
Farah meracik sayuran yang akan dimasaknya beserta bumbu yang akan ia haluskan. Ia yang sedang bergelut di dapur tidak memperdulikan Keken yang kini berdiri di sampingnya.
"Mau dibantuin apa?" tanyanya
"Tidak usah." ucapnya tanpa melihat kearah Keken
"Jadi mau jualan? Memang mau jualan apa?"
"Jualan sop baso, telor balado, semur jengkol, ayam krispi." ia masih tidak mau menatap wajah Keken dan hanya fokus dengan bahan belanjaan yang sedang diraciknya.
"Tidak usah jualan ya, aku masih bisa cari uang untukmu." pinta Keken yang semakin mendekat
"Stop!" Farah yang sedang memegang pisau kini menatap tajam sembari menodongkan pisaunya kearah Keken.
" Aku tidak mau berdebat dan ini keputusanku. Dan jangan coba-coba mendekat apalagi berusaha memelukku dari belakang, jangan mencari kesempatan!" ia yang tahu kemana arah pikiran Keken dengan cepat memberi ancaman pada suaminya. Keken hanya tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya ia ingin memeluk istrinya dari belakang namun ternyata gadis itu sudah tahu jalan pikirannya.
"Kamu kenapa sih, marah-marah terus. Aku salah apa lagi?" tanyanya
" Gara-gara kamu keluar rumah, semua ibu-ibu bergosip tentang kita dan terutama tentangmu! Menyebalkan."
"Bukannya tadi kamu yang bilang meminta bantuan. Lalu salahku dimana sayang?"
"Ini real kehidupan, biarkan saja mereka bergosip jangan terlalu dipikirkan, santai saja yang." Keken tidak peduli jika ibu-ibu itu membicarakan dirinya di belakang.
"Salah kamu keluar rumah dan menjemur pakaian! Mengerti!"
"Lalu aku harus bagaimana, kamu kan kerepotan dan aku harus membantu. Apa jangan - jangan kamu cemburu dengan ibu-ibu itu atau cemburu pada teh Cucu? Keken sengaja menggoda istrinya kembali sembari mengedipkan matanya.
" Nggak usah kepedean! "ketus Farah sembari memotong wortel dengan kasar." Mana ada aku cemburu dengan mereka. "
" Iya aku tahu kamu tidak akan cemburu pada mereka. Kamu tidak perlu khawatir dengan teh Cucu, walaupun dia ne nenable dan sexy aku tidak tertarik dengannya. "
" Kok ngomongnya kearah sana!"
"Lah memang bener kan kalau punya teteh gede, pria mana yang tidak tertarik dengan bagian itu tapi aku tidak tertarik karena aku sudah mempunyai istri yang lebih wow." kelakar Keken
Farah memukul Keken dengan batang daun bawang, "Ngeselin, ngeselin banget!"
Keken tertawa melihat bibir Farah yang mengerucut.
"Pergilah! Kalau kamu disini aku tidak bisa fokus masak, mood ku langsung down saat melihat wajahmu."
"Ya ampun sayang, aku ini pria tampan dan semua mengakui hal itu tapi kenapa hanya kamu yang tidak mengakuinya." ia hanya bisa menghela nafas panjangnya
"Tapi beneran Ken, aku kesal saat melihat wajahmu!" ucapnya dengan jujur
"Oke, maaf ya kalau aku selalu membuat kamu kesal."
Emosi Farah yang sempat naik kini mulai reda saat suaminya meminta maaf. Aneh bukan.
"Kok diam, masih marah? Ya sudah kalau masih marah kamu mau beli apa nanti aku belikan." ujarnya
" Apa kamu mau tas branded seperti merk Cuci, Herpes, Balensaha, Lois Polutan nanti aku belikan asal kamu senyum dan tidak marah lagi." ucap Keken kembali
"Apaan sih, Ken!" namun Farah menahan senyum saat suaminya menyebut setiap merk tas dengan nama nyeleneh. " Memangnya kamu punya uang?"
" Kamu tenang saja, aku kan Cra___" namun ucapannya terpotong oleh suara Farah
"Crazy rich tapi sekarang rich nya ilang sisa crazy nya!"
