
Siang hari setelah dari proyek sentra pergudangan, Keken sengaja menyempatkan diri untuk pergi ke restoran dimana tempat Farah bekerja.
Ia sengaja membuat ulah dengan menaburkan banyak garam agar makanan tersebut terasa asin.
" Siapa chef disini, apa dia tidak bisa memasak hingga makanan seperti ini disajikan." omel Keken pada salah satu pramusaji restoran.
"Maaf pak, kami akan mengganti masakan ini lagi." seorang pramusaji yang bertuliskan nametag Husni segera menundukan kepala, ia tidak berani melirik ke arah Keken yang saat ini terlihat sangat tampan dengan setelan jas dan dasi lengkap layaknya eksekutif muda. Dengan semua aksesoris yang menempel padanya, sudah pasti Keken dari kalangan atas.
" Panggilkan chef yang memasak makanan ini." ucapnya dengan tegas sembari mengeratkan rahangnya
"Ba.. Baik pak!" Husni segera memberitahukan bahwa di luar siaga satu, yang artinya ada pelanggan komplen.
Dini yang sempat mendengar pembicaraan Husni dan Keken dengan cepat menyajikan makanan pada para tamu dan bergegas masuk ke dalam pantry.
"Dip! Lu masaknya keasinan ya? Ada orang komplen tuh di depan."
"Orangnya tampan,pakaiannya rapi seperti eksekutif muda dari kelas nomer wahid, lu siap - siap aja keluar dimaki sama dia. Mana keliatan tuh orang lagi senewen tapi pria itu tampan, aku aja kepincut saat pertama kali dia masuk restoran."
" Tapi aku masak yang tidak asin kok." kekeh Farah, ia merasa tidak bersalah dan selalu menyajikan makanan dengan rasa terbaik.
" Lah, tapi itu si tampan ngomel sampai matanya melotot gini. "Dini mempraktekan gaya Keken yang sedang melotot dan menatap tajam pada karyawan restoran.
" Hahahaha... Nggak usah melotot gitu dah kayak orang sawan aja lu Din. " Farah terkekeh melihat tingkah Dini yang terlalu berlebihan dalam mempraktekan pelanggan yang komplain tersebut.
"Yaelah ni bocah malah ketawa, orang aku lagi serius juga."
"Mata lu udah belo gak usah dipelototin, ngeri!"
" Biar belo tapi mataku ini cantik bahkan tahu mana yang berlian asli dan mana yang imitasi."
"Tapi itu ter__" belum sempat Farah melanjutkan perkataannya, Husni datang dengan tergesa-gesa.
"Farah, lu dipanggil sama pelanggan di depan."
__ADS_1
"Lu jangan lupa berdo'a ya karena dia marah karena masakanmu keasinan."
"Jadi ini komplen beneran, aku kira kena prank."
"Eh, Dipta lu kira ini acara bagi- bagi duit kayak di yutube. Ini beneran, markonah!" Dini begitu gemas karena Farah menganggap kejadian ini hanya bohong belaka karena jarang sekali ada pelanggan yang komplen apalagi sampai memaki-maki.
Farah hanya menghembuskan nafas panjangnya, ia melepas apron yang melekat pada tubuhnya. Mau tak mau Farah harus menghadapi komplenan pelanggan yang tidak puas dengan masakannya.
Awalnya Farah menunduk tidak berani menatap wajah sang pelanggan dan saat ia menegakkan kepalanya ternyata pria itu adalah Keken. Farah meremas jari tangannya.
"Sudah berani kamu ya tidak datang ke apartemen dan menghilang tanpa kabar!" ucap Keken dengan ketus
" Setelah mendapatkan cincin itu, kamu mau lari dari tanggung jawab!" lanjutnya lagi
" Maaf bukannya aku ingin lari dari tanggung jawab, tapi beberapa hari ini aku sakit dan beberapa hari ini aku sangat sibuk di restoran karena harus menggantikan chef yang sedang libur. " Farah masih tidak mau menatap Keken, ia meremas tangannya kembali karena gugup.
