
(Mari kita belajar dan saling mengingatkan di bagian part ini)
Farah masuk ke dalam kamar Fadil dan melihat adiknya selesai mandi.
" Besok ada acara apa? "tanyanya
" Ada pertandingan sepak bola di lapangan pak Haji kak. Cuma pertandingan tarkam. "
" Emang hadiahnya apa? " Farah bicara sembari merapikan kamar Fadil yang berantakan
" Hadiahnya uang dan piala, lumayan kak kalau ikut pertandingan bola sekalian latihan agar kaki tidak kaku. "
"Sudah kak jangan diberesin, nanti Fadil saja. Jangan bekerja terlalu keras, Fadil tidak ingin kakak sakit. " Fadil dengan cepat menarik tangan kakaknya dan menyuruh nya untuk duduk di tepi ranjang. Tak ingin kakaknya merapikan barang milik nya.
"Fadil, kakak ingin kamu sekolah dan melakukan kegiatan yang positif, jangan pacaran kakak khawatir, dek. " Farah memberikan nasihat pada adiknya
" Iya kak, Fadil akan berusaha tidak pacaran. " Ia berkata sembari membuka tas nya dan memasukan beberapa buku pelajaran untuk esok hari.
"Kakak ingin melihat kamu sukses , kamu ngerti kan maksud kaka? "
"Iya kak, Fadil tahu. "
" Ini untuk kebaikanmu dek, kakak tidak ingin jika kamu pacaran yang membuat dirimu nanti lupa diri dan terjerumus dengan sesuatu yang melenakan yang akhirnya membuat kejadian seperti kakak. "Farah benar-benar berharap Fadil menuruti perintah nya, rasa takut seorang kakak jika adiknya melakukan sesuatu diluar batas. Farah tidak ingin adiknya terjerumus dalam pergaulan bebas.
" Kakak seperti tidak mengenal Fadil saja, mana mungkin Fadil seperti itu kak. "
" Kakak percaya denganmu tapi yang namanya setan kita tidak tahu sayang, bisa jadi kamu lupa diri dan pacarmu itu hamil di luar nikah. "
" Kakak berkata seperti ini agar kamu bisa menjaga diri karena menikah muda tidak mudah seperti yang dibayangkan. "
"Kau tahu, dalam beberapa tahun ini kasus hamil diluar nikah sangat meningkat tajam dan ternyata kasus ini banyak dilakukan oleh anak-anak remaja hingga akhirnya mereka harus meminta surat dispensasi menikah dan mereka harus keluar dari sekolah karena hamil. "
Fadil yang mendengar kakaknya bercerita kini ikut duduk di sampingnya dan mendengarkan setiap nasihat nya.
"Kakak tidak mau itu terjadi denganmu apalagi sampai mendengarkan kamu menghamili pacarmu itu. Cukup kakak saja yang seperti ini. " Farah berkaca-kaca
" Mungkin secara fisik dan organ reproduksi, seorang remaja siap untuk mengandung namun secara mental mereka belum mampu . Usia mereka masih sangat muda dan berisiko dalam kehamilan. Apalagi setelah melahirkan mereka harus mengASI, mengasuh dan merawat bayi yang baru lahir dan itu tidak mudah, butuh mental dan kewarasan yang kuat dalam mendidik anak."
"Apalagi secara finansial, pria sepertimu akan bekerja apa, mau dikasih makan apa anak dan istrimu sedangkan kau putus sekolah dan tidak memiliki uang. Menikah tidak hanya soal cinta tapi juga keluarga dan finansial yang baik. Dan ini semua tidak mudah Fadil. Kakak harap jangan karena kenikmatan sesaat kamu mengorbankan segalanya, pikirkan baik-baik saat melakukan sesuatu hal yang buruk . "
__ADS_1
"Kakak harap kamu mengerti perkataanku. " Farah menggenggam tangan adiknya
"Fadil mengerti kak, terimakasih sudah memberiku nasihat yang berharga ini. "
"Jika kau butuh sesuatu dan ingin bertukar cerita katakan pada kakak, jangan dipendam sendiri. Kakak masih ingin mendengar keluh kesahmu dan itu membuat kakak lebih berharga.Kakak tidak ingin kamu salah jalan dan berakibat fatal."
" Peran orang tua dalam keluarga itu sangat penting agar jangan sampai kejadian seperti kasus hamil diluar nikah.Mereka memiliki andil yang besar kenapa sampai kejadian seperti itu bisa terjadi. Jangan sampai lalai mengawasi mereka karena seorang anak pun wajib diperhatikan. Maka dari itu, jika kakak cerewet dan bawel tolong dipahami karena sebenarnya kakak sangat sayang padamu, Dil. "ujarnya
" Iya kak, Fadil tahu. Aku janji akan menjadi anak baik dan berusaha lebih menyibukkan diri dengan kegiatan positif. "
"Terima kasih adikku yang baik. Kamu memang anak baik dan penurut. " Farah, ia tidak bisa berlama-lama di kamar Fadil karena sejak tadi ia ingin buang air kecil, beberapa hari ini Farah seperti mengalami kontraksi palsu.
