Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 96


__ADS_3

"Sayang..." panggil Keken, ia mengejar Farah yang berlari menghindarinya.


Kesal. Itu yang Farah rasakan, baru satu hari berada di rumah orangtua Keken ia dipanggil dengan sebutan bibi oleh orang lain. Dan Farah merasa jenuh karena ia tidak diijinkan untuk membantu para asisten beberes rumah sedangkan selama hidupnya ia selalu bekerja dan bergerak. Ia tahu mommy Keken begitu sayang padanya namun bukan seperti ini yang ia inginkan, Farah ingin bergerak bebas sesuai keinginannya dan seperti biasanya. Ia merasa seperti princess di dalam istana yang megah namun tidak bahagia. Farah merindukan kehidupan yang seperti biasa, seperti orang normal pada umumnya yang bisa bertemu dan bercanda dengan teman dan tetangga. Ia pun merindukan kembali rasanya bekerja di sebuah pantry. Memasak untuk para tamu dan menyibukan diri.


"Kamu kenapa menangis?" Keken yang mengejarnya kini menarik tangan Farah dengan cepat, ia melihat istrinya sedih dan berkaca-kaca.


"Aku ingin pulang." ucapnya


"Pulang kemana? Ini juga rumahmu."


" Aku ingin pulang ke kontrakan dan menjalani kehidupanku yang seperti biasa. Kapan aku bisa pulang? Aku tidak mau disini, rumah ini terlalu besar dan aku tidak diijinkan untuk bekerja. Aku jenuh dan mati gaya, Ken!" keluhnya


Namun Keken hanya menggulum senyum dan itu yang membuat Farah bertambah kesal." Percuma bicara denganmu yang tidak pernah serius! " ia memukul dada bidang suaminya berkali-kali.


" Jelaslah kamu tidak diijinkan untuk bekerja, mana ada nona besar bekerja merapikan rumah apalagi kamu sedang hamil."


" Sayang, kita akan pulang tapi tidak sekarang. Oke. " Keken mengusap pucuk rambut Farah dan membelainya dengan lembut


"Sudah aku bilang jangan panggil aku sayang!" seru Farah, " Aku bukan wanita yang mudah kamu rayu seperti para mantan mu dan jangan sentuh aku sembarang!" Farah mengibaskan tangan suaminya agar menjauh dari anggota tubuhnya.


"Keken...!!!" teriak mommy dari jauh, "kesini kamu!"


Keken hanya menghela nafas panjangnya, sepertinya sang ibu sudah tahu apa yang telah ia perbuat hingga auman keras terdengar menggelegar di ruangan itu. Farah pun penasaran apa yang membuat mommy begitu marah pada Keken.


" Duduk...!! Dengan nada tinggi dan tatapan tajam mommy menyuruh Keken duduk dibawah lantai.


" Tahu apa kesalahanmu?! " Tanpa basa- basi mommy langsung ke inti pembicaraan.


" Aku tahu. "Keken menundukkan kepala dan sang mommy menjewer telinganya dengan keras serta menjambak rambut Keken


" Sakit mommy,aku bukan anak kecil lagi masa dijewer, sih! "rintih Keken, namun bibirnya mengerucut seolah protes dengan tindakan sang ibu yang selalu menghukumnya dengan cara menjewer dan menjambak.


Farah hanya bisa meringis melihat Keken yang dihukum, sudah pasti sakit karena ia melihat telinga Keken kini berwarna merah.


" Masih mau berbuat ulah lagi?!" Imelda kembali menjambak rambut anaknya dengan keras.

__ADS_1


"Ampun mih, ampun!" pinta Keken, dan Farah hanya bisa meringis lagi tidak tega melihat Keken yang kesakitan.


"Mommy, maafkan Keken mih!" Farah dengan cepat menyentuh tangan mertuanya agar tidak menghukum Keken lagi. Farah mencium tangan Imelda berulang kali agar memaafkan kesalahan Keken.


Imelda menyembunyikan senyumnya, namun masih terlihat tegas dengan tatapan mematikan." Jangan membela suamimu, dia itu salah!" ia pura-pura marah.


"Maaf." Farah hanya bisa menundukkan kepala, ia sebenarnya tidak ingin membela Keken namun ia tidak tega melihat Keken meringis kesakitan seperti itu.


" Apa begitu sakit?" lirih Farah pada suaminya yang rambutnya kini terlihat acak-acakan.


"Sakit sayang, lihat telingaku merah dan rambutku rontok." rengek Keken dengan gaya kekanak-kanakan. Dan Imelda kesal melihat tingkah anaknya seperti itu.


"Sudah tua , mau punya anak tapi kelakuan masih sama seperti itu. Kamu bukan anak kecil lagi Keken!" hardik Imelda


"Kalau Keken tua berarti mommy sesepuh." ledeknya


"Sayang, lihat telingaku sakit. Peluk aku sebentar." Keken dengan cepat memeluk Farah dihadapan ibunya sembari menjulurkan lidah seolah meledek sang ibu.


"Dasar bocah tengik! Ya ampun, kenapa aku punya anak seperti dia, sih!" Imelda mengelus dadanya, melihat anaknya bertingkah menyebalkan seperti biasanya.


Keken hanya menggulum senyum.


" Mana uang penjualan mobil." Imelda menadahkan tangannya di depan wajah Keken.


