Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 193


__ADS_3

Imelda meremas jari tangannya saat melihat berita portal online. Beberapa media massa memperlihatkan seorang pria yang hilang dengan ciri - ciri seperti anaknya. Bahkan saat ia melihat cctv, ia sudah tahu kalau itu postur tubuh Keken walaupun wajahnya tidak terlalu jelas. Dan informasi dari Pak Rofiq semakin menguatkan dirinya bahwa korban hilang itu adalah Keken.


" Berdasarkan cerita dari korban yang selamat, tuan muda terbawa ombak setelah menyelamatkan seorang wanita."


"Korban belum teridentifikasi karena tidak ada tanda pengenal serta korban belum ditemukan."


"Saya yakin dia tuan muda nyonya, saya melihat wajahnya dari cctv terdekat."


"Korban ada dua, satu wanita dan satu tuan muda."


Tubuh Imelda terkulai lemas hingga ingin pingsan, namun dengan sigap Feri menopang tubuh istrinya. "Kau tenang sayang, Keken pasti baik-baik saja." ujarnya


"Aku tidak bisa tenang mas, anak kita satu-satunya belum ketemu, dia diterjang ombak dan menghilang, huhuhu..." Tangis Imelda pecah tak kuasa mendengar anaknya hilang dan belum diketahui keberadaannya.


"Keken mas, Keken."


"Iya aku tahu, kita akan kesana besok. Kita pastikan dulu Farah tidak mendengar berita ini. Minta Michelle untuk menghapus portal berita, jangan biarkan Farah melihat televisi ataupun handphone, dia pasti akan stress saat tahu Keken menghilang." Feri


" Iya, kita harus kesana. Aku ingin mencari anakku. "


Imelda bersiap dengan segala kondisi dan berharap Keken selamat dari maut.


Feri dengan cepat menghubungi Michelle dan Davian. Hanya mereka yang bisa membantunya saya ini.


" Aku titip Farah agar dia di rumah Navysah. "


" Jangan biarkan dia tahu kalau Keken menghilang."


" Hanya di rumah kamu dia bisa tertawa dan tidak merasa kesepian." Feri meminta Navysah menjaga menantunya sementara waktu. Dan Navysah mengiyakan permintaan Feri.


" Aku harap Keken baik-baik saja. "Navysah begitu terpukul saat tahu Keken menghilang, untaian doa selalu ia panjatkan untuk ponakan nya.


" Besok aku jemput Farah, kalian tidak perlu khawatir dengan bumil itu. " Navysah


" Terimakasih. "Feri menutup sambungan teleponnya.


***


" Mommy mau kemana? "tanya Farah saat melihat kedua mertuanya menarik koper.


" Kami akan berlibur ke Bogor, mengecek restoran sembari berlibur di villa. "


" Aku ingin ikut. "


" Jangan!! kamu di rumah saja dan jaga kesehatan. Mommy sangat sibuk Nak! " Imelda tidak ingin kebohongan nya terbongkar, ia harus memastikan bahwa Farah tidak tahu berita ini.


" Nanti kamu dijemput tante Navysah, menginaplah disana. " perintah Imelda

__ADS_1


"Kenapa aku harus menginap disana, aku berada disini pun tidak masalah mom."


"Jangan, lebih baik kamu tinggal di Navysah saja, mommy mohon." Imelda sedang tidak ingin berdebat, ia meminta Farah mengiyakan permintaan nya


" Iya Mom, tapi kenapa Keken tidak meneleponku ya? Hari ini pun dia tidak memberikan kabar. "


" Mungkin Keken sedang sibuk, dia masih mengaudit restoran Malang."


"Tidak kok! Terakhir Keken bilang sudah selesai urusan di Malang dia ingin berlibur tapi kenapa tidak ada kabar darinya."


"Farah, kamu tenang ya. Keken pasti pulang dengan keadaan sehat. Mommy dan papih pergi dulu."


Lalu Farah mencium takzim tangan kedua orang tuanya namun ada sesuatu yang aneh, kenapa mommy membawa empat pengawal ikut bersamanya,biasanya mommy dan papih hanya pergi berdua. Ia menepis segala pikiran negatif lalu melanjutkan acara makan nya.


* **


Sore hari, Imelda sudah datang ke Malang. Tanpa mengulur waktu ia menuju titik dimana Keken menghilang. Ia melihat dari cctv dan meminta petugas membuka loker Keken. Dan benar saja, handphone dan tas anaknya masih utuh bahkan dompetnya masih berisi lengkap.