***
Keken akhirnya menelepon saat malam hari, ia meminta maaf pada istrinya karena lupa memberinya kabar.
" Untung saja kau menemani mommy jadi aku bisa memaafkanmu. " ucap Farah
" Sayang, Ghani sangat aktif dan itu membuatku sakit perut. " sambungnya lagi
" Benarkah, apa itu sangat sakit? "
"Iya, sakit sekali. "
" Lusa aku akan kesana bersama ibu, andai saja kau disini pasti kau yang akan mengantarku. " harap Farah, jauh dari keken membuatnya enggan datang ke dokter. Farah begitu malas.
" Ken, aku rindu.... "Farah terlihat berkaca-kaca di layar ponsel. Rasa rindu nya begitu besar hingga membuatnya menangis.
" Sabar sayang, akupun rindu..."
Namun Farah masih saja tidak nyaman saat bertelepon dengan Keken bukan karena kesal dengan suaminya, namun perut Farah yang beberapa kali mulas dan selalu ingin buang air kecil.
" Apa aku harus pulang ? " keken mengkhawatirkan keadaan Farah yang terlihat pucat dan lemas.
"Tidak usah, kau jaga mommy saja disana. Aku ada ibu dan bapak kok. "
Akhirnya Farah tertidur setelah mengobrol dengan suaminya.
Sore hari seperti biasanya setelah pulang mengaji maka Ais akan bermain di sekitar rumah. Namun baru saja dia ke tetangga samping gadis cilik itu kembali masuk ke rumah lagi.
__ADS_1
"Apa ada yang tertinggal? Kok Ais balik lagi? " Farah yang sedang menyapu kini melihat adiknya berlari masuk ke rumah.
"Ais lupa kalau hari ini kak Fadil ada pertandingan bola di lapangan pak haji. "
"Oiya, ayo kita lihat. Kaka juga ingin jalan-jalan. " Farah menaruh sapu dan bergegas menuju lapangan ditemani Ais dan satu asisten Imelda.
Farah berjalan sekitar lima puluh meter dan itu membuatnya sedikit pengap.
"Nona ingin minum? " Asisten Imelda melihat Farah kelelahan dan tentu saja dia sudah siap sedia membawa air mineral untuk Farah
"Iya bi aku haus ingin minum, kok aku cepat capek ya bi. " Farah meneguk air mineral untuk membasahi kerongkongan nya yang kering
"Si dede semakin membesar jadi nona cepat lelah. " jawabnya
Namun mata Farah bebinar saat melihat beberapa penjual kaki lima. Banyak nya orang yang menonton pertandingan membuat banyak penjual yang datang dan Farah menyukai nya karena ia bisa bebas memilih mana makanan yang diinginkan nya.
"Kakak, kita kan mau lihat kak Fadil main tapi kenapa disini. " Ais menggerutu karena kak Farah makan sembari duduk di kursi plastik milik tukang somay. Farah selalu pindah dari satu penjual ke penjual lainnya.
"Kalau Ais ingin nonton dulu pergilah, kakak masih ingin kulineran. " ujarnya
" Bibi kalau mau sesuatu katakan padaku ya."
"Eh, iy.. iya neng. " Bibi menggulum senyum, selama ikut Farah dirinya selalu kenyang karena ibu hamil itu selalu makan dan makan bahkan berat badan nya ikut naik.
"Ais mau nonton kak Fadil dulu, tidak mau sama kakak karena makan terus. " gerutunya
"Hati-hati, nanti kakak nyusul ya. Kakak masih ingin makan lainnya. " teriak Farah,
Somay, es kelapa, kue pukis dan baso malang sudah masuk ke dalam perut Farah, bibi hanya tersenyum karena nona nya sangat kuat saat makan.
"Bibi mau beli apa lagi? " Lagi-lagi Farah bertanya pada asisten nya.
"Tidak non, perut bibi sudah kenyang. Tidak kuat jika terisi lagi. "
Farah hanya meringis, ternyata banyak makanan yang sudah dia beli dan ia masih menginginkan yang lainnya.
"Ayo kita liat Fadil saja. " Farah berjalan dan melihat adiknya dari sisi lapangan namun ia kembali ingin buang air kecil.
" Bi, aku ingin buang air kecil. "ujar Farah
__ADS_1
" Masih bisa ditahan tidak jika sampai ke rumah, jika tidak bisa tahan mending ke rumah tetangga nona saja minta ijin ke toilet sebentar. "
"Kita ke rumah mpok Ayus saja . " Farah merasa ia tidak sanggup jika harus pulang ke rumah maka dari itu ia pergi ke rumah samping lapangan yang ia kenal. Mpok Ayus penjual gado-gado yang biasa Farah beli.