
Keken sampai di kontrakan Farah dan mengetuk pintu dengan kasar.
" Ada apa Ken?" Farah sedikit terusik dengan suara ketukan keras dan ternyata Keken yang tiba-tiba datang di depan pintu rumahnya.
" Kenapa kamu menghindariku?" Keken menatap intens wajah gadis yang selama ini ia rindukan, sangat rindu namun Keken harus menahan diri karena dia bukan miliknya.
"A.. aku tidak menghindarimu." Farah tergagap takut.
"Bohong!!"
"Kenapa selama aku chat dan telepon tidak pernah kamu balas." Keken terlihat begitu kesal.
"A... aku sibuk, maaf." Farah menundukan kepalanya, ia begitu takut melihat wajah Keken yang tidak bersahabat.
"Oke, sekarang ikut aku. Aku membutuhkan kamu sekarang."
"Kemana? Aku tidak bisa." ucap Farah
" Jangan banyak tanya dan aku tidak butuh penolakan. Ini terakhir aku meminta bantuanmu Farah."
"Kemana dulu?" Farah masih penasaran dengan tujuan Keken
"Ke pesta pernikahan sahabatku."
" Oh, aku kira mau kemana. Ya sudah tunggu aku sebentar." Farah yang merasa tidak enak hati dan mengiyakan permintaan Keken untuk yang terakhir kalinya, toh pria itu akan pergi ke luar kota, pikirnya.
Ia masuk ke dalam untuk berhias namun Keken berteriak kembali hingga akhirnya Farah keluar dengan baju ala kadarnya.
Keken membawa Farah ke butik terkenal dan memilih dress yang menurutnya cocok.
Beberapa kali Farah menolak karena dress yang dipilih Keken terlalu terbuka dan Farah merasa tidak nyaman.
"Coba yang ini." Keken memberikan dress panjang berwarna hitam dengan belahan yang cukup tinggi.
Farah masuk dan mencobanya, dengan malu-malu Farah keluar dari ruang ganti.
"Gimana, bagus tidak?" tanya Farah
Tanpa berkedip Keken menatap wajah Farah yang begitu manis, body sexy yang selama ini Farah tutupi kini terlihat sangat menarik apalagi di bagian dada yang terlihat sangat kenc*ng dan lumayan besar. Berkali - kali Keken menelan salivanya.
"Aku ganti saja ya?" Farah berbalik badan ingin menganti pakaian yang menurutnya ketat.
"Tidak perlu, itu saja. Sangat cocok denganmu dan dress ini tidak terlalu terbuka karena masih memiliki lengan."
" Tapi ini terlalu sexy,aku malu."
"Tidak perlu malu, ayo kita ke ruang make up. Kita tidak punya banyak waktu." Keken menarik tangan Farah untuk mengikutinya.
Dan benar saja setelah dirias dengan make up natural dengan rambut yang ditata epik, Farah terlihat sangat berbeda. Ia benar-benar terlihat cantik dan menarik hingga Keken berulang kali tersenyum padanya.
"Apa aku jelek hingga kamu tersenyum seperti itu?" Farah cemberut karena Keken selalu tersenyum padanya.
"Iya, jelek sekali." ucap Keken dengan berbohong, namun dalam hatinya Keken sangat terpesona dengan penampilan Farah kali ini.
"Kalau jelek kenapa mengajakku! " gerutu Farah
Keken hanya mengulum senyum dan dengan cepat menganti bajunya dengan kemeja baru. Mereka pergi ke tempat pesta pernikahan tersebut.
Di dalam pesta, beberapa orang menyapa Keken, mereka paham jika Keken penerus dari perusahaan properti terbesar di kota Jekardah. Dan sekarang Farah merasa kesal karena Keken tidak memberitahukan jika mereka datang ke tempat resepsi yang dihadiri dengan banyak wartawan.
"Ayo kita pulang." pinta Farah, ia berulang kali melihat pria melirik kearahnya sembari mengerlingkan mata, Farah merasa risih dan takut.
"Belum saatnya." bisik Keken
"Aku takut, mereka selalu melihatku seperti serigala lapar." Farah balas berbisik
Keken melihat kemana arah mata Farah dan benar saja beberapa pria melihat Farah dengan begitu mendamba dan itu membuat Keken kesal.
Keken mengeratkan rahangnya dan melotot dengan tajam. Ia tidak ingin ada pria lain yang melihat Farah dengan tatapan me sum.