Keken hanya tersenyum Lebar," Aku bisa minta sama mommy Imelda atau aku akan minta pada seseorang."
"Jangan merepotkan orangtua! Dan memangnya siapa lagi yang mau kamu mintai pertolongan?"
"Khaffi dan Fafa." jawabnya dengan enteng. " Mereka pasti selalu bersedia membantu, kamu tenang saja."
__ADS_1
"Aku tidak mau kamu merepotkan orang lain, kita bisa hidup seadanya." Farah tidak mau Keken menyusahkan para sahabatnya, ia ingin hidup sederhana seperti biasanya.
"Jangan buang-buang uang untuk hal yang tidak penting."
Keken menelan salivanya, berharap Farah tidak tahu apa yang ia lakukan di marketplace.
"Kalau ketahuan, pasti Farah akan mengomel tujuh hari tujuh malam." gumamnya dalam hati
Dan benar saja sesaat kemudian teriakan dari arah depan membuat Keken terkesiap.
"Paketttt..." teriak seorang kurir dengan membawa pesanannya.
"Apa ini pak?" tanya Farah
"Handphone bu merk apel. Silakan diterima dan kami meminta foto sebentar." kurir itu memfoto Farah dan pamit pulang.
Farah buru-buru masuk dan melihat Keken yang kini pura-pura tidur di ranjang sembari menutupi wajahnya dengan bantal.
"Katanya tidak punya uang, kok beli handphone baru. Ini kan mahal, Ken!" ucapnya dengan tidak suka sembari membuka bantal yang menutupi wajah suaminya.
" Murah kok." sangkalnya
"Ini mahal." Farah memukul lengan Keken.
"Murah, cuma dua puluh juta."
Farah mendelik kembali dan membanting ponsel yang masih terbungkus itu ke arah ranjang.
"Jangan dibanting, ini ponsel baru." Keken dengan cepat mengambil ponsel itu dan unboxing isinya.
"Wuih, keren kan yang." Keken memamerkan ponsel barunya. Ia tersenyum bahagia seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
"Bodo amat!" ucapnya dengan kesal. Dan lagi-lagi suara kurir terdengar kembali dari arah depan.
"Apalagi?"
Farah menerima paket itu dan membuangnya ke arah ranjang lagi. " Masih ada berapa paket lagi yang kamu beli."
" Sisa dua lagi." jawabnya dengan enteng sembari unboxing paket itu. "Keren kan yang." ia berlagak seperti model profesional setelah menggunakan jaket mahal itu.
" Itu mahal Ken!" Farah begitu geram saat melihat print logo merk Cuci di jaket baru Keken.
"Murah."
"Lalu beli apa lagi?" tanyanya
"Kaos superme sama sepatu adilas." ucapnya dengan enteng
"Keken..!!!" teriak Farah, ia tidak mengerti lagi dengan sifat Keken yang masih boros dan suka berfoya-foya dan menganggap murah barang yang menurut Farah mahal, ia harus berpikir seribu kali saat membelinya namun pria itu dengan mudah membeli semua keinginannya.
" Kamu tenang saja yang, kalau uangku habis aku bisa minta sama papi."
" Terserah!" Farah dengan kesal meninggalkan Keken yang masih bergaya dengan jaket barunya.
"Kak Farah." teriakan dari arah pintu terdengar dengan jelas dan Farah tahu suara siapa itu.
"Hai anak kecil, ada apa?" Keken yang membuka pintu melihat anak perempuan kecil yang terlihat imut, anak dari teh Cucu. Ia terlihat membawa buku pelajaran di tangannya.
"Namaku Malika Om, aku ingin belajar dengan kakak Farah."
"Hai Malika, kak Farah sedang sibuk. Malika belajar sama Om ya." jawab Farah, ia langsung keluar saat mendengar suara Malika. Seperti biasanya saat ibunya tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, Malika selalu datang ke rumahnya.
"Kok aku." protes Keken, namun matanya melihat kearah Farah yang kini sedang mendelik
"Oke, oke tuan puteri tercinta." Keken menghela nafas panjangnya dan meminta Malika membuka buku PR nya.