Keken menelisik wajah Farah dan memang benar Farah sedikit tirus, namun Keken mengenyitkan dahinya, baru pertama kali Keken melihat tubuh Farah dengan pakaian yang benar sesuai lekuk tubuhnya. Sejak Farah datang ke apartemen, ia selalu menggunakan kaos longgar yang tidak menampilkan tubuhnya sama sekali.
" Besar juga." gumam Keken dalam hati, disaat matanya melihat kearah dad*. "
" Ini apaan sih! Kok aku mesum, ini lagi si Kenzi tahu aja yang gede - gede. " gumamnya dalam hati, Keken merasa Kenzi terbangun dan ia segera membuang wajahnya kearah lain agar tidak terlalu fokus pada tubuh Farah.
" Duduk! " perintah Keken, dengan segera Farah duduk di depan Keken.
" Terus mau bekerja lagi kapan? tanyanya
" Aku belum tahu, aku masih kurang sehat. Bagaimana jika aku melunasi semua sisa utangku dan aku tidak perlu ke apartemenmu lagi? Waktuku tidak memungkinkan untuk diriku pergi kesana. "
" Tidak bisa! Kamu pikir aku kekurangan uang." ketus Keken, ia berpikir dengan cepat dan sebuah ide terbesit dalam pikirannya.
Keken membuka dompet dan mengambil sebuah kartu nama restoran D & R dan memberikannya pada Farah.
" Yang penting dia mau bekerja denganku, urusan restoran aku akan bicara pada Om Rayyan dan si judes Inha nantinya." gumam Keken dalam hati.
__ADS_1
" Restoran itu sedang membutuhkan chef, bekerjalah disitu jadi kamu bisa membagi waktumu untuk bekerja untukku."
Farah membaca kartu nama restoran itu, restoran yang terkenal dengan citarasa masakan yang tidak bisa diragukan lagi.
"Untuk sekelas D & R pasti gaji yang diberikan untuk seorang chef lebih tinggi dari restoran ini, tapi aku butuh penyesuaian diri lagi sedangkan tempat ini sudah seperti rumahku, tempat dimana aku belajar banyak menu masakan nusantara dan semua karyawan disini sudah seperti saudara bagiki." gumam Farah dalam hati
" Kok bengong gitu. " Keken melihat Farah yang diam dan hanya menatap kartu nama itu
" Kamu pasti tertarik kan." dengan penuh keyakinan Keken tersenyum dan sangat optimis Farah akan pindah ke restoran D & R, dan dengan kata lain Farah bisa datang tepat waktu untuk bekerja di apartemennya juga.
"Tidak!"
"Apa!" senyuman Keken langsung memudar mendengar penolakan kembali dari Farah. " Apa alasanmu?" Keken begitu penasaran.
"Tidak ada alasan untuk itu." Farah bersikap tenang dan tidak tergoda dengan bujuk rayu Keken.
Keken hanya meremas tangannya dengan kesal,berulang kali Farah selalu menolak permintaannya. Baru kali ini Keken merasa tidak punya kuasa untuk memerintah seseorang.
" Apa alasannya? "Keken begitu penasaran hingga bertanya kembali.
" Aku sudah nyaman berada disini. "
" Cuma itu, alasannya? Memangnya kamu tidak mau gaji yang banyak"Keken kembali menghasut agar Farah berubah pikiran
"Aku memang butuh uang banyak tapi aku masih ingin berada di restoran ini, terimakasih sudah menawarkan pekerjaan untukku."
" Ia mengira Keken tulus memberinya lowongan pekerjaan, pikiran Farah begitu naif hingga tidak bisa membedakan mana yang tulus, mana yang bulus.
" Ayo kita bicara di luar." Keken sudah kehilangan ide untuk membawa Farah bekerja kembali ke apartemen nya.
"Tapi ini masih jam kerjaku Ken." Farah tidak enak dengan karyawan yang lain jika ia pulang cepat.
"Aku tidak peduli, mana managermu." Keken meminta izin pada manager Farah untuk membawanya, dengan sedikit ancaman akhirnya Riri mengiyakan permintaan Keken untuk kali ini.
__ADS_1