"Kamu tenang saja, aku akan membereskan mereka." Keken meminta Farah untuk menunggu dan ia menghampiri beberapa pria yang sejak tadi selalu menatap Farah. Entah apa yang dibisikkan Keken pada mereka hingga mereka pergi dan terlihat meminta maaf pada Keken.
Namun saat Keken kembali pada Farah terlihat Khaffi bersamanya dan sedang mengobrol.
"Ngapain disini?" tanya Keken dengan tidak suka
"Sama ayang Farah." balasnya dengan menggoda Farah
" Ayang, ayang peyang!"Keken
__ADS_1
" Sama siapa kamu?" Keken kembali bertanya
"Sendirian habis nggak punya ayang sih, tapi tidak perlu sedih karena sekarang ada ayang Farah, hihihi." Khaffi cekikikan
Keken menjitak kepala Khaffi dengan keras, beraninya dia memanggil gadis pujaannya dengan sebutan ayang sedangkan dirinya tidak pernah memanggilnya seperti itu.
" Farah, kamu terlihat berbeda. Sangat cantik dan sexy. " Khaffi menatap dari ujung rambut sampai bawah. Body Farah yang sexy begitu sangat menggoda. "Aku tidak menyangka ternyata kamu berlian, ku kira batu kali." kelakarnya
"Benarkah aku cantik?"
"Hmm." jawab Khaffi
"Pantas saja si Modosa terpikat dengan gadis ini. Selain baik hati, ternyata dibalik kaos kebesarannya yang sering Farah pakai terdapat sesuatu yang besar tidak disangka - sangka." gumam Khaffi dalam hati, ia melirik sesuatu yang membuat setiap lelaki tidak berkedip saat melihatnya.
" Jaga matamu br*ngsek! ""bisik Keken, ia mengerti arah pandangan Khaffi
" Wah aku ketahuan, hihihi... " Khaffi cengengesan saat Keken mendelik kearahnya.
" Ada yang bundar tapi itu bukan topi. "bisiknya di telinga Keken
" Ada yang padat tapi itu bukan jalanan ibukota. "kelakarnya
Keken kembali menjitak kepala Khaffi dengan keras hingga Farah bingung apa yang mereka bicarakan hingga membuat Keken kesal.
" Kenapa kamu putus sama Vena, bukankah hubungan kalian baik-baik saja?"tanya Keken, ia menganti topik pembicaraan
" Memang terlihat baik-baik saja ternyata dia selingkuh. "ucap Khaffi dengan kesal
" Pria sebaik kamu diselingkuhi, aku tidak percaya." sahut Farah sembari menggelengkan kepala
Keken hanya menghela nafas panjangnya, berulang kali Farah memuji Khaffi yang terlihat polos padahal dia sama mesumnya dengan seorang Keken.
" Wajarlah diselingkuhi, orang si Khaffi pura-pura miskin. Mana ada wanita yang mau dengan pria miskin, modal tampang doang sekarang nggak jaman." ucap Keken
" Lu tahu Ken, Gue ditikung sama pria mobil rentalan. Belum tahu saja si Vena kalau gue kaya raya, malah dia lebih milih pria kere itu. Ya sudahlah memang dia bukan jodohku tapi setidaknya aku pernah membuka rok mininya." Khaffi tersenyum saat menceritakannya.
"Bangs*t emang lu! Me sum, cabul!" ucap Keken sembari tertawa
Farah mendelik mendengar kejujuran dari Khaffi, seorang yang terlihat polos ternyata me sum juga.
"Bukan gue Ken yang maksa, dia aja yang pasrah minta ditraveling tubuhnya." kelakar Khaffi kembali
" Melewati gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke rawa-rawa." Khaffi menyanyi dengan lirik ciptaannya sendiri
" Masuk lembah tidak?"tanya Keken sembari tersenyum me sum.
" Lewat doang kagak masuk, nggak berani gue takut dicoret dari daftar keluarga mak Ifa. " Khaffi terkekeh
" Kalian ngomongin apa sih, kalau masih ngomong yang tidak aku mengerti lebih baik aku pulang!" cicit Farah
"Jangan ngambek dong ayang beb, pesta masih ramai kita senang - senang dulu disini, siapa tahu aku dapat gebetan baru yang lebih gemoy dari kamu." Khaffi menaik turunkan alisnya.