__ADS_1
" Om, beneran pintar atau tidak? Malika tidak mau belajar sama Om kalau jawabannya salah semua." tanyanya dengan nada tidak percaya dengan kepintaran Keken, pria yang beberapa kali ia temui di rumah kak Farah.
"Pinter dong, memangnya kamu tidak percaya kalau Om pintar?"
Malika menggelengkan kepala.
Farah yang melihat dari jauh kedekatan Malika dan Keken kini hanya bisa menggulum senyum,akhirnya ia bisa mengerjai suaminya lagi dengan cara membantu Malika mengerjakan pekerjaan rumah.
" Kenapa banyak orang yang tidak percaya dengan kemampuanku." gumam Keken
"Karena kamu memang tidak meyakinkan, selalu cengengesan dan berbuat sesuka hati." sahut Farah dari dalam dapur
Keken hanya menggulum senyum dan bertanya lagi pada Malika.
"Coba apa tandanya jika akan turun hujan?" tanya Keken pada gadis kecil itu.
Malika menggaruk kepalanya dan mulai berpikir. "Awan tertutup kabut tebal, langit gelap Om." jawabnya
"Salah!"
"Lalu yang benar apa?"
" Tanda akan turun hujan adalah ibu-ibu mengambil jemuran di luar rumah, tuh contohnya." ia melirik kearah teh Cucu, ibu dari Malika yang kini sedang mengambil kembali jemuran yang belum kering. Saat ini langit begitu mendung dan gelap seperti akan turun hujan.
" Ah! Om tidak jelas. "gerutu nya dan Keken hanya terkekeh.
" Malika, jangan nakal di rumah kak Farah ya, mama mau masak dulu. "teriak teh Cucu.
" Iya mah. "
" Malika, terbuat dari kedelai hitam dan di pelihara dengan kasih sayang. "Keken menirukan salah satu iklan di televisi
" Memangnya Malika iklan kecap. "celetuk gadis kecil itu.
" Malika terbuat dari kedelai hitam satu-satunya yang bikin suami panas dingin hihihi... "kelakar teh Cucu
" Kalau itu mah, semua suami juga mau teh. "timpal Keken
" Benih dari pisang raja kualitas nomer satu. "kelakar teh Cucu ,
" Wuih, mantap bener. Dulu sehari berapa kali teh? "tanyanya, entah mengapa pembicaraan mereka mulai mengarah ke hal yang kurang pantas untuk di dengar oleh anak-anak
" Stop!! " teriak Farah dengan cepat, ia keluar dari dapur sembari membawa sendok sayur bergagang kayu." Hentikan obrolan unfaedah ini, ada anak kecil apa kalian tidak malu!" geramnya
"Aduh kelepasan Far, habis Keken mulai duluan sih!"
"Kok aku." Keken mulai tidak terima saat teh Cucu menyalahkannya. "Ini kan__."
"Kalian memang sama saja, sama-sama gila dan mesum!" semprot Farah. "Kalau mau bicara anu - anu lihatlah situasi, jangan mengotori pikiran anak kecil yang masih suci dan belum mengenal hal itu."
"Ayo Malika kita belajar lagi." Keken kembali membuka buku Malika yang sempat ditutup olehnya.
"Aku pulang dulu." Teteh bergegas masuk ke dalam rumah daripada kena semprot Farah.
"Hihihi... Om Keken diomelin kak Farah." gadis itu cekikikan saat melihat Keken tidak berdaya oleh istrinya. Dan Farah kembali masuk ke dalam dapur.
" Om, kalau rajin pangkal?"
"Pandai." jawab Keken
"Salah!"
"Kok salah, lalu apa jawabannya."
"Rajin pangkal ojeg." jawabnya. "Soalnya kalau mama sibuk aku disuruh naik ojeg di pangkalan."
__ADS_1
Keken terkekeh mendengar jawaban yang absurd dari mulut gadis itu. Sedangkan Farah menepuk jidat, jawaban dari mana itu. Malika yang ia tahu selalu menjawab dengan jawaban yang benar bukan jawaban celotehan ala Keken.