Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 88 (Maaf)


__ADS_3

Farah menerima pesan bahwa Hilman berada di rumah sakit. Tak butuh waktu lama untuk pergi kesana dan melihat pria yang pernah mengisi hatinya.


Sepanjang perjalanan Farah merasa khawatir dengan keadaan Hilman, apalagi saat mendengar pria itu mendapat surat panggilan dari kepolisian. Farah berpikir keras untuk mendapatkan solusi terbaik agar Hilman tidak dijebloskan ke dalam penjara.


"Abang..." sapanya


" Farah...." Namun matanya melirik sang ibu yang kini duduk disampingnya. Sejak pertunangan dibatalkan orangtua Hilman begitu kecewa pada Farah. Mereka sangat malu dan ini mencoreng nama keluarganya.


"Ibu..." sapa Farah pada ibu Hilman yang kini menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Kau datang?" tanyanya


"Iya bu." Farah menundukkan kepala


"Masih punya muka untuk datang kemari!" ucapan ibu dari Hilman begitu ketus


"Maafkan saya bu." ucap Farah dengan begitu menyesal. Sikap hangat yang selalu ibu tunjukkan kini berbanding terbalik setelah ia membatalkan pernikahan. Dan Farah memaklumi hal itu, memang tidak mudah memaafkan seseorang yang telah mempermalukan mereka. Farah hanya bisa menyesal dan meminta maaf lagi dan lagi.


"Ibu..., ini bukan sepenuhnya salah Farah bukankah aku sudah cerita kebenarannya." Hilman menyentuh tangan ibunya dengan lembut agar ibunya menurunkan suaranya.


"Ibu pergi dulu..." Ia tidak peduli dengan membawa tas nya ia pergi tanpa pamit pada Farah.


"Bagaimana kabarmu bang?" tanya Farah, ia melihat wajah Hilman yang babak belur dan luka disudut bibirnya.


"Aku baik-baik saja, lusa juga pulang." Ia menatap wajah Farah yang masih terlihat tirus.


"Apa dia baik-baik saja?" Hilman menatap kearah perut Farah sembari tersenyum kecut.


"Dia baik-baik saja."


"Farah kemarilah." pinta Hilman, ia menepuk sisi ranjangnya agar Farah mendekat padanya.


"Ada apa bang?" Farah menundukkan kepala, sudah lama ia tidak duduk sedekat ini. Hatinya mulai berdebar kembali.


"Aku rindu kamu?" Hilman bangkit dan memeluk Farah dengan erat, " Aku masih mencintaimu dan ingin bersamamu, Farah."


Airmata Farah mengalir begitu saja, ia tidak bisa bohong kalau dirinya pun merasa rindu pada Hilman dan rasa cintanya masih ada pada sosok yang kini dihadapannya.


"Maukah kamu menikah denganku? Kita mulai lagi hubungan ini dan aku bisa menerima kamu dan anak ini." lirih Hilman

__ADS_1


"Abang..." lirih Farah, ia semakin terisak di pelukan Hilman.


"Jangan menolakku, Farah." pinta Hilman


Namun saat mereka saling berpelukan, suara pintu terbuka secara kasar.


"Ibu yang tidak setuju!" seru ibunda Hilman. Ia yang sejak tadi berdiri di depan pintu dan mencuri dengar pembicaraan kini harus keluar dari persembunyiannya.


Mereka saling mengurai pelukan dan Farah masih melihat tatapan tidak suka serta kekecewaan dari ibu Hilman.


"Farah, lebih baik kamu menjauhi anak ibu. Gara - gara kamu Hilman seperti ini dan dia dilaporkan polisi oleh pria itu!"ucap bu Hesti, ibu dari Hilman


" Bu,ini semua bukan salah Farah, ini salahku bu." bela Hilman." Aku yang memukulnya. "


" Tapi gara-gara dia kamu seperti ini, kita harus berurusan dengan keluarga Feriansyah. Kamu ngerti kan apa yang akan terjadi jika kita menantang keluarga itu!" seru Ibu


"Maaf." ucap Farah


" Farah, ibu sangat menyayangimu bahkan sampai sekarang ibu masih kecewa karena kamu batal jadi menantu ibu, tapi mau bagaimana lagi. Ini semua takdir dari Allah dan ibu ingin berkata jujur kalau ibu tidak bisa menerima bayi itu, huhuhu..." Hesti menangis tersedu-sedu betapa kejamnya takdir ini,calon menantu yang selalu ia banggakan di keluarganya kini telah mencoreng wajahnya dengan gagalnya pernikahan.


" Andai saja kamu tidak hamil mungkin ibu bisa saja menerimamu, ibu akan menutup mata tapi kenyataannya kamu hamil dan ayah dari si bayi itu anak dari keluarga Feriansyah. Ibu harus bagaimana Farah, sakit sekali hati ibu huhuhu..." ia menangis terisak, takdir terasa begitu kejam padanya.


"Ibu harus bagaimana? Anak ibu satu - satunya harus berurusan dengan keluarga itu."