"Kalian memang benar-benar tidak waras!" Farah merajuk dan mengerucutkan bibirnya. Ia pergi dari dua me sum selalu bicara tentang wanita. Namun saat Farah menjauh dari mereka, beberapa wartawan menghampirinya.
"Nona, ada hubungan apa anda dengan tuan Kendrew?"
"Apa anda pacar barunya?"
" Tuan Kendrew terkenal dengan sifat playboy, apa anda menerima sifat dia?"
Dengan beberapa pertanyaan wartawan yang saling beruntun membuat Farah bingung untuk menjawab, ingin sekali Farah menjawab bahwa mereka hanya berteman namun Farah takut salah bicara di depan media.
" Dia teman kami. "Keken dan Khaffi datang dan menyembunyikan Farah di belakang punggung mereka
" Tidak ada hubungan khusus, tolong kalian jangan membuat berita yang memperkeruh keadaan. "jawab Keken
" Apa nona ini salah satu kriteria pacar anda tuan? " tanya salah satu wartawan
" Bukan hanya kriteria sebagai pacar tapi kriteria sebagai isteri juga. "kelakar Keken sembari tertawa
Farah hanya bisa melirik tajam sembari mencubit pinggang Keken dari belakang
" Apa anda menyukai nona ini tuan? " tanyanya kembali
" Tentu saja menyukainya, siapa yang tidak suka dengan gadis baik dan cantik ini. Baiklah, saya kira cukup wawancaranya kami harus pulang." Keken menunduk hormat. Ia merengkuh tubuh Farah dan diikuti oleh Khaffi. Sedangkan beberapa wartawan masih berbisik - bisik diantara mereka.
" Lepaskan aku! " Farah menggurai tangan Keken dengan cepat. Sejak dalam gedung Keken selalu merengkuh pinggang Farah dan itu membuatnya tidak nyaman.
" Aku tidak suka dengan pesta ini apalagi banyak wartawan yang meliput dan tadi apa kau bilang kamu menyukaiku Ken? " Farah berapi-api dan mendengus kesal
__ADS_1
"Tentu aku menyukaimu, Khaffi juga pasti menyukaimu. Iya kan Fi?" Keken melirik Khaffi sembari memberi kode
"Tentu, siapa pun akan menyukaimu Farah. Bukankah kita berteman?" Khaffi membalikkan pertanyaan
"Oh jadi kalian menyukaiku karena kita berteman, hanya teman kan tidak ada perasaan lebih?"
"Tentu saja tidak." jawab Khaffi namun Keken hanya diam.
"Syukurlah, aku kira Keken ada perasaan lebih padaku." Farah yang sempat kesal akhirnya lega karena mereka hanya menganggap Farah teman.
"Dia ternyata bod*h dan sialnya aku masuk ke dalam rencana Pangeran Modosa." gumam Khaffi dalam hati
"Tapi liputan tadi tidak akan keluar kan di media elektronik ataupun online. Aku takut tunanganku salah paham lagi." Farah mengigit jari tangannya, ada perasaan takut dan khawatir jika Hilman tahu ia pergi bersama Keken.
"Aku tidak bisa menjamin, media sekarang terlalu berlebihan dalam memberikan informasi." ucap Khaffi
Farah sedikit lemas mendengar pernyataan dari Khaffi.
"Kamu tenang saja, semuanya akan aman dan tentunya Keken akan menyelesaikan semuanya." ucap Khaffi sembari melirik Keken yang sejak tadi diam.
"Ken, ini terakhir kita pergi bersama. Hutangku sudah lunas dan ku mohon kita jaga jarak, aku tidak ingin ada salah paham lagi. Dan jika kamu merasa aku masih memiliki hutang, akan aku bayar sekarang karena bang Hilman sudah memberiku uang untuk melunasi semua hutangku padamu. " ucap Farah
" Tidak perlu! Hutangmu sudah lunas. Dan gaun itu untukmu. Tidak perlu dikembalikan. "Keken berkata sembari mengepalkan tangannya, suaranya seolah tercekik di tenggorokan. Bagaimana bisa gadis yang ia suka memintanya untuk menjaga jarak. Ini tidak mungkin.
" Pesta sudah selesai kan, aku ingin pulang. "pinta Farah
" Ayo aku antar. " ajak Keken
" Tunggu. "Khaffi menahan lengan Keken," Sebaiknya Farah pulang dengan sopirku saja, kita harus bicara Ken. " Khaffi menatapnya dengan intens
" Tapi aku... " Keken seolah tidak ingin jauh dari Farah untuk yang terakhir kali.
