
"Aisyah...!" panggil Keken saat ia keluar dari toilet.
"Ada apa kak."
"Kamu ingin makan apa?" tanya Keken pada gadis kecil itu
"Apa ya?" ia mulai berpikir. Bingung apa yang ingin ia makan.
"Kan ada ikan bakar kak." sambungnya lagi
"Selain itu, kamu pernah makan pizza, burger, spaghetti atau sushi?"
"Sushi itu makanan apa kak? Yang Aisyah tahu sushi itu mbak-mbak yang jualan di kantin Ais, namanya mbak susi." ucapnya dengan polos.
Keken tergelak tawa, sungguh sangat menghibur gadis ini.
"Kalau pizza, burger, spaghetti sudah pernah walaupun sangat jarang karena kata ibu kita harus irit. Uang gaji bapak tidak cukup jika kita selalu makan enak dan mahal jadi kita harus makan seadanya dan sederhana." ia menirukan gaya seperti ibunya.
Keken hanya tersenyum kecut, ketika dirinya dengan mudah makan enak dan mewah namun disini di keluarga Farah begitu hidup sederhana jauh dari kata mewah.
" Ais ingin apa? "tanya Keken
" Apa ya?" gadis itu mulai berpikir kembali.
" Sebenarnya ais dan kak Fadil ingin sepeda agar bapak tidak perlu mengantar kami. Bapak terkadang telat masuk kerja karena harus mengantar kami terlebih dahulu. Tapi kata bapak dia belum punya uang untuk beli sepeda jadi kami harus sabar. Kak Fadil juga suka sepeda balap, setiap minggu ikut temen ke GOR terdekat lihat balap sepeda. "
" Cuma itu? "
" Iya, sebenarnya ada lagi tapi nanti saja kalau tabungan Ais sudah cukup. "
" Emang Ais mau beli apa? "tanya Keken lagi
" Ais mau beli boneka yang besar banget seperti milik Raina. Boneka beruang warna pink sebesar kak Keken tapi harganya mahal jadi kata ibu Ais harus menabung jika menginginkan suatu barang. Bulan depan insyaallah uang Ais cukup buat beli boneka jadi Ais tidurnya tidak sendirian lagi. "
__ADS_1
" Oke, jika itu yang ais mau. Yasudah Ais main sana sama kak Farah. " Dan gadis itu mengangguk tanda mengerti sedangkan Keken menelepon seseorang untuk melakukan sesuatu.
* **
Keluarga pak Ilham terkesiap saat melihat banyak makanan yang tersaji di rumah mereka. Ia tidak menyangka Keken memesan banyak makanan secara online dan yang lebih mengejutkan lagi, Amin datang dengan membawa dua buah sepeda dan satu buah sepeda motor matic keluaran terbaru. Aisyah begitu histeris saat melihat sebuah boneka besar yang diinginkan nya kini berdiri tegak di sudut ruang tamu. Boneka beruang berwarna pink, warna kesukaan nya.
" Boneka itu buat Ais dan sepeda pink itu juga untuk Ais." ucap Keken pada gadis kecil itu.
"Ini beneran kak buat Ais semua?" ia menatap tidak percaya
"Iya."
Dan tawa renyah Aisyah begitu terdengar indah, gadis kecil itu benar-benar senang dan bahagia.
"Sepeda balap itu untuk Fadil." Keken menunjuk sepeda itu dengan dagunya. " Saat ini aku hanya bisa memberimu itu." ucapnya lagi
Antara senang dan kaget Fadil terdiam begitu saja, sepeda berwarna hitam yang ia inginkan kini berada di depan mata dan sekarang benda itu miliknya. Luar biasa.
Keken tergelak tawa, adik Farah yang satu ini masih saja terlihat dingin seolah tidak membutuhkan nya. Menyebalkan.
"Tidak, ini hadiah karena kakak dapat bonus dari penjualan mobil. Ini bukan sogokan."
"Ken, kamu beneran dapat bonus penjualan mobil. Bukan nya beberapa hari ini kamu kerja di proyek Utara?" tanya Farah
"Aku selalu double job, ini semua karena bantuan Wina. Dia punya banyak relasi yang mau membeli mobilku."
