
"Kamu kenapa?" Keken merasa aneh karena Farah selalu diam diperjalanan dan hingga di rumah ia selalu diam. Saat di rumah tante Navysah, Keken masih sempat melihat bekas jejak airmata di kedua sudut mata istrinya namun ia tidak berani bertanya dan hanya diam.
"Apa ada perkataan tante yang menyakitimu?" akhirnya Keken berani bertanya
Farah menggelengkan kepala.
"Lalu apa yang membuat kamu menangis tadi?" Keken masih penasaran dengan pembicaraan tante dan istrinya di lantai atas
" Rahasia." Farah, namun ia melirik Keken sembari memberikan amplop putih itu. " Ini dari mba Kinan."
Keken membukanya hingga matanya terbelalak saat melihat cek bertuliskan nominal uang.
"Se... seratus juta. Ini hadiah yang cukup besar, mas Raffa memang yang terbaik." Keken terlihat senang dengan cek pemberian Kinan dan sudah pasti ini perintah dari kakak sepupunya.
"Kok mas Raffa sih, ini dari mba Kinan." Farah
"Iya aku tahu, tapi mba Kinan selalu nyeleneh. Saat aku membuka kado darinya kau ingat, hanya ada tulisan Anda kurang beruntung." Keken menghela nafas panjangnya mengingat saat dirinya dikerjai dengan kado pemberian Kinan.
"Terserahlah yang ngasih siapa yang penting aku dapat tas branded." Farah nengulas senyum. Hari ini ia sangat beruntung mendapatkan banyak rejeki. Dan paperbag dari Kinan tidak ia tunjukkan pada Keken, ia tidak mau suaminya melihat hadiah itu dan meminta yang tidak - tidak.
"Simpanlah cek ini, untuk biaya persalinan nanti." Keken mengembalikan cek itu pada Farah
"Kok aku? Nanti bisa saja uang ini aku habiskan untuk bersenang-senang." Farah
"Ya sudah pakai saja, jika kau ingin membeli sesuatu aku tidak melarang,habiskan uang ini karena aku aku bisa mencari uang lagi untuk biaya anakku dan kamu."
Farah mencelos, ia membuang wajahnya kearah lain. Terniang dengan ucapan tante Navysah bahwa Keken benar-benar mencintainya.
"Boleh aku memelukmu?" Farah menatap Keken kembali.
Keken mengernyitkan dahinya, karena selama ini dirinya yang selalu memeluk istrinya terlebih dahulu dan Farah tidak pernah membalas pelukannya, hanya gerutuan dan terkadang umpatan yang keluar dari mulutnya.
"Boleh tidak!" tanyanya lagi, " Kalau tidak boleh yasudah." ia melengos lagi
"Tentu boleh, dengan senang hati." Keken segera mendekat dan memeluk istrinya dengan erat. Nyaman. Tidak seperti sebelumnya Farah yang selalu menggerutu saat dipeluk, kali ini dia diam. Cukup lama hingga Keken merasa kesemutan.
Farah masih memeluknya, mencari ketenangan disana. Benarkah pria ini yang terbaik atau pria dimasa lalu yang masih berada di hatinya. Ia mulai merasakan pelukan Keken yang begitu hangat hingga beberapa kali ia menguap. Keken pun tak mau ambil pusing, baginya ini kesempatan yang tidak akan dilewatkan dengan sia-sia. Mendapatkan pelukan dari istrinya.
Farah menghirup dengan kuat aroma tubuh suaminya, wangi parfum yang selalu menguar membuatny nyaman. Keken memang selalu wangi dan bersih.
__ADS_1
Dan Keken menggulum senyum, berharap Farah jatuh cinta padanya,namun saat ini ia mendengar suara dengkuran halus dari wanita yang ia peluk.
"Far, Farah..." panggilnya dengan lirih, dan ternyata gadis itu tertidur dalam pelukannya. Keken terkekeh.
Ia membaringkan Farah di ranjangnya dan meminta Dini untuk menginap di tempatnya karena hari ini Keken tidak bisa pulang, ada beberapa hal yang harus ia urus.
***
Benar saja Keken sudah dua hari tidak pulang kerumah dan itu membuat Farah kesal, ia hanya beberapa mengirimkan pesan dan bertanya keadaan calon anaknya. Menyebalkan.
Entah apa yang dilakukan Keken, ia hanya bilang sedang melakukan pekerjaan.
"Do'akan aku agar pekerjaanku lancar." ucapnya dalam sambungan telepon. " Nanti malam aku pulang."
Farah selalu pura-pura tidak peduli padahal ia benar-benar mulai tergantung dengan Keken. Dan entah kenapa selalu ingin dekat dengan pria itu. Nyidam yang aneh.
Semakin hari jualan Farah bertambah laris, namun ia tidak ingin terlalu memfosir tubuhnya dan dengan bantuan teh Cucu yang menjadi kurir makanan kini Farah sedikit lega,ia tidak perlu repot-repot mengantarkan pesanan.
"Katanya Keken mau pulang malam ini, tapi belum sampai juga." gerutunya sembari menghitung uang jualan dan menaruhnya kedalam sebuah toples bekas sosis.