" Ini sangat penting dan tidak ada penolakan." Khaffi mengucapkannya dengan tegas dan ini tentu saja sebagai perintah yang harus dipatuhi. Sungguh jarang terjadi melihat wajah Khaffi begitu serius saat bersama Keken.
"Aku pulang, assalamualaikum..."
"Walaikumm salam..."
Keken melihat Farah yang pergi dengan sopir pribadi keluarga Khaffi, melihatnya hingga punggung gadis itu menghilang dari pandangannya. Mata Keken berkaca-kaca dan ini pertama kalinya Keken patah hati dengan seorang gadis.
" Akhirnya kamu bisa menangisi seorang gadis juga." Khaffi mengambil rokok di saku celananya dan menghisap hingga kepulan asap membumbung tinggi.
"Ini pertama kalinya aku cinta dengan seorang gadis, bukan main rasanya sakit hati ternyata seperti ini." Keken mengambil satu batang rokok milik Khaffi dan menghisapnya juga.
" Dia akan menikah, jangan kau pikir semua yang kamu lakukan dalam minggu ini tidak ada campur tangan dari... "
" Dari mommyku. "potong Keken," Aku tahu. " Keken menghela nafas panjangnya
" Memang aku yang salah, mencintai tunangan orang lain yang sebentar lagi akan menikah. " Keken kembali menghela nafas panjangnya
" Dan kamu pikir kejadian tadi secara kebetulan. Come on Ken, aku tahu apa yang ada di otakmu itu. "
Keken tertawa terbahak, ia memang sudah merencanakan untuk sedikit memberi kejutan pada mommy Imelda, dengan banyaknya wartawan yang meliput sudah dipastikan besok ada hot gosip yang menjadi trending utama di negeri ini.
" Kamu bisa saja mengatakan pada dunia bahwa kamu mencintai Farah tapi kamu tidak berpikir apa hubungannya dengan tunangannya akan baik-baik saja esok hari?"
"Kalau dia pria yang baik pasti dia akan percaya dengan Farah, orang cewek itu polos kok tidak ada cinta untukku di matanya.Tapi jika benar mereka bertengkar, aku akan masuk kembali dan merebutnya."
Khaffi hanya terkekeh mendengar ucapan Keken. "Lu emang bangs*t!"
"Apa aku tidak berhak mendapatkan wanita baik ya Fi? Kenapa aku begitu tergila-gila dengan Farah sampai aku tidak rela dia menikah dengan pria itu." Keken menatap nanar, kehidupan percintaannya selama ini hanya kepuasan sesaat dan tidak ada cinta saat melakukannya. Namun berbeda dengan sosok Farah, entah mengapa hati Keken selalu berdesir walaupun hanya dengan menatapnya apalagi kisah hidup Farah yang begitu menyedihkan, tidak diterima keluarganya sendiri hingga dia hidup dengan jerih payahnya sendiri, berjuang untuk penghidupan dan adik-adiknya. Dan semua itu membuat Keken begitu salut dengan seorang gadis bernama Farah.
"Aku ingin memiliki nya Fi, kali ini aku sungguh - sungguh." ucap Keken dengan sepenuh hati.
"Aku janji saat aku memilikinya aku akan berubah, aku tidak akan menjadi pria yang gila dengan perempuan lagi ." janjinya
Baru kali ini Khaffi melihat sosok Keken yang begitu menginginkan seorang gadis dengan sepenuh hati.
"Sebelum janur kuning melengkung masih milik umum." Khaffi
" Aku berulang kali gagal tapi aku baik-baik saja, mungkin belum jodohnya. Tapi jika kamu ingin bersamanya, tunjukkan bahwa kamu pantas untuknya." Khaffi memberi semangat dengan menepuk bahu Keken
" Tapi dia tidak mencintaiku. "
" Cinta akan datang disaat kalian selalu bersama.Masih ada waktu untuk memilikinya. Tikung, tikung, tikung, hajar. "
" Kau memang teman durj*na. "Keken tergelak tawa
" Jika kamu bisa membahagiakan Farah lebih dari pria itu, aku mendukungmu. "ucap Khaffi lagi
__ADS_1
Dan kedua sahabat itu saling bertukar cerita hingga tanpa mereka sadari malam kian larut dan pesta sudah berakhir.