keken hanya terkekeh.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang, ini sebagai ucapan terima kasih karena mereka selalu menjagamu disaat aku pergi. Kamu punya teman baik seperti itu masih saja curiga. Kamu cemburu ya?"
"Dih! Mana ada cemburu, nehi Ken, nehi!" Farah bergaya dengan gerakan ala india.
"Acha.. Acha..." timpal Keken
"Dasar stress!!" umpatnya, Farah segera membungkus makanan dan pergi ke rumah sebelah. Dan benar saja Dini dengan cepat membuka pintu kontrakannya
"Kalau soal makanan dan gratisan cepet!!" sindir Farah sembari memberikan bungkusan makanan.
"Iya dong, makasih yak." Dini dengan cepat menutup pintunya kontrakannya kembali tanpa basa- basi pada Farah.
"Emang enggak ada akhlak temen gue, liat makanan langsung nyamber dan nutup pintu, nggak sopan." gerutu Farah kemudian ia kembali ke rumahnya lagi.
" Kok kelihatan kesel begitu?" Keken melihat Farah mengerucutkan bibirnya sembari menggerutu tiada henti
"Tidak ada apa-apa." Ia kembali duduk walaupun sedikit berjauhan dengan Keken.
" Makan lagi ini, habiskan." perintah Keken,mau tak mau Farah mendekat. Perutnya memang tidak bisa dibohongi, ia baru makan sepotong martabak dan masih merasa kurang.
"Adek beneran tidak apa-apa?" Keken menatap perut istrinya yang sedikit membuncit, saat bekerja ia masih kepikiran apakah dia menyakiti calon anaknya atau tidak karena kejadian semalam.
"Yakin."
"Iya Ken, sudah ah jangan dibahas." Farah masih terlihat malu dengan kejadian semalam.
" Jangan lupa dibereskan, aku ingin istirahat." Keken tidak mau banyak bertanya lagi, yang terpenting anaknya dalam keadaan baik-baik saja dan sehat. Ia bisa tidur dengan tenang.
"Jangan sampai tercecer, aku tidak mau tidur dengan semut." sambungnya lagi. Seperti biasanya Keken akan mengomel saat ruangan nya kotor, ia tidak mau ada hewan apapun yang singgah di kasurnya.
"Besok jangan lupa di pel, aku tahu hari ini kamu tidak mengepel." Keken bisa membedakan mana tempat yang sudah dipel mana yang belum.
"Cerewet sekali, besok aku pasti ngepel." Farah mendengus kesal karena Keken selalu mengomel jika rumahnya kotor.
"Di rak televisi juga jangan lupa dibersihkan, sudah banyak debu." pinta Keken
" Pakaian yang tidak digunakan lebih baik dimasukkan ke dalam lemari, karena jika kamu menggantungnya seperti itu yang ada sarang nyamuk. Ingat sayang, sekarang sedang musim penyakit demam berdarah. " Keken lagi - lagi mengingatkan pada istrinya tentang kebersihan dan kesehatan.
__ADS_1
" Iya cerewet!! "
* **
Keken pamit seperti biasa untuk pergi bekerja, namun penampilannya kali ini sedikit berbeda. Ia terlihat begitu rapi dan wangi,apalagi Keken sekarang menggunakan dasi tidak seperti biasanya.
Dan yang membuat Farah heran, kini Keken menggunakan sepatu kantor yang terlihat begitu mengkilap serta memasukkan jas kerja ke dalam tas. Aneh.
Sangat tampan memang, jika Keken berpenampilan seperti ini maka wanita lain pasti akan meleleh saat melihatnya. Sempurna.
Dibalut dengan kemeja warna biru langit, tubuh Keken begitu atletis, kumis yang tumbuh subur kini telah dicukur habis, benar-benar seperti Keken yang terdahulu sebelum dimiskinkan oleh mommy nya. Aura Nya benar-benar seperti pangeran.
"Aku ada meeting dengan seseorang, kemarin perusahaan papahnya Michelle mau bekerja sama dan sekarang saatnya aku berterima kasih dengan sekretarisnya." Tanpa banyak bicara, Keken tahu pikiran istrinya karena saat ia bersiap Farah selalu melirik kearahnya secara terus-menerus.
" Aku tidak bertanya! "ketusnya
" Aku hanya ingin kamu tahu saja, kegiatanku di luar. " Keken menggulum senyum. Dan Farah terbiasa melihat senyuman itu walaupun terkadang mengesalkan baginya.
" Kamu tidak jualan? "tanya Keken karena ia melihat Farah hanya rebahan di kasur dan bermain ponsel
" Aku malas. "
" Baguslah, kamu tidak usah jualan lagi karena nanti aku pasti akan masuk ke perusahaan mommy. "
" Memangnya sudah pasti kamu diterima lagi di perusahaan mommy?"
"Belum sih, tapi dengan gabungnya perusahaan pak Michael pasti mommy akan memperhitungkan kinerjaku. Aku yakin akan ditarik ke perusahaan lagi."
"Oh." Farah hanya ber oh ria
"Kamu ada acara hari ini?" tanya Keken sembari merapikan bajunya
"Ti.. Tidak ada. Aku hanya ingin rebahan." ucap Farah dengan berbohong.
"Ya sudah, jangan lupa minum susunya. Aku kerja dulu, sini peluk." Keken merentangkan tangannya agar Farah memeluknya, tak lupa ia mencium dan mengelus perut istrinya dengan lembut.
"Papah kerja dulu Nak, jagain mama ya."
__ADS_1
Farah hanya menghela nafas panjangnya, seperti biasa Keken seperti orang gila yang selalu berbicara sendiri dengan perutnya yang membuncit.
"Pergilah cepat, jangan pulang ke rumah dasar ngeselin!" ketus Farah. Seperti biasa ia selalu mengomel saat melihat wajah Keken. Beberapa saat kemudian setelah suaminya pergi, ia pun bersiap-siap bertemu dengan Hilman.