"Alhamdulillah penjualan hari ini lumayan banyak, aku bisa menabung untuk persalinan." ucapnya dengan penuh syukur. Ia mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Usia kandungan yang memasuki bulan keempat membuat dirinya mulai nyaman beraktifitas apalagi saat bersama Keken, pria itu dengan sigap membantu dirinya walaupun terkadang selalu membuat dirinya kesal lagi dan lagi.
"Itu pasti Keken." tanpa disadari ia tersenyum, karena biasanya sebelum tidur pria itu akan meneleponnya.
"Eh." Farah termenung saat membaca sebuah nama yang meneleponnya. "Abang." ia menekan tombol hijau
"Assalamualaikum, Dek." sapa Hilman diujung telepon
"Walaikumm salam, bang." Farah meremas tangannya, panggilan adek yang dulu ingin Hilman sematkan jika mereka jadi menikah namun takdir berkata lain, mereka tidak berjodoh.
"Abang ingin ketemu lusa di Cafe Shine, adek bisa kan?"
"Mm... jam berapa bang?"
"Jam sepuluh, abang tunggu disana ya."
"Iya bang." Dan mereka hanya mengobrol sejenak karena suara ketukan pintu membuat Farah mengakhiri sambungan telepon.
" Sayang." Keken tersenyum dengan membawa beberapa bungkus makanan. Aromanya begitu lezat hingga Farah menelan salivanya.
__ADS_1
"Aku beli sate maranggi, sayur sop dan buah-buahan."
"Anak papah sedang apa ini?" Keken mengelus perut Farah dengan lembut dan menciumnya tak lupa dengan kebiasaannya memeluk Farah juga.
" Aku kira kamu lupa jalan pulang kerumah." tanpa menjawab pertanyaan Keken, ia membalasnya dengan sindiran.
"Cinta akan tahu kemana dia akan pulang, jadi bagaimana mungkin aku tersesat di jalan kalau di rumah saja punya istri secantik ini." Keken mulai mengeluarkan jurus rayuannya, tubuhnya yang lelah sudah tidak punya tenaga untuk bertengkar dengan istrinya maka dari itu ia lebih memilih cari aman.
Farah hanya memutar bola matanya dengan malas, seperti biasa Keken memang perayu ulung. Tapi ia selalu menikmati gombalannya. Memang gila.
"Ayo kita makan." Farah dengan cepat menyiapkan piring dan sendok untuk makan bersama. Sedangkan Keken membereskan tas ranselnya dan membuang pakaian kotor ke mesin cuci. Sedangkan sepatu, kaos serta jaket seperti biasanya tercecer di kamar Farah
"Kebiasaan!!" sentak Farah, ia memungut semua barang - barang Keken yang tercecer dan menaruh di tempatnya.
"Ambilkan aku kaos di ransel itu!" teriak Keken dari ruangan tamu. Ia yang masih bertelanjang dada duduk bersila dan menyantap beberapa sate, sebelumnya Keken menolak untuk makan bersama Fafa dan Khaffi karena ingin cepat pulang dan makan bersama istrinya.
" Apa ini. "Farah datang dengan menunjukkan beberapa set baju bayi berwarna pink dan kuning. Terlihat sepatu dan kaos kaki yang begitu lucu dan mengemaskan. Ia pun melihat tiga dress baju hamil. Pilihan Keken memang bukan kaleng-kaleng, seleranya cukup tinggi dan tahu mana barang bagus.
" Tadi aku meeting di Mall lalu aku lihat baju bayi lucu-lucu, aku juga membeli dress hamil untukmu jadi kamu tidak perlu pakai daster emak-emak yang tidak ada modelnya begitu, bikin sakit mata." Keken menyindir seperti biasanya
"Tapi kan belum tahu bayi ini laki-laki atau perempuan, kenapa kamu buang - buang uang untuk ini semua pasti mahal kan!" Disatu sisi Farah suka jika Keken memperhatikan dirinya tapi disisi lain ia tidak suka dengan cara Keken yang dengan mudah menghamburkan uang.
" Aku memang belum tahu bayi itu perempuan atau laki-laki tapi yang pasti jika bayi kita perempuan maka akan secantik kamu dan jika laki-laki akan setampan aku."
Gombalan Keken kali ini membuat Farah tersipu malu,namun ia menahannya agar Keken tidak tinggi hati.
" Barang ini hasil palak dari Khaffi. "ucapnya sembari menyuap makanan ke mulutnya.
Farah yang awalnya senang kini kembali mengerucutkan bibirnya.
" Kok kamu beli baju aku dan anakmu dari hasil palak! " seru Farah dengan kesal." Nggak modal banget sih! "
Keken terkekeh melihat istrinya kesal, dua hari ia tidak mendengar makian Farah dan itu membuatnya rindu. "Aku membelinya dengan uangku sendiri, tadi hanya bercanda yang. Kamu kayak nggak tahu aku aja suka bercanda."
"Beneran, bukan hasil palak?" tanyanya sekali lagi
"Ya ampun, beneran sayang. Masa aku beli baju untuk anak dan istriku tidak mampu."
Farah mengulum senyum saat melihat baju hamil pilihan Keken yang begitu bagus. Keken sangat pengertian dengan hal-hal kecil.
__ADS_1
"Awas saja ya kalau kamu malak si Khaffi terus, kasihan dia." ancamnya, Farah dengan cepat ikut menikmati makanan pemberian Keken hingga perutnya terisi penuh.