"Wina wanita baik, kapan-kapan aku kenalkan dia denganmu." ucap Keken
"Tidak usah!" ketus Farah, bagaimana mungkin dia bertemu dengan mantan selir malam suaminya. Farah tidak percaya diri karena wanita itu pasti cantik dan menarik.
"Ya ampun, Wina lagi. Dulu Michelle sekarang Wina nanti siapa lagi wanita yang akan membantumu Ken." gumam Farah dalam hati, wajahnya yang tadi sempat bahagia dan sumringah karena Keken membeli banyak hadiah untuk keluarganya kini berubah muram.
"Motor matic ini buat bapak, aku lihat motor di depan sudah tua dan berkarat jadi aku belikan motor ini untuk memudahkan bapak kerja."
__ADS_1
Tidak perlu repot - repot Nak, bapak masih bisa memakai motor tua itu. "pak Ilham merasa tidak enak karena menantunya memberi hadiah begitu banyak.
" Tidak apa-apa pak terima saja, lumayan bisa ibu pakai ke pasar untuk belanja. " Sahut bu Tami dengan wajah sumringah.
" Ibu.... "pak Ilham mendelik kearah istrinya
" Kan dikasih menantu, kita tidak memintanya jadi kenapa harus ditolak. "lirih bu Tami, ia sangat senang Keken memberi keluarganya kendaraan yang bisa dipakai untuk kegiatan sehari - hari.
Pak Ilham kembali melotot pada istrinya hingga Tami menundukkan kepala.
" Benar pak, terima saja. Pakailah agar bapak tidak terlambat ke pabrik, motor tua itu pasti sering mogok di jalan dan itu menyusahkan.
Memang beberapa kali motor tua itu sering bermasalah hingga sering service ke bengkel, namun Pak ilham selalu memperbaiki. Ia selalu bersyukur karena motor itu sangat berjasa di keluarganya, jika pun membeli baru ua belum mampu.
" Terima kasih Nak Keken, semoga rejekinya bertambah, kalian selalu bahagia, diberi kesehatan dan keselamatan."
"Aamiin." Seluruh keluarga Pak Ilham mengamini semua doa.
" Ayo kita makan. "ajak Keken," Pak Amin ayo kita makan bersama. "
Amin melirik ke kanan dan ke kiri, ia merasa kebingungan karena Keken memanggilnya dengan sebutan pak apalagi majikannya sekarang mengajaknya makan bersama. Aneh.
" Ayo! Pak Amin kok bengong. "Keken mendelik kearah Amin karena pria itu diam di tempat.
" Iya Den, siap! " jawabnya, masih dengan hati yang bimbang.
" Apa aku mimpi, sekarang Den Keken memanggilku dengan sebutan bapak. Ah, Aden banyak berubah setelah keluar dari rumah. " ucapnya dalam hati. Ia menggulum tersenyum
Mereka makan bersama sesekali terdengar candaan dari Keken dan sahutan ketus dari Fadil. Ais yang baru pertama kali makan sushi kini merasa aneh saat dirinya harus makan ikan mentah. Apalagi saat disajikan dengan menu salad yang menurut Ais ini seperti sayuran kampung yang diiris tipis dan diberi air perasan jeruk lemon.
"Karedok mentah rasa asem." ucapnya dengan polos hingga terdengar gelak tawa dari seluruh penghuni rumah.
Sedangkan Farah masih dalam pemikiran nya sendiri, ia hanya sesekali melirik dan menimpali obrolan Keken. Entah kenapa rasa ikan bakar pun terasa aneh untuk nya. Ia sudah tidak berselera. Apalagi saat tahu semua hadiah yang Keken berikan untuk keluarganya ada campur tangan wanita lain. Wanita yang selalu menghangatkan malam Keken. Farah merasa kesal dan ingin mendengar penjelasan dari suaminya, tapi saat ini waktunya tidak tepat karena keluarga Farah sedang berbahagia.
__ADS_1