"Ibu jangan khawatir, Farah akan melakukan yang terbaik untuk abang Hilman." ia mengusap airmatanya


"Farah, kamu tidak perlu melakukan apapun, aku bisa menuntut balik pria itu dan memasukannya ke penjara, Aku akan menyewa pengacara hebat." Hilman berkata dengan yakin


"Dasar anak bo doh!" Hesti memukul anaknya bertubi-tubi, " Kamu pikir mereka akan tinggal diam saat anak mereka babak belur. Semakin kamu melawan, mereka akan semakin menyiksamu Hilman. Mereka orang kuat dan sudah pasti akan menggunakan jasa pengacara terbaik di negeri ini."


" Ibu... "Farah menghampiri mantan calon mertuanya." Maafkan segala kesalahan Farah karena sudah membuat ibu malu dan kecewa padaku. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan ibu dan ayah yang selalu menyayangiku seperti anaknya sendiri. "


" Farah minta maaf untuk semuanya karena tidak bisa menjadi menantu ibu, maaf, maaf, maaf. Selamanya Farah akan sayang sama ibu sampai kapanpun. Dan Farah kesini untuk meminta restu karena satu minggu lagi Farah akan menikah dengan pria itu, do'akan Farah ya bu. " ia memeluk dengan lembut wanita paruh baya itu, ia sadar karena dirinya membuat semua menjadi kacau.


" Farah janji bang Hilman tidak akan dipenjara, Farah akan meminta pria itu untuk mencabut laporan. "janjinya


" Farah, apa yang kau katakan! "teriak Hilman, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia segera turun dari ranjang dan memeluk Farah


" Tidak! Tidak Farah! Jangan mengorbankan dirimu karena aku. Aku tahu kamu akan menikah dengannya karena aku kan? Agar aku tidak dipenjara." Dengan erat Hilman memeluknya seolah tidak ingin terpisahkan.

__ADS_1


"Tidak bang." Farah mengurai pelukannya, " Ini keputusanku, bukan karena abang. Jadi jangan merasa bersalah. Anak ini miliknya, maka dia yang harus bertanggung jawab. Dan sejak tahu aku hamil, dia selalu baik dan menuruti semua permintaanku. Abang tidak usah khawatir, dia tidak akan menyakitiku." ucap Farah


" Tidak! Kamu tidak boleh menikah dengannya, Aku yang akan menikahimu. " Hilman kian frustasi karena Farah kekeh akan menikah dengan pria itu


" Abang.... "lirihnya, airmata Farah tumpah begitu deras, takdir tidak berpihak pada mereka dan harus berpisah.


" Hilman... "lirih sang ibu," Apa yang Farah katakan benar, pria itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Kamu harus mengikhlaskan semua ini, Nak! "ucapnya


" A.. aku tidak bisa bu... "Hilman menangis, hatinya begitu sakit. Ia tidak bisa melihat wanita yang ia cintai menikah dengan pria lain.


" Farah, maafkan ibu Nak. Ibu tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini. Semua keluarga mencaci ibu dan ini sangat memalukan. Ibu ingin marah padamu tapi tidak bisa karena kamu pun korban dari semua ini, huhuhu... "


" Maafkan Farah bu. "


" Tidak bu! Aku tidak mau, Farah harusnya bersama aku bukan dengannya!" lagi-lagi Hilman masih tidak terima dengan kenyataan jika Farah menikah dengan pria itu


" Dia pria br*ngsek bu, dia selalu bermain wanita dan aku tidak mau Farahku terluka. "


" Abang.." Farah mengusap airmatanya , ia harus kuat agar Hilman mau mengikhlaskan dirinya.


" Aku bahagia dan pria itu berjanji bahwa tidak akan bermain wanita lagi, hanya aku satu-satunya. " bohongnya, padahal Farah belum bertemu dengan Keken


" Aku tidak percaya dengan pria itu, Farah! Dia sangat playboy dan menyebalkan."


"Aku tahu tapi suka tidak suka, abang harus menerima keputusanku. Ini pilihan terbaikku bang, maaf untuk segalanya."


"Aku tidak bisa menerima semua ini Farah!" teriak Hilman lagi


" Aku pergi dulu bu dan semoga abang bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku." Farah menggulum senyum, hatinya kembali hancur saat melihat airmata Hilman yang menetes deras.


" Bagaimana dengan mimpi - mimpi kita Farah. Hanya kamu wanita terbaikku."


" Abang.... "Airmatanya turun tanpa henti saat mengingat mimpi indah yang akan dibangun bersama Hilman. Angan-angan yang dulu direncanakan hilang seperti debu. Anak yang lucu, rumah yang indah, keluarga yang hangat, semuanya hancur tanpa sisa.


" Bangunlah mimpi itu kembali bersama wanita lain tapi itu bukan aku, permisi bang. Aku pamit." Farah mencium takzim tangan Hilman dan bu Hesti untuk yang terakhir kali.


"Farah...." Hilman berteriak histeris ditinggal Farah kembali.


Dan gadis itu pergi sembari menangis, hatinya begitu sakit dan hancur. Keputusan harus diambil secara cepat, mau tak mau ia harus menikah dengan pria itu agar Hilman bisa bebas tidak dipenjara.

__ADS_1


__ADS_2