Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 110 ( Ghibahin Tetangga)


__ADS_3

Seperti biasa di pagi hari semua orang beraktifitas. Termasuk ibu-ibu yang kini sedang membeli sayur di tukang sayur keliling yang biasa lewat di depan kontrakan Farah. Selain harganya lebih murah, penjualnya pun mempunyai ciri tersendiri yakni dengan kumis yang tebal ala pak raden. Bang Hendra namanya,duda beranak satu. Orangnya yang cukup ramah dan kesayangan para emak - emak.


Farah yang mendengar teriakan tukang sayur pun bergegas keluar namun suara Keken menghentikan langkahnya.


"Sayang, ini mesin cucinya kok gerak begini kayak orang kesurupan." ucapnya. Mesin cuci itu bergerak sendiri dan Keken tidak tahu apa penyebabnya.


Ya, sejak pagi hari Farah kembali mual dan meminta tolong pada Keken untuk mencuci baju dengan menggunakan mesin cuci dua tabung, namun Keken yang tidak pernah mencuci merasa kebingungan dan selalu bertanya bagaimana cara menggunakan mesin itu hingga Farah tampak kesal.


"Kalau ngeringin baju jangan terlalu sedikit, nanti gerak begitu." Farah menghampiri suaminya dan kembali mencontohkan bagaimana cara mengeringkan baju dengan mesin cuci.


"Isinya juga jangan kebanyakan karena akan merusak mesin cucinya,seperti manusia kalau kebanyakan beban juga akan ngedrop."


"Masa gini aja tidak bisa!" ketusnya Farah lagi. Ia selalu mengomel pada Keken yang selalu salah dalam melakukan pekerjaan rumah.


"Aku memang tidak pernah mencuci baju, masa crazy rich cuci baju beginian. Aku lebih suka pencucian uang." kelakar Keken


"Stop Ken, aku sedang tidak ingin bercanda." ketus Farah sembari mendelik. Ini masih pagi dan Farah ingin menjaga kewarasaanya untuk tidak bertengkar di pagi hari. Ia kembali berkerumun dengan para ibu-ibu tetangga yang sedang memilih sayur.


"Duh, neng Farah tambah cantik setelah menikah." ucap salah seorang ibu - ibu tetangga Farah yang tak jauh dari rumahnya.


Ia hanya membalas dengan tersenyum.


" Suaminya juga tampan bu Zaki, badannya uhm... keren punya." sahut teh Cucu. Farah hanya memutar bola matanya dengan malas.


" Iya aku pernah lihat, ya ampun ganteng banget teh. Coba bang Zaki badannya begitu, maulah aku di kamar terus." kelakarnya sembari terkekeh.


" Sayang ya, bang Keken suami Farah kalau masih single sudah aku sikat agar jadi ayahnya si Malika." timpal teh Cucu lagi


"Ihh, teteh bisa saja lihat yang bening-bening tiap hari tambah betah ya teh." sahut salah seorang ibu-ibu


"Tidak juga bu, kan bukan suami saya. Dan saya juga harus keluar rumah untuk bekerja biarpun saya janda saya tidak ingin jadi pelakor. Dosa bu dosa." balasnya sembari memasukan sayur kangkung ke dalam plastik merah.


"Iya ya teh, dulu juga mantan suamimu direbut pelakor."


"Iya bu, memang sudah nasib saya dan sekarang saya harus berjuang untuk hidup dan alhamdulillah hidup saya sekarang ini tenang tidak perlu memikirkan pria yang suka selingkuh itu." Teh Cucu mengulang kembali memorinya yang dulu disaat semuanya baik-baik saja namun hancur seketika saat hadirnya orang ketiga.

__ADS_1


" Jangan melamun teh. "bu Zaki menepuk bahunya.


" Tuh lihat yang seger-seger lagi jemur baju. " ia menunjuk Keken dengan dagunya, terlihat pria itu sedang memeras kembali baju yang akan dijemur.


" Eh, bang Keken. Mau dibantuin tidak bang? "tawar teh Cucu


" Tidak usah teh. "ucap Keken sembari tersenyum, ia yang sedang menjemur baju langsung menjadi bahan pembicaraan ibu-ibu yang sedang belanja sayur.


" Ya ampun Farah, senyuman suamimu bikin kita nyut-nyutan apalagi liat badannya. "bu Zaki dan kawan-kawannya melihat sekilas kearah Keken yang terlihat sexy dengan kaos singletnya. Keken hanya tersenyum.