"Keken...."lirih Imelda sembari menangis. Ia tidak tahu bagaimana nasib anaknya sekarang. Sedangkan Feri sedang mengobrol dengan keempat pengawal dan staf pengelola P Rafting.


" Jangan pulang sebelum menemukan anakku, aku berharap dia masih hidup." Feri


" Dia pasti hidup, Keken harus hidup!" potong Imelda langsung.


"Cepatlah, kerjakan tugas kalian."


Mereka menyisiri sungai dan berharap menemukan Keken dalam keadaan selamat.


* **


Dua hari Imelda berada di Malang namun belum ada tanda-tanda keberadaan anaknya. Ia selalu menangis dan berdoa agar anaknya selamat dimanapun berada.


Feri pun begitu kalut, kepalanya pusing dengan musibah ini apalagi saat Farah menelepon mengabarkan bahwa Keken belum memberinya kabar.


"Ya allah, selamatkan anakku." Feri menutup wajahnya dengan kedua tangan ia benar-benar takut hal buruk menimpa anaknya.


Ponselnya berdering dan satu panggilan dari Davian.


"Fer, kau sudah melihat berita sore ini?" tanyanya


"Apa?"


"Mereka menemukan korban wanita, dia terbawa arus dan ditemukan tewas di dekat perkampungan, tersangkut ranting pohon. Kau lihatlah dan berdoa semoga Keken baik-baik saja." Feri kian lemas, pikiran buruk kembali menyergap tentang anaknya.


"Aku sudah meminta pengawalku untuk mencari Keken di wilayah pedesaan itu, mana tahu Keken selamat disana." Davian.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Tolong jaga mba Imel, jangan lupa beri dia obat dan makan yang baik. Aku yakin Keken masih selamat." Davian. Ia juga ikut sedih karena ponakan nya belum ketemu dan itu pasti membuat mba Imel kepikiran. Ia sangat takut penyakit kakaknya kambuh.


"Iya, aku juga yakin dia pasti selamat." Mereka mengakhiri sambungan, Feri menghela nafas panjangnya. Dia juga meminta bantuan pada bantuan pada adik iparnya untuk mengerahkan anak buahnya mencari Keken.


"Bagaimana mas, apa ada info dari pengawal kita?" Imelda mendengar Feri bertelepon dengan seseorang.


" Tidak ada."


"Lalu tadi kau bertelepon dengan siapa?"


"Davian."


"Apa kata dia?" Imelda bertanya dengan menyelidik.


" Tidak ada apa-apa." Namun Feri membuang wajahnya, tak sanggup memberi tahu yang sebenarnya.


"Mas, katakan padaku. Aku sudah siap mendengarnya." Imelda menarik nafasnya dalam-dalam.


"Korban wanita itu ditemukan di ujung sungai dekat pedesaan, dia meninggal dunia. Tapi Keken belum juga ketemu."


Imelda kian lemas, putra kesayangan nya belum ada kabar apapun.


"Aku yakin Keken selamat, huhuhu..." Ia menangis keras, ini pertama kalinya sejak menikah Feri melihat istrinya menangis seperti ini.


"Keken, harus selamat. Dia putraku satu-satunya. Dia harus selamat!" Tubuhnya lemas, ia merasa berada di titik paling rendah, tidak bisa membayangkan jika Keken tiada. Ia pasti gila karena kehilangan anak.


"Keken mas..." lirihnya dengan hati yang begitu sakit, tidak ada yang bisa menggambarkan rasa sakit seorang ibu yang kehilangan anaknya. "Keken, anakku."


"Keken....."


Dan benar saja, Imelda ambruk tak sadarkan diri.


"Sayang...!!!"


Feri bertambah pusing dengan keadaan yang semakin kalut ini. Ia membawa istrinya ke ranjang memberinya minyak angin agar istrinya sedikit membaik.


"Mas..." Imelda terbangun dan melihat suaminya menangis.


"Iya sayang."


"Mas, dada aku sakit." Imelda memegang dada kiri nya terasa nyeri.


" Minum obat dulu setelah itu kita ke rumah sakit." Feri memberikan obat ke istrinya dengan segelas air putih. Namun Imelda menolak


"Obatku hanya Keken." ucap Imelda


"Kita sedang berusaha sayang, dan Aku yakin Keken pasti selamat. Menurut lah untuk hari ini saja demi Keken." pinta Feri

__ADS_1


Imelda meminum obatnya dan segera pergi ke rumah sakit untuk pengecekan tubuhnya lagi.


__ADS_2