"Masa diambil sih mom, itu kan mobil Keken sendiri."


"Apa mommy tidak salah dengar, mobil kamu?!" Imelda melotot kearah Keken dengan mata lasernya


"Pura-pura amnesia atau mommy bikin amnesia sekarang juga." ucap Imelda


"Apartemen, mobil, semuanya itu milik mommy. Kamu hanya membayar sepuluh persen dari harga pembelian. Masih mau bilang itu milikmu!" sindir Imelda


"Jangan sekali-kali mengancam Amin, balikin sini kunci apartemen, uang penjualan mobil. Dan kamu jangan coba-coba berani menjual saham restoran D & R tanpa sepengetahuan mommy!"


"Bukankah kita sudah sepakat, jika kamu menghamili anak gadis maka kamu harus keluar dari mansion ini dengan tangan kosong! Tidak ada yang bisa kamu ambil dari rumah ini. Semuanya harus dari nol tapi nyatanya kamu coba-coba main belakang!" geram Imelda. Keken hanya menundukkan kepala. Ia dengan sengaja menjual mobil kesayangan pada salah satu temannya dengan harapan bisa mendapatkan uang untuk modal awal menikah dan ia pun meminta kunci apartemennya kembali pada pak Amin, orang yang selalu menjaga apartemennya dengan harapan bisa tinggal bersama Farah di apartemen itu. Ia pun dengan sengaja melobi beberapa temannya agar mau membeli saham miliknya yang berada di D & R restoran. Diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya dan Om Davian, dengan harapan bisa mendapatkan uang untuk membuka usaha.

__ADS_1


Farah yang mendengarkan setiap perkataan dari mommy Imelda hanya diam, namun ia berpikir ternyata ada sebuah kesepakatan antara Keken dan ibu mertuanya. Dan sekarang Keken dimiskinkan secara sepihak.


"Mom, aku seperti ini demi istri dan anakku. Masa mommy tega melihat cucu mommy sengsara dan hidup miskin, Farah sedang hamil anakku, cucu mommy." Keken menghiba agar sang ibu memberikan keringanan padanya.


"Mommy tidak peduli! Ini kesalahanmu, kamu harus memulai hidup dari nol bersama Farah. Mulailah bekerja keras agar semua keinginan istri dan anakmu terpenuhi. Kamu bukan lagi direktur utama. Skandalmu terlalu besar kali ini, berita miring tidak akan lenyap begitu saja walaupun kini sudah diatasi Antoni. Jajaran direksi sudah memutuskan agar kamu berhenti sementara waktu, ini semua dilakukan agar nilai saham naik kembali. Imbas dari semua ini terlalu besar, Ken dan kamu harus tahu itu. Mulailah mencari kerja jangan berfoya-foya. "


" Lalu aku tinggal dimana mom, sewa hotel kan mahal. " Keken yang terbiasa hidup mewah dan nyaman hanya berfokus pada hotel disaat dirinya tidak diterima oleh keluarganya


" Kenapa harus tinggal di hotel, Farah kan punya kontrakan. Tinggalah disana! "


"What...!!! Yang benar saja, masa Keken tinggal di kontrakan yang kecil dan pengap itu. Mana bisa Keken hidup seperti itu mom." protesnya, namun matanya melirik Farah dan mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.


"Mommy tidak peduli kamu tidur dimana, tanyakan saja pada istrimu apa keinginannya. Kalian kan sudah dewasa dan menikah, sudah saatnya bicara dan saling memberi pendapat. Kenapa harus mommy yang mikir."


"Keken akan tinggal denganku di kontrakan mom." sahut Farah, ia berpikir dengan cepat, pilihan yang terbaik daripada harus tinggal di hotel dan buang-buang uang.


" Keken akan bekerja keras dan aku pun akan bekerja membantu mencari nafkah." lanjut Farah


" Apaan sih, yang! " Keken tidak suka dengan keputusan Farah. "Aku pasti akan bekerja keras tapi aku tidak mau hidup di kontrakan itu dan kamu tidak perlu bekerja, aku tidak mau kamu kelelahan." ucap Keken


"Aku kuat, justru aku lebih suka gerak daripada duduk diam." kekeh Farah


"Tapi aku tidak mau anak kita kenapa - napa. Dulu kamu dengar kan kata dokter kalau kamu tidak boleh kelelahan."


Farah pun menganggukkan kepala


"Aku akan bekerja keras, kamu di rumah saja jaga anak kita." ucap Keken, namun Farah mengerucutkan bibirnya tanda tidak setuju.


Baru kali ini Imelda melihat anaknya begitu serius memperjuangkan hidup istri dan anaknya. Ia pun menggulum senyum.


"Mommy masuk ke dalam kamar dahulu." Imelda tidak mau ikut campur dalam rumah tangga anaknya.


"Mom... Mommy, aku masih bisa kan bekerja di perusahaan?" teriak Keken. Imelda menoleh sesaat pada anaknya namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepala.


" Mommy jahat!! Tega bener sama aku dan istriku, mommy jahat!!" teriak Keken, ia terduduk lemas tidak berdaya dengan keputusan final ibunya. Keken mulai menerawang jauh apa yang akan ia kerjakan setelah dipecat dari perusahaan. Ia harus segera mendapatkan pekerjaan agar bisa menafkahi istrinya yang sedang hamil.

__ADS_1


__ADS_2