" Pelukable dan kelonable ya bu. "Kelakar teh Cucu,


" Bikin betah dikamar seharian hihihi.. "


" Kuat berapa ronde Far?"tanya ibu lainnya


" Lima kali ya bu, dahsyat banget pastinya. Lihat badannya sixpack gitu bikin linu. " canda ibu lainnya lagi


" Ada yang berdenyut tapi bukan urat nadi. "kelakar teh Cucu


" Kenapa tidak sekalian, ada yang basah tapi tidak kena air. " sahut Farah dengan nada kesal. Ia hanya bisa menghela nafas panjangnya, dengan berani ibu-ibu memuji suami di depannya secara langsung.


" Iya jadi pengen___ "bu Zaki tertawa keras dan mendapat teguran dari ibu lainnya agar tidak berpikiran yang tidak - tidak. Ia melirik wajah Farah yang terlihat datar namun suaranya sedikit ketus.


" Bang Keken kerja dimana Far? "tanya bu Zaki, ia mengubah topik pembicaraan karena merasa tidak enak dengan Farah.


" Di rumah saja bu. "


" Pengangguran! "ucapnya," Sayang sekali ganteng - ganteng pengangguran. " ia terlihat sinis saat melihat Keken dari atas hingga bawah.


" Masa cuma modal anu doang. "ucapnya lagi.


" Anu? Anu apaan? " Farah mengeyitkan dahinya.


" Ah, neng Farah mah gitu. maksud bu Zaki itu si tuyul gundul sesepuh area bawah. " kelakar bang Hendra

__ADS_1


" Oh.. " Farah mulai mengerti arah pembicaraan mereka.


" Dia kerja kok bu. "bela Farah," Tapi saat ini sedang dirumah makannya saya ingin jualan makanan online. Ibu- ibu jangan lupa beli ya. " Farah sengaja mempromosikan dagangannya agar ibu- ibu tahu bahwa dirinya berjualan. Ia memasukan beberapa sayur dan ikan dan ayam ke dalam kantong plastik.


" Kasihan sekali kamu Far, setelah menikah masih saja bekerja. "ucap ibu lainnya


Keken yang mendengar hanya bisa tersenyum kecut, sedikit tercubit dengan obrolan para ibu-ibu gosip itu. Namun ia pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan kegiatannya.


" Eh, jangan salah bang Keken bekerja lho tapi malam hari. Aku tahu kok karena ia selalu pulang pagihari jadi ibu-ibu jangan salah paham ya karena bang Keken bukan pengangguran, dia itu bekerja. Catet!" jelas Teh Cucu, ia membela Keken karena memang benar Keken bekerja dan agar tidak terjadi kesalahan pahaman yang bisa menjadi bahan omongan di lingkungan itu.


" Dih! Teh Cucu tahu aja kegiatan suami orang, jangan - jangan mau nikung nih. "celetuk bang Hendra,


" Eh bang kumis, gue itu tetangga samping Farah jadi gue tahu kalau bang Keken bekerja setiap malam dan pasti si Dini yang jagain Farah. Makanya punya pikiran itu yang bersih jangan kayak air selokan udah butek, bau, kotor lagi! " semprotnya


" Perlu abang tahu ya, aku bukan janda yang suka celamitan dengan suami orang. Udah ah! Aku lagi sensi nih. Cepetan hitung belanjaan aku! "


" Bercanda teh, biasanya juga tidak pernah marah kok sekarang sensitif begitu. "bang Hendra begitu menyesal dengan ucapannya yang menyinggung perasaan teh Cucu.


" Tapi kali ini abang udah kelewatan, aku juga punya perasaan bang! "


" Ya sudah, ini belanjaan gratis saja buat teteh, maaf ya . " Bang Hendra tidak menghitung belanjaan teh Cucu sebagai ucapan maaf dirinya. Walaupun sebenarnya ia merasa rugi jika ada pelanggan yang tidak membayar tapi mau bagaimana lagi ia mencoba untuk merebut hati teh Cucu agar tidak marah.


" Oke Makasih. Sering-sering saja ya bang kasih gratisan." Ia merebut kantong plastik berisi sayur, ikan dan buah yang cukup banyak. Dan pergi meninggalkankan tempat itu


Keken hanya tersenyum saat Teh Cucu mengedipkan mata padanya dan tersenyum cekikikan. Keken tahu itu hanya akting semata agar Teh Cucu mendapat belanjaan gratis.


"Dasar janda ******, tukang sayur dikibulin." gumam Keken dalam hati.


"Teh, jangan marah lagi ya sama aku." teriak bamg Hendra dan teh Cucu menoleh kebelakang.


"Marahku sebatas ini." Ia menggoyangkan plastik besar itu,


" Lumayan buat belanja satu minggu, gratis lagi hihihi..." ia terkekeh dan kembali masuk ke dalam kontrakannya.


"Sialan gue ditipu janda stress!" pekik bang Hendra dan semua ibu-ibu tertawa melihat wajah bang Hendra yang terlihat nelangsa dan menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2